
Sejak kepergian Kevin Lala menjadi murung. Ada yang berbeda setelah makan malam tadi. Nova memperhatikan perubahan sikap istrinya itu.
"Kamu kenapa?" tanya Nova.
"Ha ... Apa ? Kamu barusan bicara apa?" Lala tampak tidak memperhatikan pertanyaan Nova.
"Apa yang kamu pikirkan?"
"Tidak ada ..."
"Jangan bohong padaku, katakan apa yang mengganggu pikiranmu? Apa kamu tidak enak badan?" Nova menyentuh kening Lala untuk memastikan istrinya itu tidak sedang sakit.
"Aku tidak apa-apa."
Lala menyandarkan badannya di tubuh Nova kemudian memeluknya. Nova yang menyadari sikap aneh istrinya ini terus menduga-duga apa penyebabnya.
"Apa kamu sedang PMS? Kenapa sikapmu aneh begini?"
"Tidak apa-apa, aku sedang ingin memelukmu saja." Lala diam beberapa lama di pelukan Nova, sementara tangan Nova terus membelai rambut panjang Lala.
"Nova ... Aku ingin punya anak. Apa kamu juga menginginkannya?" Lala mendongak agar dapat melihat ekspresi wajah Nova.
Nova yang justru tertawa mendengar pertanyaan Lala "Jadi itu yang membuat kamu gelisah dari tadi?"
"Nova jangan tertawa, aku serius!"
"Apa ini artinya aku boleh mengeluarkan benihku di dalam rahim mu? Kalau begitu ayo kita mulai membuatnya sekarang," Nova terlihat begitu bersemangat.Dia segera melepas semua pakaiannya juga melucuti semua pakaian Lala.
__ADS_1
"Kamu bahkan tidak menjawab ... enghh ...," Lala belum sempat menyelesaikan kalimatnya Nova sudah memulai aksinya.
* * * *
Nova terlelap setelah melakukan kegiatan panasnya bersama Lala. Jika biasanya Lala yang lebih dulu tertidur setelah kegiatan ini, maka kali ini sebaliknya. Dia terus memandangi wajah Nova yang sedang terlelap di sampingnya sambil sesekali membelainya.
Lala tidak bisa menceritakan apa yang tadi didengarnya sewaktu akan turun ke ruang tengah. Walaupun hanya bisik-bisik tapi Lala masih bisa mendengarnya. Viviane dan ibunya tidak menyadari jika tadi Lala berdiri di tangga saat mereka membicarakan keinginan jahat mereka berdua.
Apa yang akan mereka lakukan pada kita? Bagaimana jika mereka melukai kamu atau aku atau kita berdua? Bagaimana jika aku sampai kehilangan kamu atau sebaliknya? Apa aku akan bisa bertahan tanpa kamu?
Tanpa terasa air mata Lala menetes. Dia mengerti betul bagaimana hancurnya hidup Nova saat kehilangan orang tuanya. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika Viviane melaksanakan niatnya untuk menyingkirkan mereka berdua.
"Aku hanya ingin kamu bahagia. Sudah cukup luka yang kamu rasakan selama ini. Kita akan memiliki anak dan kita akan bertahan." Lala mengusap wajah Nova sekali lagi. Tapi itu justru membuat Nova terbangun dan melihatnya menangis.
"Hei ... kamu kenapa?" Nova segera menghapus air mata Lala. Dia merengkuh tubuh Lala. "Katakan apa yang membuatmu menangis hmm...?"
"Aku mimpi buruk." Lala membenamkan wajahnya di dada Nova. Bayangan buruk yang mungkin di lakukan Viviane kepadanya dan juga Nova terus menghantuinya.
Nova segera meraih ponselnya setelah dia membuat Lala tidur dalam posisi senyaman mungkin. Dia menghubungi Siska untuk menanyakan apa yang terjadi saat makan malam setelah kepergiannya. Dia yakin tangisan Lala tadi bukanlah karena mimpi buruk. Tapi Siska tidak mengatakan apa-apa karena memang tidak terjadi apa-apa. Semuanya berjalan normal sewaktu makan malam.
