
Hari Minggu, saatnya Lala libur kerja.Jam kerja Lala di hotel X hampir sama seperti di Plaza Z dulu.Lala masih bermalas-malasan di kasurnya.Sementara Nova sudah berangkat kerja karena dia jadwal masuk pagi.Lala tidak tahu mau melakukan apa hari ini.
Lala meraih ponselnya dan mengirim pesan kepada Nova.
"Aku akan ke rumah bapak." Terkirim.
Lala tidak menunggu balasan dari Nova karena dia tahu Nova tidak diijinkan membawa handphone saat sedang bekerja.Setidaknya dia sudah ijin kepada suaminya itu.Nova tidak akan mencarinya jika sudah membaca pesannya nanti.
Lala segera bangkit dan membereskan kamarnya.Tidak lupa dia mencuci baju kotor miliknya dan milik Nova dengan tangannya karena mereka tidak punya mesin cuci.Lala sedikit heran ketika membereskan pakaian Nova satu persatu, semuanya pakaian bermerk.Begitu juga ketika Lala membereskan barang-barang Nova yang lain, seperti sepatu dan tas.Semuanya adalah merk terkenal dan mahal.
Ini semua produk asli?
Itulah yang terlintas di pikiran Lala ketika pertama melihat barang-barang itu.Tapi Lala tahu Nova bukan tipe-tipe laki-laki yang mau memakai barang-barang palsu.Dia laki-laki yang punya harga diri.
Mungkin saja majikan Oma yang membelikan semua ini.Bukankah mereka sudah menganggap Nova seperti anak mereka? Lala mencoba berpikiran positif.
Dia segera menyelesaikan pekerjaannya agar bisa cepat-cepat pulang ke rumah orang tuanya.Sudah lama dia tidak menghabiskan waktu bersama Reyhan, keponakannya tersayang.
Sesampainya di rumah orang tuanya, Lala mendapati ibu-ibu komplek sedang belanja sayur yang lewat setiap pagi di dekat rumahnya.Pandangan ibu-ibu itu kini teralihkan dari gerobak sayur ke Lala.
Lala tersenyum menyapa ibu-ibu ini.
"Viola ... kok sendirian? Suami kamu mana?" tanya Bu Yulia, salah seorang dari mereka yang juga tetangga Lala.Selama ini dialah yang paling getol membicarakan Lala.Mungkin bisa dibilang Bu Yulia lah sumbu kompornya.
"Oh ... suamiku kerja Bu Yulia," jawab Lala ramah.
"Hari Minggu kok ngga libur? Emang kerja dimana?" tanya Bu Yulia lagi.
"Di Plaza Z, sama denganku dulu."
"Bukannya kalau jabatannya tinggi bisa libur di akhir pekan ya?" Pertanyaan Bu Yulia sudah mulai tidak bisa dikontrol.
"Tidak semuanya Bu, kebetulan juga suamiku juga tidak punya jabatan tinggi di sana."
Bu Yulia berjalan mendekati Lala kemudian memelankan suaranya dan berkata "Memangnya ngga sayang melepaskan Juna dapatnya orang biasa?" Mulut Bu Yulia benar-benar sudah tidak ada filternya.
__ADS_1
Lala pun mendekatkan bibirnya ke telinga Bu Yulia dan berbisik, "Saya lebih sayang jika waktu saya habis untuk mengurusi hidup orang!"
Sepertinya Bu Yulia merasa Lala sedang menyindirnya.Dia segera kembali ke gerobak Abang sayur dengan muka yang ditekuk-tekuk.
"Permisi ya Ibu-ibu, saya masuk duluan," Lala kepada ibu-ibu itu kemudian masuk ke rumahnya.Beberapa dari mereka tersenyum kepada Lala.
Sampai di dalam rumah Lala mencari Reyhan, hendak mengajaknya jalan-jalan, tapi dia tidak menemukan bocah itu.Bapak dan ibunya sudah pergi ke toko.Hanya ada Mbok Warni di rumah.
"Oh ... ini kan hari Minggu, dia ikut papanya ke toko," gumam Lala menyadari kebodohannya.
