
Lala terus berjalan tidak tahu mau kemana.Berbagai macam perasaan berkecamuk di hatinya.Ini pertama kalinya Nova mengacuhkan dirinya, karena itu Lala kecewa.Nova seolah melupakan kehadirannya di sana dan itu membuatnya berpikir Nova masih menginginkan Manda.Mata Lala terlihat memerah menahan tangis.Dia tidak bisa mengerti apa yang dirasakannya saat ini.
Manda hanyalah mantan kekasih Nova tapi kenapa aku tidak suka melihat mereka berbicara seperti tadi? Itu hanyalah masa lalu.Apa Nova masih memiliki rasa cinta untuknya.Rasanya ingin menangis tapi apa yang aku tangisi? Kenapa perasaanku jadi kacau begini?
Lala berhenti di depan sebuah gerai perlengkapan bayi.Entah kenapa kakinya mengarahkan langkahnya ke tempat itu.Lala hanya berdiri mematung memandangi baju-baju bayi yang terpajang di sana.Dia ingin melangkah masuk tapi untuk apa.Dia tidak sedang hamil dan juga belum berencana untuk hamil dalam waktu dekat.Akhirnya dia hanya memandangi baju-baju itu dari luar.
Kenapa aku berhenti di sini? Apa ini pertanda aku harus segera punya anak?
Kemudian Lala duduk di kursi yang berada di dekat gerai itu.Lala mengabaikan ponselnya yang terus menerus berbunyi, itu pasti Nova yang sedang berusaha menghubunginya.Dia tidak marah padanya hanya saja dia sedang malas berbicara dengannya.
Sudah hampir jam sepuluh malam.Mall sudah akan tutup.Beberapa lampu sudah mulai dipadamkan.Lala bingung mau kemana mengingat dia tidak mengenal kota ini, dia juga tidak mengenal siapapun selain orang-orang di rumah Oma.
"Vania ... ya aku bisa minta tolong padanya," gumamnya pelan.Lala kemudian meraih ponselnya dari dalam tas dan menghubungi Vania.Beruntung anak itu sedang di rumah sehingga Lala bisa pergi ke rumahnya.Vania mengirimkan alamatnya pada Lala kemudian dia memesan ojek online untuk sampai ke rumah Vania.
"Boleh aku menginap di sini?" tanya Lala begitu tiba di rumah Vania.Mengingat ini sudah malam, gadis itu mengangguk dan langsung mengajak Lala ke kamar khusus tamu di rumahnya.
"Kamu sedang marah pada Nova?" tanya Vania.Mereka berdua kini sudah duduk di tempat tidur.
"Tidak ... aku hanya sedang malas bicara dengannya.Apa dia menghubungimu?"
"Tadi sebelum kamu menelfon ku dia sudah lebih dulu menghubungiku menanyakan apakah aku mengetahui keberadaan mu."
"Lalu kamu jawab apa?"
"Aku jawab tidak tahu, karena memang kamu tadi belum memberi tahu aku kalau kamu akan ke sini.Dia sangat panik tadi."
"Biarkan saja.Tidak usah memberi tahunya kalau aku sedang bersamamu sekarang."
"Kalian ada masalah?"
"Entahlah, masalah atau bukan.Atau hanya aku saja yang terlalu lebay mempermasalahkannya."
"Ceritakan padaku apa masalahnya.Mungkin aku bisa memberi saran."
"Tadi kami tidak sengaja bertemu lagi dengan Manda di mall.Aku lihat Nova dan Manda bicara serius berdua.Kemudian Erik datang dan mereka hampir terlibat perkelahian.Aku sudah mencoba mengajak Nova untuk meninggalkan tempat itu, tapi Nova sama sekali tidak mendengarkan aku.Dia terus fokus pada Erik dan Manda.Aku malu karena orang-orang sudah mulai berkerumun melihat kejadian tadi.Beruntung tidak sampai ditangkap sekuriti karena sudah membuat keributan."
Vania hanya diam mendengarkan cerita Lala.Kadang dia menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
__ADS_1
"Aku kesal Vania ... Ini pertama kalinya Nova mengacuhkan aku.Ditambah lagi dia dan Erik hampir berkelahi gara-gara Manda, itu membuatku berpikir apakah mereka sedang memperebutkan Manda lagi? Lalu aku apa artinya aku untuk Nova?"
