
Waktu berlalu begitu cepat.Lala semakin sering berkomunikasi dengan Rizal lewat pesan singkat.Hubungan mereka semakin akrab.Sementara Juna tetap konsisten mengirimi Lala pesan walaupun tidak ada satupun yang dibalas oleh Lala.
Ini hari sabtu.Lala hanya bekerja sampai jam 2 siang.Nanti malam dia sudah ada janji akan nonton film di bioskop bersama Rizal.Akhirnya dia bisa merasakan malam minggu bersama pasangan walaupun dalam hal ini Rizal bukanlah pacarnya.Tapi setidaknya Rizal mengajak Lala kencan malam mingguan di bioskop, hal yang tidak pernah Juna lakukan kepadanya.
Sudah waktunya pulang.Lala membereskan meja kerjanya dan mengemasi barang-barangnya bersiap untuk pulang.Seperti biasa, Adit tiba-tiba muncul di depan matanya.
"Habis ini mau kemana?" Adit mulai menginterogasi Lala.
"Mau pulang lah."
"Temani aku sebentar.Aku ingin membeli sesuatu di mall X."
"Mau beli apa sih? Di plaza ini kan semuanya ada.Lagian ini kan plaza milikmu sendiri ngapain capek-capek ke mall sebelah?!"
"Ngga seru tau...!"
"Tapi aku sudah ada janji sore ini."
"Janji apa?" mata Adit sudah mulai melotot.
"Aku mau nonton film di bioskop."
"Sama siapa?" mata Adit semakin lebar.Taringnya sudah hampir keluar.
"Harus aku jawab ya?" Lala bertanya dengan nada polos untuk menggoda Adit.Dia tahu pasti pikiran Adit sudah kemana-mana sekarang.
"Aku ikut!"
"Ngga... ngga... Enak aja main ikut-ikut.Aku kan mau kencan." Lala bersungut-sungut.
"Ya sudah kalau ngga boleh ikut.Berarti kamu sekarang nemenin aku ke mall X!"
"Ngga mau, besok aja.Besok kan libur?!"
"Aku maunya sekarang!" Adit ngotot.
Sebenarnya tidak ada yang penting yang ingin Adit beli di mall X.Ini hanya modus agar dia bisa bersama Lala.
__ADS_1
"Ngga mau ya udah! Malah ngga usah sekalian!" Lala berlalu masih dengan sungutnya.
Betapa Adit gemas dengan gadis satu ini.Gadis-gadis lain berlomba-lomba untuk menarik perhatiannya, Lala justru dengan tegas menolaknya tapi dia juga tidak melepaskannya.Seperti layang-layang yang bebas terbang di udara tapi benangnya masih dipegang pemiliknya.Mungkin itulah yang di rasakan Adit saat ini.Dia bebas bersama wanita manapun yang dia suka tapi hatinya tetap dalam genggaman Lala.Dia tidak bisa lepas kecuali Lala melepaskannya.
* * * *
Seusai nonton film, Rizal mengajak Lala untuk mampir di sebuah kedai kopi kekinian.Lala mengiyakan saja ajakan Rizal.Toh masih ada sisa waktu sampai jam 10 malam.
"Kamu mau pesan kopi apa?" Rizal menawarkan menu pada Lala.
"Mmm... Sebenarnya aku ngga minum kopi."
"Oh... Maaf, aku tidak tau."
"Kita bisa pindah ke tempat lain kalau kamu mau."
"Tidak apa-apa, aku bisa pesan susu."
"Baiklah, terserah kamu saja."
"Biasanya orang tidak minum kopi karena penyakit tertentu? Apa kamu juga demikian?" Rizal membuka pembicaraan setelah mereka mendapatkan tempat duduk.
"Oh... Tidak.Aku memang dari dulu tidak begitu suka minum kopi.Aku suka menghirup aromanya saja.Tapi aku tidak bisa merasakan nikmatnya."
"Sayang sekali... Padahal aku sangat suka kopi."
Mereka terus berbincang hingga tak terasa sudah hampir larut.
"Sepertinya aku harus pulang sekarang," Lala melihat jam di hpnya.
"Tunggu sebentar," Rizal mencegahnya "aku ingin mengatakan sesuatu," lanjutnya.
