
Lala masih memikirkan pertemuannya dengan Nyonya Andreas.Lala tidak habis pikir bagaimana Nyonya Andreas dengan entengnya mengatakan kalau Adit hanya bermain-main saja dengan pacar-pacarnya.Bukankah dia juga seorang wanita, harusnya dia tahu ada berapa banyak perasaan yang tersakiti.Apakah dia tidak memikirkan perasaan Denise?.Sikap Nyonya Andreas terhadap perilaku Adit ini jelas membuat Lala kehilangan rasa hormatnya terhadap Nyonya Andreas.Dia tampak ramah di luarnya, tapi tatapan matanya tidak bisa menyembunyikan kelicikannya.
Demikian juga Adit, bagaimana dia bisa menyatakan cintanya pada Lala sementara dia sudah memiliki pacar dan juga tunangan.Laki-laki macam apa itu?.Bagaiman jika waktu itu dia menerima cinta Adit, mungkin seluruh dunia menertawakannya saat ini.Setelah disia-siakan Juna kemudian menjadi pacar ke-sekian Adit, yang benar saja.Lala merasa seperti orang tolol yang sudah dibodohi oleh Adit.Beruntung Lala menolak cintanya.Dia bahkan lebih buruk dari Juna.
Lala berjalan menuju ruang makan.Dia bergabung bersama keluarganya untuk makan malam.Suasana hangat tercipta di sana.Seperti biasa, obrolan ringan disertai canda setia menemani makan malam keluarga ini.
"Viola.. besok malam kamu ngga ada acara kan?" Bu Mieke menatap penuh harap kepada Lala.
"Sepertinya tidak, memangnya kenapa Ibu?"
"Besok malam kita akan ketemu Bu Wendi."
"Apa sudah pasti?" Lala ragu.
"Anaknya Bu Wendi bisanya besok sore, Sabtu Minggu dia sudah ada acara."
"Baik Bu.."
"Kita nanti janjian di restoran seafood favorit kamu.Jangan lupa kamu dandan yang cantik," Bu Mieke bicara dengan antusias.
"Ada acara apa Ibu sama Bu Wendi, sampai menyuruh Viola dandan cantik segala? " Mas Fadil mulai kepo.
"Ada deh... urusan perempuan," Bu Mieke bicara sambil meledek Mas fadil membuat semua orang tertawa.
* * * *
Hari yang ditentukan tiba.Bu Mieke sudah tidak sabar untuk mengajak Lala bertemu Bu Wendi dan anaknya.Lala disuruh bersiap-sejak pulang kerja tadi padahal mereka janjian jam 7 malam.
Lala sudah siap.Dia memakai dress lengan pendek berwarna krem dipadu dengan heels berwarna coklat.Rambutnya yang panjang dia biarkan tergerai dan dibuat sedikit bergelombang.Dia hanya memakai riasan tipis.Lala memang bukan tipe wanita dengan make up tebal.Begitu saja dia sudah kelihatan sangat cantik.
Penampilan Lala kali ini sungguh berbeda dengan kesehariannya.Lala adalah gadis yang sedikit tomboy.Biasanya dia hanya memakai celana panjang dan sepatu kets.Malam ini dia terlihat cantik dan sangat anggun dalam balutan dress.Jika biasanya dia memilih mengendarai motor agar bisa tancap gas sesuka hatinya, malam ini dia mengendarai mobilnya.Ibunya bisa masuk angin jika dia bonceng pakai motornya dengan kecepatan tinggi.
Setiba di restoran seafood Bu Mieke segera menarik tangan Lala.Dia buru-buru sekali ingin masuk seolah tidak sabar ingin ketemu Bu Wendi.Mereka berdua melihat sekeliling.
__ADS_1
"Sepertinya Bu Wendi belum datang Bu."
"Iya... sepertinya begitu."
"Sebaiknya Ibu pesan tempat dulu, aku akan mengambil tasku, sepertinya tertinggal di mobil."
Lala terbiasa menggendong tas ransel kemana-mana, jadi wajar jika dia melupakan handbag nya karena dia tidak terbiasa.
Lala berjalan menuju halaman parkir.Dia masuk ke dalam mobilnya untuk mengambil tasnya yang dia letakkan di kursi belakang.Ketika Lala hendak keluar dari mobilnya dia mendengar ada suara laki-laki dan perempuan sedang berdebat.Tidak seperti sepasang kekasih.Itu lebih seperti suara anak dan ibu.
"Ibu ngapain sih pake ngenalin aku sama anak Bu Mieke?" terdengar suara si pria kesal.
