
Lala melepaskan pelukannya.Kini dia dan Adit saling berhadapan.Mereka berdiri di lorong rumah sakit, tepat didepan ruangan dimana Pak Fajar di rawat.Beruntung ini bukan jam besuk jadi lorong ini sepi, hampir tidak ada orang lewat. Mata mereka bertemu, Adit menghapus air mata Lala.
"Kamu bilang nanti sore kita ketemu, kenapa sekarang sudah ada di sini? Bagaimana kamu bisa masuk?" Lala tersenyum dalam kesedihannya.
"Kamu kenapa? Apa kerinduanmu padaku begitu berat sampai kamu menangis seperti itu?" Adit menggoda Lala.
"Kamu meninggalkan jam kerjamu, nanti bisa kena marah Pak Andreas."
"Mana mungkin Pak Andreas memarahi anaknya yang tampan ini." Adit bicara sambil membelai rambut Lala.
"Sudah dua hari aku tidak bertemu gadis yang sering membuat perasaanku kacau.Aku sedikit merindukannya jadi aku menemuinya," lanjut Adit masih berusaha menggoda Lala.
Lala tersenyum tapi air matanya justru semakin deras mengalir.Adit memeluknya lagi.Apa yang sudah kamu alami? Kenapa sampai seperti ini?
"Kita harus akhiri ini Bang... Tidak bisa lebih jauh lagi," ucap Lala pelan.
Adit melepaskan pelukannya.Tangannya memegang kedua pundak Lala dan menatap mata gadis itu dalam-dalam.Dia tidak percaya apa yang diucapkan Lala.
"Kamu tau ... ini berat untukku dan juga untukmu, tapi kita memang harus berakhir sampai sini."
"Apa maksudmu?"
"Kamu tau apa maksduku ... Jangan membuatnya semakin sulit.Kita berdua tahu akhirnya akan seperti ini."
"Tidak ... tidak ... jangan sekarang! Aku tidak bisa jauh darimu saat ini." Tatapan Adit seolah memohon kepada Lala.Tapi dia juga melihat luka yang dalam di sorot mata Lala.
"Aku akan meninggalkanmu sebentar, ini pasti karena bapak sakit makanya kamu tidak berpikir jernih.Tenanglah ... Bapak pasti segera sembuh." Adit melepaskan Lala.Dia ingin pergi karena tidak sanggup mendengar kata-kata Lala lagi.
Lala tidak mau melepaskan tangan Adit.Dia menggenggamnya erat.
"Tidak, bukan itu ... ! Dengarkan aku Bang ....Ini mungkin terakhir kita seperti ini.Jika nanti aku bertemu denganmu di kantor, maka aku hanya akan menganggapmu sebagai rekan kerja."
"Aku tidak ingin mendengarkan ucapanmu! Aku akan pergi sebentar darimu, nanti saat aku kembali kamu pasti sudah menjadi seperti biasanya." Adit pergi meninggalkan Lala.
Andai saja kamu tahu, ini bukan hanya tentang kita.Ini juga tentang orang tuaku dan mamamu.Apa yang mungkin di lakukan terhadap keluargaku jika aku tetap bersamamu.Aku tidak boleh memikirkan diriku sendiri.
__ADS_1
* * * *
Adit setengah berlari ke mobilnya.Dia menyetir mobilnya tak tentu arah.Akhirnya dia berhenti di taman kota.Ini sudah menjelang siang dan bukan hari libur, jadi taman kota terlihat sepi.Dada Adit terasa sesak.Dia ingin berteriak sekeras kerasnya untuk meluapkan emosinya.
Adit mengerti betul apa maksud kata-kata Lala tadi, dia hanya tidak bisa menerimanya.Dia tidak mungkin menjauh dari Lala di saat dia sangat menyayangi gadis ini.Dia tidak pernah merasakan ini sebelumnya, begitu menyayangi seorang gadis kemudian harus berpisah dengannya.Dia bisa dengan mudah mendapatkan gadis untuk sekedar di ajak jalan ataupun di ajak tidur, tapi dia belum pernah terlibat perasaan dengan mereka.
Adit duduk termenung di taman itu sendirian.
Kenapa aku bertemu denganmu setelah bertunangan? Kenapa tidak sejak dulu kita bertemu? Aku bisa saja meninggalkan semuanya, tapi mamaku tidak akan membiarkan kita hidup bahagia.Dia akan melakukan segalanya untuk memisahkan kita.Dan aku tidak bisa melihat kamu tersiksa karena mama.
