
Hari ini Lala libur kerja.Dia bingung mau melakukan apa.Dia ingin pergi keluar tapi tidak punya tujuan sedangkan kalau dia tetap di rumah dia tidak bisa menghindari orang tuanya.
Sebenarnya Lala sendiri sudah lelah terus-terusan menghindari orang tuanya, tapi mau bagaimana lagi.Biasanya dia menghabiskan waktu bersama Reyhan tapi sekarang anak itu ikut papanya menjaga toko.Kakak Lala, mas Fadil mempunyai toko mebel yang cukup besar dan mempekerjakan beberapa orang karyawan.Kadang saat libur sekolah Reyhan ikut papanya menjaga toko mebel seperti saat ini.
Orang tua Lala bernama Pak Fajar dan Bu Mieke.Pak Fajar sudah menginjak usia 60 tahun.Rambutnya sudah dipenuhi uban tapi dia masih terlihat gagah.Sementara Bu Mieke baru berusia 51 tahun.Rambutnya lurus sebahu, kulitnya putih dan hidungnya mancung.Lala sangat mirip dengannya.Entah apa yang membuat Bu Mieke menikah dengan Pak Fajar mengingat usia mereka terpaut sembilan tahun.Menurut cerita Bu Mieke, dia dulu mau menikah dengan Pak Fajar karena melihat kepribadiannya.Pak Fajar orangnya dewasa, dia juga pekerja keras juga sangat menghormati wanita.Waktu itu Bu Mieke percaya cinta bisa datang dengan sendirinya.
Dulu baik Pak Fajar maupun Bu Mieke adalah pegawai kantoran biasa.Setelah menikah dan punya anak mereka memutuskan untuk berhenti kerja dan membuka usaha sendiri.Bermodal pinjaman dari bank, mereka mulai membuka usaha.Dari kios kecil yang hanya menjual sembako, lama kelamaan berkembang menjadi toko swalayan.Saat ini toko mereka sudah mempekerjakan delapan orang pegawai yang dibagi dalam dua shift.
Keluarga Lala bukanlah keluarga yang kaya raya, mungkin bisa dibilang keluarga menengah.Sangat jauh jika dibandingkan dengan keluarga Juna maupun Adit yang kaya raya.
Lala menyelesaikan sarapannya.Dia ingin bergegas ke kamarnya tapi dicegah oleh ibunya.
"Viola, bapak ibu mau bicara sebentar Nak," Bu Mieke mengeluarkan suara.Di rumah Lala dipanggil dengan nama aslinya yaitu Viola.Teman-temannya lah yang memberi nama panggilan Lala.
Biasanya Lala akan menghindar dengan alasan takut terlambat kerja.Tapi kali ini dia tidak punya alasan karena ini hari libur.
"Mau bicara apa Bu?" Lala tidak jadi berdiri dari duduknya.
"Akhir-akhir ini kamu jarang di rumah, apa sedang banyak pekerjaan?"
"Oh... tidak Bu, akhir-akhir ini teman-teman sering ngajak aku main dulu sepulang kerja," Lala menjelaskan.
"Apakah sama Juna juga?"
"Tidak Bu, hanya teman-teman kerja saja." Lala berbohong karena faktanya dia lebih sering pergi sendirian.
"Apakah hubungan kalian baik-baik saja? Ibu sudah lama tidak melihatnya datang ke rumah," Bu Mieke melanjutkan.
Lala sudah bisa menebak akan kemana arah pembicaraan ini.Pak Fajar hanya diam mendengarkan sambil menikmati sarapannya.
"Memang dari dulu mas Juna jarang ke rumah kan Bu? kenapa Ibu menanyakan itu?" Lala mencoba menutupi.
"Nak... usiamu sudah tidak muda lagi.Sudah saatnya kamu menikah.Kalau memang Juna masih belum mau meresmikan hubungan kalian lebih baik segera diakhiri saja."
__ADS_1
"Ibumu benar Viola," Pak Fajar menimpali.
"Bapak tidak melihat adanya keseriusan dari Juna.Kami berdua menyayangimu Nak, kami tidak ingin kamu menyia-nyiakan waktumu untuk lelaki yang tidak ada itikad baiknya."
Lala menunduk.Tidak ada salah dengan apa yang dikatakan bapak maupun ibunya.Tapi dia sulit sekali menerimanya.
