Menikah Tak Harus Cinta

Menikah Tak Harus Cinta
Masih Bersama Adit


__ADS_3

Lala sudah selesai mandi.Badannya terasa lebih segar dan harum.Dia menuju ruang makan untuk sarapan, tapi dia melihat Adit masih di ruang tamu.


"Ternyata dia masih di sana, aku pikir dia pulang setelah aku tinggal mandi."


Adit menyandarkan tubuhnya di sofa dan memejamkan matanya.Lala mendekatinya, memandangi wajahnya.


"Kamu ini tampan dan kaya, juga so sweet kepadaku, tapi untuk menjadi istrimu aku akan berpikir 1000 kali walaupun kamu menginginkannya," batin Lala.


Lala tahu Adit tidak tertidur.Dia hanya memejamkan matanya.


"Aku pikir kamu sudah pulang," Lala mengajaknya bicara.


"Aku belum sarapan, aku ingin kamu menemaniku makan," Adit bicara dengan mata yang terpejam.


"Ya sudah, makan di sini saja, aku juga belum sarapan."


"Apa kita tidak bisa makan di luar saja?"


"Aku sedang malas keluar."


"Bakilah." Adit membuka matanya.


Mereka berjalan menuju ruang makan.Mbok Warni masih ada di sana menyelesaikan pekerjaannya.Lala mempersilahkan Adit duduk.Dia mengambilkan nasi untuk Adit juga menyiapkan minumnya, melayani layaknya istri melayani suaminya.Tidak bisa dibayangkan betapa bahagianya hati Adit sekarang.Dia sarapan dilayani dan ditemani Lala.


"Apa aku tidak di suapi sekalian?" Adit mulai menggoda Lala.


"Jangan harap.. " Lala mendengus.


"Mbok Warni sudah makan? Mari makan bersama kami."


"Simbok sudah makan tadi Mbak Lala, lagian ini kan sudah siang kok baru mau sarapan."


"Tadi masih males mbok, selain itu juga tadi sibuk ngladeni orang galau ini."


"Mbak Lala dan Mas Ganteng ini udah kaya suami istri saja, tadi mbak Lala ngeladeni mas ganteng makan udah kaya ngeladeni suaminya, Mas Ganteng godain Mbak Lala kaya godain istri yang lagi ngambek, terus tadi di ruang tamu juga peluk-pelukan udah kaya suami istri ngga ketemu selama tiga tahun.Kenapa ngga nikah aja to mb?"


Seketika wajah Lala merah padam.Dia tidak menyangka Mbok Warni tadi melihat dia dan Adit pelukan.Sementara Adit hanya senyum-senyum menikmati momen ini.Entah apa yang ada di pikiran Mbok Warni sekarang.


Selesai makan Adit berjalan menuju ruang keluarga.Lala mengikuti di belakangnya seolah dia adalah tamu di rumah ini.Adit duduk di sofa kemudian menyalakan tv sudah seperti di rumah sendiri.

__ADS_1


"Apa kamu tidak mau pulang?"


"Kamu memgusirku?"


"Iya.. "


"Tapi aku tidak mau pulang.Aku ingin menghabiskan seharian ini bersamamu.Aku tau kamu kesepian tiap hari Minggu."


"Siapa bilang? sok tau!"


"Mana pernah kekasihmu itu ngajak kamu jalan tiap hari libur."


"Bagaimana dia bisa tau? Aahhh.... percuma saja mendebatnya," batin Lala.


"Ya sudah... kamu boleh di sini tapi ngga seharian, cuma sampai nanti siang."


Adit tersenyum.Dia jadi lebih sering tersenyum saat bersama Lala.


"Mbok warni... "


"Iya Mbak... "


"Baik mbak... "


Akhirnya Lala menemani Adit di ruang keluarga.Keluarga Lala tidak berlangganan tv kabel.Dan hari minggu saluran tv swasta nasional kebanyakan menayangkan acara anak-anak.Jadilah dua orang tidak jelas ini nonton kartun.Kali ini Lala duduk agak menjaga jarak dari Adit.Tidak seperti waktu Lala nonton film di rumah Adit waktu itu.Dia juga takut Mbok Warni akan berubah menjadi cctv saat mereka duduk berdekatan dan merekam semua kejadian seperti tadi.