Nova masih belum puas dengan jawaban Siska. Dia yakin ada yang tidak beres dan membuatnya berpikir apa yang menyebabkan sikap istrinya berubah dalam sekejap. Nova kemudian teringat pertanyaan Viviane mengenai Lala yang belum juga hamil.
Apa mungkin karena itu?
"Jika kamu menginginkan anak, kita tinggal membuatnya sayang ... Kamu tahu dengan senang hati aku akan melakukannya ... " Nova bicara sendiri sambil memandangi wajah Lala. Sekarang dia lah yang tidak bisa tidur karena memikirkan perubahan sikap Lala.
* * * *
__ADS_1
"Nova ... aku ingin berkeliling dengan motor. Bolehkan?" Lala menelfon Nova untuk meminta ijin. Dia sangat bosan di rumah sementara Nova selalu sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan sudah satu bulan lebih Nova tidak mengajaknya jalan keluar sejak makan malam keluarga waktu itu.
"Sama siapa?"
"Sendirian lah ... Memangnya siapa yang bisa menemaniku?"
"Aku akan suruh orang untuk menjagamu."
"Tidak perlu, aku hanya berkendara di dekat rumah saja ... bolehkan?"
"Ya sudah jangan jauh-jauh. Sekitar rumah saja dan jangan ... !" Nova mendengus kesal diujung telepon.Dia belum selesai bicara tapi Lala sudah mematikan teleponnya. Lala sangat senang Nova mengijinkannya keluar sendiri. Biasanya dia harus menunggu Nova ada waktu agar bisa menemaninya jalan. Lala bergegas menuju garasi untuk menyiapkan Vespanya.
"Non Lala mau kemana?" seorang pelayan menghampiri Lala. Sepertinya dia pelayan baru karena Lala belum pernah melihatnya.
"Aku akan keluar sebentar ... hanya berputar-putar di sekitar sini."
"Apa Non Lala sudah ijin Tuan? Saya takut nanti di marahi kalau Non Lala kenapa-kenapa."
"Sudah ... tenang saja aku sudah ijin sama Nova." Lala langsung tancap gas keluar dari gerbang depan dan menyusuri jalan aspal yang tidak begitu lebar. Dia mengingat-ingat jalan yang waktu itu dilalui nya menuju sungai bersama Nova. Tempat itu memang tidak jauh dari rumah Oma.
Akhirnya dia menemukan sungai yang dia maksud. Dia memarkir motornya dan menikmati pemandangan yang masih dia kagumi sampai saat ini. Benar-benar bisa membuat pikiran tenang. Tak lupa dia mengambil beberapa foto dan berselfie kemudian dia kirimkan kepada Nova agar dia tidak khawatir.
Setelah puas menikmati pemandangan Lala berniat pulang. Dia mengendarai motornya pelan sambil menikmati suasana pedesaan yang masih sangat asri. Sawah yang membentang luas semakin memanjakan matanya. Ditambah lagi jalanan yang sepi membuat Lala semakin terbuai dengan suasana hingga dia tidak menyadari jika ada motor lain yang sejak tadi mengikutinya.
Lala baru menyadarinya setelah beberapa kali belokan tapi motor itu masih berada di belakangnya.
"Apa itu orang suruhan Nova? Bukankah aku sudah bilang tidak perlu?" gumam Lala. Tapi setelah mengamati dari kaca spionnya dia tahu pria yang menaiki motor di belakangnya berniat jahat. Lala segera mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Mengetahui jika aksinya sudah diketahui pria juga menaikkan kecepatannya mengejar laju motor Lala.
__ADS_1
Pria itu berhasil menyamakan laju motornya dengan motor Lala. Pria itu melihat kanan kiri kemudian menendang motor Lala dengan sekuat tenaga. Mendapat serangan yang tidak terduga, Lala kehilangan keseimbangan dan oleng kemudian ambruk tanpa sempat mengerem. Tubuh Lala terseret beberapa meter sampai akhirnya motornya berhenti dengan sendirinya. Sementara pria yang menendangnya sudah tancap gas melarikan diri.
Lala meringis kesakitan. Kaki kirinya tertindih motor dalam posisi miring sehingga dia kesulitan untuk bergerak. Belum lagi lengan kirinya yang lecet parah akibat bergesekan dengan aspal hingga jaket yang dipakainya sobek.