
Lala tidak tahu siapa saja yang diundang Oma dalam acara makan malam ini mengingat keluarga Nova bukanlah keluarga besar.bDia duduk di ruang tengah sambil memainkan ponselnya.Tak lama berselang terdengar suara langkah sepatu memasuki ruang tengah. Lala menoleh untuk melihat siapa yang datang.
"Hai ..." sapa Lala senang setelah mengetahui Vania lah yang datang. Dia tidak menyangka Oma mengundang gadis itu juga. Vania langsung mendaratkan tubuhnya di samping Lala.
"Apa ada acara besar?" bisik Vania kemudian.
Lala menatap Vania heran. "Tidak ada apa-apa ... memangnya Oma bilang apa padamu?"
"Oma memintaku datang kesini malam ini, untuk makan malam. Menurutku itu sesuatu yang tidak biasa. Pasti ada sesuatu kan?"
"Oh ... itu ... Oma mengundang Kevin makan malam di rumah."
"Kamu serius?" Vania membelalakkan matanya. Nada suaranya langsung naik beberapa oktaf. Sementara Lala hanya mengangguk. "Itu sesuatu yang sangat besar. Apa Oma sadar apa yang dia lakukan? Bagaimana dengan Nova?"
"Tenanglah ..." Lala heran melihat ekspresi Vania yang begitu terkejut. "Nova tidak apa-apa. Makan malam ini sudah minta persetujuannya kenapa kamu kaget begitu?"
"Bagaimana bisa?" Suara Vania semakin keras. Lala menaruh telunjuknya di bibirnya memberi isyarat agar Vania memelankan suaranya.
"Bagaimana bisa?" Vania mengulangi lagi pertanyaannya.
"Tentu saja bisa. Oma memintaku membujuk Nova agar mengijinkan Kevin makan malam di sini."
"Dan dia langsung setuju?" Lala mengangguk.
"Dasar bucin!" Lala melotot mendengar kata-kata Vania.
"Aku benar kan? Bertahun-tahun Oma sembunyi-sembunyi menemui Kevin dan begitu kamu yang bicara dia langsung mengijinkan Kevin datang ke rumah ini? Apa artinya itu?"
"Ah ... kenapa tidak sejak dulu saja kalian menikah ..." gumam Vania.
__ADS_1
Kemudian terdengar suara percakapan dari depan menandakan ada tamu lain yang juga sudah datang. Terlihat Viviane memasuki ruang tengah. Penampilannya sangat mencolok dengan make up tebal dan pakaian seksi seolah dia sedang ingin menarik perhatian laki-laki di tempat ini layaknya di klub malam. Kemudian diikuti Kevin dan seorang wanita yang dari wajahnya bisa di tebak adalah ibunya Viviane. Siska muncul paling belakang, sepertinya dia yang menjemput Kevin dan keluarganya.
"Hai Kevin," sapa Lala. Kevin tampak tersenyum malu-malu di belakang neneknya.
"Kak Lala ..." balas Kevin polos. Dia sudah beberapa kali bertemu Lala jadi tidak begitu asing dengannya. "Dimana Kak Nova?" Kevin terlihat melihat sekeliling mencari keberadaan Nova.Dia sepertinya ingin segera bertemu dengan kakaknya hingga membuatnya keceplosan. Sementara Viviane terlihat heran melihat tingkah Kevin yang sepertinya sudah terbiasa dengan Lala.
"Sebentar ya ... Aku panggil kak Nova sama Oma. Kamu tunggu di sini dulu." Anak itu mengangguk sementara Lala kembali ke lantai atas untuk memberitahu Oma jika Kevin sudah datang.
Kemudian Lala berjalan menuju kamarnya mengajak Nova untuk turun bergabung. Lala masuk ke dalam kamar dan menemukan Nova duduk di sofa di dalam kamar mereka memainkan ponselnya. Lala mendekatinya kemudian duduk di sampingnya.
"Kevin sudah datang. Ayo kita turun," ajak Lala.
"Boleh aku di sini saja?" Nova tampak malas.
"Kamu harus menghadapinya ... Terus menerus menghindar tidak akan menyelesaikan masalahmu."
Nova terlihat merenung. "Demi Kevin ... dia sangat ingin bertemu denganmu."
"Lah ... kenapa demi aku?"
"Ya demi kamu, kalau aku tidak menuruti keinginanmu maka kamu tidak mau memberikan hak ku." Nova sudah mulai menyosor bibir Lala lagi.
