Menikah Tak Harus Cinta

Menikah Tak Harus Cinta
Kejadian Tak Terduga


__ADS_3

Sudah senin lagi.Pagi ini Lala ada meeting rutin bulan bersama seluruh manajer dari masing-masing divisi.Biasanya dia memkai celana panjang formal dengan atasan kemeja lengan pendek, seragam kebesaran Plaza Z.Entah kenapa hari ini dia memakai rok span selutut dan sepatu high heels.Adit samapi melotot memandangi Lala dari atas ke bawah, bawah ke atas sampai berulang-ulang.


"Benar-benar ngga seperti kamu.Ternyata kamu cantik juga kalau dandan seperti perempuan sungguhan," Adit mulai menggoda.


"Heiii.... Jaga bicaramu! Aku memang perempuan sungguhan!" Lala sudah mulai bersungut-sungut, "kalau bukan karena kamu yang beliin sepatu ini pasti aku ngga akan mau pakai!"


Adit sukses memancing omelan Lala pagi ini dan dia sangat menikmatinya.


Sepatu itu dibelikan Adit kemarin saat Lala menemaninya mengitari mall X untuk mencari sesuatu yang katanya ingin dia beli.Tapi setelah berjam-jam berputar-putar mengelilingi mall tersebut mereka tidak menemukan "sesuatu" itu karena memang Adit tidak mencari apa-apa.Seandainya Lala tahu itu hanya akal-akalannya Adit agar bisa bersamanya pasti dia akan mengomel tanpa jeda dari pagi hingga petang.


"Sebaiknya kita ke ruang meeting sekarang.Takut Pak Andreas sudah datang."


"Papa ngga datang, dia di luar kota sekarang."


"Berarti nanti kamu yang gantiin beliau?"


Adit hanya mengangguk.


"Ya Tuhan... Jadi apa meeting nanti?!" Lala memutar bola matanya ke atas seolah berpikir ada hal buruk yang akan terjadi.


"Heehh... Apa maksudmu?!" Adit tahu Lala sedang menyindirnya.


Lala berjalan menuju ruang meeting.Adit mengekor dibelakangnya masih tidak terima dengan perkataan Lala.


Suasana menjadi tenang seketika Adit memasuki ruang meeting.Dia segera memulai meeting pagi itu.Aura dingin dan angkuhnya sangat mendominasi hingga tidak ada yang berani bicara selama meeting keculi mereka dimintai laporan mengenai divisi masing-masing.Ini sangat jauh berbeda dengan sosok Adit yang tadi bersama Lala.Meeting dijeda sebentar untuk makan siang dan berakhir hingga jam 2.


Adit meninggalkan ruang meeting tapi sebelumnya dia menatap mata Lala seolah menyuruhnya segera keluar mengikutinya.Mau tidak mau Lala mengikutinya walaupun sebenarnya dia ingin ngobrol dengan temannya yang lain.


Lala mengekor Adit dibelakangnya.


"Bang tadi kamu keren lho, ngga nyangka bisa sukses pimpin meeting," Lala bicara sambil berjalan di belakang Adit.


Adit menghentikan langkahnya.Dia berbalik menghadap Lala.


"Kapan sih kamu akan menyadari kelebihanku?" Adit menyentil kening Lala, "dari dulu aku ini tampan, keren dan pintar," imbuhnya.Kemudian dia berjalan lagi.


"Iiihh... gitu aja songongnya kumat!" Lala bergumam lirih.


"Aku dengar itu!" suara Adit sambil terus berjalan.


"Emamg songong kok!" Lala mengeraskan suaranya.

__ADS_1


"Sekalian aja dikencengin udah terlanjur dengar juga," batin Lala.


Coba saja itu orang lain yang mengatakan, pasti sudah habis digorok lehernya sama Adit.Lala kemudiam berlari menuju ruangannya sebelum Adit sadar dia tidak mengikutinya.


* * * *


Sepuluh menit lagi waktunya pulang.Lala membuka hpnya ingin menulis lesan singkat.


"Bang habis ini makan es krim yuuk... Lagi pengen banget makan es krim"


"Ngidam apa gimana sih? Aku belum ngapa-ngapain kamu loh"


"Heiii...!! Jangan sembarangan! Ngga mau ya udah!"