"Lala... Aku sudah jatuh cinta padamu sejak pertama kali melihatmu.Aku ingin mengenalmu lebih dekat.Maukah kamu menjadi kekasihku?"
"Deg!" Lala tidak tahu harus menjawab apa.Dia memang tahu Rizal menyukainya tapi dia tidak menyangka Rizal akan menyatakan perasaannya secepat ini.
"Rizal... Apa ini tidak terlalu buru-buru?"
__ADS_1
"Tidak.Aku yakin dengan perasaanku," Rizal menjawab dengan mantab.
"Kita baru saja kenal dan baru bertemu beberapa kali.Aku tidak bisa memberimu jawaban sekarang."
"Apa kamu tidak percaya padaku?"
"Aku perlu waktu untuk memikirkannya dulu.Aku tidak ingin bermain-main dengan sebuah hubungan."
"Berapa lama?"
Lala terlihat menimbang-nimbang.
"Satu bulan?"
"Baiklah... Aku akan menunggu keputusanmu dalam satu bulan." Rizal tersenyum.
"Boleh aku pulang sekarang?" Lala bertanya sambil mengangkat alisnya.
"Tentu saja.Mau kuantar?"
"Tidak perlu.Aku bawa motor, kamu bawa mobil.Mau ngantar gimana?"
"Iya ya... tadi aja kita jalan ke sini sendiri-sendiri," Rizal menertawakan kebodohannya.
"Baiklah... Sampai jumpa."
"Sampai jumpa."
Lala mengendarai motornya pulang.Sesampai di rumah dia segera mengganti baju dan merebahkan dirinya di tempat tidur.Dia memikirkan Rizal yang baru saja menyatakan perasaannya terhadap Lala.Sudah tiga pria yang menyatakan perasaannya terhadap Lala.Tapi tidak satupun bisa menggantikan Juna.
Lala adalah tipikal wanita yang sulit untuk membuka hatinya.Hingga usianya sekarang hampir 30 tahun, bisa dihitung berapa kali dia pacaran.Dia hanya punya tiga mantan pacar.
Lala pertama kali pacaran saat awal kuliah.Dia belum pacaran saat SMA.Aturan orang tuanya yang ketat membuatnya tidak berani macam-macam.Pacar pertama Lala bernama Arda.Dia adalah pacar pertama sekaligus cinta pertama Lala.Waktu itu Arda masih kelas 2 SMA dan Lala kuliah semester pertama.Mereka berdua masih sama-sama muda dan labil.Kadang cinta mereka menggelora seperti tidak akan ada habisnya.Kadang surut dan saling acuh tapi kemudian bersama lagi.Mungkin inilah yang dinamakan cinta monyet.Setelah lulus SMA Arda harus melanjutkan kuliah di luar kota.Mereka sempat pacaran jarak jauh.Tapi lama kelamaan komunikasi tidak berjalan lancar.Sering terjadi salah paham hingga akhirnya hubungan mereka bubar.
Setelah itu Lala pacaran dengan Theo.Theo ini juga beberapa tahun lebih muda dari Lala.Dia adalah juniornya saat duduk di bangku kuliah.Theo sangat dewasa.Dia cerdas dan berkharisma.Jika Arda adalah cinta pertama Lala, maka Theo adalah ciuman pertama Lala. Bisa dibilang hubungan Lala dan Theo adalah hubungan yang paling mulus dan hampir tidak bergejolak yang pernah Lala jalani.Tapi hubungan ini juga harus berakhir karena perbedaan keyakinan.Perlu waktu lama bagi Lala hingga akhirnya dia bisa membuka hatinya untuk orang lain, yaitu Juna.
Lala bingung sendiri memikirkan semuanya.Jika dia tidak mencoba untuk membuka hatinya untuk orang lain maka selamanya dia tidak akan bisa melupakan Juna.Tapi saat ini dia tidak merasakan apa-apa terhadap Rizal.Memang setelah mengenal Rizal lebih jauh dia tahu bahwa Rizal adalah sosok yang menyenangkan dan asik untuk di ajak bicara.Tapi itu belum cukup untuk membuat Lala menerima cintanya.Tidak ada benih cinta untuk Rizal di hati Lala.Tidak sama sekali.
__ADS_1