"Rizal... kalau cuma kenalan kan ngga apa-apa.Anak Bu Mieke cantik lho," suara perempuan itu terdengar membujuk.
"Apa Bu Mieke yang mereka bicarakan itu ibuku? Dan suara laki-laki itu adalah suara anaknya yang ingin dikenalkan padaku? Jadi itu adalah suara Bu Wendi dan anaknya," batin Lala.
Lala tetap diam di dalam mobilnya.Dia terus mendengarkan pembicaraan mereka.
"Mana mungkin dia cantik Bu? Kalau dia cantik pasti dia sudah menikah sekarang.Ibu bilang umurnya 29 tahun? Mana ada perempuan cantik belum menikah di umur hampir 30 tahun?" suara laki-laki itu terus saja nyinyir.
Anak dan ibu itu terus berdebat sambil berjalan.Mereka tidak sadar kalau mereka lewat di depan mobil Lala yang sedang terparkir.Dan Lala berada di dalamnya mendengar perdebatan mereka.Dia diam saja di dalam mobil.Telinganya panas mendengar penghinaan dari anak Bu Wendi.
"Baiklah... kamu tidak percaya kalau aku cantik? Akan ku buat kamu menyesal sudah mengucapkan kata-katamu tadi," batin Lala tidak terima.
Dia membuka tasnya kemudian menyempurnakan make up nya.Dia melihat bayangannya di cermin dan tersenyum.
"Sempurna..." gumamanya.
Lala keluar dari mobilnya, menghirup nafas pelan.
"Hei... kamu anak Bu Wendi entah siapapun namamu, akan kupastikan kamu jatuh cinta padaku," Lala bicara sendiri sebelum melangkah.
Lala bergegas masuk ke dalam restoran.Dia melihat ibunya sudah duduk bersama Bu Wendi dan anaknya.Lala mendekati mereka.
__ADS_1
"Ibu... " Lala memanggil ibunya.
Semua mata menoleh ke Lala.
"Oh... ini Viola sudah datang," jawab ibunya.
Bu Wendi berdiri, dia tersenyum ramah kepada Lala.Lala menjabat tangan Bu Wendi.Mereka sudah pernah bertemu sebelumnya jadi Lala tidak perlu memperkenalakan diri.Anak Bu Wendi juga berdiri.Terlihat jelas kalau dia terpesona atas kecantikan Lala.
"Viola... kenalkan ini Rizal anak Tante."
Lala mengulurkan tangannya.Tapi Rizal hanya melongo tidak berkedip memandang wajah Lala.Bu Wendi menyenggol lengan anaknya itu.Pria itu tersadar kemudian menyambut tangan Lala.
"Rizal... " katanya singkat.
"Viola... tapi aku biasa dipanggil Lala," Lala tersenyum.Dia buat senyumnya semanis mungkin agar pria di depannya ini menyesal sudah nyinyir terhadapnya tadi.
Lala mengamati Rizal diam-diam.Badannya tinggi, tidak kekar tapi juga tidak kurus.Cukup tampan sebenarnya.Tapi kesan pertama yang Lala dapat darinya tidaklah bagus.Lala ingat jelas kata-kata Rizal di tempat parkir tadi.
Bu Wendi terus mengajak ngobrol.Lala menanggapinya dengan sopan dan ramah.Lala pintar sekali mengambil hati Bu Wendi.Dia benar-benar gadis yang manis.Sementara Rizal kikuk dan salah tingkah sendiri.Sesekali dia memandang Lala dengan kagum.Lala terlihat sempurna di matanya.
Setelah beberapa lama akhirnya mereka selesai.Mereka berjalan menuju tempat parkir sambil terus mengobrol.
"Lain kali di sambung lagi ya Bu Mieke... Sering-sering aja bikin pertemuan begini biar anak-anak semakin akrab."
"Saya sih ngga masalah Bu Wendi asal anaknya mau."
Kedua orang ini bicara sambil berbisik-bisik dan cekikikan.Mereka sedang berbunga-bunga hatinya karena anak-anak mereka ada kemungkinan untuk bersama.Dengan begitu status mereka akan berubah menjadi "besan".
"Sampai jumpa Tante," Lala membungkuk hormat pada Bu Wendi.
"Iya Viola... hati-hati ya Nak." Lala dan ibunya berjalan menuju mobil mereka.
"Rizal... apa kamu sudah meminta nomor telfon Viola?" Bu Wendi bertanya pada Rizal setelah Lala berjalan agak jauh dari mereka.
__ADS_1
"Oh... aku lupa bu," Rizal segera berlari mengejar Lala.
"Dasar anak itu...! Begitu saja harus diingatkan!" Bu Wendi menggerutu.