
Nova naik lagi ke kamar atas dimana Lala tidur.Dia mendaratkan ciuman di kening Lala dan hendak pergi.Tapi dia merasakan badan Lala sedikit hangat.Kemudian Nova meraba kening istrinya itu dengan telapak tangannya untuk meyakinkan dirinya.
"Demam ... pasti belum makan," gumam Nova.Dia segera meraih tubuh Lala ke dalam gendongannya dan akan membawanya pulang.
Merasakan tubuhnya bergerak, Lala membuka matanya. "Nova?" ucapnya dalam gendongan Nova.
"Aku akan membawamu pulang."
"Kepalaku pusing," gumam Lala yang kemudian menyandarkan kepalanya di dada Nova dan kembali memejamkan matanya.Nova lega karena tidak ada drama Lala menolak dia ajak pulang ataupun marah padanya.
Sampai di bawah, Vania melotot melihat Nova.Nova mengerti maksud tatapan Vania.
"Dia demam, aku akan membawanya pulang."
"Tapi tadi dia tidak apa-apa."
Nova tidak menjawab dan terus berjalan sambil menggendong Lala.Dengan tatapan matanya dia meminta Vania membukakan pintu depan agar dia bisa lewat.Beruntung dia membawa mobil dan meminta sopir untuk menemaninya saat hendak kesini jadi dia tidak kesulitan membawa Lala pulang.
Selama di dalam mobil tangan Nova tidak terlepas dari tubuh Lala sedetik pun.Dia menyandarkan Lala dalam pelukannya.Sebentar-sebentar dia mengecek kening Lala yang terasa semakin panas tapi nafas Lala yang teratur menandakan dia sedang terlelap.
Sesampainya di rumah, Nova langsung membawa Lala ke kamar.Dia membaringkan Lala di tempat tidur.Kemudian dia pergi meninggalkan Lala sebentar dan kembali dengan membawa obat di tangannya.
"Bagun sayang ... minum obatmu dulu," Nova mengusap pipi Lala agar istrinya itu bangun. Lala membuka matanya dan menuruti perkataan Nova.Dia meminum obatnya kemudian merebahkan badannya lagi, tapi kali ini dia tidak memejamkan matanya.
Nova yang duduk di tepi tempat tidur kembali mengusap pipi Lala.Mata sayu Lala terus menatap Nova yang juga sedang menatapnya.Dia menemukan tatapan teduh Nova yang dulu, yang akhir-akhir ini jarang dia lihat.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Nova.
"Aku merindukan tatapan mu yang seperti itu, teduh dan dewasa." Nova tersenyum mendengarnya.
"Kamu marah padaku?" tanya Nova lagi sambil terus mengelus pipi Lala dan kadang membelai rambutnya.Tidak dipungkiri Lala menikmati setiap sentuhan dari Nova.Sejak dia melihat Nova dengan Manda tadi dia ingin dimanja oleh Nova.Dia ingin Nova hanya melihatnya, dan seluruh perhatian Nova hanya untuknya.
Lala tidak menjawab Dia terus menatap mata Nova.
__ADS_1
"Apa yang kamu rasakan?"
"Dingin ... pusing ..." mendengar jawaban Lala, Nova kemudian membenahi selimut Lala.
"Tentang tadi siang, apa yang kamu rasakan?"
"Aku tidak tahu ... Berjanjilah padaku kamu tidak akan membuat keributan lagi dengan Erik kapanpun, dimana pun?"
Nova mengangguk. "Aku berjanji."
"Tadi aku malu sekali, orang-orang terus melihat kalian, aku berusaha memanggil mu tapi kamu mengacuhkan ku, kamu hanya fokus pada Erik dan Manda.Aku merasa tidak ada artinya untukmu." Lala terlihat sedih saat menceritakannya.
"Maafkan aku ..." Nova berlutut di samping tempat tidur hingga posisi wajahnya sekarang sejajar dengan wajah Lala.
"Kamu masih mencintainya?"
"Sudah aku bilang, kamulah satu-satunya."