"Itu namanya demi dirimu sendiri, bukan demi aku," ucap Lala setelah Nova melepaskan bibirnya. "Ayo turun sekarang." Lala meraih tangan Nova dan menariknya agar ikut turun ke ruang makan. Nova hanya pasrah mengikutinya.
Semua mata tertuju pada Nova ketika Nova duduk di ruang makan. Rupanya mereka semua sudah menunggu di sana. Nova tampak acuh tanpa menyapa seorangpun di dalam ruangan itu. Wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi apapun seolah dia hanya sendirian di ruangan itu tidak ada orang lain.
"Hai Nova ..." sapa Viviane mencoba bersikap manis, tapi Nova benar-benar mengabaikannya. Dia hanya melirik sekilas ke arah Kevin dan melihat tatapan anak itu yang seolah berharap sekali Nova menyapa dirinya. Tapi Nova juga mengacuhkannya. Sebenarnya Nova juga tidak tega melakukannya, tapi dia masih sangat membenci Viviane.
Viviane mulai terlihat kesal karena Nova tidak menjawab sapaan darinya tapi dia tahan. Oma sudah mempersilahkan semuanya untuk makan. Oma memulai mengajak Kevin ngobrol sambil menyantap hidangan di depannya.
__ADS_1
Kevin terlihat biasa berbincang dengan Oma karena memang Oma sudah sering menemuinya. Sesekali dia menatap ke arah Nova masih berharap Nova akan menatap balik ke arahnya dan mengajaknya bicara, tapi Nova tetap mengabaikan dirinya. Nova hanya terlihat mengaduk-aduk makanan di piringnya. Suasananya terasa sangat kaku.
"Viola ... sudah berapa lama kamu dan Nova menikah?" Viviane membuka pembicaraan dengan Lala.
"Enam bulan lebih," jawab Lala enteng.
"Kamu masih belum hamil?"
"Oh ... Aku dan Nova masih belum memikirkan itu." Lala tetap santai menanggapinya. Dia tidak tersinggung sama sekali, berbeda dengan Nova yang sudah terlihat kehilangan moodnya. Dia tahu Viviane hanya mencoba memancing emosinya atau setidaknya memojokkan Lala.
"Aku akan kembali ke kamar, sepertinya aku tidak enak badan." Nova meletakkan sendok nya dan berdiri hendak meninggalkan ruang makan. Tidak ada yang berani berkata apa-apa termasuk Oma.
Lala menatap Nova yang juga sedang menatapnya. "Aku akan menemanimu," ucap Lala.
"Kamu lanjutkan saja makan, aku tidak apa-apa. Hanya ingin istirahat saja di kamar."
"Tapi ..." Lala belum sempat menyelesaikan kalimatnya.
"Tidak apa-apa," potong Nova kemudian berlalu meninggalkan mereka semua. Suasana sedikit mencair setelah Nova meninggalkan ruangan itu. Ibunya Viviane mulai mengoceh panjang lebar mengenai perhiasan dan tas-tas bermerek seolah-olah dia sangat menguasai dua hal itu sementara yang lain tampak hanya diam mendengarkan.
Selesai makan malam semuanya kembali ke ruang tengah untuk berbincang-bincang. Kemudian Oma mengajak Kevin berkeliling rumah ditemani Siska, mungkin menunjukkan beberapa foto Renand, sang ayah. Vania harus pergi karena ada panggilan mendadak urusan pekerjaan. Lala menyusul Nova ke kamar untuk melihat keadaannya. Tapi Nova menyuruhnya kembali ke bawah karena memang dia tidak apa-apa. Dia hanya berusaha menghindari Viviane.
"Ibu dengar kan? Nova dan istrinya belum berencana punya anak, jadi aku harus menyingkirkan mereka secepatnya, sebelum mereka punya keturunan," bisik Viviane.
"Jika mereka sampai punya anak maka kesempatan Kevin semakin kecil untuk memiliki semua ini."
"Tapi bagaimana caranya?" balas sang ibu yang juga dalam bisikan.
"Kita pikirkan itu nanti di rumah."
__ADS_1
"Jangan sampai kamu tidak mendapatkan rumah ini. Rumah ini benar-benar sangat mewah." Sejak tadi datang ibu Viviane tidak berhenti mengagumi rumah Oma. Dia terus mencuri-curi pandang ke sekeliling dan terpana karena kemewahannya. Maklum saja, rumah Viviane mungkin hanya seukuran dapur di rumah Oma.