
Oma Rusdi duduk di sofa yang berada di ruang kerjanya.Wajahnya terlihat gelisah menunggu kedatangan Nova.Sudah saatnya dia mengambil langkah untuk Nova, Kevin dan juga Viviane.
Beberapa saat kemudian terdengarlah suara pintu terbuka.Nova masuk menghampiri Oma.
"Apa yang ingin Oma bicarakan?"
"Duduklah dulu ...." Oma menepuk tempat kosong di sampingnya mengisyaratkan agar Nova duduk di sana.
Nova menuruti perkataan Omanya.
"Maafkan Oma ...." Oma membuka pembicaraan. "Selama ini Oma sering menemui Kevin tanpa sepengetahuan mu."
"Aku tahu."
Jawaban Nova membuat Oma tertegun. "Oma tidak bisa membiarkan Kevin begitu saja.Bagaimanapun juga dia cucu Oma, sama sepertimu," lanjutnya.
"Oma merindukan Papamu... Oma merindukan Renand ... dan Kevin selalu mengingatkan aku pada Renand kecil dulu." Oma mulai terisak. "Setiap Oma bersamanya rasa rindu Oma terhadap Renand bisa sedikit terobati."
"Tapi bagiku setiap kali aku melihatnya selalu mengingatkanku pada luka."
"Maafkan dia Nova ... Itu bukan salahnya."
"Apa aku tidak ada artinya untuk Oma?" tanya Nova dingin.
"Bukan ... bukan begitu.Jangan salah paham.Kamu tetaplah cucu Oma.Hanya saja ... jangan benci Kevin.Dia hanya dijadikan alat untuk memuaskan keserakahan ibunya.Anak itu tidak tahu apa-apa Nova." Oma terus terisak.
Nova berdiri dari duduknya. "Terserah apapun yang ingin Oma katakan, aku hanya ingin menegaskan pada Oma kalau aku adalah anak tunggal dari mama dan papaku! Jika Oma ingin bersama anak itu silahkan, maka aku akan kembali ke Hotel X dan tinggal di sana." Kemudian Nova meninggalkan Oma menangis sendirian di ruang kerjanya.
Dulu ketika masih anak-anak Nova sering sekali merengek kepada orang tuanya agar dibuatkan adik.Dan terkabul, dia benar memiliki adik sekarang.Hanya saja dengan cara yang berbeda, bukan dari rahim yang sama dengannya.
Nova kembali ke kamarnya dengan wajah gusar. Rasanya tidak terima mendengar Oma mengatakan jika Kevin juga cucunya.Selama ini dialah satu-satunya cucu Oma.
Nova berdiri di balkon kamarnya.Lala yang melihat wajah Nova kusut segera menghampirinya dan memeluknya.Dia mengusap punggung Nova pelan.
"Memang tidak mudah untuk menerimanya.Tapi kamu harus! Memang beginilah kenyataannya."
"Tapi dia lahir dari perselingkuhan papa dengan perempuan itu."
"Dia tidak bisa memilih siapa ibunya.Kamu boleh membenci ibunya.Tapi sebaiknya ... kamu mengenal anak itu lebih dulu sebelum kamu memutuskan untuk membencinya."
__ADS_1
Nova tidak menjawab.Dia lebih memilih untuk menikmati pelukan Lala.
"Sepertinya tubuhmu lebih berisi sekarang.Apa berat badanmu naik?" Lala menyadari ada yang berubah dari Nova.
"Mungkin ... Kamu selalu memaksaku makan."
"Badanmu sedikit lebih hangat jika dipeluk dibandingkan dulu."
"Karena itukah kamu sering tiba-tiba memelukku akhir-akhir ini? Kalau aku menambah berat badanku lagi, apa kamu akan memelukku terus menerus?" Nova mulai menggoda lagi.Sepertinya dia sudah melupakan amarahnya.
Lala segera melepaskan pelukannya dan memasang wajah cemberutnya. "Kamu tidak jadi ke peternakan?" Nova menggeleng.
"Kalau begitu kita bisa pergi jalan-jalan?"
"Boleh ... asal aku mendapat jatah sarapan darimu lebih dulu."
Lala mengerucutkan bibirnya. "Ujung-ujungnya pasti minta itu ... " Belum selesai Lala bicara, Nova sudah ******* bibirnya.Tapi Lala berusaha mendorong tubuh Nova hingga akhirnya bibir mereka terlepas.
