
Nova tahu gadis di sampingnya ini sedang sedih.Walaupun dia tertawa, tetap terlihat jelas kesedihan di matanya.
"Viola ...." Nova tidak meneruskan kalimatnya.
Lala menoleh. "Ada apa?" ucapnya.
"Maukah kamu menikah denganku?" Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Nova.
"Apakah kamu sedang melamarku? Jangan buat aku tertawa lagi." Lala sudah mulai tertawa lagi.Entah kenapa semua hal menjadi lucu baginya.
"Aku serius La." Mata Nova menatap Lala dalam.
Tawa Lala berhenti.Kini dia menatap mata Nova.Terlihat jelas keseriusan di matanya.
"Kamu serius?" tanya Lala.
Nova mengangguk. "Aku mungkin sudah tahu jawabanmu.Aku hanya ingin melindungimu."
"Melindungiku dari apa Nova?"
"Dari laki-laki yang hanya ingin menyakitimu.Aku tidak tega melihatmu bersedih.Kamu memang belum pernah menangis di depanku, tapi itu seringkali terlihat dari sorot matamu."
Hati Lala tersentuh dengan perkataan Nova.Dia kembali teringat dengan Juna, orang yang dulu sangat dia cintai.Kemudian Adit yang juga ingin menikahinya tapi keadaan membuatnya tidak bisa bersama.Sekarang Nova juga ingin menikah dengannya.
Kenapa? Kenapa bukan kamu Mas? Berapa kali aku memohon padamu agar menikahiku?
Air mata Lala mulai menggenang.Perasaannya benar-benar kacau saat ini.Sebentar dia bisa tertawa lepas, beberapa menit kemudian dia larut dalam kesedihan.
"Kamu tidak apa? Apa aku menyinggung perasaanmu?" tanya Nova.
Lala hanya menggeleng.Dia menahan air matanya agar tidak terjatuh.
"Menangislah ... Tidak apa-apa.Aku akan menemanimu di sini."
"Kamu tidak malu menamani gadis cengeng seperti aku? Jika aku menangis di sini, orang-orang akan melihatmu dan menyangka kamu yang sudah membuatku menagis," jawab Lala berusaha tersenyum tapi air mata sudah menetes di pipinya.
"Kenapa kamu memikirkan itu.Jangan pikirkan mereka.Kalau kamu sedih menangislah, tidak perlu berpura-pura kuat hanya untuk menyenangkan orang-orang disekitarmu."
__ADS_1
Kenapa Nova bisa berpikiran dewasa seperti ini.Apakah aku terima saja dia jadi suamiku.Itu akan membuat Adit menjauhiku.Dan aku juga bisa menikah sebelum Bapak ....Tapi aku tidak mencintainya?
"Kita tidak bisa memutuskan menikah begitu saja Nova.Kamu tidak mengenalku, demikian juga sebaliknya."
"Kita bisa pacaran setelah menikah."
"Boleh kupikirkan dulu lamaranmu tadi? Jangan tersinggung, kamu juga beberapa tahun lebih muda dariku dan aku juga tidak mencintaimu."
Nova mengangguk. "Aku siap menunggumu.Bahkan jika jawabanmu 'tidak' pun aku tidak apa-apa."
* * * *
Lala berangkat kerja seperti biasanya. Dia sudah sibuk dengan komputer di depannya, mengerjakan pekerjaan yang tertunda karena ketidakhadiran nya kemarin.Sejak pagi dia belum melihat Adit tapi dia tidak mencari keberadaannya atau menanyakannya lewat pesan singkat.Dia sudah memantapkan hatinya untuk menjauhi Adit.
Tiba-tiba saja Nyonya Andreas sudah masuk di ruangan Lala.Dia bersama seorang wanita muda yang cantik dan juga kelihatan berkelas seperti Nyonya Andreas.Lala reflek berdiri dari duduknya.
"Siang Tante ..." Lala menundukkan kepalanya menyapa Nyonya Andreas.
"Hai Lala ... kenalkan.Ini Denise, tunangan Adit."
"Aku Viola ..." Lala mengulurkan tangannya.
"Denise cantik bukan? Dia anggun dan berkelas juga berasal dari keluarga terhormat seperti kami," ucap Nyonya Andreas.
"Tentu saja Tante." Lala menjawab Nyonya Andreas dengan senyum.Dia tahu sebenarnya Nyonya Andreas berkata demikian hanya untuk membuat mentalnya down.Tapi Lala bisa mengatasinya.
