
Beberapa hari sudah berlalu.Lala mengunci kamarnya setelah makan malam.Siang tadi dia cukup banyak pekerjaan hingga membuatnya lelah dan ingin tidur lebih awal.Lala sudah hampir memejamkan matanya ketika ada notifikasi pesan masuk.Dia meraih hp nya.
"Boleh aku telfon?" dari Rizal.
"Mau apa dia? ku pikir dia sudah tidak punya muka untuk berurusan lagi denganku," pikir Lala.
"Baiklah."
Tak berselang lama hp Lala berdering.
"Halo.."
"Apa aku mengganggu?"
"Sebenarnya aku sudah mau tidur, tapi tidak apa-apa."
"Mmm... dengar... aku ingin minta maaf padamu.Kalau kamu ada waktu bisa kita ketemu?"
"Kamu bisa minta maaf lewat telfon."
"Tidak... Aku ingin mengakui kesalahanku dan minta maaaf padamu secara layak.Tapi itu jika kamu tidak keberatan."
"Baiklah... Nanti aku kabari kalau aku ada waktu."
"Terima kasih.Itu saja yang ingin ku bicarakan.Bye."
Lala menutup telfonnya.
"Mungkin aku harus memberinya kesempatan, selain itu aku juga harus minta maaf padanya.Semoga ini bukan alasan Rizal untuk balas dendam padaku."
Ada sedikit rasa khawatir di hati Lala.Dia merasa sedikit kelewatan waktu itu, jadi bisa saja Rizal tidak terima dan ingin balas dendam padanya.
"Sudahlah... Aku juga harus minta maaf padanya."
Lala sudah menarik selimutnya.Dia ingin segera tidur.
Triing...
__ADS_1
Notifikasi pesan masuk lagi.Lala langsung membuka pesan itu tanpa melihat siapa pengirimnya.
"Sayang... "
"Deg...!" jantung Lala seolah berhenti berdetak.Dia tahu siapa yang mengirim pesan ini tanpa harus membaca nama pengirimnya.Dia tidak percaya dengan semua ini.Dia ingin marah,mengumpat,memaki,berteriak setelah membaca pesan ini.Dia ingin melampiaskan perasaan yang dia pendam selama ini kepada laki-laki ini.
"Aku susah payah mencoba melupakannya dan sekarang dia muncul lewat sebuah pesan singkat? Dulu dia mengabaikan semua pesan dan juga telfon dariku sekarang dia yang menghubungiku? Haahhh... manusia macam apa dia? Kenapa dulu aku bisa sampai jatuh cinta padanya? Aaahhhh.... sial... sial... sial.. kenapa aku sampai lupa memblokir nomornya!" Lala jadi uring-uringan sendiri.
Sepertinya Lala tidak jadi tidur lebih awal.Sebaliknya, mungkin dia akan terjaga semalaman memikirkan laki-laki yang dulu pernah sangat dicintainya tapi sering menyakitinya.
Sudah jam 12 malam tapi Lala masih belum bisa memejamkan matanya.Hanya satu kata saja dari mantan "pangeran tampan"nya itu sudah membuat hati dan pikirannya kacau balau.Bagaimana dia bersusah payah menata hidup dan hatinya kembali dan hanya dengan sebuah pesan singkat semua itu "ambyar" seolah tidak ada gunanya.
Lala memaksakan menutup matanya.Tapi bayangan Juna justru muncul berlarian di kepalanya.Dia teringat wajah tampan dan senyum hangat yang dulu membuatnya tergila-gila.Juga rayuan manis yang dia lontarkan saat Lala merajuk minta perhatiannya.Belum lagi ciuman mesra dan pelukan nyaman dari badannya yang kekar, wangi maskulin dari tubuhnya yang selalu Lala hirup dalam-dalam saat berada dalam pelukannya.Bagaimana semua itu menjadi seperti obat terlarang bagi Lala yang membuatnya ketagihan lagi dan lagi.Bahkan Adit pun tidak bisa menggantikannya.Tidak bisa dipungkiri Juna sempat mengisi 4 tahun hidupnya.Pasti tidak akan mudah untuk melupakannya mengingat Lala adalah tipikal wanita yang susah move on.
Pagi harinya Lala terlambat bangun dari biasanya.Rasanya berat sekali untuk membuka mata.Entah jam berapa akhirnya dia bisa tidur semalam.Lala bergegas mandi dan bersiap-siap untuk bekerja.Dia kemudian berlari melewati keluarganya yang sedang sarapan di ruang makan menuju garasi.
