
Lala dan Nova sedang menikmati sarapan di kamar kost mereka.Nova membelikan Lala sarapan ketika Lala sedang mandi tadi.Begitulah rutinitas mereka beberapa pagi ini.Nova sebisa mungkin pergi saat Lala sedang mandi untuk menghindari kejadian seperti pagi itu.Dia tidak mau jika harus menyalurkan hasratnya sendiri lagi karena sampai saat ini dia belum "menyentuh" Lala.
"Sepertinya kita harus membeli kompor agar kamu tidak kerepotan mencarikan aku sarapan setiap hari," Lala memulai pembicaraan di sela makannya.
"Kompor ...? Untuk apa?" tanya Nova tidak mengerti.
"Untuk masak lah."
Nova tersenyum simpul.
"Memang kamu bisa masak?"
"Emm ... tidak juga sih.Tapi aku akan belajar!" jawab Lala semangat.
"Baiklah, beli saja kalau begitu.Tapi aku tidak bisa menemanimu karena aku jadwal masuk siang nanti."
"Tidak apa-apa.Aku bisa beli sendiri."
"La ..." Nova memanggil Lala dengan hati-hati. "apa kamu tidak keberatan jika aku juga kerja di hotel X? Tapi hanya sebagai cleaning service."
Lala tertegun. "Kenapa dengan Plaza Z? Kamu tidak di berhentikan kan?"
"Tidak ... tapi kontrak kerjaku berakhir bulan ini.Jadi aku harus mencari pekerjaan baru." Sebenarnya ini hanya alasan Nova agar dia bisa dekat dengan Lala.Disamping itu, hotel X adalah miliknya.Dia bebas untuk melakukan apa saja yang dia inginkan disana.
"Oh ... ya sudah, tidak apa-apa.Yang penting kamu kerja."
"Kamu tidak malu?"
"Kenapa harus malu?"
"Karena suamimu hanya seorang Cleaning service."
Lala hanya tertawa. "Tidak usah berlebihan Nova.Aku tidak seperti istri yang ada di sinetron-sinetron, yang malu punya suami cleaning service." Sepertinya Lala benar-benar sudah menjadi korban sinetron.
"Apa kamu tidak berpikir apa gaji ku nanti cukup untuk menafkahi mu?"
"Tidak, selama aku bisa kerja dan kamu juga mau kerja, aku tidak akan pernah khawatir soal itu," jawab Lala tegas.
__ADS_1
Betapa Nova mengagumi Lala dalam hatinya, selain cantik, pintar, mandiri dia juga tidak pernah mengeluh dengan keadaan Nova sekarang.
"Sebaiknya aku berangkat sekarang.Sampai jumpa nanti malam." Lala mengulurkan tangannya dan Nova menyambutnya.Dia sudah mulai terbiasa dengan kebiasaan Lala mencium tangannya sebelum pergi.
"Hati-hati ..."
* * * *
Malam harinya sepulang kerja, Nova tertegun begitu memasuki kamar kostnya.Sudah ada kompor, televisi juga kipas angin berukuran besar.Dan satu lagi lemari baru di samping lemarinya.Semuanya tertata rapi di kamarnya.Nova menduga, Lala pasti menggunakan uangnya sendiri untuk membeli semua ini.
Dia melihat televisinya menyala sedangkan Lala tidak terlihat keberadaannya.Tiba-tiba saja Lala keluar dari kamar mandi.
"Bagaimana kamu bisa masuk?" Lala kaget melihat Nova sudah berada di dalam kamar.
"Aku ... aku ... kan punya kunci cadangan," jawab Nova sambil menggaruk-garuk hidungnya yang tidak gatal. "Aku sudah mengetuk pintu beberapa kali tapi tidak ada jawaban," lanjut Nova sedikit tergagap.
"Kenapa baru mandi jam segini?" Nova mengalihkan pandangannya dari Lala.Badannya sudah mulai panas dingin melihat Lala hanya melilitkan handuk di tubuhnya.
"Aku sibuk menata kamar ini tadi, jadi baru sempat mandi sekarang," jawab Lala menunjuk beberapa barang yang tadi dia beli.
