
Lala menghapus air matanya sebelum turun dari mobil Adit.Dia tidak mengatakan sepatah katapun.Baru kali ini dia rasakan, mendapat ungkapan cinta tapi sakitnya luar biasa, karena orang yang mengungkapkan cinta kepadanya tidak bisa menjadi miliknya.
Lala berjalan pelan masuk ke tokonya.Walaupun dia sudah menghapus air matanya tapi tetap terlihat kalau dia habis menangis.Hanya ada Vira di dalam toko.Mei dan Siti sedang istirahat makan siang.Lala diam saja.Dia tidak menyapa Vira yang dari tadi mengawasinya.
Vira mendekati Lala.
"Mbak Lala ngga apa-apa?" tanya Vira.
"Aku ngga apa-apa Vira."
"Tapi Mbak Lala habis menangis.Apa itu Mas Juna?" tanya Vira Lagi.Dia sudah cukup lama bekerja untuk Bu Mieke, jadi dia sedikit tahu tentang Lala dan Juna.
"Bukan Vira, itu temanku yang lain," jawab Lala murung.
"Mbak Lala bisa istirahat biar aku sendiri yang jaga toko."
"Makasih Vira, aku memang ingin menenangkan pikiranku.Kamu nanti gantian makan siang sama Mei dan Siti." Lala berdiri kemudian menggalkan Vira sendirian di toko.Ini tepat tengah hari jadi toko tidak begitu ramai.
Mbak Lala kenapa, pergi sebentar balik-balik udah nangis.Diapain sama yang punya mobil tadi? Apa itu tadi Arjuna yang tampan itu. Eh ... tapi Mbak Lala masih pacaran sama dia ngga sih? Udah lama banget pacaran tapi kok ngga nikah-nikah? Sweet couple banget deh mereka berdua.Kalau nikah nanti anaknya kaya siapa ya, Juna nya ganteng Mbak Lala nya cantik.Kalau punya pacar seperti Juna gimana rasanya ya ... Pikiran Vira melalang buana entah kemana.Dia seperti netizen yang belum bisa move on saat idolanya sudah putus dengan pacarnya.
* * * *
Ada notifikasi pesan masuk.Lala membuka hpnya.
"Dari siapa ini? Nomor asing," gumamnya lirih.Kemudian dia baca pesan itu.
"Apa kita bisa ketemu? Denise."
Lala mengambil nafas panjang setelah membaca pesan itu.Siang tadi dia bertemu Adit dan sore harinya Denise mengajaknya bertemu. Ini pasti tidak akan bagus pikir Lala, tapi dia akan menghadapinya.
"Oke.K**apan, dimana?"
"Terserah kamu bisanya kapan."
"Nanti malam?"
"Oke, aku tunggu di restoran X."
Lala tidak tahu apa maksud Denise mengajaknya bertemu.Yang jelas pasti akan membahas Adit.
__ADS_1
Malam harinya...
Lala menemui Denise di restoran X seperti yang telah mereka sepakati.Denise dan Lala duduk berhadapan dengan hidangan masing-masing di depannya.
"Jadi ... sedekat apa hubunganmu dengan Adit? Aku pernah melihat Adit memelukmu jadi kalian pasti sangat dekat." Denise mulai bicara.
"Bagaimana menurutmu?"
"Menurutku ... ?" Denise berpikir sebentar. "Menurutku Adit pasti sangat menyukaimu," jawab Denise. "Adit tidak akan sembarangan memeluk orang," lanjutnya santai.Tidak ada raut kesedihan atau kekecewaan di wajahnya.
"Kamu tidak marah melihat dia memelukku?"
Denise menggeleng. "Aku tidak menyalahkanmu, aku hanya penasaran."
"Penasaran?" tanya Lala heran.
"Iya ... Kamu pasti sangat istimewa hingga Adit sangat menyukaimu, Tante Andreas juga sangat memperhitungkan dirimu.Kamu pasti bukan gadis biasa," jelas Denise. "Aku terus bertanya-tanya apa yang sangat istimewa darimu makanya aku mengajakmu bertemu."
"Sekarang kamu sudah bertemu denganku.Jadi bagaimana menurutmu?"
"Well ... secara fisik kamu memang cantik, kamu juga terlihat smart dan dilihat dari penampilanmu juga sepertinya kamu bukan tipe wanita yang mengambil keuntungan dari Adit." Denise mengatakan penilaiannya tanpa ditutup-tutupi.Kemudian berhenti bicara sejenak. "Jadi ... aku ingin kamu mengajariku cara menaklukkan Adit," ucap Denise tanpa ragu.
"Setidaknya aku bisa belajar darimu cara mendekatinya," jawab Denise enteng. "Ceritakan padaku bagaimana kamu bisa dekat dengan Adit.Aku sudah bicara panjang lebar dari tadi.Sekarang giliranmu," ucap Denise sambil tersenyum.
