
Lala termenung sendirian di gazebo taman belakang.Dia masih memikirkan siapa Viviane sebenarnya.Jika Nova tidak mau menjawab pertanyaannya pastilah ada sesuatu di baliknya.Rasa kecewa muncul lagi di hati Lala.Kenapa masih ada rahasia yang disembunyikan darinya.Lala pikir dia sudah tahu tentang kehidupan Nova tapi ternyata hanya sebagian kecil saja yang dia ketahui.
Lala berpikir untuk menemui pembantu yang kemarin mengatakan kedatangan Bu Viviane, dan menanyakan langsung padanya.Dia bergegas melangkah menuju dapur, kemungkinan pembantu itu sekarang berada.
"Mbak ..." sapa Lala kepada pembantu itu.Dia belum mengetahui namanya.Kelihatannya dia hanya sedikit lebih tua dari Lala.
"Iya Non Lala, ada apa ... ada yang bisa saya bantu?"
"Mbak siapa namanya?"
"Nama saya Sri."
"Mbak Sri, bisa bicara sebentar?" tanya Lala sopan.Lala kemudian mengajak Mbak Sri berjalan menjauh dari pembantu lain yang sedang ada di dapur.
"Aku melihat mobil Oma di garasi, apa Oma tidak pergi?" Lala berbasa-basi.
"Sepertinya tidak Non, Oma agak tidak enak badan."
"Mbak Sri, siapa Bu Viviane? Apa mbak tau?"
Terlihat Mbak Sri menegang. "Oh ... itu ... " Dia seperti sedang merangkai kata yang tepat. "Bu Viviane adalah mantan asisten almarhum Nyonya Linda."
"Itu saja?"
"Iya Non," jawab Mbak Sri takut-takut.
"Lalu ada keperluan apa dia ke sini?"
"Saya tidak tahu Non."
"Ya sudah kalau begitu, maaf sudah mengganggu kerjaan Mbak Sri."
"Ngga apa-apa Non ..., saya permisi."
Antara lega tapi juga tidak puas. Lala yakin Mbak Sri bukannya tidak tahu siapa Viviane, dia hanya tidak mau memberi tahu atau mungkin dilarang untuk memberitahunya.Jika hanya mantan asisten, kenapa seolah disembunyikan oleh Nova.
Lala kemudian berjalan ke lantai atas menuju kamar Oma.Saat melewati ruang tamu dia melihat seorang wanita bersama anak kecil sedang duduk di sana.Lala menghampiri mereka berdua.
__ADS_1
"Anda siapa?"
"Kamu siapa?" Wanita itu balik bertanya kepada Lala.Wajahnya cantik tapi agak sedikit sinis.Sementara anak laki-laki yang bersamanya mungkin berusia sekitar lima tahun terlihat duduk tenang di sampingnya.
Lala mengamati anak laki-laki itu.Hidungnya begitu mirip dengan Nova, apalagi bibirnya, sama persis dengan bibir Nova.Lala sangat hapal bibir itu, bibir yang akhir-akhir ini sering sekali ******* bibirnya.
Siapa mereka? Siapa juga anak ini? Kenapa dia mirip sekali dengan Nova? Apa mereka saudara? Atau anak ini anak Nova? Tapi wanita ini sedikit lebih tua untuk dikencani Nova.
Mengingat Nova tidak mau memberi tahu mengenai wanita ini dan melihat kemiripan anak ini dengan Nova, membuat Lala berpikiran yang tidak-tidak.
"Aku Lala, istri Nova." Lala mengulurkan tangannya.
Wanita itu terlihat kaget.Tapi dia tetap meraih uluran tangan Lala.
"Aku Viviane," jawab wanita itu. "Jadi Nova sudah menikah?" tanya wanita yang bernama Viviane itu setelah melepaskan tangan Lala.Raut wajahnya sulit diartikan.
"Ya, aku istrinya," Lala menegaskan, " Dan anak ini?" Lala melihat ke bocah kecil di samping Viviane.
"Dia anakku Kevin, adiknya Nova."
"Hai Kevin .... " sapa Lala kepada bocah itu.Anak laki-laki itu hanya tersenyum malu-malu kepada Lala. "Kamu ingin bertemu siapa? Nova sedang tidak di rumah." Lala kembali menatap Viviane.
