Menikah Tak Harus Cinta

Menikah Tak Harus Cinta
Keluarga Adalah Segalanya


__ADS_3

Setiba di rumah, Lala segera membersihkan bandannya kemudian bergabung dengan keluarganya yang sedang makan malam.Tentu saja semuanya senang melihat ini mengingat sudah cukup lama Lala tidak makan malam di rumah.Terutama Reyhan, anak itu girang sekali melihat tantenya sudah di rumah saat jam makan malam.


Lala memutuskan untuk tidak akan menghindari keluarganya lagi.Bagaimanapun juga orang tuanya bersikap seperti itu karena mereka memyayanginya.Lala menyadari sekarang dia adalah wanita dewasa, harusnya dia membuka pikirannya.Melihat segala sesuatu tidak hanya dari sudut pandangnya saja, tapi juga dari sudut pandang orang-orang terdekatnya.


Setelah makan malam Reyhan meminta tantenya itu menemaninya bermain.Lala menurutinya.Anak itu manja sekali jika ada Lala.Semua orang berkumpul di ruang keluarga.Mengobrol santai sambil nonton tv, banyak canda tawa lepas di sana seolah tidak ada beban maupun dinding pemisah diantara mereka.Memang benar jika ada yang mengatakan "keluarga adalah segalanya".Mungkin inilah yang dirasakan Lala saat ini.


"Andai saja aku tidak menutup diri dari keluargaku pasti aku tidak akan seperti ini sekarang.Adai saja dari dulu aku tidak menutup-nutupi bagaimana sebenarnya hubunganku dengan Juna mungkin aku tidak adak berakhir seperti ini.Mereka pasti akan mendukungku, apapun keputusanku.Tapi semuanya sudah terlambat," Lala berandai-andai.


Dia menatap bapak ibunya yang sedang tertawa melihat tingkah lucu Reyhan.Begitu pula Mas Fadil dan Mb Dina, kakak iparnya.Semuanya tertawa lepas memperlihatkan keakraban yang terjalin di keluarga mereka.


"Berapa banyak momen seperti ini yang sudah aku lewatkan.Semuanya hanya karena seorang pria.Waktuku terbuang sia-sia hanya untuk meratapinya.Karena dia aku selalu keluyuran sepulang kerja hanya untuk menghabiskan waktu agar tidak selalu teringat padanya.Dia yang selalu menyia-nyiakan aku.Karena dia aku selalu menghindari bapak ibu agar tidak mendapat pertanyaan tentang dirinya.Sekarang yang ada hanya sesal, sesal dan sesal.Arjuna Wibawa, kamu telah merusak hidupku.Semoga Tuhan membalasmu," Lala melamun.


Reyhan membangunkan Lala dari lamunannya.


"Tante kenapa diam terus dari tadi?"


"Eh.. tante capek Rey, mmm... tante mau istirahat dulu," Lala tergagap menjawab pertanyaan Reyhan.


"Tapi Reyhan masih pengen main sama tante," anak itu mulai merengek.


"Besok malam kita main lagi, tante janji besok akan pulang cepat."


"Bener lho, tante janji?"


"Iya.. tante janji," Lala mengangguk.

__ADS_1


"Oke tante.. " Reyhan menjawab sambil tersenyum.


Di dalam kamar.


Lala merebahkan badannya di kasur.Dia menutup matanya ingin menepis rasa bersalah dan juga penyesalannya.Tapi justru bayangan Juna muncul berlarian di kepalanya.Lala membuka matanya kembali.Dia meraih hpnya kemudian membuka galerinya.Dia tidak tahu kenapa dia masih menyimpan foto dan beberapa video kenangan saat dia masih bersama Juna.


Dia sudah memutuskan untuk move on jadi dia akan menghapus semuanya.Lala mulai menghapus satu persatu foto Juna ataupun semua yang ada hubungannya dengan Juna.Begitu juga video kebersamaannya dengan Juna.Dia menghapus semuanya dan hanya menyisakan satu video.Video saat Lala menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri Juna bersama perempuan lain di mall waktu itu.


