Menikah Tak Harus Cinta

Menikah Tak Harus Cinta
Mulai Hari Baru


__ADS_3

Lala menuju ruang makan masih dengan baju tidurnya.Ini sudah jam 7 lebih, tapi Lala masih belum bersiap-siap untuk kerja.Semua orang yang melihatnya hanya melongo.


"Kamu ngga kerja? Biasanya jam segini sudah lari dari kamar sambil teriak ' aku sudah hampir telat' begitu?" tanya Mas Fadil sambil menirukan gaya Lala.


"Apa kamu ambil jatah cuti?" tanya Ibunya.


"Tidak ... Aku berhenti kerja," jawab Lala enteng.Sontak itu membuat Ibunya dan Mas Fadil terdiam dan saling berpandangan.


"Kamu serius?" tanya Mas Fadil lagi.Lala mengangguk.


"Kenapa?" sahut Ibunya.


"Aku akan membantu Ibu di toko saja, biar Ibu bisa fokus merawat Bapak," jawab Lala.Dia menyembunyikan alasan sebenarnya kenapa dia berhenti kerja.


"Tapi kan sayang, cari kerja lagi susah lho, kamu main berhenti aja.Ibu kan bisa jaga toko sendiri, sementara Bapak istirahat di rumah.Kondisi Bapak kan juga sudah pulih."


"Tidak apa-apa Bu, nanti aku bisa cari kerjaan lain kalau Bapak sudah benar-benar pulih."


" Ya sudah, terserah kamu saja."


"Berarti Tante sekarang di rumah terus?" tanya Reyhan.Ternyata anak itu mendengarkan dari tadi.Lala mengangguk.


"Yeaayy ... bisa main sama tante terus." Reyhan girang sekali.


"Sudah, segera selesaikan sarapanmu kemudian berangkat sekolah," ucap Lala kepada keponakan tersayangnya.


"Ibu akan mengantar sarapan Bapak ke kamar dulu." Bu Mieke meninggalkan ruang makan.


"Dapat pesangon dong ..." goda Mas Fadil.


"Belum cair," balas Lala sambil menjulurkan lidahnya.


Padahal Lala tidak tahu apakah dia akan dapat uang pesangon atau tidak.Bahkan dia juga tidak tahu bagaimana nasib gaji terakhirnya.Kalau Lala mau dia bisa menuntut itu karena memang sudah menjadi haknya.Tapi Lala sudah malas untuk berhubungan lagi dengan Nyonya Andreas.Ditambah lagi dia tidak ingin bertemu Adit karena takut Adit akan kembali mengejarnya.


* * * *


Adit mengerjapkan matanya.Kepalanya terasa sangat berat.Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan sadar kalau sekarang dia tidak berada di kamarnya.Dia teringat kembali kejadian kemarin siang, pertemuan terakhirnya dengan Lala.Itu membuat kesedihannya kembali muncak.Dia tidak pernah menangis sebelumnya, apalagi hanya karena wanita.Tapi kali ini dia sampai kehilangan semangat hidupnya.Kesombongan dan keangkuhannya terhadap wanita selama ini, seolah runtuh begitu saja.

__ADS_1


Setelah pertemuannya dengan Lala kemarin, Adit tidak kembali ke kantor.Telfonnya juga dia matikan sehingga tidak ada yang bisa menghubunginya.Malam harinya pun dia tidak pulang ke rumah, dia menghabiskan waktu di sebuah klub malam dan minum alkohol hingga membuatnya mabuk berat.Dia ingat, semalam salah seorang temannya mengantar dia ke hotel karena dia tidak sanggup menyetir kendaraan.


Apakah pria-pria di luar sana juga seperti ini saat mereka putus cinta? Atau hanya aku yang rasanya seperti ingin mati saja? pikir Adit.Dia kemudian tersenyum sendiri memikirkan bagaimana seorang gadis biasa seperti Lala bisa masuk begitu dalam di hatinya.


* * * *


Lala sudah mandi dan bersiap-siap.Mulai hari ini dia akan menemani Ibunya di toko.Lala tidak akan hanya berdiam diri saja setelah kehilangan pekerjaannya.Dia harus mencari kesibukan agar tidak teringat dengan Adit apalagi Juna.Jangan sampai dia menyesali keputusannya.


"Ibu ... Aku sudah siap." Lala menghampiri ibunya di kamarnya.


"Ya ... tunggu sebentar," sahut Ibunya dari dalam kamar.Lala kemudian berjalan menuju ruang tamu berniat menunggu Ibunya di sana.Ternyata dia menemukan Bapaknya sedang menonton berita di televisi.


"Bapak kenapa tidak istirahat di kamar?" tanya Lala.Dia kemudian duduk di samping Pak Fajar.


