
Lala sudah selesai membersihkan badannya.Dia duduk di tempat tidurnya sambil menatap hpnya.Dia ingin menghubungi Rizal tapi ragu, apakah dia perlu memberi tahu soal kejadian tadi di tempat parkir atau tidak.Itu memang bukan salah Rizal tapi sedikit banyak ada hubungannya dengannya.Dia mengambil nafas dalam kemudian menulis pesan untuk Rizal.
"*Boleh aku telfon?"
"Tentu saja*."
Tak berselang lama Lala sudah terhubung dengan Rizal di saluran telefon.
"Halo... "
"Hai Rizal... Aku ingin bicara sebentar.Kamu ada waktu?"
"Kamu ingin bicara apa? Sepertinya serius."
"Ya... Memang ini sedikit serius."
"Apa aku perlu ke rumahmu?"
"Tidak... Tidak perlu.Begini Rizal... Aku sudah punya jawaban atas pertanyaanmu kemarin malam.Maaf, aku tidak bisa menjadi kekasihmu."
"Kenapa bicara sekarang? Bukankah kamu janji akan memberiku waktu satu bulan?"
"Aku tahu.Maafkan aku."
"Kamu belum memberikan kesempatan untuk kita berdua saling mengenal lebih jauh."
"Aku benar-benar minta maaf."
"Berikan aku alasanmu, karena ini terdengar tidak adil bagiku."
"Mungkin kamu perlu tahu, tadi sore Jeslin mendatangiku di tempat kerjaku.Kami sedikit bersitegang walaupun sekarang masalahnya sudah selesai."
"Aku sudah bilang padamu jika hubunganku dan Jeslin sudah berakhir."
"Tapi dia menganggapmu masih kekasihnya.Tadi dia menyebutku 'pelakor' di depan banyak orang.Itu memalukan sekali buatku."
"Kita bisa bicarakan ini dulu.Kita bisa bertemu di suatu tempat, atau aku bisa menjemputmu sekarang."
"Tidak perlu Rizal.Aku tidak ingin ada salah paham lebih jauh lagi."
"Jangan begini Lala, kamu sudah janji akan memberiku waktu satu bulan."
"Aku tahu ini tidak adil bagimu.Tapi kejadian tadi sangat memalukan bagiku.Aku tidak ingin ada kejadian seperti ini lagi.Sebaiknya kamu selesaikan masalahmu dengan Jeslin sampai tuntas.Jangan sampai dia melampiaskan kekesalannya kepadaku lagi."
"Aku tidak bisa terima ini.Kita harus ketemu, kita bisa membicarakannya dulu."
"Maaf Rizal.Aku tidak bisa, sampai jumpa."
__ADS_1
Lala menutup telefonnya.Ada rasa bersalah dalam hatinya, tapi dia tidak mau ambil resiko jika dia tetap berhubungan dengan Rizal.Lala tidak ingin memikirkannya sekarang.Dia hanya ingin menutup matanya agar tidak merasa terbebani dengan semua ini.
* * * *
Sudah pagi lagi.Lala bangun dan bersiap-siap untuk kerja.Dia sudah kembali menjadi Lala yang biasanya, memakai celana panjang, sepatu sneakers juga tas ransel.Tak lupa memakai jaket, helm dan sarung tangan kemudian tancap gas setelah berpamitan kepada bapak ibunya.
Lala sudah sampai di tempat parkir.Dia melihat Riris ada di sana kemudian segera menghampirinya.
"Heii... kemarin sore aku mencarimu ke ruanganmu.Tapi kamu sudah tidak ada."
"Aku sedang mengurus sesuatu di gudang kemarin." Riris segera menarik tangan Lala untuk menepi.
"Ceritakan apa yang terjadi padamu kemarin sore," Riris berbisik di telinga Lala.
Lala terbengong-bengong.
"Kamu sudah tau?"
Riris hanya mengangguk.
"Tahu dari mana?"
"Dari group huru-hara." Riris masih berbisik di telinga Lala.
Group huru-hara adalah group chat yang beranggotakan seluruh pegawai biasa di plaza Z, tanpa manajer masing masing divisi.Atau lebih tepatnya tanpa sepengetahuan atasan mereka masing-masing.Group ini bersifat tidak resmi dan kebanyakan hanya membahas gosip atau rumor di kalangan pegawai.Lala tidak masuk dalam group ini karena dia termasuk atasan.Lala mengetahui group ini juga karena Riris.
