Menikah Tak Harus Cinta

Menikah Tak Harus Cinta
Tertangkap


__ADS_3

"Apa kamu sudah menyelidiki kecelakaan itu?"


"Aku sudah menyuruh Damian melakukannya."


"Kamu menemukan sesuatu?"


Nova menatap Oma heran. "Oma tahu sesuatu?"


"Lala bilang padaku, itu bukan kecelakaan. Seseorang sengaja mencelakainya."


Nova tidak terkejut mendengarnya. Kemudian Oma menceritakan kepada Nova percakapannya dengan Lala sewaktu makan siang tadi.


Nova termenung. "Berarti nyawanya dalam bahaya?"


"Apa yang akan kamu lakukan padanya jika wanita ular itu memang terbukti bersalah?"


"Aku tidak tahu Oma. Tapi dia harus mendapatkan balasannya."


* * * *


Nova menunggui Lala yang masih terlelap. Dipandanginya wajah istrinya itu tanpa berkedip. Tidak sia-sia penantiannya dulu untuk mendapatkan Lala. Beberapa kali ditolak bahkan rela menunggu lama, akhirnya sekarang semuanya terbayar. Hidup bahagia dan saling mencintai bahkan sebentar lagi akan memiliki anak, Nova tidak pernah membayangkan hidupnya akan sebahagia seperti saat ini. Kesuraman masa lalunya sepertinya sudah mulai sirna. Dia hanya ingin menatap masa depan bersama orang yang sangat dicintainya ini. Tapi itu tidak akan bisa terwujud jika ada orang yang berusaha untuk mencelakai mereka.


Lala menggeliat kemudian membuka matanya perlahan. Mendapati Nova sedang menatapnya, dia tersenyum.


"Kenapa melihatku seperti itu? Aku pasti jelek sekali sekarang."


Nova mengulum senyum. "Kamu tetap yang paling cantik." Lala tertawa mendengarnya. Dia tahu kata-kata Nova itu hanya untuk menghiburnya.


"Aku tahu kamu bohong, tapi aku tetap senang mendengarnya."


Giliran Nova tertawa. " Kamu memang sulit di rayu."


Lala meraih tangan Nova. "Terima kasih ... Terima kasih karena sudah mau menungguku dan mau menerima ku walaupun kamu tahu aku hanya menjadikan kamu pelarian ku."


"Terima kasih sudah hadir dalam hidupku," balas Nova sambil mengecup kening Lala.


"Karena sekarang aku jelek dan tidak bisa jalan, apa kamu masih mau mencintaiku?"

__ADS_1


"Selamanya." Kemudian keduanya tersenyum bersamaan.


"Kenapa kamu tidak bilang padaku kalau wanita itu menyakitimu?"


Lala diam sejenak. "Oma memberi tahu kamu?"


"Kamu tidak menjawab pertanyaan ku."


"Kita ... Dia ingin menyingkirkan kita." Lala mengoreksi kalimat Nova. "Aku takut itu akan semakin menyakiti mu. Kamu sudah menyimpan luka karena dia, aku tidak ingin menambahnya."


"Tapi ini sudah membahayakan nyawamu. Aku tidak bisa terima itu. Bagaimana jika sampai terjadi hal yang lebih buruk dari ini?" Nova menunjuk kaki Lala.


"Tapi aku baik-baik saja sekarang."


"Aku tidak mau mengambil resiko sekarang. Apalagi ada calon anak kita di perutmu. Kita harus hati-hati dan lebih waspada." Lala mengangguk.


"Hari itu, saat kamu akan pergi keluar rumah, siapa saja yang melihatmu? Apa sejak awal ada yang membuntuti mu?"


Lala mencoba mengingat-ingat kejadian itu. "Saat aku di garasi ada seorang pelayan yang menanyaiku. Sepertinya dia pelayan baru karena aku belum pernah melihatnya. Setelah itu di gerbang depan ada Pak satpam yang membukakan pintu pagar. Selain itu tidak ada lagi yang mengetahui jika aku keluar rumah. Pria itu datang setelah cukup lama aku berputar-putar. Aku bahkan sudah hampir pulang."


Tidak mungkin Pak Satpam. Dia sudah bekerja di rumah ini lama sekali. Bisa jadi pelayan baru itu.


* * * *


"Saya sudah menemukan mata-mata di rumah ini Tuan. Pelayan baru itu adalah orang suruhan Viviane. Saya sudah menginterogasinya. Seperti yang Nona katakan, hanya dia yang tahu Nona meninggalkan rumah hari itu. Kemudian dia melaporkannya kepada Viviane yang kemudian menyuruh orang untuk mencelakai Nona."


"Dimana pelayan itu sekarang?"


