
Sudah jam sepuluh malam tapi Lala belum juga sadar. Nova dengan setia menunggu di sampingnya. Tatapan matanya yang sendu tidak pernah lepas dari Lala sedetik pun seolah menggambarkan perasaannya saat ini.
" Mama ... Aku seperti melihat mu lagi. Terbaring tak berdaya. ini seperti waktu itu Ma ... saat Mama meninggalkanku sendirian. Seperti deja vu tapi ini benar-benar nyata. Aku tidak sanggup kehilangan dia, apalagi ada calon anakku di perutnya. Jika sampai dia pergi seperti mama ... maka aku akan ikut dengannya dan kita akan bertemu di sana ..."
Rasa takut kehilangan masih saja menghantui Nova meskipun dokter mengatakan kondisi Lala sudah stabil. Bukan karena rasa cintanya yang berlebihan kepada Lala, tapi trauma karena kehilangan orang yang dicintai dengan cara yang tragis lah yang membuatnya bersikap demikian.
Nova merasakan tangan Lala yang sejak tadi digenggamnya bergerak. Lala membuka matanya pelan. Nova segera menghapus air matanya.
"Kamu sudah bangun?"
Lala tersenyum kepada Nova. "Kamu sudah datang?" ucapnya lemah.
"Iya aku di sini ... " Nova tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Dia mengusap wajah Lala dan menciumi keningnya.
"Aku menunggumu tadi ... tapi sekarang aku masih ingin tidur." Mata Lala sudah terpejam lagi. Sepertinya dia hanya sedang mengigau.
"Maafkan aku membuatmu menunggu lama. Tidurlah ... Aku akan menemanimu di sini."
Nova merasa lega sekali walaupun Lala hanya membuka matanya sebentar, itu sudah cukup. Baginya itu sudah bisa mengusir hal yang paling ditakutinya.
* * * *
"Apa yang kamu rasakan?" tanya Nova. Saat ini Lala sepenuhnya sudah sadar. Tapi dia lebih banyak memejamkan matanya menahan sakit karena efek obat bius yang sudah mulai hilang.
"Sakit ... Ini sakit sekali. Aku tidak bisa menggerakkan kakiku." Keringat membasahi tubuh Lala walaupun pendingin ruangan sudah dinyalakan. Kadang dia meremas tangan Nova yang selalu menggenggam tangannya untuk menahan rasa sakitnya.
Beberapa saat kemudian Lala sudah kembali terlelap karena perawat memberikan obat untuk mengurangi rasa sakit.
* * * *
"Apa yang kamu temukan?"
"Tidak ada petunjuk apa-apa Tuan. Tidak ada seorangpun yang melihat kejadian itu. Tapi saya menemukan jejak sepatu di badan motor Nona."
"Apa maksudnya?"
Damian menunjukkan foto yang dia ambil yang memperlihatkan ada jejak sepatu di badan motor Lala.
"Ada yang mecoba mencelakainya?"
"Sepertinya begitu Tuan ... tapi lebih baik kita menanyakannya pada Nona jika nanti keadaan Nona sudah lebih baik."
Nova mengangguk. " Kamu terus selidiki."
"Baik Tuan ... Permisi." Damian berlalu pergi sementara Nova kembali ke dalam kamar untuk menjaga Lala yang masih terlelap.
Pagi harinya Lala sudah merasa lebih baik walaupun sesekali masih meringis menahan sakit. Nova sudah membujuknya untuk makan tapi rasa sakit pasca operasi nya membuatnya tidak berselera.
__ADS_1
"Kamu harus makan ... " Nova menghela nafas panjang. "Apa kamu tahu ada bayi di dalam perutmu?" Nova duduk di pinggir tempat tidur. Tangannya sibuk merapikan rambut Lala dan mengikatnya.
"Bayi apa?"
"Calon bayi kita."
"Apa maksudmu?"
"Kamu hamil Viola sayang ... Apa kamu tidak tahu?"
"Benarkah?" Lala tidak percaya.
Nova mengangguk. "Dokter yang mengatakannya padaku."
"Tapi aku tidak merasakan apa-apa. Tidak ada tanda-tanda aku hamil."
"Karena itu kamu harus makan yang banyak, nanti setelah kamu lebih baik kita akan periksa ke dokter kandungan. Kita akan USG dan melihatnya untuk pertama kali."
"Kamu tidak sedang bercanda untuk menghibur ku kan?"
Nova menggeleng. "Kamu benar-benar hamil." Senyum Lala merekah. Sejenak dia lupa rasa sakitnya.
