Menikah Tak Harus Cinta

Menikah Tak Harus Cinta
Taman Kota


__ADS_3

Lala sudah beraktivitas seperti biasanya.Dia sibuk berkutat dengan komputer di depannya.Tidak ada bekas mata merah dan sembab seperti biasanya ketika dia ada masalah dengan Juna.Sepertinya dia benar-benar sudah merelakan Juna.Yang dia harus lakukan adalah membuka lembaran baru dan menata kembali hidupnya.


Lala membuka hp nya, mengirim pesan kepada Riris.


"Nanti siang aku makan bareng kamu ya."


"Ngga sama Adit kan?"


"Ngga... Dia baru ada meeting."


"Oke."


Lala menutup kembali hpnya.Hari ini Adit ada meeting dengan klien yang akan menyewa beberapa gerai di dalam plaza.Jadi Lala bisa leluasa bersama Riris.


Di kantin..


"Bagaimana kabar pangeran tampanmu?"


"Tidak ada kabar." Lala menggeleng.Ekspresinya datar


"Apakah sudah 30 hari?"


Lala mengangguk.


"Lalu....?!"


"Sudah kubilang tidak ada kabar," Lala bicara dengan ekspresi yang masih datar.


"Jadi... hubungan kalian sudah berakhir?"


"Aku memutuskan untuk mengakhirinya.Aku mengiriminya pesan.Hubungan kami sudah berakhir."


"Apa kamu yakin? Bagaimana jika nanti dia datang kembali meminta maaf dan mengatakan ingin bersamamu lagi? Kita berdua tau kamu pasti akan menerimanya... Lagi."


Riris menekankan kata "lagi" dalam kalimatnya karena Riris tahu Lala selalu mau memaafkan Juna.


"Tidak kali ini," jawab Lala mantap.


"Kenapa kamu bisa seyakin ini? Biasanya kamu cerita sambil nangis bombay," Riris heran dengan perubahan sikap Lala.


"Air mataku sudah habis Ris.Aku belum memberitahumu kalau beberapa hari yang lalu aku melihatnya dengan perempuan lain di mall."

__ADS_1


"Apa...???" Riris melotot tidak percaya.


"Jadi... seperti yang kamu lihat, tidak ada yang perlu ditangisi lagi."


"Karena itu kamu yakin untuk mengakhiri hubungan kalian?"


"Tadinya aku berpikir jika dia datang melamarku sebelum batas waktu yang sudah aku tentukan maka aku akan memaafkan dia.Tapi dia tidak ada kabar sama sekali.Mungkin dia lebih memilih perempuan itu."


"Kamu sudah mencoba menghubunginya?"


Lala mengangguk.


"Semua pesanku terkirim, tapi tidak ada yang di balas.Semua panggilan telfonku juga tidak ada yang diangkat."


"Manusia macam apa dia itu? Aku tidak tahu harus senang atau sedih mendengar ceritamu.Aku senang akhirnya pikiran dan matamu terbuka, tapi aku juga sedih melihat hubunganmu dan Juna harus berakhir seperti ini walaupun kamu sudah sekuat tenaga mempertahankannya."


"Sudahlah... aku tidak apa-apa Ris.Apa yang terjadi terjadilah."


"Lantas, apa kamu akan menerima perjodohan orang tuamu?"


"Tidak.. aku belum membuat keputusan soal itu." Lala melanjutkan makannya.


"Apa karena Adit kamu bisa setegar ini?" Riris bertanya dengan hati-hati.


"Aku melihat kamu dan Adit semakin dekat akhir-akhir ini.Apa kalian... mmm... kamu tau maksudku kan?"


"Tidak..tidak... jangan berpikiran terlalu jauh.Aku dan bang Adit memang dekat tapi tidak seperti apa yang kamu dan orang-orang pikirkan.Aku hanya menganggapnya seperti kakak, tidak lebih."


"Itu kan menurutmu? Bagaimana jika dia menganggapmu lebih dari itu?"


"Tidak mungkin Ris, dia sudah punya pacar.Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu?"


"Aku melihat dari caranya memandangmu."


"Benarkah?" giliran Lala yang melongo.


"Aku memang menyuruhmu agar membuka hatimu untuk orang lain, tapi jangan monster menyeramkan itu juga."


Lala hanya tertawa.