"Setalah kejadian tadi, aku meragukan kata-katamu itu." Lala menatap mata Nova, mencari kejujuran di sana.
Berat bagi Lala mengungkapkan apa yang dirasakannya. "Aku ingin tidur." Hanya itu keluar dari mulutnya.Kemudian dia memalingkan wajahnya dari Nova.Tak berapa lama dia sudah terlelap.Rupanya efek obat yang baru saja dia minum sudah bereaksi.
* * * *
Sudah hampir jam sembilan tapi Lala masih terlelap.Nova dengan setia menunggu Lala di sampingnya hingga dia terbangun.Nova terus memandangi wajah istrinya yang sedang terlelap itu.Kemudian terdengar suara pintu diketuk pelan.
Nova beranjak dari tempat tidur untuk membuka pintu.
"Ada yang mencari Tuan," ucap salah seorang pelayan setelah pintu kamar terbuka.
"Siapa?"
"Non Manda Tuan."
__ADS_1
Nova sedikit terkejut. "Mau apa katanya?"
"Tidak tahu Tuan, sebaiknya Tuan lihat sendiri."
Nova menutup pintu dan segera turun untuk menemui Manda di ruang tamu.Betapa kaget dia begitu melihat Manda.Wajahnya dipenuhi lebam sepertinya bekas pukulan.Kemarin Erik tidak sengaja memukulnya sekali, tapi lebam di wajah Manda sekarang ini hampir memenuhi wajahnya.Di kedua matanya juga di sudut bibirnya.
Manda segera berlari memeluk Nova dan menumpahkan tangisannya.
"Tolong aku Nova, lihat yang Erik lakukan padaku.Aku benar-benar sudah tidak kuat lagi."
Nova mengerti apa maksud kata-kata Manda.Erik pasti melakukan kekerasan terhadapnya hingga wajahnya sampai menjadi seperti sekarang ini.
"Aku tidak bisa membantumu karena ini urusan rumah tanggamu.Aku tidak berhak, aku bukan siapa-siapa mu.Kamu bisa melaporkannya pada yang berwajib." Nova mencoba melepaskan pelukan Manda.Memang dia kasihan melihat keadaan Manda seperti ini, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Tolong aku Nova, aku sembunyi-sembunyi keluar dari rumah karena dia sedang bekerja."
"Kalau begitu sebaiknya kamu kembali, dia bisa melakukan hal yang lebih buruk jika mengetahui kamu kesini."
"Kumohon Nova ..." suara tangis Manda menyayat hati siapapun yang mendengarnya.Dia meraih tangan Nova dan memohon padanya.
Di saat bersamaan Lala turun hendak ke ruang makan.Sejak kemarin siang dia belum makan karena itu semalam dia demam.Dia tidak bisa telat makan.Saat menuruni tangga dia melihat Manda dan Nova.
Baru tadi malam Nova mengatakan padaku jika akulah satu-satunya.Tapi ini? Apalagi ini? Manda bahkan berani datang ke rumah.
Lala melewati Manda dan Nova di ruang tamu tepat saat Manda menggenggam tangan Nova dan berurai air mata.Sekilas Lala dapat melihat wajah Manda yang penuh lebam.Nova yang menyadari kehadiran Lala langsung melepaskan tangan Manda.Dia segera mendekati Lala.
"Kamu sudah merasa lebih baik?" tanya Nova.Dia hendak meraba kening Lala, tapi Lala menghempas tangan Nova kasar.
"Kumohon jangan salah sangka."
"Aku tidak peduli!" Lala berjalan meninggalkan Nova menuju ruang makan.
Nova serba salah.Di depannya ada Manda yang masih menangis, di sisi lain Lala istrinya sedang marah karena salah paham.
__ADS_1
"Pulanglah, kalau kamu takut, pulanglah ke rumah orang tuamu.Mereka lebih berhak tahu apa yang terjadi padamu daripada aku.Maaf aku tidak bisa membantumu." Nova meninggalkan Manda setelah mengucapkan kalimat itu kemudian menyusul Lala ke ruang makan.