Menikah Tak Harus Cinta

Menikah Tak Harus Cinta
Tentang Nova 2


__ADS_3

Lala sudah sampai di rumah setelah puas berjalan-jalan dengan Vania. Dia sedikit lebih lega karena berhasil mendapatkan informasi mengenai Nova, bagaimana mungkin selama ini dia tidak tahu apa-apa tentang orang yang sekarang sudah menjadi suaminya itu.Sekarang sedikit banyak dia tahu kehidupan Nova dulunya, sebelum mengenal dirinya.


Lala sendirian, hanya ada beberapa orang pembantu di rumah.Oma masih belum pulang dari luar kota, sedangkan Nova juga masih belum kembali dari peternakan.Untuk mengusir rasa bosannya, dia berjalan menuju ruang penyimpanan foto.


Sesampainya di sana, Lala kembali memandangi foto itu satu persatu, mendalami perbedaan Nova di dalam foto-foto tersebut dengan aslinya.Buka perbedaan secara fisik, tapi perbedaan raut wajahnya.Senyum yang selalu tersungging di setiap foto kini hanya bisa di lihat saat Nova mulai menjahilinya.


Lala kembali mengingat cerita Vania, bagaimana dulu Nova adalah anak yang jahil, hingga gurunya pusing akibat ulahnya.Bagaimana Nova yang dulu banyak teman karena dia pribadi yang hangat, hingga sekarang menjadi murung dan pendiam.Dia menutup dirinya untuk siapa saja.Hanya Vania yang tetap bertahan di sampingnya, memberinya dukungan yang dia butuhkan.


Rasa yang aneh muncul di hati Lala, ada keinginan untuk membahagiakan Nova, menghiburnya dan menemaninya.Seolah dia ingin menutup semua luka di hati Nova.Entah itu rasa iba, ataukah dia sudah mulai sayang pada Nova, Lala masih meragukan perasaannya.


Mata Lala kemudian tertuju pada foto Nova semasa SMA, ada beberapa orang di dalam foto, ada Erik juga di foto itu.Mereka tampak berpose menampilkan wajah jelek mereka, termasuk Nova.


"Mana mungkin dia mau melakukannya sekarang," gumam Lala. "Oh ... Erik, bagaimana bisa kamu berkhianat dari temanmu sendiri." Lala mengelus foto itu.


Lala terus memandangi sekeliling, dia mencari foto Manda tapi tidak menemukan satupun.Sepertinya Nova benar-benar sudah menghapus semua kenangannya dengan wanita itu.Entah kenapa, Lala tidak merasakan cemburu sedikitpun di hatinya, walaupun dia tahu mungkin Manda adalah wanita pertama bagi Nova.


Lala terus memandangi foto-foto di dalam ruangan itu.Matanya silih berganti memandang foto satu dan yang lain.Hingga berhenti di sebuah foto. Foto yang dulu sempat mencuri perhatiannya saat pertama kali masuk ke ruangan ini.Ya, foto Nova di apit oleh kedua orang tuanya, dengan tubuh yang sedikit berisi dan senyum yang mengembang.Nova terlihat tampan dalam foto tersebut.


Kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tuanya, sangatlah berat.Disaat dia sangat membutuhkan dukungan moril, justru dia dikhianati oleh kekasih dan sahabatnya sendiri, pasti bukankah hal yang mudah dan tentu saja itu semakin membuatnya terpuruk.


Lala menatap foto itu iba, melihat bagaimana Nova kehilangan berat badannya secara drastis.Lala mengingat lagi cerita Vania, berapa kali Nova keluar masuk rumah sakit akibat penyakit asam lambung akut yang di deritanya.Sejak kematian orang tuanya Nova menjadi jarang makan, dan hanya kopi yang selalu masuk ke perutnya.


Lala menghembuskan nafasnya. "Aku akan memperbaiki semuanya.Maafkan aku tidak mengetahuinya sejak dulu," gumam Lala dalam kesendiriannya.


Sambil terus memandangi foto-foto itu, Lala terus terngiang-ngiang cerita Vania, bagaimana Nova meninggalkan kota ini dan memulai hidup baru di kota Lala berasal.Dia memulai semuanya sendiri, tinggal di rumah kost, melamar pekerjaan seperti orang lain pada umumnya, dia tidak bermaksud membohongi orang-orang, tapi dia sedang berusaha menata hidupnya kembali walaupun tetap dalam pengawasan Oma.


