
Lala mengemudikan mobilnya berputar-putar tidak punya tujuan.Dia belum ingin pulang karena pasti kesepian nanti di rumah.Akhirnya dia menuju taman kota.Lala memarkirkan mobilnya kemudian berjalan menuju tepi taman, tempat favoritnya untuk menghabiskan waktu.Tapi ketika hampir samapi di sana Lala melihat kursinya sudah ada yang menempati, seorang pria.Sebenarnya kursi taman itu cukup panjang, bisa untuk duduk dua atau tiga orang.Lala ragu untuk melangkah dan duduk di sana.
Pria itu sendirian, dia takut dianggap ingin menggoda pria itu.Tapi Lala sudah terlanjur sampai di sini, sedangkan kursi-kursi yang lain sudah ada yang menempati.Ini hari libur jadi taman ini ramai pengunjung.Akhirnya Lala melangkah maju, sayang jika dia harus pulang sebelum menikmati suara gemericik air mancur.
"Permisi... boleh aku duduk di sini?"
Lala meminta ijin pada pria tersebut.
Walaupun kursi ini milik umum dia tetap minta ijin kepada pria itu karena dia lebih dulu duduk di sana.Siapa tahu pria itu sedang menunggu seseorang.
Pria itu menoleh.
"Lala... ?"
"Nova... ?"
Mereka bicara bersamaan.
"Tentu saja kamu boleh duduk.Ini milik umum bukan milikku sendiri."
Lala tertawa.Dia tidak menyangka akan bertemu Nova di sini.Niatnya hanya ingin memanjakan matanya dengan melihat air mancur hotel tapi malah bertemu Nova.
"Aku tidak tahu kalau kamu yang duduk di sini.Aku takut membuatmu tidak nyaman karena tiba-tiba ada orang duduk di sampingmu."
Lala segera duduk di sebelah Nova tapi dia sedikit memberi jarak di antara mereka.
"Kamu sedang menunggu seseorang?" Lala basa basi.
"Tidak... Aku memang sering ke sini."
"Benarkah... ?"
"Kamu juga?"
Lala mengangguk sumringah.
"Aku senang sekali memandangi air mancur itu dari sini.Suara gemricik air mancur disertai angin sepoi-sepoi dari pohon-pohon besar di taman ini membuat pikiranku tenang."
"Ini seperti tempat untuk melarikan diri dari masalah bukan?" Nova bertanya datar.Matanya fokus ke arah air mancur.
"Sepertinya kita satu pikiran soal tempat ini."
Lala tertawa sementara Nova tersenyum tipis.
Diam-diam Lala mengamati Nova.Dia hanya mengenakan kaos pendek dan celana pendek juga sandal jepit biasa.Sangat sederhana.Tapi entah kenapa itu justru membuat Nova memancarkan aura tersendiri.Dia tampak cuek dan percaya diri dengan penampilannya.Cahaya temaram dari lampu taman membuat wajah Nova terlihat teduh dan dewasa padahal dia lebih muda beberapa tahun dari Lala.
Sekarang Lala baru mengerti maksud kata-kata Riris waktu itu.Nova ini agak misterius.Dia pendiam, tapi diamnya bukanlah diam seperti orang yang sulit berkomunikasi.Tapi lebih seperti orang pintar dan berwibawa.
"Kamu lebih banyak senyum akhir-akhir ini."
__ADS_1
"Aku..? Banyak senyum... ? Benarkah?" Lala sendiri tidak menyadarinya.
"Apa kamu mengawasiku?"
Nova tersenyum.
"Itu terlihat dari raut wajahmu."
"Ohh... ," wajah Lala bersemu.
"Aku senang melihatnya."
"Melihat apa?"
"Melihat kamu kembali ceria."
Lala tersenyum.
"Aku baru sadar ternyata aku di kelilingi banyak orang yang menyayangiku, kemarin-kemarin aku terlalu sibuk memikirkan orang lain."
"Bersyukurlah... Tidak banyak orang seberuntung kamu."
Lala diam.Dia terus memandangi air mancur hotel.
"Nova... bukankah rumahmu cukup jauh dari sini?"
"Oh... Aku mengerti sekarang."
