
"Siapa itu?" bisik Lala.
"Pengurus rumah ini.Tadi aku menelfonnya sebelum ke sini.Aku menyuruhnya memesankan seafood di restoran dekat pantai di bawah sana," jawab Adit dengan raut wajah yang sanagt kesal tentu saja.
"kamu suka seafood kan?" lanjutnya.
Lala mengangguk riang.
Kemudian sesosok wanita yang belum begitu tua datang mendekat ke tempat Adit duduk.Rupanya dia mendengar suara Adit dari dalam dapur.
"Maaf Tuan... saya tidak tahu kalau Tuan Adit sudah di sini," wanita itu menyapa Adit ketakutan.
Tentu saja wanita itu ketakutan.Raut wajah Adit terlihat begitu kesal.Wanita ini sudah mengacaukan aktivitas panasnya bersama Lala.
"Makan malamnya sudah siap Tuan." Wanita itu hanya menunduk.
"Bawa ke sini.Aku ingin makan di sini."
Lala tersenyum ramah kepada wanita itu untuk mengurangi ketakutannya terhadap Adit.Senyum Lala semakin merekah saat melihat hidangan yang tersaji di depannya.Udang, cumi, kepiting semua adalah makanan kesukaannya.Lala segera melahap makanan itu sementara Adit cuma memandangi Lala.
"Kenapa ngga makan?" tanya Lala setelah dia menyadari kalau Adit tidak ikut makan,
"kamu ngga alergi seafood kan?" lanjut Lala.
Adit diam dan terus memandangi wajah Lala.Gadis itu kemudian menjejalkan potongan udang ke mulut Adit.
"Kalau mau disuapi bilang aja, mumpung aku lagi baik hati," Lala seolah tidak ikhlas dengan apa yang diucapkannya.
"Mungkin ini terakhir kalinya kita bisa begini," batin Adit.
Lala terus makan dengan lahap sambil sesekali menyuapi Adit.Lala menghabiskan semua makanan di depannya hingga tak tersisa.Adit sampai terheran-heran dibuatnya.
"Kamu ini... badanmu kecil tapi makanmu banyak sekali?!" Adit masih tidak percaya apa yang dilihatnya.
"Aku tahu." Lala menjawab tanpa rasa malu sama sekali.
"Jadi cewek ngga ada jaim-jaimnya,"
"Bodo amat! Ke depan yuk bang, lihat pemandangan di depan villa."
"Males... Aku mau ngelanjutin yang tadi," Adit mulai menggoda Lala.
"Ngga... Sana nanti kamu lanjutin sama pacar kamu aja!" Lala berdiri kemudian berjalan ke luar villa.
__ADS_1
Lala berdiri mematung menikmati hembusan angin yang menyapu kulitnya.Deburan ombak samar-samar terdengar di telinganya.Adit menyusul kemudian memeluknya dari belakang.Hidungnya sudah tenggelam di leher Lala, menghirup aroma tubuh gadis itu.Lala menikmatinya.Sepertinya dia sudah tidak bisa menolak sentuhan Adit kepadanya.
"Aku terus menerus mengemis pada Juna agar menikahiku, dan aku menolak Adit yang sangat ingin menikah denganku.Tapi aku menikmati saat tangan Adit menjamah tubuhku walau tanpa ada ikatan apapun.Perempuan macam apa aku?" batin Lala.
Lala melihat jam di hpnya.
"Sudah jam 8 lebih.Kita harus pulang."
"Sebentar lagi," jawab Adit yang masih membenamkan kepalanya di leher Lala.
Hening sejenak.
"Bagaimana kalau aku yang menikah lebih dulu?"
"Aku tidak mau memikirkannya."
Lala melepaskan tangan Adit dari pinggangnya kemudian berbalik dan menatap Adit.
"Kamu adalah milik Denise.Aku sudah menyiapkan hatiku agar tidak takut kehilanganmu karena kamu memang bukan milikku," kemudian Lala mengecup bibir Adit.
"Kita benar-benar harus pulang sekarang," lanjutnya.
Adit mengangguk terpaksa.