"Semuanya... aku berangkat duluan... !"Lala berteriak dari garasi.
"Sarapan dulu... " Ibunya balas berteriak.
Lala sudah menyalakan motornya dan tancap gas.Dia mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi hingga tak perlu waktu lama dia sudah sampai di parkir basemen plaza Z.
"Masih kurang 10 menit.Untunglah tidak terlambat." Lala benafas lega.
Dia membuka helm dan jaketnya.Dia berjalan santai kemudian matanya melihat Riris di sudut parkiran sudah dekat dengan pintu masuk khusus karyawan.Lala berlari menghampiri Riris, merangkul lengannya dan menyandarkan kepalanya di pundak Riris.Dia sudah seperti adik yang bermanja-manja kepada kakaknya padahal Lala lah yang lebih tua.
"Aku kangen banget sama kamu Ris... "
"Mana monster menyeramkan itu? Kamu tidak bersamanya?"
"Kalau aku bersamanya pasti aku tidak bisa seperti ini sama kamu."
Lala masih merangkul lengan Riris seperti anak kecil yang takut ditinggal ibunya.
"Itu mata panda kenapa?"
"Dasar emak-emak... peka aja sama mata panda!" Lala menggerutu.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Adit sudah ada di depan mereka.Dia melotot kepada Lala melihat tangannya merangkul lengan Riris.Lala sudah seperti pacar yang ketahuan menggandeng tangan laki-laki lain saja.Dan entah kenapa juga Lala reflek melepaskan tangannya dari lengan Riris.
"Pagi bang Adit... " Lala tersemyum semanis mungkin.
"Pagi-pagi udah jutek aja mukanya bang... ?" Lala menggoda Adit dengan centilnya.
Adit terus memelototi Lala.Bukannya takut, Lala justru semakin menggodanya dengan mengeluarkan puppy eyes nya.
"Baru melihatmu begini saja jantungku sudah berdetak kencang seperti habis lari maraton," batin Adit.
Sementara Riris hanya diam melihat interaksi keduanya.Badannya tiba-tiba kaku begitu melihat Adit di depannya tadi.Dia berharap Adit tidak mendengarnya menyebut monster menyeramkan atau tamat riwayatnya.Adit menyuruh Riris masuk duluan hanya dengan tatapan matanya.Sedangkan Lala tetap diam di tempatnya berdiri.Dia tahu Adit tidak marah.Wajah dinginnya hanyalah sebuah topeng.
Adit melangkah mendekati Lala, meraih pinggulnya kemudian mendekatkan tubuh Lala ke tubuhnya hingga tidak ada jarak di antara mereka.Dia mencium bibir Lala lembut.Lala hampir terlena kemudian mendorong tubuh Adit.Lala sadar mereka berada di tempat parkir, bisa saja ada yang melihatnya.
Lala mengacungkan jari telunjuknya ke wajah Adit.
"Jangan lakukan itu lagi," Lala belum sempat bicara Adit sudah mendahuluinya.
"Heiii... Harusnya aku yang berkata seperti itu.Kamu yang memciumku duluan!" Lala kesal, wajahnya memerah.
"Jangan menggodaku seperti itu lagi." Adit berbisik di telinga Lala.
"Ayo masuk," lanjutnya sambil berjalan menuju pintu karyawan.
Lala patuh saja mengikuti di belakangnya.Lala ingin marah karena Adit sudah menciumnya seenaknya tapi dia tidak bisa.Dia mempercepat langkahnya mensejajarkan dengan langkah kaki Adit.
"Memangnya kenapa?"
Adit menoleh.
"Hmm... Aku tidak tahan melihatmu seperti itu.Rasanya aku ingin sekali memperkosamu hingga kamu hamil dan mau menikah denganku," Adit berbisik di telinga Lala dengan seringai licik seperti serigala yang hendak menerkam mangsanya.
Lala menatap Adit.
"Kamu tau... mungkin aku akan pasrah saja dan membuka kakiku lebar-lebar saat kamu melakukannya." Lala berbisik ke telinga Adit dengan senyum nakal dan menggoda kemudian dia kabur sambil tertawa penuh kemenangan.
Giliran Adit yang mukanya merah sekarang.
__ADS_1