"Iya.. iya nanti aku temenin"


"Ngga jadi! Sama Riris aja! Kamu ngga asik"


"Jelek... Jangan manyun donk!"


"Bodo!"


Lala mengemasi barang-barangnya.Dia ingin segera keluar dari ruangannya sebelum tiba-tiba Adit muncul di depannya seperti biasanya.Dia berjalan tergesa-gesa menuju ruangan Riris.Tetapi sesampainya di sana Riris sudah tidak ada.


Lala bergegas menuju tempat parkir.Tapi di sana pun Riris juga tidak terlihat batang hidungnya.Hp Lala berdering, Adit menelfon. Lala segera mengakat telfonnya.


"Hmm.. ada apa?"


"Kamu di mana?"


"Di tempat parkir"


"Tunggu aku di sana, jangan pergi!"


Tuutt... tuutt... tuuttt


Lala belum sempat menjawab Adit sudah memetikan telfonnya.


"Hhuuhh... Jadinya sama dia juga kan!" gerutu Lala.


Lala berjalan menuju mobilnya hendak mengganti sepatunya dengan sepatu kets biar lebih nyaman.Saat tengah berjalan tiba-tiba saja ada yang mendorongnya dari belakang.Lala tidak siap menerima "serangan" itu.Selain itu dia juga sulit menjaga keseimbangannya akibat heels yang dia pakai hingga akhirnya dia jatuh tersungkur ke depan.Lututnya berdarah dan sikunya lecet akibat membentur lantai.

__ADS_1


Beberapa orang yang tidak sengaja melihat kejadian itu kemudian mendekat hingga terjadi kerumunan.Mereka bermaksud ingin menolong.Tapi Lala sudah bisa berdiri sendiri.Dia memeriksa lututnya yang berdarah juga sikunya yang lecet.Dia kemudian berbalik untuk melihat siapa yang sudah mendorongnya.


"Apa maumu Jeslin?" Lala bertanya dengan santai.Dia tidak terpancing emosi sedikitpun.


Rupanya Jeslin lah yang telah mendorongnya.Dia datang bersama dua temannya yang waktu itu tidak sengaja bertemu dia bersama Rizal.


"Bukankah aku sudah memberi tahumu?Rizal adalah kekasihku.Jadi kamu jauh-jauh darinya pelakor!!"


"Tarik ucapanmu Jes... ! Aku sama sekali tidak tertarik dengan kekasihmu itu," kali ini suara Lala terdengar penuh penekanan.


"Aku peringatkan kamu terkahir kali, jauhi Rizal!" tangan Jeslin sudah maju ingin mendorong Lala.Tapi kali ini Lala menangkap tangan Jeslin dan menghempaskannya kuat-kuat.Jeslin agak terhuyung.


"Aku sudah menjelaskan baik-baik kepadamu.Aku tidak tertarik sama Rizal.Kamu sendiri yang merasa insecure," Lala bicara dengan pelan tapi dalam.


"Ada apa ini?" suara Adit yang dingin memecah ketegangan di antara mereka.


Beberapa orang yang tadi mengerumuni Lala mundur beberapa langkah melihat kedatangan Adit.Jeslin dan kedua temannya menoleh ke arah sumber suara.


"Siapa kalian? Kenapa membuat keributan di tempat ini?" Adit menatap ketiga perempuan itu dengan tatapan dingin.Sementara mereka hanya diam terpana dengan ketampanan Adit tapi juga takut pada saat yang bersamaan.


"Viola... Kamu tau siapa mereka?" Adit bertanya tanpa melihat ke arah Lala.Jarang-jarang Adit memanggil namanya.


"Sudahlah Bang... ini cuma salah paham biasa." Lala meraih tangan Adit agar dia tidak semakin marah.Adit menoleh ke arah Lala.


"Kamu tidak apa-apa?" Adit bertanya dengan lembut.Lala mengangguk.Adit memandangi Lala dari kepala lalu turun ke bawah hingga berhenti saat melihat darah di lutut Lala.


Adit mendesah kesal kemudian mengambil hpnya.Dia membuat panggilan telefon.


"Halo... kantor polisi?"


"... "


"Cepat datang ke parkir basemen Plaza Z.Ada penyerangan di sini."


"... "


"Iya, pelakunya masih di sini."


"... "


"Aku Raditya Andreas Junior."

__ADS_1


Adit menutup telfonnya.


__ADS_2