Menikah Tak Harus Cinta

Menikah Tak Harus Cinta
Klarifikasi


__ADS_3

Lala tidak bisa istirahat dengan tenang.Dia khawatir jika tiba-tiba pemilik rumah datang dan menemukan dia berada di kamar majikan.


Dia kemudian memandangi sekeliling.Kamar ini berkali-lipat luasnya dari kamarnya di rumah.Dengan tempat tidur ukuran besar, Tv berukuran besar dan juga sofa di dekat tempat tidur.


Setelah beberapa saat terdengar suara ketukan di pintu.Lala segera berlari membukanya.


"Kamu tidak tidur?" tanya Nova yang sekarang sudah berdiri di depan pintu.


Lala hanya menggelang.


"Boleh aku masuk?" tanya Nova.


"Masuk saja, ini kan bukan kamarku Nov," jawab Lala.


"Kenapa tidak tidur? Nanti kamu capek.Kita akan pulang dan menempuh perjalanan jauh."


"Aku tidak bisa tidur."


"Kenapa?" tanya Nova heran.


"Bagaimana jika tiba-tiba pemilik rumah ini datang dan menemukan aku di kamarnya?" tanya Lala polos. "pasti mereka menggapku pencuri," lanjut Lala lirih.


Betapa Nova ingin tertawa mendengar kata-kata Lala.Gadis benar-benar tidak ingin menikmati apa yang bukan miliknya.


"Kamu tenang saja ... kamu bebas melakukan apa saja di sini.Mereka sudah menganggapku seperti anak mereka sendiri.Oma juga sudah dianggap seperti orang tua mereka."


"Benarkah?"


Nova mengangguk.


"Nova, boleh aku mengatakan sesuatu? Tapi aku harap kamu jangan tersinggung.


"Katakan saja," jawab Nova yang sekarang sudah duduk di sofa dekat tempat tidur.


"Bingkisan yang kamu bawa untuk keluargaku semalam, itu kan cukup mahal.Dari mana kamu mendapatkan uang untui membelinya?"


Nova tergagap lagi.Dia tidak menyangka Lala akan menanyakan ini.


"Maaf ... apa aku menyinggung perasaanmu?" tanya Lala penuh sesal.


"Tidak ... Aku tidak tersinggung sama sekali. Pemilik rumah ini yang membelikannya.Sudah ku bilang mereka menganggapku seperti anak mereka sendiri."


"Oh... begitu rupanya," ucap Lala lega. "Kupikir kamu menghabiskan seluruh tabunganmu untuk membeli barang-barang itu," lanjutnya.


Nova memandangi Lala dengan penuh kekaguman.Beberapa gadis senang-senang saja di beri hadiah mahal tanpa peduli dari mana asalnya.Tapi Lala justru mengusut darimana asal barang-barang itu.


"Dengar Nova, sebaiknya kita tidak usah menghamburkan uang untuk acara pernikahan nanti.Kita harus berhemat mengingat aku sudah tidak berkerja.Aku tidak mau menjadi bebanmu nantinya."

__ADS_1


"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan itu.Aku sudah punya tabungan untuk itu.Lagi pula kamu nanti jadi istriku, hidupmu adalah tanggung jawabku bukan bebanku," ucap Nova lembut dengan tatapannya yang teduh.


Hati Lala tersentuh dengan kata-kata Nova.Pemikirannya sangat dewasa.


Kenapa dia terlihat berbeda di sini, tidak seperti Nova yang selama ini aku kenal.Dia lebih berkarakter, sikapnya juga dominan, tidak mencerminkan seperti orang biasa pada umumnya.


Nova kemudian mengeluarkan dompetnya.Dia mengeluarkan sebuah kartu ATM dan menyerahkannya pada Lala.


"Ini ...Seluruh gajiku selama aku kerja di Plaza Z ada di sini.Aku belum pernah menggunakannya.Kamu bisa memakainya untuk membeli keperluan pernikahan."


Lala ternganga.


"Kamu serius? Pasti jumlahnya banyak sekali Nova,"


Apa Nova seirus? Dia sudah bekerja di Plaza Z selama hampir lima tahun dikali sebulan gajinya? Bisa seratus juta lebih.Terus biaya hidupnya selama ini dari mana jika dia tidak menggunakan uang gajinya?


Nova tersenyum.


"Kamu boleh menghabiskannya.Kalau masih kurang kamu bilang saja padaku.Nanti aku kirimkan nomor pin nya lewat pesan singkat."


