Menikah Tak Harus Cinta

Menikah Tak Harus Cinta
Tidak Ada Foto


__ADS_3

Lala dan Nova sudah mengemasi barang-barang mereka.Hari ini Nova mengajak Lala kembali ke kota kelahiran Nova dan akan menetap di sana.Tapi sebelumnya mereka akan ke rumah orang tua Lala untuk berpamitan. Memang Nova sudah membicarakan hal ini dengan Pak Fajar dan Bu Meike waktu mereka menengok Lala di Rumah Sakit, tapi Nova belum memberi tahu kapan tepatnya.


Sekarang setelah dirasa Lala sudah sehat, maka Nova memutuskan untuk segera memboyong Lala pulang ke rumahnya yang sebenarnya.


Sementara, Lala masih menjaga jarak dari Nova.Dia sedang melakukan gencatan senjata sampai Nova menjelaskan semuanya, walaupun tak jarang Nova menggodanya.


"Kita ke rumah ibu dulu, kamu sudah siap?" tanya Nova.


Lala hanya mengangguk. "Kita naik motor saja." Lala tahu supir Nova sudah menunggu di depan kamar mereka.


"Kamu tidak boleh naik motor sampai benar-benar sehat.Lagipula bagaimana kita akan membawa barang-barang ini jika naik motor?" Nova menunjuk beberapa koper yang hampir semuanya berisi barang-barang Lala.


Lala melihat semua koper itu dan terheran-heran sendiri.


"Kenapa banyak sekali? Apa semua ini barang-barang ku?" Mungkin ini adalah kalimat terpanjang Lala setelah keluar dari Rumah Sakit.


Nova hanya mengangkat bahunya.


Terbongkarnya identitas Nova tidak lantas membuatnya merubah penampilannya memakai kemeja atau setelan formal.Dia tetap berpakaian seperti biasanya, seperti anak muda kebanyakan.Seperti sekarang ini, dia hanya mengenakan celana jeans dan hoodie.Hanya sikapnya saja yang sedikit berubah.Dia menjadi lebih dominan dan lebih tegas.


"Sudah semuanya?" Nova memastikan tidak ada barang yang tertinggal.Lala mengangguk.


* * * *


Mata Lala masih terlihat merah setelah beberapa saat meninggalkan rumah orang tuanya.Tadi dia menangis saat berpamitan seolah tidak akan bertemu mereka lagi.Memang seumur hidupnya Lala belum pernah tinggal jauh dari orang tuanya.


"Sudahlah ... nanti kita masih bisa mengunjungi bapak dan ibu." Nova mencoba untuk menenangkan perasaan Lala.


Lala diam saja.Dia masih malas berbicara dengan Nova.Lala terus saja diam hingga akhirnya tertidur selama perjalanan.


Mobil Nova sudah sampai di halaman rumah mewah yang dikelilingi hamparan rumput hijau.Mobil sudah berhenti tapi Lala masih tertidur.Nova tidak tega untuk membangunkannya jadi dia menemani Lala di dalam mobil.Setelah beberapa saat Lala terbangun dan memandangi sekelilingnya melalui kaca mobil.


Kemudian dia menatap Nova yang kini disampingnya.

__ADS_1


"Kenapa tidak membangunkan ku?" tanya Lala dengan wajah khas bangun tidur.


Nova tersenyum "Kamu tidur pulas sekali, aku tidak tega untuk membangunkan mu.Aku bisa saja menggendong mu tadi, tapi pasti kamu akan marah-marah padaku jika sudah bangun."


Wajah Lala semakin cemberut.


"Apa kamu mau turun, atau terus di dalam mobil? Atau aku memang harus menggendong mu masuk ke rumah?" tanya Nova degan senyum jahilnya.


"Tidak usah!" jawab Lala bersungut-sungut.Dia segera turun dari mobil dan meninggalkan Nova yang sejak tadi setia menemaninya.


Di dalam rumah senyum Lala merekah melihat Oma sudah menyambutnya.


"Apa kabar Oma?" tanya Lala sambil memeluk Oma Rusdi.


"Aku baik Lala ... Kamu sudah sehat?" Oma membalas pelukan Lala. "Maaf Oma tidak bisa menjenguk kamu."