"Jadi... apa yang terjadi?" Riris masih penasaran.
"Memang bagaiman mereka membicarakanku di dalam group?"
"Ya gitu, mereka hanya bilang kamu didatangi tiga perempuan.Cerita mereka tidak begitu jelas."
"Sudahlah... nanti kuceritakan di dalam.Sebaiknya sekarang kita masuk sebelum Adit datang." Lala bebisik di telinga Riris.
Mereka berdua cekikikan.Sudah bisa ditebak apa yang terjadi jika Adit datang.Lala pasti tidak bisa bersama orang lain selain bersama Adit.
Lala sudah mulai disibukkan dengan pekerjaannya.Ini hampir jam 9 tapi Adit belum menampakkan batang hidungnya.Biasanya dia tidak pernah absen untuk melihat Lala di ruangannya baik sebelum mulai kerja ataupun sesudah pulang kerja.Tapi kali ini dia sama sekali belum terlihat di depan Lala.Dia juga tidak pamit akan pergi ke luar kota.
Hingga waktu makan siang Adit masih belum menampakkan dirinya di depan Lala.
Akhirnya Lala mengirim pesan kepada Adit.
"*Mau makan siang bareng ngga? Aku tunggu."
"Duluan aja.Aku masih ada kerjaan*."
Lala menutup hpnya.
__ADS_1
"Kenapa dia? Ini tidak biasanya," Lala bicara sendiri.
Mungkin Lala sudah terbiasa dengan kehadiran Adit di sampingnya.Dia mulai merasa kehilangan saat tidak melihat Adit sebentar saja.
Akhirnya Lala makan siang bersama Riris.Saat di kantin hampir seluruh mata melirik ke arah Lala secara diam-diam.Kemudian mereka berbisik-bisik di belakang Lala.Tapi Lala mencoba untuk tidak menghiraukan itu semua.Dia tetap asik menikmati makan siangnya bersama Riris.
Hingga waktunya pulang Adit masih belum kelihatan sama sekali.
"Apa aku tengok ke ruangannya aja ya? Dia kenapa sih?" batin Lala.
Lala memutuskan untuk mendatangi Adit di ruangannya.Lala mengetuk pintu ruangan Adit kemudian masuk setelah mendengar suara dari dalam.
Adit tidak menghiraukan siapa yang datang.Dia sedang melamun memandangi layar hpnya.Dia terlihat kusut seperti sedang ada masalah.
"Kamu sibuk apa sih bang?" suara Lala membuyarkan lamunan Adit.
Dia mengangkat kepalanya dan melihat siapa yang ada di depannya, dialah gadis yang selalu ada di pikirannya.Adit segera berdiri.Raut wajahnya masih datar sama seperti saat dia melihat hpnya tadi.Adit berjalan melewati Lala kemudian meraih gagang pintu dan menguncinya.Lala hanya melihat apa yang dilakukan oleh Adit.
"Kenapa dikunci?"
Adit diam saja.Dia berjalan mendekati Lala kemudian langsung memeluknya.
"Apa kamu benar-benar akan memperkosaku?" tanya Lala dengan polosnya.
Adit tertawa dalam hati, tapi raut wajahnya masih sama seperti tadi.
"Semakin hari kamu membuatku semakin gemas.Aku terus menerus merindukanmu.Bagaimana nanti aku bisa berpaling darimu?" batin Adit.
Adit masih diam membisu.Dia masih memeluk Lala dengan erat seolah tidak ingin melepaskannya.Lala sadar sepertinya Adit memang sedang ada masalah.Dia kemudian membalas pelukan Adit.
"Kamu ngga apa-apa?"
"Biarkan aku memelukmu sebentar saja."
Lala mebiarkan Adit memeluknya.
"Kamu bisa cerita kepadaku."
"Lain kali.
Adit melepaskan pelukannya.Dia menatap wajah Lala dan ingin menciumnya.Lala mendorong Adit.
"Tadi cuma minta ijin buat meluk, ngga minta ijin buat nyium.Jangan mencari kesempatan!" Lala sudah manyun.
Adit tersenyum sekarang.Dia memeluk Lala lagi.
"Sampai kapan kita akan seperti ini?" bisiknya di telinga Lala.
__ADS_1
Lala terdiam.Dia sendiri tidak tahu jawabannya.