Oma Rusdi tidak bisa menghentikan keinginan Nova untuk pergi waktu itu.Mungkin memang itu yang dia butuhkan.Bukan membuat Nova lari dari kenyataan tapi Oma anggap itu sebagai bentuk self healing bagi Nova, menemukan ketenangan batinnya sendiri.Jika dia merindukan keluarganya, maka dia akan menginap di hotel X peninggalan mamanya.Tak kurang-kurang Oma berusaha menyembuhkan Nova, psikolog, konseling, terapi semuanya sudah dicoba.

__ADS_1


Dan pada akhirnya, sedikit demi sedikit Nova bisa menata kembali hidupnya di kota kelahiran Lala.Dia menemukan kedamaian di sana.Bahkan menemukan cintanya.Memang benar, Lala lah yang membuat Nova mau membuka hatinya lagi.


Jadi benar yang kamu katakan padaku waktu itu? bukan sekedar rayuan? Kamu memang jatuh cinta padaku.Mataku yang berbinar, wajahku yang ceria begitu kan? Lala tersenyum-senyum sendiri mengingat Nova dulu menyatakan isi hatinya dan bagaimana Lala menganggap semua itu hanyalah rayuan gombal semata.


"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri? Ada yang lucu dengan fotoku?" Sebuah suara mengagetkan Lala.


"Kamu sudah pulang? Sejak kapan berdiri di situ?" Lala tergagap, dia tidak sadar Nova sudah berada di dalam ruangan yang sama dengannya dan mungkin sudah mengamatinya sejak tadi.


"Cukup lama, sampai aku bisa melihatmu senyum-senyum seperti tadi." Nova melangkah mendekati Lala. "Bagaimana harimu tadi dengan Vania?"


"Hmm ... lumayan.Vania sangat menyenangkan."


"Aku senang kalau kamu senang.Kamu bisa minta dia menemanimu ke mana kamu suka jika kamu kesepian."


"Apa itu artinya kamu akan sering pergi?"


"Kamu selalu menjawab pertanyaan ku dengan pertanyaan."


"Aku mungkin sering pulang malam.Jadi akan jarang di rumah.Kamu keberatan?"


"Aku sering kesepian Nova, bukankah kamu suamiku? Kenapa bukan kamu saja yang menemaniku jika aku ingin pergi atau jalan-jalan?"


"Hmm ... jadi kamu ingin aku menemanimu?" Nova semakin mendekatkan tubuhnya ke tubuh Lala. "Apa kamu sudah mulai merindukanku jika aku pergi?" bisik Nova.


Lala gugup, entah kenapa jantungnya berdegup kencang.Dia sudah sering berdekatan dengan Nova, tidur di tempat tidur yang sama, bahkan sudah berkali-kali berhubungan badan dengannya, tapi perasaan ini baru muncul sekali ini saja.


"Kamu sudah makan?" tanya Lala mengalihkan pembicaraan.Dia tidak ingin Nova tahu apa yang dia rasakan sekarang.

__ADS_1


"Aku tidak lapar."


"Aku ingin makan sesuatu.Ayo temani aku," pinta Lala.Ini adalah salah satu cara Lala agar Nova mulai terbiasa makan.


"Baiklah ..., kamu ingin makan apa biar disiapkan?"


"Sesuatu yang manis ... emm ... bagaimana kalau kita beli martabak manis?"


"Terserah kamu saja, apapun yang kamu inginkan."


Saat mereka berdua jalan menuju garasi tiba-tiba ada seorang pembantu mencegat langkah Nova.


"Maaf Tuan ... "


"Ada apa?"


"Tadi siang Bu Viviane datang.Dia bersama ...." Pembantu itu tidak meneruskan kalimatnya.Dia justru melirik ke arah Lala.


"Kamu sudah memberi tahu Oma?"


"Sudah Tuan."


"Baiklah."


Pembantu itu berlalu dari hadapan mereka berdua.Nova mengajak Lala melanjutkan langkah mereka.Lala diam saja walaupun dalam hatinya dia bertanya-tanya.


"Siapa Bu Viviane?" Akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulut Lala.

__ADS_1


__ADS_2