"Aku kesini hanya ingin mengenalkan Denise padamu.Dan kalian sudah bertemu sekarang.Jadi sampai jumpa.Ayo sayang ... " Nyonya Andreas pergi sambil menggandeng tangan Denise.Dia sudah seperti anaknya sendiri.Sementara Denise sempat mengangguk dan tersenyum kepada Lala sebelum pergi.
Ayolah Nyonya Andreas, kamu bisa lebih baik dari itu.Aku tidak akan kena mental hanya karena penampilan.Kepercayaan diriku melebihi ambang batas kalau soal itu.
Sudah hampir waktunya makan siang.Lala membereskan mejanya karena akan makan siang.Tiba-tiba Adit sudah muncul di depannya.
Dia langsung memeluk Lala.
"Kamu sudah merasa lebih baik?" tanyanya.
Lala diam saja, ingin rasanya membalas pelukan Adit tapi dia tahan.
__ADS_1
"Lepaskan aku ... Jangan seperti ini.Ada Denise juga Mamamu."
"Benarkah? Aku tidak peduli." Adit tetap memeluk Lala.
"Kumohon ... Jangan membuatku dalam kesulitan."
Tiba-tiba pintu ruangan Lala di buka.Denise.berdiri di depan pintu.Dia melihat dengan jelas Adit sedang memeluk Lala.
"Oh ... maaf," ucap Denise sambil menutup pintu kembali.
Lala sangat terkejut, begitu juga Adit.Lala mendorong tubuh Adit dengan paksa.
"Terima kasih sudah membuatku dalam masalah.Kita lihat apa yang akan dilakukan Mamamu padaku setelah ini!" Lala berlalu meninggalkan Adit sendirian di ruangannya.Dia berjalan menuju kantin dan bertemu Riris di lorong.
"Kebetulan sekali kita bertemu di sini.Ayo ke kantin," ucap Lala.Dia mecoba bersikap biasa seolah tidak ada apa-apa.
"Hayuukk... ," jawab Riris sambil terkekeh.
Dari arah berlawanan Lala melihat Nyonya Andreas bersama Denise.Mereka berjalan semakin dekat ke arah Lala.
"Lala ... Aku perlu bicara denganmu!" sapa Nyonya Andreas dingin.
Lala mengangguk.Setelah apa yang dia lakukan ke Bapak, kita lihat apa yang akan dia lakukan padaku.Aku tidak akan takut.
"Kemasi barang-barangmu, mulai saat ini kamu tidak bekerja untuk perusahaan ini lagi.Aku memberhentikanmu!"
"Boleh saya tahu alasannya Nyonya?" jawab Lala tenang.Dia seolah sudah siap dengan semua ini.Dia juga sudah tidak memanggil wanita itu Tente, melainkan Nyonya.
"Ini perusahaanku, jadi aku bebas memecat siapa saja walau tanpa alasan apapun!"
"Oke ... tidak masalah.Aku bisa bertanya ke Dinas Ketenagakerjaan soal ini.Mungkin aku bisa mendapat bantuan dari sana!" jawab Lala.Dia adalah gadis yang pintar dan sangat menguasai bidangnya.Kamu tidak perlu melakukan ini hanya untuk menjauhkan aku dari Adit, Nyonya yang terhormat. Karena aku sendiri akan menjauhinya.Tapi tidak semudah itu untuk menyingkirkanku dari pekerjaanku.
Riris dan juga Denise hanya melihat kejadian ini.Riris tidak berani ikut bicara karena takut pada Nyonya Andreas.Sementara Denise terlihat seperti salah tingkah sendiri.
"Jangan memancing kemarahanku.Aku sudah memperingatkanmu sebelumnya agar menjauhi Adit.Tapi kamu tidak menghiraukan peringatanku.Jadi segera tinggalkan tempat ini dan jangan pernah temui Adit lagi!"
"Mama ... Sudahlah, mungkin ini hanya salah paham saja.Tidak perlu di perpanjang," bujuk Denise kepada Nyonya Andreas.
__ADS_1
"Tentu saja ... Aku akan pergi dari tempat ini.Nyonya tau? Anda terlihat seperti orang yang sangat berkelas, tapi cara anda ini sungguh tidak berkelas.Permisi!" Lala berlalu meninggalkan Nyonya Andreas, Denise dan juga Riris di lorong.
Lala berjalan menuju ruangannya kembali.Tidak ada ekspresi apapun di wajahnya.Dia harus segera mengemasi barang-barangnya dan meninggalkan tempat ini.Lala bisa dengan tenang menghadapi hal semacam ini, dia tidak takut membalas semua ucapan Nyonya Andreas kepadanya.Lala adalah gadis yang pemberani, tapi untuk urusan cinta dia sangat cengeng dan tak berdaya.