
Ketiga perempuan itu kini lemas tak berdaya.Mereka mendengar dengan jelas Adit melaporkan mereka ke polisi.
"Tidak ada yang boleh membuat keributan di tempatku!" Suara Adit pelan tapi bisa membuat orang yang mendengarnya gemetar.
Adit kemudian menoleh dan bicara kepada orang-orang yang masih berada di sana.
"Tolong awasi mereka! Jangan sampai ada yang kabur!" Kemudian dia berjalan mendekati Lala lagi.
"Kamu tidak apa-apa? Kamu bisa jalan? Ada lagi yang sakit? Aku antar ke rumah sakit?!" Adit memberondong Lala dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.
"Ngga usah lebay deh bang, aku ini cuma sedikit lecet bukannya terkena stroke!" Lala justru menggerutu tidak jelas karena menurutnya Adit berlebihan.Tapi Adit memang terlihat cemas dari raut mukanya.
"Aku akan ke mobil saja.Ada kotak P3K di mobilku." Lala melepas sepatunya dan berjalan tanpa alas kaki menuju mobilnya.Adit dengan sigap memapah Lala.
"Bang... Bisa lepasin tangannya ngga?! Aku ini ngga apa-apa.Aku masih bisa jalan normal! Lari aja aku masih bisa!" Lala semakin sewot.
"Oh... ya sudah, aku jalan di sampingmu saja.Siapa tahu nanti kamu pingsan," Adit bicara dengan polosnya tanpa ada maksud menggoda.
"Serah kamu deh!" Entah kenapa Lala jadi uring-uringan kepada Adit.
"Dia ini PMS apa gimana sih? Hari ini aneh banget," batin Adit.
Adit sudah selesai mengobati luka di lutut dan juga siku Lala.Dia kemudian berdiri untuk mengembalikan kotak obat ke tempat semula.Sementara Lala tetap duduk di mobilnya tapi dengan pintu yang tetap terbuka.
Jeslin dan kedua temannya yang sedari tadi diam di tempat akhirnya memberanikan diri mendekati Lala.Jika tadi saat dia menyerang Lala terlihat garang saat ini kelihatan sekali nyalinya sudah menciut.Wajahnya terlihat pucat dan ketakutan.
"Lala... Dengar... Aku minta maaf.Aku tidak bersungguh-sungguh tadi." Jeslin bicara tanpa berani menatap Lala.
"Yang kamu maksud tidak bersungguh-sungguh itu sudah membuat kakiku terluka Jes."
"Kumohon jangan laporkan ini ke polisi."
"Aku tidak melaporkan.Dia yang melaporkan," Lala menunjuk Adit yang kini ada di sisi lain mobil dengan matanya.Adit tidak menghiraukan mereka.Dia sedang sibuk dengan hpnya.
"Kalau kamu ada masalah dengan Rizal sebaiknya kalian selesaikan berdua.Jangan melampiaskannya padaku.Kamu bahkan menyebutku 'pelakor' padahal kamu tidak punya bukti apa-apa."
"Tapi temanku bilang dia melihatmu dengan Rizal di bioskop."
"Apa temanmu juga bilang kalau aku dan Rizal bergandengan tangan, pelukan atau ciuman mungkin?"
Jeslin menggeleng, masih menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Kami hanya nonton film di bioskop.Di sana ada banyak orang, apa yang mungkin kami lakukan di keramaian? Lain cerita jika temanmu itu melihatku dan Rizal berdua di kamar hotel."
"Kumohon jangan laporkan aku ke polisi.Karir modelingku bisa hancur jika aku di penjara.Tolong katakan padanya untuk menarik laporannya ke polisi," Jeslin melirik ke arah Adit.
Adit sudah selesai dengan urusannya.Dia memasukkan kembali hpnya ke dalam saku celananya lalu berjalan mendekati Lala.
"Kamu jadi mau makan es krim?" Adit bertanya dengan lembut kepada Lala.
Lala mengangguk, matanya berbinar seketika.
"Kalau begitu ayo.Pakai mobilmu saja.Aku akan meninggalkan mobilku di sini."
"Bagaimana dengan mereka?" Lala melirik tiga perempuan yang tadi merundungnya.
"Aku ngga peduli." Adit bicara datar tanpa melirik mereka sedikitpun.
