Menikah Tak Harus Cinta

Menikah Tak Harus Cinta
Salah Paham


__ADS_3

Sudah lewat beberapa hari setelah adegan ciuman waktu itu.Seperti yang diinginkan Lala, Adit tidak berubah sedikitpun.Adit tetap menjadi Adit yang biasanya, jutek, galak dan posesif terhadap Lala.Dia tidak memberikan celah untuk orang lain bisa bersama Lala saat ada dirinya.


Lala sudah berada di ruangannya.Tiba-tiba saja Adit muncul di depannya tanpa permisi seperti biasanya.Lala mendongak, memandangi Adit dari kepala hingga ujung kaki.Hari ini Adit tidak memakai seragam.Dia memakai celana jeans dan kaos lengan panjang biasa.Begitu saja dia kelihatan sangat keren.


"Keren banget Bang, Abang mau kemana?"


"Apa kamu baru sadar kalau aku keren juga tampan?" sombongnya kumat.


"Hehh... Abang tidak menjawab pertanyaanku! Kamu mau kemana? Kenapa ngga pake seragam?"


"Aku ke sini mau pamitan sama kamu."


"Pamit?" Lala tidak mengerti.


"Aku akan ke kota B beberapa hari, jadi jangan mencariku."


"Jangan ge-er.Memangnya ada acara apa di sana? Bukannya acara pembukaan plaza baru sudah selesai?"


"Aku masih ada urusan yang harus diselesaikan.Kamu mau kubelikan apa nanti dari sana?"


"Ngga usah, aku ngga mau apa-apa.Yang penting Bang Adit cepet pulang."


"Kamu ngga ingin sesuatu? Biasanya cewek banyak maunya."


"Aku enggak... wekkk," Lala menjulurkan lidahnya.


Dia tahu meskipun dia tidak minta apa-apa Adit pasti akan membelikannya sesuatu.


"Ya sudah aku pergi." Adit hendak melangkah.


"Kalau cuma gitu doang kan tadi bisa lewat pesan bang." Lala ngga habis pikir.


"Ya sudah... sini cium," Adit menggoda Lala.


"Iiihhhh... ogah..!" Lala bergidik.


"Cium tangan maksudnya, wah pikiranmu udah kemana-mana."


"Apa-apaan cium tangan kaya suami istri.Dah salaman aja."


Lala mengulurkan tangannya sambil menggerutu.Adit menyambut tangan Lala.


"Bye jelek... jaga diri.Jangan suka keluyuran sendirian lagi."

__ADS_1


"Hati-hati bang.."


Adit mengangguk kemudian pergi sambil senyum-senyum sendiri.Tak beselang lama ada yang mengetuk pintu ruangan Lala.


"Tok... tok... tok...."


"Masuk.. " Lala bicara tanpa menoleh.


"Oh... Pak Irwan.Ada apa Pak? Ada yang bisa saya bantu?" Lala bertanya sopan.


"Saya mau bicara sebentar dengan Mbak Lala."


"Iya Pak... silahkan duduk."


Pak Irwan adalah sopir pribadi Pak Andreas, papanya Adit sekaligus pemilik plaza Z.


"Ngga usah Mbak Lala, terima kasih.Saya cuma mau menyampaikan pesan dari Nyonya Andreas.Mbak Lala nanti sore sepulang kerja diminta menemui Nyonya di rumahnya."


"Apa Pak Irwan tau untuk urusan apa?"


"Saya tidak tau, saya hanya menyampaikan pesan.Kalau begitu saya permisi ya Mbak."


"Oh... iya Pak terima kasih.Nanti saya pasti datang ke rumah Nyonya Andreas," Lala menjawab sembari tersenyum ramah.


Sudah waktunya pulang.Lala membersihkan meja kerjanya kemudian mengemasi barang-barangnya.Dari tadi pikirannya tidak tenang karena teringat pesan dari Pak Irwan.Lala terus berpikir ada apa Nyonya Andreas ingin menemuinya.


Lala mematikan sepeda motornya ketika sampai di depan rumah Adit, lebih tepatnya rumah keluarga Andreas.Ini ketiga kalinya Lala ke rumah ini.Biasanya dia datang bersama Adit. Jadi penjaga langsung membuka gerbang tanpa diminta begitu melihat Adit.Kali ini Lala datang sendirian, dia harus lapor security dulu agar diijinkan masuk.