Lala menatap Denise.Di tidak bisa mengerti jalan pikiran gadis ini.Setiap kata yang keluar dari mulutnya mengalir begitu saja, tidak dibuat-buat juga tidak dipaksakan.Senyumnya ramah dan gerak geriknya natural, tidak kikuk ataupun canggung sama sekali.
"Kenapa diam saja? Ceritalah, aku tidak apa-apa," ucap Denise sambil menikmati makan malamnya.
Sepertinya dia tulus.Apa aku harus cerita semuanya? batin Lala.
"Kami memang dekat, tapi waktu itu aku tidak tahu kalau kalian sudah tunangan.Dia tidak pernah cerita padaku."
"Pasti! Aku bahkan belum pernah melihat dia bicara," ucap Denise datar.
"Lalu kenapa kamu mau dijodohkan?" tanya Lala.
"Entahlah, aku masih muda waktu itu, dan Adit sangat tampan.Kamu juga mengakuinya kan kalau dia sangat tampan?" goda Denise sambil tersenyum.
"Itu memang tidak bisa disangkal," jawab Lala tertawa.
__ADS_1
"Jadi aku mau saja dijodohkan dengannya.Dia seperti pangeranku waktu itu.Tapi itu dulu," cerita Denise. "Selama tinggal di luar negeri, aku tahu Adit sering kencan dengan gadis-gadis lain di sini, jadi tidak munafik, aku juga menjalin hubungan dengan orang lain di sana."
"Aku bisa mengerti itu," gumam Lala.
"Tapi aku disini sekarang.Aku akan mulai hidupku dengan Adit jadi aku akan berusaha untuk mendapatkan hatinya, kamu sebaiknya jauh-jauh dari dia," ucap Denise tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Lala.
Entah kenapa Lala tidak tersinggung dengan kata-kata Denise, dia justru tertawa.Denise sangat menyenangkan.
"Tapi aku kesulitan untuk mendekatinya, setiap kali di dekatnya aku selalu gugup dan kehilangan kata.Tatapannya sangat menakutkan," lanjut Denise. "Karena itu aku ingin belajar darimu cara menaklukkan Adit," bisik Denise kemudian.
Lala tertawa, Denise terlihat sangat anggun dan berkelas tapi begitu bicara tingkahnya konyol sekali.
"Kamu sangat berbeda dengan calon mertuamu Denise," ucap Lala tanpa sadar.
" Apa maksudmu Lala?"
"Sudahlah, lupakan.Jangan mencari perhatian Adit, dia tidak suka perempuan yang mencari-cari perhatian darinya," balas Lala mengalihkan pembicaraan.
"Adit itu tidak seperti laki-laki kebanyakan.Dia tidak bisa mengekspresikan perasaannya.Dia bisa terlihat sangat kesal padahal itu caranya menutupi kalau dia sedang bahagia, dia bisa terlihat cuek padahal sebenarnya dia memperhatikan.Semua yang dia tampilkan adalah caranya untuk menyembunyikan perasaannya sesungguhnya.Asal kamu tau, sebenarnya dia sangat rapuh." Lala jadi teringat Adit.
"Apa kamu sangat mencintainya?" tanya Denise.
"Aku tidak tahu," jawab Lala.
"Sudah cukup lama kami dekat, dulu tidak seperti ini, aku menganggapnya kakak.Awal-awal dia sering membuatku merasa tidak nyaman, tapi aku anggap dia sedang mencari perhatianku.Aku sering membantah perintahnya, juga sering mengabaikannya tapi karena itu dia semakin sering menggangguku." Lala jadi teringat awal kedekatannya dengan Adit dulu.Lala menatap wajah Denise, ekspresinya datar-datar saja.
"Denise, kita sedang membicarakan tunanganmu, kenapa kamu setenang itu?"
"Memang aku harus bagaimana?" tanya Denise polos.
"Ah ... sia-sia saja aku merasa bersalah padamu selama ini." Kemudian kedua gadis itu tertawa bersamaan.Mereka seolah sudah lama Jsaling kenal dan berteman dekat.
"Aku belum mencintainya, jadi aku tidak merasa cemburu atau apapun itu.Aku berusaha mendapatkan perhatiannya karena dia akan menjadi suamiku."
"Aku tidak mengerti jalan pikiran kalian orang-orang kaya.Kalau kamu tidak mencintainya kenapa kamu tidak menolak dijodohkan dengannya?"
"Itu sudah menjadi tradisi di keluarga kami, juga keluarga Adit.Nasib anak berada di tangan orang tua.Dulu orang tua kami juga dijodohkan.Begitu pula kakek nenek kami.Sudah turun temurun seperti itu.Kami anak-anak hanya bisa pasrah."
"Apa kalian tidak pernah jatuh cinta?" tanya Lala.
__ADS_1
"Apa itu cinta? Kami tidak percaya cinta.Kami hanya percaya uang."