"Tidak apa-apa Oma, aku sudah sehat sekarang."


Lala tahu anak nakal yang dimaksud Oma adalah Nova.


"Sudahlah Oma, tidak apa-apa.Dia sudah meminta maaf padaku ... " Lala menghentikan kata-katanya.


"Dia keterlaluan, kamu bahkan sampai harus masuk rumah sakit." Oma Rusdi sudah mulai mengomel."Kamu ingat? Dia bahkan mengenalkan Oma padamu sebagai pembantu di rumah ini."


"Tapi aku belum memaafkannya Oma, dia harus menerima hukuman dariku lebih dulu," ujar Lala sambil tersenyum jahil.


Oma Rusdi ikut tersenyum, "Sebaiknya kamu beri dia hukuman yang berat."


"Aku dengar itu semua," ucap Nova datar sambil berjalan mendekati mereka berdua. "Ayo ke kamar dulu, kamu harus istirahat."


Lala membulatkan matanya mendengar suara Nova.Dia pikir Nova masih di luar.


"Nova benar ... sana istirahatlah dulu di kamar.Nanti kita masih bisa mengobrol lagi."

__ADS_1


"Tapi aku sudah tidur tadi selama perjalanan ..." Lala coba menolak.


"Apa perlu aku gendong?" Nova mulai lagi dengan senyum jahilnya.


"Aku permisi dulu Oma," Lala tidak membantah lagi.


Oma tidak menjawab Lala.Dia tertegun,air matanya hampir menetes melihat Nova bisa tersenyum seperti tadi.Sudah lama sekali Oma tidak melihat Nova tersenyum jahil seperti dulu, hampir belum pernah setelah kematian orang tuanya.


Apa kamu sudah kembali menjadi Nova yang dulu? batin Oma Rusdi.


* * * *


Nova dan Lala sudah masuk ke dalam kamar.Suasana kamar ini berbeda dengan kamar yang dulu di tempati Lala waktu pertama kali berkunjung ke sini.Lala tampak memandang sekeliling.Melihat dari desain interiornya, Lala bisa menebak kalau ini adalah kamar Nova.


"Ini kamarmu?" tanya Lala memastikan.Nova hanya mengangguk.


"Lalu kamar yang waktu itu aku tempati?"


"Itu kamar khusus untuk tamu."


"Istirahatlah ...Kita akan bicara banyak malam nanti," ujar Nova kemudian dia pergi meninggalkan Lala.


"Kenapa harus nanti malam?" gerutu Lala.


Akhirnya Lala berbaring di kasur sambil mengamati kamar yang dia tempati.Hanya ada beberapa foto Nova yang di taruh di nakas.Sama sekali tidak ada foto kedua orang tuanya, apalagi foto Nova bersama wanita lain yang sebelumnya sempat Lala duga adalah istri pertama Nova.


Semua ini membuat Lala bertanya-tanya, seberapa buruk hubungan Nova dan orang tuanya sebelum mereka meninggal.Atau mungkin kematian mereka meninggalkan trauma yang dalam untuk Nova mengingat mereka berdua meninggal dengan cara yang tragis.


Aku harus menanyakan semuanya nanti malam, tapi jika alasan Nova berbohong kepada semua orang adalah karena kematian orang tuanya, apa aku akan tega menanyakan itu padanya nanti? Apa aku akan tega mengulik masa lalu yang susah payah dia coba untuk lupakan? Apa aku sudah tidak punya empati?


Akhirnya rasa galau menyelimuti perasaan Lala.Apa benar Nova seburuk yang dia pikir sebelumnya.Sekarang setelah kemarahannya sudah berkurang, Lala bisa berpikir dengan jernih.Dia mulai mencoba memahami semuanya bukan hanya dari sisinya sendiri, tapi juga dari sisi Nova.


Fakta jika ternyata suaminya sangat kaya memang sedikit menggiurkan, tapi Lala lebih fokus ke alasan kenapa suaminya berbohong kepada semua orang tentang siapa dirinya.Dia takut kebenaran di balik semuanya akan lebih menyakitkan untuk diterima.Kebohongan tetaplah kebohongan apapun alasannya.

__ADS_1


__ADS_2