Menikah Tak Harus Cinta

Menikah Tak Harus Cinta
Di Rumah Sakit


__ADS_3

Pak Fajar sudah mulai pulih dari sakitnya, tapi masih harus menjalani rawat inap untuk beberapa hari kedepan.Sejak tadi malam Lala menemani Pak Fajar di rumah sakit.Hari ini dia memutuskan untuk tidak berangkat kerja.Dia ingin menjaga bapaknya di rumah sakit agar ibunya beristirahat di rumah.


"Viola ... Maafkan bapak Nak ...." Pak Fajar memecah keheningan.


"Kenapa Bapak minta maaf?"


"Bapak terus menanyakan kapan kamu akan menikah, padahal sebenarnya pertanyaan itu menjadi beban bagimu.Maafkan Bapak karena tidak mengerti perasaanmu."


Lala diam saja.Dia merasa terharu dengan ucapan bapaknya.


"Aku tidak akan memaksamu lagi.Ini hidupmu, jalanilah seperti yang kamu inginkan.Tapi ingatlah untuk selalu menjaga diri, jaga martabatmu.Apapun yang terjadi, jangan sampai kamu merusak hubungan orang lain."


"Apa maksud Bapak? Bapak jangan bicara seperti itu." Mata Lala mulai berkaca-kaca.Betapa cengengnya dia.


"Waktu itu ada seorang wanita mendatangi Bapak.Dia meminta Bapak untuk memberitahumu agar kamu menjauhi Nak Adit.Sebenarnya apa hubunganmu dengan Nak Adit? Wanita itu bilang kalau Adit sudah punya tunangan."


Lala terkejut, dia diam saja.Ini seperti yang dia duga sebelumnya.Tidak salah lagi, wanita itu pasti Nyonya Andreas.


"Sebagai orang tua, Bapak merasa gagal mendidik kamu Viola.Bapak tidak marah padamu.Bapak bisa mengerti, kadang sebagai manusia kita membuat kesalahan.Tapi segeralah perbaiki jika kamu sudah menyadari kesalahanmu."


"Kalau Nak Adit memang sudah punya tunangan, sebaiknya kamu jangan terlalu dekat dengannya.Bukan karena Bapak tidak suka dengan Nak Adit, tapi jangan sampai kamu menyakiti perasaan orang lain, tunangannya.Kamu juga seorang perempuan.Kamu pasti bisa membayangkan perasaannya kan?"


Lala masih diam membisu.Air matanya mulai menetes.Sejak dulu dia memang lebih dekat dengan bapaknya.


"Sudahlah ... Jangan menangis.Kamu tahu? Ini rahasia kita berdua saja.Bapak tidak memberi tahu ibu dan kakakmu." Pak Fajar tersenyum kepada Lala.Baginya, Lala tetaplah gadis kecil kesayangannya.


Lala memeluk bapak tercinta nya, her very very first love.


"Jadi kamu bisa berjanji sama Bapak untuk menjauhi Adit?"


Lala mengangguk.


Satusku memang bukan pacar Adit, tapi munafik jika aku bilang tidak ada hubungan dengannya.


"Sekarang jalanilah hidupmu dengan tenang.Menikahlah jika kamu memang sudah siap untuk menikah.Temukanlah laki-laki hebat yang mau menerimamu apa adanya dan menghormatimu sebagai seorang wanita."


Lala menatap Pak Fajar penuh haru.Pria ini selalu bisa mengerti perasaannya.Lala menyesal sempat menjauhi dan menutup diri dari keluarganya karena Juna.

__ADS_1


"Jangan beritahu ibumu tentang percakapan kita hari ini.Dia pasti tidak akan setuju dengan Bapak." Pak Fajar tertawa.


Lala tersenyum sambil mengusap air matanya.


* * * *


Adit tidak bisa menemukan Lala di ruangannya.Dia mengirim pesan kepada Lala tapi tidak ada balasan.Tentu saja ini membuatnya uring-uringan.Sejak kemarin moodnya sudah dibuat berantakan oleh mamanya.Ditambah sudah dua hari dia tidak bertemu Lala, yang terasa seperti dua tahun bagi Adit.


Adit berjalan ke ruangan Riris.


"Kamu tahu dimana Viola?" Tanpa permisi dan basi basi Adit langsung bertanya kepada Riris.


"Aku... aku... tidak tahu," jawab Riris gugup, seolah dia baru saja di inspeksi mendadak.