Lala menyimpan video itu menguatkan hatinya agar tidak memaafkan Juna jika suatu saat dia datang kembali.Lala yakin dia pasti akan datang entah kapan.Ini sudah hampir sebulan sejak Lala mengirim pesan terakhirnya pada Juna.Lala sudah tidak pernah berusaha mengubunginya atau mencari tahu kabarnya lagi.Dia juga tidak sudi untuk mendatangi rumahnya.Lala benar-benar sudah menutup hatinya untuk Juna.


Selesai menghapus semua kenangan itu Lala meletakkan kembali hpnya.Lala memejamkan matanya berniat untuk tidur.Tapi kali ini gantian Adit yang berlarian di kepalanya.Lala teringat kejadian sore tadi saat dia nonton film di rumah Adit.Lala memukul kepalanya sendiri pelan.


"Semoga Bang Adit tidak menganggapku murahan karena aku tidak menolak saat dia menciumku tadi.Aku menerima ciumannya karena aku juga ingin memastikan perasaanku terhadapnya.Tapi aku tidak merasakan apa-apa.Aku tidak merasakan jantungku berdebar-debar atau merasa seperti ada kupu-kupu berterbangan di perutku sama seperti saat aku bersama Juna... dulu.Jadi bisa kupastikan aku tidak mencintai Adit.Kalau tadi aku menerima cintanya berarti dia hanya kujadikan pelarianku saja," Lala bicara dengan dirinya sendiri.


"Baiklah, mungkin tidak ada salahnya jika aku berkenalan dengan anak bu Wendi.Toh ini hanya perkenalan biasa.Besok pagi aku akan memberi tahu ibu," Lala masih bicara sendiri hingga akhirnya dia tertidur.


"Ibu... aku mau berkenalan dengan anak Bu Wendi," Lala membuka pembicaraan.


"Kamu serius Nak?" Bu Mieke bertanya tidak percaya.


"Iya Bu, aku sudah memikirkannya.Lagian ini hanya kenalan biasa kan Bu?"


"Benar... Ibu senang mendengarnya.Tidak ada salahnya berkenalan dengan orang baru.Kalau nanti tidak ada kecocokan diantara kalian ya sudah jangan diteruskan.Setidaknya bisa nambah teman," Bu Mieke mulai bicara panjang lebar.


"Dengar Viola sayang... mau dipaksakan dengan cara bagaimanapun juga kalau memang tidak jodoh maka tidak akan bersama.Kita hanya berusaha Nak, nanti akhirnya Tuhan juga yang menentukan."

__ADS_1


"Iya Bu...Viola tau."


"Jadi kapan kamu bisa untuk ketemu Bu Wendi sama anaknya?"


"Terserah Ibu saja.Yang jelas setelah Viola pulang kerja."


"Bagaimana kalau besok minggu saja? Kamu kan libur kerja."


"Viola ikut kata Ibu saja," Lala menjawab pasrah.


Pak Fajar yang dari tadi diam mendengarkan mulai ikut bicara.


"Sebaiknya Ibu tanya ke Bu Wendi dulu bisanya kapan, siapa tau anaknya pas ada acara besok minggu."


"Iya... ya..? Bapak ada benarnya juga," Bu Mieke mulai menimbang-nimbang lagi keputusannya.


"Sebaiknya ku telfon Bu Wendi saja.Kamu tunggu di sini jangan berangkat kerja dulu," Bu Mieke bicara pada Viola sambil berdiri dari duduknya.Dia hendak menelfon bu Wendi.


"Harus sekarang ya Bu telfon Bu Wendi nya?" Lala bertanya setengah menyindir.


"Bu... ini masih pagi sekali.Mungkin mereka juga sedang makan sama seperti kita.Nanti Ibu malah mengganggu," Pak Fajar mengingatkan.


"Eh... iya Pak.Baiklah nanti malam saja Ibu telfon Bu Wendi.Habis ibu terlalu semangat sih Pak," Bu Mieke bicara sambil tersenyum sendiri.


Lala sudah menyelesaikan sarapannya.

__ADS_1


"Ya sudah Pak.. Bu.. Lala mau berangkat kerja dulu.Soal perkenalannya, Ibu saja yang atur.Viola ikut apa keputusan Ibu."


Viola mencium tangan bapak ibunya kemudian pergi.


__ADS_2