"Saya sudah mengamankan dia Tuan. Kita tinggal menunggu pengemudi motor yang mencelakai Nona tertangkap. Dia sudah melarikan diri keluar kota tapi saya sudah menyuruh orang untuk mencarinya."


"Bagus, teruskan penyelidikan mu. Begitu semua bukti terkumpul kita akan ambil tindakan. Jangan sampai Viviane mencium hal ini. Aku tidak ingin dia juga melarikan diri keluar kota setelah mengetahuinya."


Damian mengangguk kemudian pergi dari hadapan Nova.


* * * *


Nova mengendarai motornya mengikuti mobil polisi di depannya. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah Viviane. Semua bukti sudah terkumpul, pria yang mencelakai Lala juga sudah ditangkap. Surat perintah penangkapan juga sudah keluar, tinggal menangkap Viviane saja.

__ADS_1


Polisi segera mengetuk pintu rumah Viviane begitu tiba di sana. Ini masih pagi, tidak mungkin Viviane pergi apalagi bekerja. Sejak mempunyai Kevin dia tidak pernah bekerja. Dia hanya mengandalkan uang tunjangan dari Oma untuk hidupnya dan juga bersenang-senang. Setiap malam dia pergi ke klub malam untuk mabuk-mabukan dan pulang pagi. Jika uangnya habis dia akan meminta lagi kepada Oma dengan alasan Kevin memerlukan biaya untuk keperluan sekolah dan lainnya padahal Viviane menghabiskan semuanya untuk dirinya sendiri.


Pada ketukan ketiga barulah pintu dibuka. Viviane yang berada di balik pintu dengan wajah mengantuk terlihat kaget.


" Ada apa ini?"


Polisi menunjukkan surat perintah penangkapan di tangannya dan segera menangkap Viviane.


"Apa salahku? Apa-apaan ini?." Viviane mengelak.


"Anda bisa menjelaskannya nanti di kantor polisi."


" Lepaskan aku, aku tidak bersalah." Viviane mencoba memberontak. Tapi tidak ada gunanya karena dua orang polisi sudah memeganginya. Ibu Viviane yang mendengar keributan itu segera keluar untuk melihat apa yang terjadi.


"Ibu ... tolong aku, aku tidak bersalah. Katakan pada mereka aku tidak tahu apa-apa. Aku tidak ingin di penjara." Viviane mengiba, dia tidak sadar jika sejak tadi Nova ada di sana. Sementara ibunya hanya menatapnya bingung tidak tahu harus berbuat apa.


Ibu Viviane melihat ke arah Nova yang sedari tadi hanya diam melihat pemandangan ini. Dia segera berlari ke arah Nova dan memohon padanya.


"Tolong lepaskan dia ... aku mohon padamu. Dia tidak bersalah. Aku mohon lepaskan dia."


Nova hanya diam.


"Nova ... tolong lepaskan aku. Kamu tahu aku menyayangimu seperti adikku sendiri. Ku mohon lepaskan aku. Aku tidak bersalah. Aku tidak tahu apa-apa." Viviane memohon kepada Nova setelah menyadari kehadirannya. Tapi Nova tetap mematung.


"Nova ... kumohon, lepaskan aku. Aku tidak ingin dipenjara." Viviane mulai menangis.


"Aku tidak pernah berniat membalas pengkhianatan mu pada Mama ku. Aku sudah cukup lama membiarkanmu. Kamu tidak menyadari kami sudah berbaik hati padamu, kamu terlalu serakah. Apa yang kami berikan tidak pernah cukup bagimu. Aku tidak akan membiarkan kamu membahayakan keluargaku untuk keserakahan mu. Kamu harus menanggung akibatnya sekarang. Aku menyesal tidak memenjarakan mu sejak dulu." Nada bicara Nova datar dan tenang.


"Bagaimana dengan Kevin jika aku dipenjara? Ini akan menyakiti dia. Aku tahu kamu dekat dengannya, kamu pasti tidak akan tega jika dia menderita karena ibunya dipenjara."


"Justru itu, kami akan menuntut hak asuh atas Kevin darimu. Kamu terbukti seorang kriminal, kamu juga tidak mengurusnya dengan baik selama ini. Pengadilan pasti akan mengabulkan tuntutan kami. Dan jika Kevin bersama kami, kamu tidak akan punya apa-apa lagi. Kamu bukan siapa-siapa lagi bagi kami."


"Nova ... jangan lakukan ini padaku. Aku mohon padamu. Lepaskan aku ..."


" Aku tidak akan mendiamkan perbuatan mu seperti dulu lagi. Bawa dia ke tempat seharusnya Pak!"


The End

__ADS_1


**Pengumuman**


Ini Novel pertama author, mohon maaf jika masih banyak kekurangan. Terima kasih telah menjadi pembaca setia dan memberi like serta dukungannya 🙏. Nantikan novel author berikutnya hanya di noveltoon 😘


__ADS_2