"Apa dia tidak bilang padamu? Bukankah kemarin kalian bersama seharian?" Nada suara Adit sudah naik satu oktaf.


"Pak Adit telfon saja dia ...," jawab Riris ketakutan.


"Kalau aku bisa menghubunginya aku tidak akan bertanya padamu!" Adit terlihat frustasi, dia sudah seperti suami yang ditinggal ming*at istrinya tanpa pamit.


"Kemarin dia bilang bapaknya masuk rumah sakit, jadi mungkin sekarang dia menjaga bapaknya di sana."


"Aku tidak tahu pastinya, tapi mungkin saja."


Adit berlalu meninggalkan ruangan Riris tanpa mengucapkan apa-apa.


* * * *


Pak Fajar tidur dengan pulas setelah meminum obat.Lala mengambil hpnya kemudian melangkah keluar dari ruang perawatan untuk mencari udara segar.


"Sebaiknya aku cari sarapan dulu, mumpung bapak tidur," ucap Lala.


Lala bergegas mencari warung makan di sekitar rumah sakit yang sudah buka.Lala berhenti di sebuah warung soto.


Lala membuka hpnya sembari menunggu soto pesanannya datang.Ada 3 panggilan tak terjawab dan 2 pesan masuk Adit.


"Ah ... dia lagi! Bagaimana aku bisa menjauhinya jika dia tidak bisa berpisah sebentar saja denganku."

__ADS_1


Lala membalas pesan dari Adit.


"Aku ngga apa-apa, cuma sedang ada urusan."


Tak berapa lama hpnya berdering.


"Hallo ... "


"Bagaimana keadaan Bapak?"


"Bagaimana Bang Adit bisa tahu?"


"Tentu saja aku tahu."


"Kita harus bicara Bang ...."


"Nanti sore aku ke rumah sakit."


"Jangan ... Aku sudah pulang suang ini, Mas Fadil yang akan menjaga Bapak sore nanti."


"Baiklah ... Kita bertemu di Mall X saja nanti sore.Apa yabg ingin kamu bicarakan?Apa kamu merindukanku?"


"Sampai jumpa."


Lala segera menutup telfonnya.Dia sedang tidak ingin melayani godaan Adit.Sekarang pikirannya tertuju kepada sosok wanita yang tadi di ceritakan oleh Pak Fajar.Lala pastilah ancaman yang sangat besar sampai seorang Nyonya Andreas tidak segan untuk mendatangi orang tuanya demi menjauhkan dirinya dan Adit.


"Apa aku sepenting itu bagi Adit? Bukankah ada banyak gadis lain yang dikencani Adit, kenapa hanya aku saja yang diberi peringatan bahkan sampai ke orang tuaku?


Lala tidak berselera menyantap soto yang sudah di sajikan di depannya.Pikirannya hanya tertuju pada bapaknya yang masih terbaring di rumah sakit.


Sebenarnya, Pak Fajar hanya ingin membuat Lala tenang, tidak merasa terbebani dengan statusnya yang belum menikah, tidak juga menikah karena desakan.Tapi justru yang dipikirkan Lala adalah bahwa dia harus segera menikah.Padahal saat ini dia tidak punya kekasih.


Bagaimana ini? Apa aku harus kembali sama Mas juna yang sudah berkhianat dariku? Atau aku terima saja Adit menjadi suamiku? Bagaimana nanti Denise?


Lala kembali ke rumah sakit.Dia berjalan menuju ruangan bapaknya di rawat.Tiba di sana, Lala melihat sosok yang saat ini sering mengisi hari-harinya.Adit berdiri di depan pintu.


Lala berlari menghampirinya.Dia segera memeluknya, tidak peduli ini ada di rumah sakit.Air matanya segera tumpah di pelukan Adit.Setiap pertemuan dengan Adit terasa seperti perpisahan baginya.Adit sendiri tidak tahu kenapa gadis yang sangat di sayanginya itu bersikap seperti ini.Dia membalas pekukan Lala, menikmati setiap detik bersamanya.

__ADS_1


Dia bilang nanti sore dia akan ke rumah sakit,tapi belum ada satu jam dia sudah berdiri di depanku.Dia bersedia meninggalkan semuanya demi aku.Dia juga yang selalu mengisi hari-hariku.Kenapa? Kenapa aku tidak bertemu denganmu lebih dulu? Kenapa aku bertemu denganmu saat hatiku sudah menjadi milik Juna.


__ADS_2