Lala mendengar hpnya berdering di dalam kamar.Dia segera berlari mengambilnya.Terdengar dia sedang berbicara dengan seseorang di ujung telfon.Lala berjalan kembali menuju ruang keluarga sambil fokus sama layar hpnya.


"Siapa yang telfon?" Adit mulai kepo.


"Ibu mengenalkanku pada anak salah seorang temannya.Dia mengajakku jalan nanti malam." Lala jujur pada Adit untuk melihat reaksinya.


"Oh... " dan hanya itu yang keluar dari mulut Adit.


Lala meletakkan hpnya dan duduk mendekat di samping Adit.


"Aku akan membuka lembaran baru.Aku akan coba membuka hatiku untuk orang lain, tapi bukan kamu." Lala bicara pelan.


Adit diam saja.Matanya fokus melihat layar tv tapi Lala tahu Adit mendengarkannya.Dia hanya sedang menyembunyikan perasaannya saat ini.

__ADS_1


"Dengarkan aku bang... "


Adit menoleh.Dia menatap Lala saat ini.


"Kamu tau... kamu sudah mengisi sebagian hatiku.Aku tidak akan membiarkanmu mengisi hatiku sepenuhnya, karena kamu tidak bisa menjadi milikku.Biasanya aku membutuhkan waktu yang lama untuk mengobati luka hatiku.Bisa berbulan-bulan sampai beberapa tahun.Terima kasih, berkat dirimu aku bisa dengan mudah melewati hari-hari beratku belakangan ini."


Lala memeluk Adit tulus.Tentu saja dia membalas pelukan Lala.Adit menang banyak hari ini.


"Apa kita akan tetap seperti ini?"


"Kita jalani saja."


"Kalau kamu mau aku bisa menikahimu saat ini juga."


"Tidak."


Adit masih belum melepaskan Lala.Kata-kata yang tadi Lala ucapakan terasa seperti kata perpisahan baginya.


Lala merasakan nafas Adit di lehernya lagi.Kali ini dia membiarkannya.


"Apa kamu akan terus mencuri-curi kesempatan seperti ini?"


Adit melepaskan pelukannya dan tertawa.


"Jadi benarkan tadi kamu menciumi leherku?!"


"Tentu saja," Adit masih tertawa.


"Huuhhh... dasar!!!"


* * * *


Malam harinya Lala bersiap untuk bertemu Rizal.Dia sudah menelfon ibunya memberi tahu kalau dia akan pergi makan malam bersama Rizal.Tentu saja bu Mieke sangat senang.Ini berarti kemungkinan statusnya dan bu Wendi berubah menjadi "besan" semakin terbuka.Bu Mieke sudah menceritakan secara panjang lebar mengenai Rizal.Salah satunya adalah pekerjaan Rizal yang seorang manager di perusahaan distribusi produk makanan terkenal.Tapi apapaun yang dikatakan ibunya tidak membuatnya tertarik kepada sosok Rizal.Lala sudah terlanjur ilfil sejak mendengar nyinyirannya di parkiran mobil waktu itu.


Lala memandangi dirinya di pantulan cermin.Entah kenapa dia ingin tampil secantik mungkin untuk bertemu Rizal.Padahal dulu saat masih bersama Juna dia selalu tampil apa adanya.Seperti biasanya, celana panjang dan t-shirt juga tidak lepas sepatu sneakers.Jarang sekali dia memakai dress ataupun rok, hampir tidak pernah.Tapi saat ini dia ingin terlihat cantik.Dia memakai rok pendek di atas lutut berwarna mocca atasan t-shirt ditambah dengan long cardigan dan flat shoes.Ini simple tapi sangat manis.Tentu saja ini hanya untuk membuat Rizal menyesali kata-katanya.


"Apa aku seperti gadis gampangan...? Pagi bersama Adit malamnya jalan dengan laki-laki lain?" Lala masih memandangi dirinya di cermin.


"Orang hanya menilai apa yang mereka lihat tapi tidak mereka ketahui."

__ADS_1


Dia menghirup nafas dalam kemudian keluar dari kamarnya.Lala mengambil kunci mobil karena tidak mungkin dia mengendarai motor dengan rok pendek seperti sekarang.


__ADS_2