* * * *
Setelah kepergian Adit, Lala pergi ke toilet rumah sakit untuk membasuh wajahnya.Dia tidak ingin Bapaknya melihat mata merah bekas tangisannya.Dia menenangkan diri sebentar di sana.Sungguh hari yang kelabu untuk Lala.Berharap pertemuannya dengan Adit hanyalah sebuah mimpi tapi ini nyata adanya.Tidak ada luka yang Adit goreskan ke hatinya tapi kenapa rasa sakitnya tak terkira.
Lala kembali ke ruangan dimana bapaknya dirawat.Pak Fajar masih tertidur dengan pulas.Mungkin ini efek dari obat yang tadi diminumnya.Lala membuka hpnya, dia membaca novel online kesukaannya sembari menunggu Bapaknya istirahat.Sebentar lagi jam besuk dibuka.Ibunya dan Mas Fadil akan datang untuk menggantikannya menjaga Pak Fajar.
Selang beberapa saat pintu ruangan dibuka.Bu Mieke dan Mas Fadil sudah datang.Lala menyalami Ibunya kemudian memeluknya.
"Bapak tidur pulas sekali," bisik Bu Mieke takut membangunkan suaminya itu.
"Sana pulanglah, Ibu yang akan menjaga bapak sekarang.Mas Fadil akan menemani Ibu di sini sebentar baru nanti ke toko."
Lala mengangguk.Dia kemudian mengemasi barang-barangnya.
"Aku pulang dulu Mas ... tolong sampaikan ke Bapak aku sudah pulang kalau Bapak mencariku nanti," ucap Lala masih berbisik.
Mas Fadil mengangguk dan tersenyum. "Hati-hati di jalan," ucap Mas Fadil ikutan berbisik.
Lala meninggalkan ruangan itu.Dia menuju tempat parkir kemudian tancap gas.Lala mengendarai motornya menuju taman kota.Dia tidak ingin pulang ke rumah, dia hanya ingin menenangkan pikirannya.
Di taman kota.
Lala duduk di tempat biasanya, di tepi taman sambil memandangi air mancur hotel dari kejauhan.Sejenak pikirannya bisa kosong terlepas dari beban yang membelenggunya.Lala terus memperhatikan percikan air yang terus berlompatan dari ujung pancuran.
Setalah beberapa lama duduk mandangi air mancur itu sendiri, datang seorang laki-laki yang kemudian duduk di samping Lala.
__ADS_1
"Boleh aku duduk?" tanya laki-laki itu.
"Eh... Nova? Kenapa bertanya seperti itu? duduklah ...." Lala menoleh ke sumber suara.
"Kamu tidak berangkat kerja, dan kamu termenung di sini sendirian pasti ada yang tidak beres kan? Maaf, aku sok tau...." jawab Nova sambil tersenyum.
"Kamu sendiri kenapa tidak masuk kerja? Aku bisa memberi surat peringatan padamu, bolos kerja hanya untuk pergi ke taman,' balas Lala.
"Ini hari kamis, aku libur"
"Oh ... Aku sampai lupa hari."
"Viola ... Kamu tidak apa-apa?" Suara Nova terdengar serius juga tulus.
Lala menoleh.Dia hanya menatap Nova tapi tidak memberi jawaban.Matanya beralih lagi ke air mancur hotel dan diam beberapa saat.
"Aku baru sadar ternyata Tuhan itu sangat adil.Lihatlah aku ... Aku dikaruniai wajah yang cukup cantik, sangat cantik malah, aku juga tidak kekurangan secara materi tapi aku kesulitan menemukan pasangan." Lala tersenyum getir.
"Beberapa orang memiliki wajah pas-pasan, ekonomi juga tidak mapan tapi mereka bisa hidup bahagia dengan pasangan yang mereka cintai," lanjutnya.
"Berarti Tuhan tidak adil hanya padaku saja," balas Nova datar.
"Kenapa kamu ngomong gitu?" Lala menoleh ke arah Nova.
"Lihatlah aku ... Aku tidak tampan, ekonomiku juga tidak mapan, dan tampangku pas-pasan.Bagaimana menurutmu?"
Entah kenapa Lala justru tertawa mendengar perkataan Nova.
"Kamu benar-benar merusak mood-ku Nova.Padahal aku sedang bersedih meratapi nasibku dan kamu malah membuatku tertawa." Lala bicara sambil tertawa hingga wajahnya memerah.Entah karena ucapan Nova yang menurutnya lucu atau karena perasaannya yang sedang kacau.
"Heiii ... tampangmu tidak pas-pasan, kamu cukup manis sebenarnya.Jangan bicara seperti itu lagi," ucap Lala setelah berhenti tertawa.
Nova tersenyum melihat Lala bisa tertawa lepas.
Aku ingin melihatmu tertawa seperti ini seumur hidupku.Aku tidak bisa melihatmu dan murung.
__ADS_1