
You say you're sorry but it's too late now, so save it, get gone shut up. 'Cause if you think i care about you now, well boy i don't give a f*ck
- Dua Lipa -
Lala berlalu pergi meninggalkan Juna yang sekarang menangis menyesali sikapnya dulu.Seandainya waktu bisa diputar kembali dia akan segera menikahi Lala tanpa diminta, dia akan dengan senang hati mengajaknya kemanapun dia suka, mengantarnya berkumpul bersama teman-temannya dan bangga memperkenalkan dirinya sebagai kekasihnya.Tapi itu hanayalah sebuah sesal.
Dia baru menyadari sekarang, tidak ada gadis yang seperti Lala kekasihnya, sabar menghadapi keegoisannya, memaklumi semua kebiasaan buruknya, dan tidak pernah menuntut apapun darinya.Dia hanya ingin menikah, itu saja.Dan Juna begitu bodoh sudah menyia-nyiakannya.
Juna meneteskan air matanya.Dia tidak peduli dengan tatapan orang yang melewatinya.Hilang aura bad boy yang selama ini dibangga-banggakannya berganti dengan ratapan penyesalan.Senakal-nakalnya pria, mereka tetap memilih wanita baik-baik untuk menjadi istrinya.Bagi Juna, Lala lah orangnya.
* * * *
Lala duduk termenung sendiri di taman kota.Beberapa menit sebelumnya dia mengirim pesan singkat kepada Adit, memberi tahunya bahwa dia menunggungnya di sana.
Tak berapa lama seorang pria duduk di samping Lala tanpa bicara sepatah katapun.Lala menoleh menatap pria itu.Pria yang kini terlihat seperti dunianya sudah runtuh.Wajahnya terlihat sayu.Pria itu diam seribu bahasa.Dia bahkan tidak berani menatap gadis di sampingnya.Tatapannya kosong lurus ke depan.
Rasanya Lala tidak perlu menanyakan kabar pria ini karena sudah terlihat jelas dari penampilannya, dia tidak baik-baik saja.
"Aku akan menikah," ucap Lala memecah kesunyian.
Adit seketika menoleh, menatap dalam mata gadis di sampingnya ini.Terlihat jelas dia sangat terkejut atas apa yang di dengarnya, tapi dia tetap tidak bersuara.
"Menikahlah dengan Denise, jalani hidupmu dengan baik."
Adit masih membisu.Tidak ada kata yang bisa mewakili perasaannya saat ini.Dia meraih pipi Lala, mengusapnya lembut sambil terus memandangi wajahnya.Senyawa kebahagiaannya melimpah ruah saat bersama gadis ini.Sedikit sentuhan fisik dengannya bisa membuat dunianya kembali normal, walaupun hanya sementara.
Adit berusaha keras menahan air matanya.Tidak ada gunanya menangis karena gadis ini tetap tidak akan jadi miliknya.
__ADS_1
"Apakah dengan pria itu?"
Lala menggeleng.
"Dia bawahanmu di Plaza Z, hanya pegawai biasa."
"Tapi kamu tidak mencintainya," balas Adit.
"Itu tidak penting lagi sekarang.Bahkan mereka yang menikah karena cinta pun banyak yang berakhir dengan penghiatan dan perpisahan.Sekarang yang penting dia mencintaiku dan mau menerimaku."
Betapa munafiknya aku, dulu bersikeras tidak mau dijodohkan dengan alasan tidak ada cinta.Dan sekarang aku termakan omonganku sendiri.
Adit menghirup nafas dalam.Terasa berat sekali ini baginya.Dia terus menatap sendu kepada gadis ini.
"Aku benar-benar sudah tidak bisa berbuat apa-apa?" tanya Adit seandainya masih ada sedikit saja harapan untuknya bisa bersama Lala.
Adit berdiri dari duduknya. "Aku harus pergi." Suaranya terdengar berat.Lala tahu Adit sedang menahan tangisnya dan ini membuat Lala tidak tega.
"Kamu tidak ingin memelukku?" tanya Lala dengan suara yang tercekat.Dia juga sedang menahan tangisnya.
Adit berbalik.Tidak mungkin dia tidak ingin memeluk gadis yang sangat dicintainya ini.Dia merentangkan tangannya dan meraih tubuh Lala.Mereka saling mencintai tapi yang ada hanya air mata dalam setiap pertemuan.
"Jaga dirimu baik-baik Bang ..."
Adit melepaskan pelukan Lala.Dia berlalu tanpa kata meninggalkan Lala sendirian di sana.Tidak ada suara tangisan, hanya air mata yang terus menetes di pipi Lala.
Sementara itu ada sepasang mata yang sejak tadi mengawasi Lala.Pemilik mata ini yang sebentar lagi akan menjadi suami Lala.
__ADS_1
Nova berjalan mendekati Lala yang masih berurai air mata.Dia segera duduk di samping Lala.
"Kamu mencintainya?" tanya Nova tiba-tiba.
Lala menoleh.Dia tidak menyadari sudah ada Nova di sampingnya.Dia mengusap air matanya dan menunduk.Tidak ada gunanya dia menutupi semuanya dari Nova.
Lala mengangguk.Air matanya kembali menetes.
"Kamu boleh bersamanya jika itu yang kamu memang mencintainya," ucap Nova. "Kamu bisa membatalkan pernikahan kita.Aku tidak keberatan," lanjut Nova dengan tenang.
Lala mendongak menatap mata Nova dalam-dalam.Tidak tampak ada kemarahan di raut wajahnya.Dia mengatakan itu seolah itu tidak menyakiti perasaanya sendiri.
Bagaimana aku begitu bodoh tidak melihat ketulusanmu selama ini.Aku terlalu sibuk berharap pada sesuatu yang tidak pasti, hingga tidak melihat ada cinta yang sesungguhnya di depan mataku.Cinta yang tanpa syarat, unconditional love.
"Aku yang memilihmu.Aku tetap akan menikah denganmu," balas Lala mantap. "Apa kamu masih mau menerimaku?"
"Selama kamu bersedia ... " Nova tersenyum tulus dan menghapus air mata Lala.
* * * *
Hari pernikahan Lala sudah tiba.Lala sudah tidak mau tahu kabar Adit maupun Juna.Dia hanya akan fokus pada Nova, calon suaminya.Dia perlahan akan belajar mencintai pria itu dan menerimanya seperti dia menerima Lala.
Lala tampak anggun mengenakan kebaya putih.Dia ditemani Mbak Dina, Riris dan juga Anjani di dalam kamarnya menunggu mempelai pria datang.Tentu saja rasa cemas menyelimuti perasaan Lala.Cemas seandainya Nova tidak jadi datang untuk menikahinya.
"Dia pasti datang," ucap Riris menenangkan Lala.Dia tahu persis apa yang dipikirkan Lala.
Lala hanya mengangguk meyakinkan dirinya.
__ADS_1