"Dia tidak semenyeramkan itu Ris."

__ADS_1


"Perlu digarisbawahi, dia tidak menyeramkan hanya kepadamu saja." Mereka berdua saling tatap kemudian cekikikan.


* * * *


Sudah waktunya pulang.Seperti biasa Lala tidak langsung pulang.Dia menghindar dari kedua orang tuanya di rumah karena khawatir akan ditanya soal pernikahan.Lala tidak tahu harus menjawab apa.Apalagi saat ini dia sudah memutuskan hubungannya dengan Juna secara sepihak.Lala mengendarai motornya menuju taman kota.Saat ini taman kota menjadi tempat favoritnya.Sore hari tempat ini lumayan ramai.Ada beberapa pasangan muda mudi yang memadu kasih, ada juga juga keluarga kecil yang sekedar mengajak anak mereka menghabiskan sore sambil menikmati jajanan di pinggir jalan.


Lala duduk di tempatnya biasa duduk, yaitu di tepi taman.Dari sini dia bisa menikmati air mancur hotel di seberang taman.Suara gemercik airnya terdengar sampai ke taman membuat pikiran Lala rileks.Lala terus melihat ke arah air mancur sambil menikmati makanan yang menurutnya paling enak di dunia, cilok.Dia tadi membelinya dari pedagang di area taman.Tak sengaja matanya menangkap sosok pria yang cukup familiar akan memasuki hotel itu.Pria itu memakai seragam yang sama dengan yang Lala pakai saat ini.


"Itu kan Nova, mau apa dia di sana?" Lala bergumam.


Lala juga melihat dua orang security hotel menunduk hormat kepada Nova saat mau memasuki lobi hotel.


"Kenapa kedua security itu menunduk hormat kepada Nova? Oh.... mungkin mereka menghormati Nova sebagai tamu hotel." Lala sibuk mencerna apa yang dilihatnya.


"Tunggu... mana mungkin Nova tamu di hotel itu.Dia tidak mungkin bisa menginap di sana.Setidaknya memerlukan tiga bulan gajinya agar bisa menginap satu malam saja di hotel itu." Lala sibuk sendiri dengan pikirannya.


Triiing....


Ada pesan masuk di hpnya.Dari Adit.


"Jelek, kamu dimana?


"Di taman kota.Kenapa?"


"Seharian aku ngga melihatmu.Aku akan menyusul ke sana."


"Ngga usah.Aku sudah mau pulang."


"Ya sudah."


Lala menutup kembali hpnya.Dia memandangi sekeliling.Taman ini tidak begitu luas, mungkin hanya seukuran lapangan bola.Di taman ini ada beberapa pohon besar dan rindang.Di setiap sudutnya terdapat tanaman bunga yang disusun warna warni menambah keindahan taman.Di tengah-tengah taman terdapat kolam yang tidak begitu besar tapi sangat cantik karena dipenuhi bunga teratai berwarna putih.Tempat ini cocok sekali untuk melepas penat atau menangkan diri.


Lala memandang ke sepasang kekasih yang duduk beberapa meter dari tempatnya saat ini.Mereka tampak bahagia.Entah kenapa pasangan ini mengingatkannya pada Juna.Bagaiman Lala menyaksikan Juna menggandeng perempuan lain dan menatap mesra kepada perempuan itu di depan matanya.Hatinya seperti teriris-iris.


"Kenapa kamu begitu tega sama aku mas? Apa salahku selama empat tahun bersamamu hingga kamu menyia-nyiakan aku.Aku hanya ingin keseriusanmu."


Lala kembali meratapi nasibnya.Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.Dia bilang ke teman-temamnya kalau dia baik-baik saja tapi nyatanya tidak ada yang baik-baik saja.Lala tetap menangis saat dia sendirian, menangisi empat tahun yang sia-sia.Seharusnya dia tinggal selangkah menuju pelaminan.Tapi itu hanyalah anagn.Lala kembali ke titik nol.Dia harus Dia harus membangun hubungan baru lagi.


Lala memasang headset di kedua telinganya kemudian membuka aplikasi musik di hp nya memutar lagu asal.


"when will i see you again... you left with no good bye not a single word was said ... no final kiss to seal any seams... i have no idea of the state we were in... "

__ADS_1


- Adele -


__ADS_2