"Ini di balkon, bisa dilihat siapa saja!" omel Lala.
"Aku tidak peduli.Aku mencium istriku bukan istri orang." Nova membawa Lala masuk ke kamar kemudian melanjutkan aksinya.
"Kamu ingin kemana?" tanya Nova yang masih membenamkan wajahnya di leher Lala.Mereka berdua masih berbaring di tempat tidur setelah Nova meminta jatah paginya.
"Tidak tahu, aku ingin berkeliling saja.Seperti kemarin waktu mencoba Vespa baru kado dari Oma."
"Hanya berkeliling dengan sepeda motor begitu? Tidak ingin ke mall atau nonton film?"
"Tidak, aku ingin lebih mengenal daerah ini."
"Baiklah ... Boleh aku tidur dulu sebentar?"
"Ah ... Nova jangan curang!" Lala merengek. "Kamu sudah mendapatkan keinginanmu."
Nova tersenyum. "Iya ... iya .. Aku bercanda."
Di garasi....
"Kenapa dia lama sekali? Ah ... Seperti cewek saja!" Sejak tadi dia mondar-mandir sambil mulutnya mengomel tidak jelas karena kelamaan menunggu Nova.
__ADS_1
Akhirnya Nova turun juga.Mengenakan celana pendek dan kaos kasual biasa entah kenapa hari ini Nova terlihat berbeda.Tubuhnya yang lebih berisi daripada sebelumnya membuatnya terlihat lebih tampan dan lebih muda.
"Wow, aku benar-benar menikahi berondong," gumam Lala begitu melihat Nova.
"Ayo berangkat..."
Mereka berdua berkendara tidak jelas dengan motor baru Lala.Nova mengajak Lala berputar-putar tidak jauh dari rumah Oma, sekedar untuk memperkenalkan daerah ini kepada Lala jika suatu saat dia ingin berkendara sendiri.
"Nova ... Aku ingin makan cilok.Bisa kita membelinya?" tanya Lala dari belakang.
Nova mengangguk. "Kita cari Abang penjual cilok dulu."
Mereka melanjutkan perjalanan mereka.Kemudian mata Lala terkunci pada gerobak cilok yang sedang mangkal di samping sebuah sekolah yang sepertinya taman kanak-kanak.Lala menepuk bahu Nova dan memintanya untuk berhenti.
"Ada apa?" tanya Nova.
"Itu ada cilok di sana.Kita beli itu saja." Tangan Lala menunjuk ke arah gerobak cilok.
"Baiklah." Nova putar balik dan menepikan motornya di samping gerobak cilok.
Dia menunggu Lala di atas motor sambil mengamati anak-anak TK yang sedang bermain.Mata Nova tidak sengaja menangkap seorang anak yang sedang di ejek oleh beberapa temannya.
"Heh ... awas dia menangis.Hii ... takut nanti di adukan pada papanya," ucap salah satu anak.
"Mana mungkin, dia kan tidak punya papa," ucap yang lain kemudian diiringi tawa oleh teman-teman lainnya.
"Ha ... ha ... ha ...! Kasihan deh tidak punya papa!"
Nova mendengar semua itu dari tempatnya duduk.Dia tidak bisa melihat wajah anak yang sedang di ejek itu karena posisinya membelakanginya saat ini.
"Kenapa anak-anak dan ini?" gumam Nova.
Akhirnya dia berinisiatif untuk memisahkan mereka karena kasihan kepada anak yang sedang di ejek oleh teman-temannya yang lain.
Nova berjalan memutari pagar dan masuk ke dalam area sekolah, dimana anak-anak itu berada.Anak yang sedang diejek itu menutup wajahnya dengan tangan.Sepertinya dia sedang menangis.Nova mendekati mereka.
"Apa kalian semua punya Papa?" tanya Nova pada anak-anak itu. "Bagaimana jika posisinya di balik, kalian tidak punya Papa dan teman-teman kalian menghina kalian? Apa kalian tidak sedih?." Anak-anak itu terdiam. "Jangan menghina teman kalian." Nova mendekati anak yang sedang menangis dan berjongkok untuk menenangkannya.
"Sudahlah, jangan menangis." Mendengar ada suara lain berbicara kepadanya, anak itu lantas membuka tangannya yang sedang menutupi wajahnya.
__ADS_1