Lala masuk ke kamarnya dan merebahkan diri di kasur empuknya.Dia sedikit merindukan kamarnya ini, nyaman dan tenang.Suasana yang tidak bisa dia dapatkan dari kamar kostnya sekarang.Kadang Lala tidak bisa tidur karena tetangga kost yang ribut, atau memasak tidak kenal waktu hingga terdengar suara penggorengan beradu dengan spatula di tengah malam.Bahkan tak jarang dia mendengar ******* kenikmatan dari kamar tetangga kost yang bisa membuatnya tiba-tiba terkena migrain.
Belum lagi hawa pengap dan cuaca panas yang sering membuatnya kegerahan seakan kipas angin yang dia beli tidak ada manfaatnya.Lala belum terbiasa dengan keadaan ini.
Lala menghidupkan AC di kamarnya.Dia memejamkan matanya menikmati ketenangan yang sudah beberapa hari ini tidak dia dapatkan hingga akhirnya ketiduran.
Setelah beberapa lama, Lala terbangun karena suara berdering dari ponselnya.Dia meraih nya dan melihat siapa yang menelponnya.
"Halo ..."
"Kamu sudah pulang?"
"Ini sudah hampir jam 4."
Lala menengok jam dinding.
"Oh ... aku tidur lama sekali," gerutu Lala.
Dia menutup teleponnya dan segera berlari keluar, membukakan pintu untuk Nova dan menyuruhnya masuk.Mbok Warni sudah pulang rupanya hingga tidak ada yang membukakan pintu untuk Nova.Dia harus menelpon Lala.
"Maaf, aku ketiduran tadi." Lala mencoba menjelaskan.
Dia membawa Nova ke kamarnya dan menyuruhnya beristirahat di sana.
"Aku akan membuatkanmu minum sebentar."
__ADS_1
Nova mengangguk.Dia memandangi sekeliling setelah Lala meninggalkan kamar.Ini pertama kalinya dia masuk ke kamar Lala.
Dia memandangi foto-foto Lala dari yang masih bayi hingga dewasa yang tersusun rapi di tembok.Satu persatu dia pandangi foto-foto itu, hingga kemudian Nova terpaku pada sebuah foto.Dia tampak tersenyum bahagia diapit oleh kedua orang tuanya, foto wisuda Lala.Foto yang membuatnya menelan ludah.
Seandainya orang tuanya masih hidup, pasti dia juga akan memiliki foto yang sama seperti Lala.Dan mungkin banyak foto lain yang bisa dia abadikan.
Lala masuk ke kamar membawakan minuman.Dia membuyarkan lamunan Nova yang sedang teringat orang tuanya.
"Ini minumlah, kamu pasti capek." Lala menyodorkan gelas yang dia bawa. "Mau makan sesuatu?"
"Tidak, terima kasih.Ini sudah cukup." Nova mengangkat gelasnya.
"Aku tidak tahu jika kamu akan menyusul kesini."
"Aku sudah mengirim pesan, tapi kamu belum membacanya.Jadi aku langsung kemari saja."
"Benarkah?" Lala meraih ponselnya lagi dan membukanya.Dia melihat beberapa pesan masuk dari Nova. "Pasti aku masih tidur tadi."
"Tidak apa-apa, lagian aku tidak enak jika kamu pulang ke rumah sendirian terus.Bapak ibu pasti menanyakan keberadaan ku.Benarkan?"
Lala mengangguk.Seperti Bu Yulia tadi pagi contohnya.
Nova kembali memandangi foto-foto Lala di tembok.
"Kamu kelihatan lucu." Nova menunjuk foto dimana Lala berusia sekitar lima tahun tersenyum lebar dengan gigi yang ompong.Lala hanya tersipu.Kemudian Lala menjelaskan satu persatu kenangan dari foto-fotonya.
Nova kembali teringat dirinya sendiri.Tidak satupun ada foto di rumahnya.Dia mencopot semua foto yang terpasang di manapun di bagian rumahnya, atau mungkin sekarang dia sebut rumah majikan Oma.Kenangan terakhir dengan orangtuanya sangatlah buruk hingga dia tidak mau melihat foto mereka sama sekali.
"Nova ... apa kamu tidak keberatan jika nanti kita menginap disini?" Pertanyaan Lala membuyarkan lamunan Nova.Sepertinya Lala masih ingin menghabiskan waktu lebih lama di kamarnya dulu.
"Terserah kamu saja, aku tidak keberatan.Tapi aku tidak bawa baju ganti."
"Nanti bisa pakai baju Mas Fadil."
"Baiklah." Nova tersenyum mengiyakan keinginan Lala.
__ADS_1