Selama di perjalanan baik Adit maupun Lala tidak bicara sepatah katapun.Mereka larut dalam pikiran masing-masing.Mobil Adit tiba di depan rumah Lala tepat sebelum jam 10 malam.Mereka berdua kemudian turun dari mobil.Kebetulan Pak Fajar duduk di depan rumah atau mungkin memang sengaja menunggu Lala pulang.Adit melangkah mendekati Pak Fajar.
Pak Fajar mengangguk.Setelah berbasa-basi sebentar dengan Pak Fajar akhirnya Adit pamit pulang.
Lala sudah merebahkan diri di kasur empuknya sambil mengingat-ingat kebersamaannya dengan Adit tadi.Tiba-tiba hpnya begetar ada pesan masuk.
"Sayang... Kapan kamu ada waktu? Aku ingin ketemu."
Lala hanya membaca pesan itu tapi tidak membalasnya.
"Jadi bagaimana rasanya? Dulu aku berulang kali mengirim pesan padamu tapi tidak satupun yang kamu balas," Lala bicara sendiri.
Hp Lala bergetar lagi.Pesan masuk lagi tapi bukan dari Juna.
* * * *
Sampai di rumah Adit segera masuk ke kamarnya dan melepas seluruh pakaiannya.Ruam merah sudah mulai muncul di tubuhnya.Dia sibuk menggaruk tubuhnya karena rasa gatal yang luar biasa.Adit segera minum obat.Namun setelah beberapa saat rasa gatalnya tidak berkurang.Dia jadi teringat gadis yang sudah membuatnya jadi seperti ini.Adit meraih hpnya kemudian menulis pesan.
"Jelek... sudah tidur?"
__ADS_1
"Belum.Ada apa?"
"Besok aku ngga masuk kerja."
"Kenapa?"
"Ada urusan."
"Horeeee... Semoga lama."
"Haahhh... apa-apaan dia ini? Kenapa senang begini tahu aku besok ngga masuk kerja?!" batin Adit.
"Heiii... ! Aku cuma ngga masuk sehari!"
"Owgh... "
Adit menutup hpnya.Dia kesal tapi tersenyum pada saat bersamaan.Gadis ini benar-benar membuat perasaanya jungkir balik.
Adit melihat badannya yang tidak tertutup apa-apa di cermin.Kini hampir seluruh tubuhnya rata dengan ruam merah.Sebenarnya Adit alergi seafood tapi dia tetap menelan apa saja yang tadi Lala jejalkan ke mulutnya tanpa memikirkan resiko alerginya akan kambuh.
Ah... Seandainya gadis itu tahu Adit akan melakukan apapun untuknya.
Adit memakai lagi bajunya.Dia berjalan ke luar kamar untuk mengambil air dingin.Tenggorokonnya terasa kering.Dia melewati ruang tamu dan melihat mamanya.Ini sudah jam 11 malam tapi sepertinya dia baru datang.Adit tidak ingin menyapanya tapi mamanya terlanjur melihatnya.
"Adit sayang... " Nyonya Andreas menyapa Adit sambil berjalan mendekatinya.
Adit hanya diam tidak menjawab.Mata Nyonya Andreas melotot ketika melihat seluruh tubuh Adit dipenuhi ruam merah.
"Adit kamu kenapa nak?" tanya mamanya panik
"Alergi," jawab Adit singkat.
"Sejak kapan kamu punya alergi?"
"Sepertinya sejak lahir," jawab Adit sarkas, "Mama tidak tahu? Oh... Aku lupa... Mama kan tidak pernah merawatku jadi mana mungkin tahu," imbuhnya.
Nyonya Andreas tertegun.
"Tapi besok Denise akan ke sini.Bagaimana jika dia melihatmu seperti ini?"
Pertanyaan mamanya membuat Adit tersenyum getir.Untuk sesaat dia pikir mamanya panik karena khawatir dengan keadaannya.Tapi ternyata dia hanya khawatir jika Denise melihatnya seperti ini.
"Bagus kan? Siapa tahu dia ilfil melihat keadaanku begini terus membatalkan pertunangan ini."
__ADS_1
"Adit! Jaga bicaramu!"
Adit sudah tidak meghiraukan mamanya lagi.Dia kembali ke kamarnya.Firasat Adit tidak enak, pasti akan ada hal buruk yang terjadi jika mamanya ada di sini.