Menikah Tak Harus Cinta

Menikah Tak Harus Cinta
Terbongkar


__ADS_3

Matahari sudah bersinar cerah tapi Lala masih belum bangun dari tidurnya.Dia terlihat nyenyak sekali.


"Dia bisa terlambat kerja jika tidak segera dibangunkan, dia pasti akan mengomel padaku nanti," gumam Nova.


Dia kemudian mendekati Lala dan menatap wajahnya lekat.Sesuatu yang tidak bisa dia lakukan jika Lala sedang terjaga.Tapi kemudian Nova menyadari ada yang salah dengan Lala.Dia meletakkan telapak tangannya di kening Lala dan baru menyadari ternyata Lala demam tinggi.


Nova terlihat panik.Dia segera menelfon orang kepercayaannya agar mengiriminya obat penurun panas juga sarapan untuk Lala.Dia terus memandangi wajah Lala dengan rasa bersalah.Perlahan dia mengusap pipi Lala.


Seandainya aku tidak membuat dia kehujanan pasti dia akan sakit seperti ini sekarang.Apa yang kuinginkan? Apa lagi yang perlu ku buktikan?


Tak berapa lama seseorang mengetuk pintu kamar kostnya.Nova segera meraih gagang pintu dan membukanya.


"Obatnya Tuan." Seorang pria paruh baya dengan pakaian formal berdiri di depan pintu.Asisten, manajer, bapak angkat atau apapun sebutannya yang jelas Nova sangat menghormati orang ini.


"Pak Romi ..."sambut Nova.


"Jika Non Lala tidak segera sembuh lebih baik di bawa ke rumah sakit.Jangan sampai terlambat, nanti Tuan menyesal."


Nova terlihat mempertimbangkan kata-kata Pak Romi.Selama ini Pak Romi lah yang mendampingi Nova.Dia juga mengetahui seluk beluk hidup Nova hingga memutuskan menjalani kehidupan biasa, meninggalkan semua kemewahan yang dia punya.Ya, semua ini Nova lakukan karena ada alasannya.


""Terima kasih Pak," balas Nova pendek.


"Saya permisi Tuan, hubungi saya jika Tuan membutuhkan sesuatu."


Nova hanya mengangguk.Dia kembali masuk ke kamar nya.


"Bangun Viola ... kamu harus makan." Nova meraba kening Lala yang masih terasa panas.


"Jam berapa ini?" Lala menggeliat pelan. "Apa aku sudah terlambat?" tanya Lala masih memejamkan matanya.


"Lupakan dulu pekerjaanmu.Apa yang kamu rasakan sekarang?"


Lala membuka matanya dan menatap sayu wajah Nova yang kini berada tepat di depan wajahnya.


"Aku pusing."


"Makanlah dulu kemudian minum obat."


Lala menuruti saja perkataan Nova.Tapi dia menolak ketika Nova hendak menyuapinya.Selama dia masih melakukan apa-apa sendiri maka akan dia lakukan sendiri tanpa bantuan orang lain.


Lala berhenti makan setelah beberapa sendok makanan masuk mulutnya.


"Kenapa tidak di habiskan?"


Lala menggeleng, "tidak enak," jawabnya lemah.

__ADS_1


"Kamu ingin makanan lain?"


"Tidak usah, mungkin lidahku saja." Lala segera minum obat yang sudah Nova siapkan untuknya.


"Tidurlah lagi."


Lala merebahkan tubuhnya lagi, tapi kali ini dia tidak tertidur, dan Nova dengan setia mendampingi di sampingnya.


"Nova tadi aku seperti mendengar kamu bicara dengan seseorang.Apa aku hanya berhalusinasi?"


"Oh ... itu orang yang mengirim obat dan sarapan.Aku pesan online tadi."


"Tapi sepertinya kalian bicara cukup lama."


"Iya ... Aku memastikan obatnya sesuai dengan yang aku pesan." Nova sepertinya mulai terbiasa berbohong.Dia sudah bisa menjawab pertanyaan Lala dengan lancar.


"Sudah lebih baik sekarang? tanya Nova lagi.


Lala mengangguk pelan.


"Tidurlah, aku akan menjagamu di sini."


* * * *


Sore harinya keadaan Lala sudah membaik walaupun wajahnya masih sedikit pucat.Dia masih berbaring di kasurnya dan juga Nova yang setia menemaninya.


"Kamu memesan sesuatu lagi?" tanya Lala.


"Tidak." Nova berjalan untuk membukakan pintu kemudian kaget melihat Pak Romi ada di balik pintu.Nova menatapnya heran.Dia tidak merasa meminta Pak Romi membawakan sesuatu untuknya ataupun Lala.


"Tidak usah bertanya Tuan, Oma yang meminta saya mengirimkan ini." Pak Romi menyerahkan satu kotak besar makanan dan juga bermacam-macam vitamin.


"Tidak usah kemari jika aku tidak memintanya Pak."


"Maaf Tuan, saya mengikuti permintaan Oma, beliau sangat mengkhawatirkan keadaan Non Lala."