Sebenarnya bukan masuk angin yang dikhawatirkan Nova.Tapi, jika dia berlama-lama melihat Lala seperti itu, maka juniornya lah yang perlu dikhawatirkan.
"Sebaiknya aku keluar agar kamu bisa berpakaian." Nova terlihat kikuk dan salah tingkah.
"Dia kenapa sih, aneh banget," gumam Lala setelah Nova keluar dari kamar.Lala segera berpakaian.
"Masuklah ..." Lala membuka pintu dan mempersilahkan Nova masuk setelah selesai berpakaian.Sekarang dia mengenakan daster pendek yang membuatnya terlihat semakin imut.
"Sebaiknya aku mandi dulu," ucap Nova.
Tak berapa lama Nova sudah keluar dari kamar mandi.Sekarang dia hanya mengenakan celana kolor rumahan dan kaos lengan pendek.Dan itu membuatnya terlihat seperti ABG.Sekarang Lala baru menyadari kalau dia ternyata menikahi seorang "berondong".
"Kamu sudah makan?" tanya Lala.
"Belum ... tapi aku tidak lapar."
"Oh ... iya, kamu kan punya gangguan makan." Lala teringat perkataan Oma waktu itu.
__ADS_1
"Kamu lapar? Sebentar, aku akan membelikan kamu makan." Nova sudah mengambil kunci motornya hendak keluar.
"Tidak ... bukan itu maksudku.Kalau kamu lapar aku akan memasak untukmu.Sekarang kita sudah punya kompor." Lala menunjuk kompor yang tadi di belinya.Dia sedang belajar menjadi istri yang baik.
"Oh ... begitu." Nova tersenyum. "Memangnya kamu mau masak apa untuk ku?"
"Emm ... mie instan mungkin?"
"Terima kasih, tapi aku belum lapar.Nanti kalau aku lapar aku akan memintamu membuatkannya untukku."
Lala mengangguk.
"Kamu juga membeli televisi dan lemari.Pasti kamu menggunakan tabunganmu untuk membeli semua ini."
"Tidak apa-apa.Ini tidak banyak.Aku sering kesepian jika kamu giliran masuk siang.Jadi tv ini bisa menemaniku sampai jam 10 malam, waktunya kamu pulang.Selain itu aku juga sudah membawa hampir semua pakaianku dari rumah ibu, jadi aku membutuhkan lemari.Kamu tidak keberatan kan?"
"Tidak ... Maafkan aku ... belum bisa memenuhi kebutuhanmu."
"Sudahlah ... tidak apa-apa."
"Aku akan mengobrol di halaman dengan teman-teman kost.Boleh?"
Lala mengangguk.
"Kalau kamu sudah ngantuk, tidur saja duluan."
"Aku masih mau menonton sinetron," jawab Lala nyengir.
Nova keluar dari kamar, sementara Lala terus menyaksikan sinetron kesukaannya hingga ketiduran.
Setelah hampir tengah malam Nova baru masuk lagi ke kamar.Dia mendapati Lala sudah tertidur pulas dengan lampu kamar yang masih menyala.Dia mendekat hendak mengambil bantal di samping Lala dan tidur di karpet seperti biasanya.Tanpa sengaja dia melihat daster Lala tersingkap hingga ce**na da*am nya hampir kelihatan.Paha putih mulus Lala terlihat jelas membuat kejantanan Nova seperti tertantang menyaksikan pemandangan ini.
Nova tidak bisa mengedipkan matanya.Dia segera meraih selimut dan menyelimuti Lala.Bukan karena takut istrinya ini kedinginan, tapi sekali lagi, dia takut juniornya yang menegang.
Cobaan apalagi ini Tuhan ...? Sampai kapan aku bisa bertahan? batin Nova.
Nova bisa saja meminta Lala untuk "melayani"nya, sah-sah saja karena dia suaminya, jadi itu sudah menjadi haknya.Tapi saat ini dia masih bisa menahan hasratnya.Dia tahu Lala belum menerimanya sepenuhnya.Dia ingin melakukannya tanpa paksaan.
__ADS_1