Mereka lebih banyak diam setelahnya.Nova hanya bicara sepatah dua patah kata itupun kalau Lala mangajaknya bicara duluan.Hanya waktu mengungkapkan perasaannya waktu itu saja Nova terlihat banyak bicara.
"Kamu tau Nov, mendengarkan gemricik air mancur itu sudah seperti terapi bagiku.Pikiranku tenang.Aku bisa melupakan masalahku sejenak."
"Sepertinya kamu harus berterima kasih kepada pemilik hotel itu."
Lala tertawa.
"Mungkin kamu benar."
Yang dikatakan Nova mungkin benar, Lala lebih banyak senyum akhir-akhir ini.Hanya saja dia tidak menyadarinya.
"Beberapa waktu yang lalu aku tidak sengaja melihatmu memasuki hotel itu."
"Oh... itu... "Nova terlihat salah tingkah.
" Aku ingin menemui temanku di sana.Dulu aku pernah bekerja di hotel itu, jadi aku punya beberapa orang kenalan di sana."
"Ohh... begitu rupanya.Apa kamu juga kenal dengan pemilik hotelnya? Mungkin kamu bisa sampaikan terima kasihku padanya."
"Kamu serius?"
__ADS_1
"Aku hanya bercanda." Lala tertawa lagi.
Sebenarnya masih ada yang ingin di tanyakan Lala tapi takut menyinggung perasaan Nova.
"Sebaiknya aku pulang, ini sudah malam."
"Jam 9 ?"
Lala mengangguk.
"Orang tuaku hanya mengijinkanku keluar malam sampai jam 10."
Nova agak terkejut mendengarnya.Di jaman seperti ini dia hanya boleh keluar sampai jam 10 malam.Dia saat gadis-gadis lain pergi ke klub malam, hanya sekedar nongkrong, menghabiskan malam atau ada beberapa yang menyebutnya untuk eksis dan gaul pulang hingga jam 1atau jam 2 pagi, Lala memilih mematuhi aturan orang tuanya pulang sebelum jam 10 malam.Dia bisa saja membangkang kalau dia bukanlah anak penurut.
"Orang tuamu pasti mendidikmu dengan baik," batin Nova.
"Kamu tidak apa-apa pulang sendirian?"
"Aku sudah terbiasa.Lagian aku sekarang bawa mobil.Baiklah... sampai jumpa." Lala melangkah pergi.
Nova hanya mengangguk.Di senang melihat gadia pujaannya itu sudah kembali seperti dulu, ceria dan banyak senyum.
"Apa karena Adit... ?"
* * * *
Lala sampai di rumahnya sebelum jam 10.Dia masuk lewat pintu garasi yang langsung terhubung ke dapur.Bu Mieke ada di dapur entah sedang melakukan apa.Atau mungkin dia sengaja menunggu Lala dengan pura-pura sibuk di dapur.Entahlah, hanya Bu Mieke sendiri dan Tuhan yang tahu.
"Ibu belum tidur?"
"Belum... Ibu menyiapkan bahan-bahan untuk di masak besok pagi.Bagaimana makan malamnya?"
"Sudah kuduga... ibu pasti sengaja menungguku pulang untuk menginterogasiku soal Rizal," batin Lala.
"Biasa saja bu, tidak ada yang istimewa," jawab Lala datar.
"Bagaimana Rizal? Waktu itu dia lebih banyak diam mungkin karena malu ada Ibu dan Bu Wendi."
"Rizal baik bu, dia juga sopan."
Lala sengaja tidak menceritakan kejadian saat makan malam dengan Rizal tadi.Dia mencoba menutupi yang dia ketahui tentang Rizal untuk menjaga hubungan baik ibunya dan bu Wendi.Ibunya pasti akan mengerti jika dia memang tidak berjodoh dengan Rizal tanpa perlu menceritakan keburukan Rizal.
"Aku ke kamar dulu Bu."
"Ya sudah... "
Lala berjalan menuju kamarnya.Dia membersihkan make up di wajahnya.Lala memandangi dirinya di cermin.
"Apa yang akan orang katakan jika mereka melihatku bersama tiga orang pria yang berbeda dalam satu hari.Pagi bersama Adit, sore bersama Rizal dan malam bersama Nova.Tapi tak satupun dari mereka benar-benar milikku" Lala bicara pada dirinya sendiri.
__ADS_1