"Oma tau Lala sakit?"


"Maaf Tuan, saya tidak bisa tidak memberitahu Oma.Beliau sangat memperhatikan dengan Non Lala, sama seperti beliau memperhatikan Tuan Casanova."


"Kenapa Pak Romi memanggilmu Tuan?"


"Deg...!" Pertanyaan Lala membuat Nova tertegun.Rupanya tanpa dua orang ini sadari, Lala sudah berdiri di belakang Nova dan mendengarkan pembicaraan mereka.


"Pak Romi adalah manajer dan kamu seorang Cleaning service.Bagaimana bisa dia memanggilmu Tuan? Jelaskan padaku!" bentak Lala tidak sabar.Sebelumnya Lala sudah pernah bertemu Pak Romi sewaktu lamaran dulu, selain itu Pak Romi adalah manajer di Hotel X.

__ADS_1


Nova tidak bisa berkata apa-apa, sementara Pak Romi terlihat merasa bersalah sudah membuat rahasia majikannya terbongkar.


"Tenanglah dulu ... aku akan jelaskan semuanya." Nova mencoba memenangkan Lala.


"Saya permisi Tuan, Non Lala semoga lekas sembuh." Pak Romi pamit meninggalkan tempat itu setelah sebelumnya Nova mengangguk padanya memintanya untuk pergi.


Nova segera menutup pintu dan mengajak Lala masuk.


"Jangan berdiri dulu, kamu masih belum sehat."


"Jangan coba mengalihkan pembicaraan.Jelaskan padaku sekarang juga!" Lala terlihat emosi. "Katakan siapa kamu sebenarnya Tuan Cassanova!" bentak Lala lagi.


Nova meraih pundak Lala dan menatapnya.


"Tenanglah dulu ... aku akan menjelaskan semuanya padamu," ucap Nova dengan lembut.Setelah Lala lebih tenang barulah Nova bicara.


"Aku Cassanova Putra Asoka, anak dari pemilik Hotel X. Oma Rusdi adalah nenekku, dan rumah yang ditinggali Oma adalah rumah orang tuaku."


Bibir Lala terkunci, dia mencoba mencerna apa yang baru saja dikatakan Nova.


"Apa maksudnya ini?" Lala tidak percaya yang didengarnya. "Apa kalian semua bersekongkol membohongiku?"


"Tidak ... bukan begitu maksudku ... " Nova masih mencoba menjelaskan.


"Kenapa Nova?? Apa alasannya?? Apa aku tampak sebodoh itu?!! Mata Lala mulai berkaca-kaca.Dia tidak bisa terima selama ini telah dibohongi oleh Nova.


"Aku memang sudah menduga ada yang janggal denganmu, tapi aku tidak pernah berpikir kamu membohongiku tentang siapa dirimu!"


Nova tidak bisa membalas semua perkataan Lala.Sekarang dia merasakan rasa bersalah yang berlipat-lipat daripada rasa bersalah sudah membuat Lala sakit kemarin.


Nova membiarkan saja Lala mengeluarkan semua emosinya.Toh cepat atau lebat Lala memang harus mengetahui semuanya, rahasia yang selama ini dia simpan, walaupun bukan seperti ini yang dia harapkan.


"Apa kamu pikir jika aku akan mengambil semua hartamu jika aku mengetahuinya sejak awal?" Air mata Lala mulai menetes. "Apa menurutmu aku serendah itu?!"


"Tidak ... kumohon jangan berpikir seperti itu.Aku punya alasan sendiri." Nova mencoba meraih tangan Lala tapi Lala mengibaskan tangan Nova.


"Oh ya ...? Coba jelaskan padaku apa alasanmu?!" pertanyaan Lala terdengar sarkas.


Tapi Nova tidak bisa menemukan kalimat yang tepat.Dia masih berusaha merangkai kata-kata bagaimana agar bisa menjelaskan semuanya kepada Lala.


"Kenapa diam saja? Apa alasanmu Nova? Apa lagi yang tidak aku ketahui tentangmu? Apa kamu sudah menikah? Atau kamu sudah punya anak? Atau aku hanya wanita simpanan mu? Jawab aku!!" teriak Lala.Rasa pusing yang sebelumnya dia rasakan kini hilang.Perasaan berkecamuk antara kecewa dan marah menjadi satu memenuhi dadanya dan membuatnya terasa sesak.


"Kumohon jangan bicara seperti itu.Kamu satu-satunya wanita di hidupku!"


"Harusnya sejak awal aku tau, kamu sama seperti laki-laki lainnya." Lala menatap mata Nova tajam.Dia mengusap air matanya kemudian meraih jaket dan kunci motornya.

__ADS_1


"Kamu mau kemana? Jangan pergi, di luar sedang turun hujan, kamu bisa sakit lagi." Nova meraih tangan Lala mencegahnya agar tidak pergi.


Lala mengibaskan tangan Nova kasar.Kemudian dia berlalu meninggalkan Nova dan mengendarai motornya dalam hujan.


__ADS_2