Menikah Tak Harus Cinta

Menikah Tak Harus Cinta
Mencari Angin Segar


__ADS_3

Selepas petang Adit mendatangi Lala di rumahnya.Lala agak kaget karena Adit tidak memberitahu lebih dulu kalau dia akan datang.Lala membawa Adit ke ruang tamu dan mempersilahkannya duduk.


"Ada apa kemari? Kenapa ngga bilang dulu?"


"Ayo ikut aku sebentar." Wajah Adit masih terlihat murung.


"Kemana?"


"Ikut saja."


"Baiklah, aku ganti baju sebentar."


Lala meninggalkan Adit sebentar untuk mengganti baju rumahan yang sedang dia pakai.Dia kemudian kembali dengan memakai kaos lengan panjang dan rok pendek di atas lutut.


"Aku pamit sama mbak Dina dulu biar nanti kalau bapak ibu pulang tidak mencariku."


Adit mengangguk.


Mobil Adit sudah membelah jalanan kota.Lala tidak tahu kemana Adit akan membawanya.Pria itu diam saja dari tadi dan ekspresinya masih belum berubah.


"Kita mau kemana?"


"Mencari angin segar?" jawab Adit sambil mengangkat bahunya.


Lala tidak berani bertanya lebih jauh.Dia tahu Adit sedang ada masalah.


Mobil Adit melaju semakin jauh meninggalkan kota.Lala bisa merasakan naik turun jalan yang dia lewati.Setelah hampir satu jam perjalanan akhirnya mobil Adit berhenti di depan sebuah bangunan villa.Walaupun suasananya malam hari tapi Lala masih bisa melihat kalau villa ini menghadap ke pantai.Dia bisa merasakan hembusan angin segar yang membawa aroma khas pantai.Dia juga bisa melihat pemandangan pusat kota dari sini.Kerlap-kerlip lampu terlihat kecil sekali dari kejauhan hingga tampak seperti bintang.Tempat ini sangat indah, Lala sangat menikmati susana ini.


Villa ini bukan satu-satunya di sini.Ada beberapa villa lain yang letaknya sedikit berjauhan tapi masih bisa terlihat.


Adit membiarkan Lala menikmati pemandangan ini.Setelah beberapa saat dia mengajak Lala masuk.Villa ini tidak begitu luas tapi cukup nyaman.Lala menaruh badannya di sofa.Sementara Adit langsung masuk ke dalam sepertinya ke dapur.

__ADS_1


"Apa tempat ini milik keluargamu?" Lala sedikit mengeraskan suaranya tapi tidak ada jawaban.


Adit kembali ke ruang tamu membawa beberapa motol minuman ringan.


"Kami jarang kemari." Adit seolah menjawab pertanyaan Lala tadi.


Lala melirik minuman ringan yang baru saja dibawa Adit.


"Kamu tahu aku tidak minum minuman seperti itu bang."


"Tidak ada minuman lain di kulkas.Mau kubuatkan teh hangat?"


Lala mengangguk.


"Baiklah... Tunggu di sini!"


"Memangnya aku mau kemana?" Lala bertanya heran.


Adit beranjak ke dapur dan kembali membawa secangkir teh untuk Lala.


"Kenapa memandangiku seperti itu?" tanya Lala dengan pipi yang merona.


Adit hanya tersenyum.Dia meraih tubuh Lala dengan salah satu tangannya dan meletakkan tubuh mungil itu dalam dekapannya.Lala pasrah saja dengan semua perlakuan Adit padanya.Entah karena dia rindu belaian seorang laki-laki seperti yang dulu sering dia dapatkan dari Juna atau karena dia memang merasa nyaman dengan Adit.


Adit membelai rambut panjang Lala.Mereka diam cukup lama menikmati momen ini.


"Sebentar lagi Denise akan kembali." Akhirnya Adit memecah kesunyian.


Lala mendongak menatap mata Adit dalam-dalam lalu menunduk lagi.Dia meletakkan kepalanya di dada Adit.Terjawab sudah kenapa wajah Adit kusut seharian tadi.Lala sendiri bingung dengan apa yang dia rasakan saat ini.


"Apa itu artinya kalian akan segera menikah?" tanya Lala pelan.

__ADS_1


Adit hanya diam.Sepertinya Lala sudah tahu jawabannya.