"Sudahlah bang... Kasihan, aku ngga apa-apa. Mereka juga sudah minta maaf padaku." Lala meraih tangan Adit.Dia tahu Adit tidak akan melepaskan ketiga perempuan ini begitu saja.
* * * *
Lala tiba di rumah saat seluruh keluarganya sudah selesai makan malam.Dia langsung menuju dapur hendak mengambil air dingin untuk menyegarkan tenggorokannya.Rupanya Bu Mieke masih ada di dapur.Bu Mieke dan Mbak Dina sedang membereskan sisa makan malam sementara yang lain sudah berada di ruang keluarga.
"Viola... kamu baru pulang? Apa habis jalan bersama teman-temanmu lagi?"
"Bagaimana dengan Rizal? Bukankah kemarin malam kalian pergi berdua?"
Lala mengangguk.
"Kemarin kami nonton di bioskop."
"Apa hubungan kalian sudah semakin dekat?" pertanyaan Bu Mieke sudah seperti wartawan infotanment saja.
"Biasa saja Bu," Lala terlihat ragu dengan jawabannya mengingat apa yang dialaminya tadi sore.
"Kok biasa? Bukankah kalian sudah beberapa kali jalan berdua? Harusnya sudah semakin dekat dong?"
"Ibu... Kan ngga semudah itu dekat dengan seseorang."
Lala mulai malas meladeni pertanyaan ibunya.Lala saling melempar lirikan dengan Mbak Dina yang dari tadi diam mendengarkan. Sepertinya Mbak Dina tahu apa yang dipikirkan Lala saat ini.
"Jalani saja dulu.Nanti lama kelamaan pasti muncul rasa sayang." Bu Mieke masih memaksa.
__ADS_1
"Sepertinya tidak perlu dilanjutkan lagi Bu.Kami tidak begitu cocok satu sama lain."
"Kok sudah nyerah?"
"Tadi ada perempuan yang mengaku kekasih Rizal datang ke tempat kerjaku.Dia menyuruhku agar menjauhi Rizal.Dia bahkan menyebutku pelakor."
Bu Mieke tertegun tidak percaya.
"Kamu tidak bohong kan Nak?"
Lala menggeleng.
"Untuk apa aku bohong? Perempuan itu datang bersama dua orang temannya.Dia bahkan mendorongku hingga aku jatuh."
Lala menunjukkan lututnya yang ditutup perban juga sikunya.Dia sengaja mendramatisir apa yang dialaminya agar ibunya berhenti membahas Rizal.
"Tapi kamu tidak apa-apa kan? Dimana perempuan itu sekarang?"
Lala mengangguk lagi.
"Jadi jangan paksa aku untuk bersama Rizal lagi ya Bu? Kejadian tadi sangat memalukan.Beruntung ada Bang Adit."
"Dia yang menolongmu?"
"Iya... Bang Adit melaporkan mereka ke polisi.Tapi aku memintanya untuk menyelesaikan masalah ini secara damai.Akhirnya mereka hanya disuruh untuk membuat permohonan maaf secara tertulis juga perjanjian di atas materai."
Bu Mieke diam saja.Dia masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Tidak perlu bahas masalah ini lagi Bu.Tidak perlu juga membicarakannya dengan Bu Wendi.Ngga enak... Nanti hubungan Ibu dan Bu Wendi jadi renggang gara-gara masalah ini."
"Tidak Viola... Ibu harus meminta penjelasan.Ibu tidak terima kamu dipermainkan seperti ini." Bu Mieke terlihat kesal sekarang.
"Ah... Ibu...Seaindainya Ibu tahu... Ini bukan apa-apanya dibandingkan apa yang sudah Juna lakukan padaku," batin Lala.
"Aku ke kamar dulu Bu... Aku ingin membersihkan diriku kemudian tidur."
"Kamu tidak makan dulu?"
"Aku sudah makan dengan Bang Adit, apa Ibu lupa? aku sudah mengatakannya tadi."
"Ohh... iya.. ibu lupa.Pikiran Ibu jadi ke Bu Wendi sekarang."
__ADS_1
"Sudahlah Bu... tidak usah diperpanjang." Lala memeluk ibunya dari belakang.
Ibunya hanya tersenyum dan mengangguk.Lala melepaskan pelukannya kemudian berjalan menuju kamarnya.