"Bapak bosan tiduran terus," jawab Pak Fajar."Bapak sudah dengar dari Ibumu? Kamu benar-benar berhenti kerja?" tanyanya kemudian.


Lala mengangguk.Entah kenapa dia tidak berani menatap mata Bapaknya.


"Kamu tidak bisa membohongi Bapak," bisik Pak Fajar. "Bapak juga pernah jadi pegawai kantoran sepertimu, Bapak tahu prosedurnya bagaimana seorang pegawai mengundurkan diri dari perusahaan," lanjutnya.


Kini Lala menatap Bapaknya itu.Sulit sekali menyimpan rahasia darinya.


"Semoga langkahku ini tidak salah," ucap Lala.


"Kamu bisa terus menjaga toko jika kamu mau."


"Tidak Pak ... Aku harus mandiri.Aku akan mencari pekerjaan lagi setelah Bapak benar-benar pulih."


"Pada ngomongin apa?" tanya Bu Mieke yang tiba-tiba sudah ada di belakang. mereka.


"Ibu mau tau aja ...," jawab Pak Fajar sembari bercanda.


"Ini kalau sudah berdua suka main rahasia-rahasiaan sama Ibu.Ngomong juga bisik-bisik kaya orang lagi ngegosip," gerutu Bu Mieke.


"Ayo kita berangkat sekarang, ini sudah siang," lanjutnya.


"Lah, kan ibu yang dandannya kelamaan?" balas Lala. "Aku sudah siap dari tadi." Lala dan Pak Fajar tertawa bersamaan.

__ADS_1


Di toko.


Pegawai Bu Mieke dari tadi memperhatikan Lala.Mereka jarang melihatnya.Lala mendekati mereka.


"Hai Vira ...." sapa Lala.Hanya Vira yang dikenali Lala, karena dia sudah cukup lama bekerja untuk Ibunya.


"Hai juga Mbak Lala, tumben ikut Ibu jaga toko?" tanya gadis itu santai.


"Iya Vira, aku berhenti kerja.Aku akan bantu-bantu Ibu dulu sampai Bapak sehat," jawab Lala.


Vira tampak sudah akrab dengan Lala.Usianya mungkin sekitar 23 tahun, dulu begitu lulus SMA dia langsung bekerja untuk Bu Mieke.


"Apakah kedua temanmu itu anak baru?" tanya Lala sambil menunjuk dua orang gadis yang sedang menata barang-barang di rak susun.


"Bukan, mereka sudah cukup lama bekerja di sini.Mbak Lala saja yang jarang main kesini.Jadinya tidak kenal sama mereka."


"Oh... " Lala melongo. "kamu benar, aku sudah lama sekali ngga main ke sini," lanjutnya sambil mandangi sekeliling toko.Dulu dia sering sekali ikut bapak ibunya menjaga toko.


"Sudah setahun Mbak Lala ngga kesini."


"Benarkah?" Lala terkejut sendiri mendengarnya.


"Mungkin lebih," balas gadis itu santai.


"Masa sih?" Lala masih tidak percaya.Lala mengingat-ingat setahun lalu adalah masa dimana dia masih menjadi kekasih Juna.Masa dimana dia banyak menghabiskan waktunya untuk menangis meratapi hubungannya.Bisa dibilang itu masa kegelapan baginya.


"Yang sedang berdiri itu namanya Kiki dan yang satunya lagi namanya Mei," ucap Vira.


"Bagaimana kalau Siti? Dia masih bekerja di sini?" tanya Lala lagi.


"Masih, hari ini dia masuk siang."


Setelah itu Lala sibuk membantu ibunya.Dia membereskan ini itu, apa saja yang bisa dia lakukan hingga tidak terasa sudah jam 12 siang.


"Ibu... ini sudah jam 12, waktunya Bapak minum obat," ucap Lala pada Ibunya.


"Oh.. Ibu lupa.Ibu harus pulang sekarang," jawab ibunya tergesa-gesa.

__ADS_1


"Ngga usah tergesa-gesa Bu... Rumah kita kan dekat, ngga sampai sepuluh menit.Apa ibu mau aku antar?"


"Tidak usah, kamu disini saja.Kamu bisa gantian jaga toko sama anak-anak yang istirahat." Anak-anak yang di maksud Bu Mieke adalah para pegawainya.Rata-rata dari mereka memang masih muda.Mungkin sekitar 20 tahunan, bahkan ada yang baru lulus sekolah menengah.Bu Mieke memang tidak mementingkan ijazah saat menerima mereka bekerja.Yang penting orang itu rajin dan sungguh-sungguh.


__ADS_2