"Hah ... anak manja itu?! Dia di sini rupanya."Viviane terlihat meremehkan Nova. "Aku ingin bertemu Oma.Kamu tidak usah bertingkah seperti nyonya di rumah ini! Lagi pula akulah yang seharusnya menjadi nyonya di sini." Viviane mulai menunjukkan sifat aslinya.
Lala cukup kaget dengan perkataan Viviane yang cukup kasar.Tak lama seorang wanita dewasa turun dan menghampiri mereka.
"Maaf Bu Viviane, Nyonya Rusdi sedang tidak enak badan.Beliau tidak bisa menemui anda sekarang."
"Tapi aku sudah dua kali kemari." Viviane terlihat kesal.
"Saya hanya menyampaikan pesan dari Nyonya Rusdi."
"Ayo Kevin, kita pulang." Viviane menggandeng tangan anaknya meninggalkan tempat itu.
"Siska, apa Oma sedang tidur?" tanya Lala kepada wanita itu yang kini berdiri di sampingnya.Dia adalah asisten Oma.
"Tidak Non ..."
__ADS_1
"Apa aku boleh menemui nya?"
"Non Lala coba saja ke atas."
"Baiklah." Lala bergegas menaiki tangga menuju kamar Oma di lantai dua.Sesampainya di depan kamar Oma dia segera mengetuk pintu. "Oma, boleh aku masuk?"
"Masuklah ..." Terdengar suara Oma menyahut dari dalam kamar.
"Oma sedang tidur? Apa aku mengganggu Oma?" Lala menyembulkan kepalanya dari balik pintu.
"Tidak ... Kemari lah." Oma meminta Lala mendekat.Dia sedang duduk di sofa samping jendela yang menghadap ke halaman depan sambil menikmati secangkir teh.
Lala segera duduk di samping Oma.Dari tempatnya duduk sekarang dia bisa melihat langsung ke halaman rumah.Dari sini juga bisa terlihat siapa yang keluar masuk rumah ini, termasuk Viviane yang baru saja pergi.
"Oma tidak apa-apa? Siska bilang Oma sedang tidak enak badan?"
"Aku tidak apa-apa, hanya ingin istirahat sebentar dari rutinitas.Oma sudah tua, jadi sering capek."
"Tapi Oma masih terlihat muda."
Oma hanya tersenyum. "Terima kasih Lala, kamu sudah mau menjadi istri Nova.Oma sangat bersyukur.Kamu bisa mengobati luka hatinya.Sedikit demi sedikit kamu bisa mengembalikan dia seperti dulu.Oma sudah bisa melihat senyum jahilnya lagi saat bersama kamu.Oma senang sekali." Oma meraih tangan Lala, mengusapnya dengan lembut. "Terima kasih Viola," ucap Oma tulus diiringi senyum.
"Oma ... Tidak perlu berlebihan.Aku tidak melakukan apa-apa."
"Hidup Nova tidaklah mudah setelah kepergian orang tuanya.Mungkin sudah saatnya Oma memberi tahu kamu, karena Nova tidak mungkin akan menceritakannya padamu."
"Kamu pasti sempat bertemu wanita dan anak kecil tadi di bawah."
Lala mengangguk. "Aku tadi berkenalan dengannya Oma, namanya Viviane dan anaknya, Kevin."
"Viviane dulunya adalah asisten Linda, mamanya Nova, sekaligus juga sepupunya.Beberapa hari setelah kecelakaan itu terjadi dia muncul dan mengaku tengah mengandung anak dari Renand, papa Nova." Oma mulai bercerita.Matanya menatap kosong keluar jendela.
"Kevin?"
Oma mengangguk. "Oma mengabaikannya.Tadinya Oma pikir Viviane hanya mengarang cerita karena memang tidak ada bukti dan Oma juga benar-benar tidak tahu jika Renand menjalin hubungan terlarang dengan Viviane.Oma tidak percaya.Selama ini Linda dan Renand terlihat bahagia dan harmonis.Jadi Oma tidak mau mempercayai berita itu." Mata Oma mulai berkaca-kaca.
"Tapi Viviane, dia terus bersikeras jika anak yang dikandungnya adalah anak Renand.Dia juga meminta jatah uang tiap bulan.Oma pikir, kalau hanya uang yang dia inginkan maka Oma kasih dan selesai perkaranya."
__ADS_1