"Manda mungkin perempuan pertama yang di sentuh Nova, aku tahu itu dan aku tidak mempermasalahkannya selama ini.Bagiku itu hanyalah masa lalu jadi ya ... sudahlah.Tapi Nova selalu mengungkit itu setiap kali dia bertemu Erik dan itu membuatku kesal.Apa dia masih belum bisa melupakan Manda? Apa dia masih mencintainya?" Lala menumpahkan semua uneg-uneg nya.
"Dia mencintaimu, aku tahu itu," ucap Vania.
"Aku tidak yakin itu sekarang."
"Bukannya aku bermaksud mengusir mu, tapi kenapa kamu tidak pulang dan membicarakannya langsung dengan Nova.Dia pasti sangat khawatir sekarang.Aku akan mengantarmu pulang kalau kamu mau."
"Apa aku kekanak-kanakan?"
"Kamu bukan kekanakan menurutku, kamu hanya sedang galau," canda Vania.
"Ayolah Vania, bantu aku.Aku sedang tidak ingin bertemu dan bicara dengannya.Ijinkan aku menginap di rumahmu."
"Baiklah ... dengan satu syarat ..."
"Apa?"
"Aku boleh memberi tahu Nova jika kamu bersamaku sekarang."
"Aku hanya akan memberi tahu dia, Aku akan menyuruhnya menjemputmu besok.Jadi malam ini kamu tetap menginap di rumahku.Aku kasihan padanya.Dia pasti khawatir dan kebingungan mencari mu," terang Vania.Dia mengenal betul sahabat nya itu.
"Baiklah."
"Sudah malam, tidur lah.Aku akan kembali ke kamarku."
Kemudian Vania menulis pesan singkat kepada Nova dari dalam kamarnya.
"Lala ada bersamaku, tidak usah khawatir.Dia ingin menginap di sini jadi jangan menjemputnya sekarang."
Kemudian ponsel Vania berdering, panggilan masuk dari Nova.Vania segera mengangkatnya.
"Halo ..."
"Aku ke rumahmu sekarang."
__ADS_1
"Sudah ku bilang jangan menjemputnya.Dia akan marah padaku.Aku sudah berjanji akan ...."
Belum selesai Vania bicara, Nova sudah mematikan telfonnya.Hampir jam dua belas malam Nova sampai di rumah Vania.
"Buka pintu, aku sudah di depan rumahmu." Alih-alih mengetuk pintu, Nova memilih menelfon Vania dan memintanya membukakan pintu.
Vania yang kebetulan belum tidur segera turun dan membukakan pintu.Nova langsung nyelonong masuk begitu saja ketika pintu terbuka.
"Sudah kubilang jangan kesini sekarang!" omel Vania.
"Aku tidak bisa tidur.Dimana dia?"
"Sudah tidur, di kamar atas."
Nova segera menaiki tangga menuju kamar yang di maksud Vania.Dia membuka pintu dan benar Lala sudah terlelap di tempat tidur.Nova mendekat dan berjongkok memandang wajah istrinya lebih dekat.Dia lega karena tidak melihat wajah sembab Lala, yang artinya dia tidak habis menangis.
Vania hanya melihat apa yang di lakukan Nova dari depan pintu.Kemudian Nova meninggalkan Lala agar bisa tidur dengan nyenyak.
"Aku bisa gila jika tidak menemukannya.Aku khawatir dia tersesat."
"Huhh ... dia bukan anak kecil! Harusnya kamu menjaga jarak dari Manda.Kalau kamu sangat mencintainya harusnya kamu bisa menjaga perasaannya," ucap Vania.Kini mereka berdua berjalan menuruni tangga kemudian duduk di ruang tamu.
"Dia cerita padamu?"
"Iya ... "
"Aku tidak sengaja bertemu dengannya."
"Kebanyakan wanita pasti cemburu melihat suaminya berdua dengan wanita lain apalagi mantan pacarnya!"
"Aku hanya bicara sebentar dengannya."
"Walaupun hanya sekedar bicara! Kamu harus tau itu!" omel Vania.
"Kenapa kamu yang marah-marah padaku? Kamu kan bukan istri ku?"
"Ya, tapi sesama perempuan, aku bisa mengerti perasaan istrimu! Aku sudah ngantuk.Jadi kamu mau menginap di sini sekalian atau pulang?"
__ADS_1
"Aku akan pulang.Tapi aku akan melihatnya lagi sebentar."
"Dasar bucin!"