"Menikahlah denganku... !"


Lala tidak menjawab Adit.Air matanya sudah mulai menggenang.


"Apa aku egois jika aku ingin bersamamu tapi tidak ingin terikat hubungan apapun denganmu? Apa nanti orang-orang akan menyebutku pelakor jika aku menerima cintamu dan membuatmu meninggalkan Denise? Apa mamamu akan membiarkanku hidup bahagia denganmu? Andai saja kamu bukanlah dirimu... " air mata Lala sudah mulai menetes di pipinya.


Adit diam memikirkan kata-kata Lala.Sekarang dia bisa mengerti kenapa Lala tidak bisa menerima cintanya.


"Aku bersedia meninggalkan semuanya jika kamu memintanya."


"Aku tidak meminta apapun darimu." Lala mengusap air matanya kemudian melepaskan dirinya dari dekapan Adit.


Dia kini duduk di samping Adit.Tangan Adit meraih wajah Lala dan menatapnya lekat-lekat.Kedua ibu jarinya membersihkan sisa air mata yang masih membasahi pipi Lala.


"Aku akan meninggalkan Denise jika kamu memintaku.Tapi aku akan menikahinya jika kamu merelakanku.Langkahku tergantung jawabanmu karena hidupku tidak akan ada artinya jika aku tidak bersamamu."


"Apa harus seperti ini?"


"Jika aku menikah dengan Denise aku tidak akan peduli dengan hidupku lagi."


Lala memeluk Adit erat seolah dia tidak ingin melepasnya.


"Kumohon menikahlah denganku! Aku tidak berani memaksamu karena aku tidak bisa menjanjikan hidup yang mudah jika kamu menjadi istriku nanti.Mama pasti tidak akan berhenti berusaha untuk menyingkirkanmu," batin Adit.


Lala melepaskan pelukannya.Mata mereka mereka bertemu.Adit mencium bibir Lala dengan lembut.Lala menerimanya.Adit mengulanginya lagi dan lagi hingga ciuman itu semakin dalam dan panas.Sesekali mereka berhenti untuk mengambil nafas dan melanjutkannya kembali.Entah sejak kapan Lala sudah berbaring di atas sofa dengan Adit menindih di atasnya.Ciuman Adit sudah berpindah ke leher Lala sementara tangannya sudah sibuk dengan dua gundukan bulat milik Lala.Lala mendesah nikmat.Nafas Adit semakin memburu.Tangan nakalnya semakin turun hingga sudah mendarat di paha mulus Lala yang kini tidak tertutup apa-apa karena roknya sudah tersingkap akibat ulah Adit.


Sepertinya Lala sudah benar-benar pasrah dan membiarkan Adit menjelajahi hampir seluruh tubuhnya.Bibir Adit masih sibuk menyusuri setiap inchi leher Lala.Tangan Adit sudah hampir menyentuh bagian paling sensitif milik Lala yang saat ini masih terbungkus ****** *****.Tapi kemudian tangan Lala mencegahnya.


Adit menghentikan kegiatannya dan menatap ke arah Lala.Gadis itu hanya menggeleng.Adit tahu maksudnya.Adit melanjutkan kegiatannya lagi, dia menyusuri rongga mulut Lala dengan lidahnya kemudian turun lagi ke lehernya.Sementara tangannya sudah kembali ke dua gundukan kenyal milik Lala.

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka.Sontak dua orang yang sedang "kepanasan" ini menghentikan kegiatannya tapi mereka masih dalam posisi yang sama.Kemudian terdengar suara langkah kaki memasuki ruangan.Orang yang baru masuk itu jelas tidak menyadari keberadaan Adit dan Lala karena terhalang oleh sandaran sofa.


Setelah mendengar suara langkah kaki itu menjauh Adit mengecup bibir Lala kemudian kembali duduk seperti semula sebelum adegan panas mereka dimulai.Dia membenahi rok Lala yang tadi tersingkap akibat perbuatannya.Lala segera duduk dam membenahi kaos serta rambutnya yang sedikit berantakan.Dia juga membenarkan pengait bra nya yang ternyata sudah terlepas tanpa di sadarinya.Sepertinya Adit sudah profesional dalam hal ini.Ohh... bukan, hampir semua laki-laki pro dalam hal ini.


__ADS_2