"Aku ingin di peluk ..." matanya berkaca-kaca.
"Tentu saja, dengan senang hati ..." Nova memeluk Lala dengan hati-hati agar tidak mengenai lengannya. Mereka berdua tersenyum tapi juga hampir menangis di saat bersamaan.
Bayi ini akan membuat kita kuat. Jika benar orang yang mencelakai aku adalah suruhan Viviane maka dia pasti dia akan berusaha lagi untuk mencelakai aku atau kamu.
"Bagaimana kamu bisa terjatuh? Bukankah kamu sangat mahir mengendarai motor?" tanya Nova sambil terus menyuapi Lala.
Lala terdiam. Sebenarnya dia ingin membicarakan masalah ini dengan Oma terlebih dahulu.
"Aku sedang naik motor seperti biasa, tiba-tiba ada motor lain dari belakang ingin menyalip dan tak sengaja menyenggol motorku. Aku oleng, jatuh dan seperti inilah hasilnya."
"Kamu yakin begitu?" Lala mengangguk. Nova tampak berpikir, mungkinkah Lala berbohong.
"Lalu kenapa ada jejak sepatu di motor mu?"
"Jejak sepatu apa? Aku malah ngga tahu."
"Ya sudah ... lupakan saja."
* * * *
Setelah hampir seminggu di rumah sakit akhirnya Lala diijinkan pulang.
"Berapa lama aku akan seperti ini?"
__ADS_1
"Mungkin sekitar empat sampai enam bulan."
"Lama sekali ... Aku pasti akan bosan."
"Tidak, aku akan menemanimu di rumah sampai kamu sembuh."
Kemudian Oma datang membawakan makan siang untuk Lala.
"Oma mengantarkan makan siang untuk kamu dan calon cicit Oma." Oma Rusdi membatalkan semua kegiatannya untuk menyambut kepulangan Lala dari rumah sakit.
"Terima kasih Oma ... tidak perlu repot-repot. Oma bisa meminta pelayan untuk mengantarkannya ke sini tadi." balas Lala.
Nova menerima nampan berisi makanan dari Oma dan berniat menyuapi Lala makan seperti sebelumnya.
"Aku bisa makan sendiri sekarang. Kamu juga harus makan."
"Iya Nova, kamu makan di bawah saja, biar Oma yang menemani Lala di sini." Nova menatap Lala.
"Aku tidak apa-apa. Ada Oma di sini. Kamu juga harus istirahat," ucap Lala meyakinkan.
"Baiklah, aku akan meninggalkanmu sebentar." Lala menatap kepergian Nova dan memastikannya sudah pergi.
"Oma, aku ingin bicara sebentar."
"Ada apa Lala? Apa ada masalah serius?"
"Iya Oma ... mengenai kecelakaan yang aku alami."
"Nova sudah menyuruh Damian untuk mencari orang yang sudah menyerempet motor kamu. Nova akan mengusutnya sampai tuntas karena sudah membahayakan nyawa mu."
"Sebenarnya orang itu bukannya tidak sengaja menyenggol motorku Oma, tapi dia dengan sengaja menendang motorku hingga aku jatuh."
"Apa maksudmu?"
"Oma ingat waktu kita makan malam bersama Kevin dan Viviane? Aku tidak sengaja mendengar mereka bicara."
"Mereka ingin menyingkirkan aku dan Nova agar Kevin bisa menguasai rumah ini dan semua peninggalan papa Renand. Karena jika Nova hidup dan sampai mempunyai keturunan maka kesempatan Kevin untuk memiliki itu semua akan semakin kecil. Aku curiga ini ulahnya."
Mata Oma terbelalak tidak percaya. "Apa kamu yakin dengan yang kamu dengar?"
"Aku yakin sekali Oma."
"Jadi menurutmu kecelakaan yang kamu alami adalah ulah Viviane?"
"Aku tidak yakin Oma karena tidak ada bukti, tapi aku berpikir seperti itu."
"Dasar wanita ular!" Oma geram.
__ADS_1
"Apa aku harus memberitahu Nova Oma? Aku takut dia akan bertindak gegabah? Kita tidak punya bukti. Oma tahu kan? Nova sudah sangat membencinya dan jika dia tahu semua ini dia mungkin dia akan segera bertindak tanpa berpikir panjang."
"Oma tahu apa yang harus dilakukan. Serahkan semuanya pada Oma. Wanita ular itu memang harus diberi pelajaran!"