Lala berjalan menuju pos security untuk memberitahukan keperluannya.Setelah itu penjaga membuka gerbang dan mempersilahkannya masuk.Sampai di pintu utama Lala sudah disambut oleh pembantu yang waktu itu diminta Adit menyiapkan camilan.Sepertinya dia ART senior di rumah ini.Jantung Lala berdebar-debar.Rasanya seperti ketika pertama kali dia melakukan wawancara kerja dulu.


"Silahkan Mbak Lala, Nyonya sudah menunggu di ruang tamu," ART itu mepersilahkan Lala masuk.


"Iya Bi.. " Lala tersenyum dan melangkahkan kakinya masuk.


Sampai di dalam Lala melihat Nyonya Andreas duduk di sofa.


"Selamat sore Nyonya.. " Lala menyapa sopan.


"Oh... kamu sudah datang rupanya.Silahkan duduk," Nyonya Andreas menyambut Lala ramah.


Ini pertama kalinya Lala bertemu dengan Nyonya Andreas secara langsung.Nyonya Andreas terlihat masih muda.Penampilannya glamour khas sosialita ibu kota, dengan barang branded dari kepala hingga ujung kaki.Lala pikir Nyonya Andreas adalah sosok yang galak, judes dan jahat seperti pemeran antagonis yang ada di sentron-sinetron.Tetapi ternyata dia cukup ramah.


Lala kemudian duduk.

__ADS_1


"Kamu yang namanya Lala?" Nyonya Andreas mulai pembicaraan.


"Iya Nyonya.. "


"Panggil Tante aja biar lebih enak."


"Jadi Tante langsung to the point aja ya kenapa kamu aku panggil ke sini."


Lala hanya diam mendengarkan.


"Tante dengar kamu dekat dengan anak Tante, Adit.Begini Lala... Adit sudah kami jodohkan dengan seseorang.Namanya Denise.Dia sekarang masih menyelesaikan studinya di London tapi sebentar lagi selesai.Bukannya kami tidak menyukaimu, tapi kami ingin orang yang sederajat untuk menjadi pendamping Adit.Kamu mengerti maksud Tante kan?"


Nyonya Andreas bicara dengan nada yang halus tapi entah kenapa itu sedikit menyinggung perasaan Lala.


"Iya Tante.. saya mengerti.Tapi apa boleh saya menjelaskan dulu kepada Tante?" Lala memberanikan diri bertanya.


"Baiklah... kamu ingin menjelaskan apa?"


"Saya dan Bang Adit memang dekat, tapi tidak seperti yang Tante pikirkan.Kami hanya dekat sebagai teman, tidak lebih."


Lala kemudian mengeluarkan hpnya dan memberikannya kepada Nyonya Andreas.


"Kalau Tante tidak percaya, Tante boleh membaca pesan-pesanku dan Bang Adit."


Nyonya Andreas menerima hp Lala kemudian membaca isi chat Adit dan Lala.Nyonya Andreas tersenyum dan memberikan hp Lala kembali.


"Aku hargai kejujuranmu."


Lala tersenyum lega.Untung dia belum menghapus chat nya dengan Adit.


"Semoga Tante tidak salah paham sekarang."


"Iya.. Tante percaya padamu.Soal pacar-pacar Adit yang lain, Tante harap jangan sampai ada yang tahu.Adit hanya bermain-main dengan mereka."


"Baik Tante."


"Satu hal lagi... Tante harap mulai sekarang kamu jangan terlalu dekat dengan Adit.Tante tidak mau nanti Denise salah paham dan memutuskan pertunangan ini.Apakah kamu bisa berjanji untuk menjaga jarak dari Adit?"


"Iya tante.. Saya janji."


"Ya sudah, tidak ada yang lain lagi.Kamu boleh pulang sekarang."


"Baik Tante... saya permisi."

__ADS_1


Lala berjalan meninggalkan ruangan itu sambil memikirkan percakapannya dengan nyonya Andreas.Lala memang tidak dicaci, dihina ataupun diperlakukan tidak baik.Tetapi perasaannya seperti tidak terima, ada sedikit rasa tersinggung di sana.Mungkin ini yang namanya direndahkan secara halus.


__ADS_2