"Tapi aku mencintainya Pak, orang tuanya juga kaya raya.Kurang apa dia?" Lala masih membela Arjuna-nya padahal status hubungannya saat ini tidak ada kejelasan.
"Dia kurang menghargaimu anakku.Kami bisa melihat itu.Kami hanya tidak ingin kamu disia-siakan nantinya.Jangan hanya menilai laki-laki dari segi fisik dan materi saja, itu memang penting, tapi lihat juga sikap dan perilakunya.Orang tuamu ini bukanlah orang yang gila harta, kami yakin kamu pun juga demikian." Pak Fajar bicara panjang lebar.
"Setelah menikah nanti, cinta dan harta belum tentu menjamin kebahagiaan.Kehidupan rumah tangga berbeda dengan masa pacaran," lanjutnya.
"Kami ini orang tuamu Viola sayang... Kami yang merawatmu dari bayi.Kami bisa melihat apa yang kamu rasakan tanpa kamu menceritakannya pada kami," Bu Mieke bicara dengan lembut.
Lala memandang orang tuanya bergantian.Ada rasa bersalah dalam hatinya.
"Ibu ingin mengenalkanmu dengan anak bu Wendi, sahabat ibu.Kamu ingat bu Wendi kan? Tapi itu hanya jika kamu mau, ibu tidak memaksa."
"Lala tidak mau dijodohkan bu."
"Seperti orang tua kebanyakan, Bapak juga ingin melihatmu menikah.Bapak takut Tuhan sudah memanggil Bapak sebelum bisa melaksanakan kewajiban Bapak sebagai wali di pernikahanmu kelak.Usia bapakmu ini sudah tidak muda Viola."
"Bapak kenapa bicara seperti itu? Bapak pasti akan bisa menyaksikan aku menikah dan Bapak juga pasti bisa menggendong anak-anakku nanti."
"Kami berharap kamu bisa menemukan orang yang tepat untuk mendampingimu nanti.Bukan hanya mapan secara materi tapi juga mapan kepribadiannya," Pak Fajar melanjutkan.
"Maafkan bapak ibumu ini karena selalu mendesakmu untuk segera menikah.Pikirkanlah kembali apa yang bapak ibu bicarakan tadi."
"Baik Pak.. " Lala menjawab dengan murung.Inilah yang dia takutkan jika ada di rumah.
"Jangan lupa beritahu ibu jika kamu berubah pikiran dan ingin berkenalan dengan anak Bu Wendi," Bu Mieke menambahkan.
Lala hanya mengangguk.
__ADS_1
"Kalau gitu Viola mau ke kamar dulu."
Pak Fajar dan Bu Mieke hanya mengangguk.Mereka menatap putrinya itu sambil tersenyum tulus.
Di dalam kamar Lala merenungi lagi apa yang tadi dibicarakan bapak dan ibunya.Bertambah lagi beban pikirannya.Selain memikirkan hubungannya yang berakhir tanpa ada kata perpisahan dari Juna, dia juga memikirkan kata-kata bapaknya.Bagaimana nanti jika Lala belum menikah tapi bapaknya sudah tiada.Sekarang pikiran itu berlarian di kepalanya.
Triiing...
Hp Lala berbunyi.Ada notifikasi pesan masuk.Lala membuka pesan tersebut.Dari Adit.
"*Jelek... aku ke rumahmu ya."
"Mau ngapain?"
"Mau ngajak kamu jalan.Suntuk banget di rumah."
"Pacar bang Adit pada kemana?"
"Tau... lagi males sama mereka."
"Hmmm.... mereka? jadi ada berapa pacarmu?"
"Heehhhh... kamu menjebakku dengan pertanyaanmu ya?! kurang ajar!"
"Ho... ho... ho... kamu ngga bisa bohong sama aku."
"Aku ke rumahmu sekarang!"
"Aku lagi pergi sama bapak ibu."
"Kamu pasti bohong!"
"Ya sana kerumah kalo ngga percaya, pasti ngga ada orang*."
__ADS_1
Adit tidak membalas lagi.Lala berbohong kepada Adit kalau dia sedang tidak di rumah.Dia hanya ingin mengurung diri di kamar memikirkan bagaimana nasibnya ke depan.Atau dia coba saja berkenalan dengan anak bu Wendi, mungkin tidak ada salahnya di coba.