"Kalau kamu ingin aku menemanimu membeli sesuatu, katakan saja.Kalau aku sedang tidak kerja pasti aku temani," ucap Nova lagi.


Lala masih ternganga tidak percaya.


"Terus selama ini biaya hidupmu dari mana jika gajimu sama sekali tidak digunakan?" tanya Lala terheran-heran.


"Apa aku harus menjelaskannya lagi?" tanya Nova sambil tersenyum.


"Oh... aku mengerti.Dari pemilik rumah ini bukan?" balas Lala sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Ayo kita turun.Kamu belum makan siang kan?"


Lala mengikuti ajakan Nova.Oma Rusdi sudah ada di meja makan menyambut mereka.


"Sini ... makan dulu La, kamu belum makan dari tadi."


"Iya Oma ...."


Lala makan dengan lahap.Oma Rusdi senang melihatnya.


Lala menghentikan makannya.


"Nova ... kenapa kamu tidak makan?" tanya Lala yang sedari tadi hanya melihat Nova minum kopi.


"Dia memang susah makan, karena itu badannya kurus seperti itu," ucap Oma.


"Ohh... begitu rupanya.Tapi aku sering melihatmu di kantin dulu."

__ADS_1


"Pasti dia hanya pura-pura makan," sahut Oma lagi. "Memangnya dia pernah mengajak kamu makan?"


Sontak Lala tersedak makanannya.Nova segera meraih gelas disampingnya dan menyodorkannya pada Lala.


"Pelan-pelan kalau makan," ucap Nova padahal sebenarnya dia tahu kenapa alasan Lala tersedak.


"Oma ... jangan ajak Lala ngobrol terus, biarkan dia makan dulu." Nova bicara pada Oma Rusdi kemudian mengalihkan padangannya lada Lala lagi.


Jangankan makan, kami bahkan belum pernah kencan sekalipun.


* * * *


Hari berikutnya Lala sudah beraktivitas seperti biasa di toko.Sepertinya kabar jika dia lamaran sudah tersebar luas di seluruh komplek.Terbukti dari sambutan Vira dan Mei ketika melihat Lala datang.


"Mbak Lala ...." teriak kedua gadis itu bersamaan.


Lala hanya tersenyum.


"Kenapa kalian ini?" tanya Lala.


"Kami sudah dua hari ngga ketemu Mbak Lala, kan kangen," ucap Vira.


"Mbak Lala bener kemarin ngga ke toko karena lamaran?"


Lala mengangguk.


"Siapa yang ngelamar mbak? Yang oppa-oppa itu atau Mas Juna?" tanya Mei langsung pada inti kekepoannya.


"Bukan keduanya," jawab Lala enteng.


Kedua gadis itu melongo.Hancur sudah imajinasi mereka.


"Terus siapa Mbak? Jadi mereka berdua bukan pacar Mbak Lala?" tanya Mei yang terlihat seperti hampir menangis seolah dia yang batal di lamar. "padahal yang seperti oppa-oppa itu tampan sekali."


"Pasti Mas Juna lagi patah hati sekarang," balas Vira.


"Emang dia sudah tau aku lamaran?" selidik Lala.


"Ya jelas lah Mbak, satu komplek, satu desa bahkan satu kecamatan sudah tau kalau Mbak Lala sudah di lamar.Cuma tidak tau siapa yang melamar," jelas Vira.


"Memang Mbak Lala dan Mas Juna sudah tidak pacaran?"


Lala mengangguk.


"Sudah lama kami berpisah, lalu yang kalian bilang mirip oppa-oppa itu juga bukan kekasihku karena tidak mendapat restu dari mamanya, jadi kami akhiri saja hubungan kami." Lala menjelaskan kepada kedua gadis ini agar tidak ada berita simpang siur tentang dirinya.


Nantinya kedua gadis ini pasti akan cerita ke teman mereka, kemudian teman mereka cerita ke tetangga mereka, kemudian tetangga mereka cerita ke tetangga mereka yang lain, kemudian tetangga mereka yang lain cerita ke saudara mereka dan begitulah seterusnya hingga satu kecamatan ini tahu semua.Ini namanya klarifikasi versi Lala.Tidak perlu menjelaskan satu persatu kepada orang yang bisik-bisik di belakangnya.Cukup memberi tahu satu atau dua orang nanti satu kecamatan bisa tahu semua.

__ADS_1


__ADS_2