Menikah Tak Harus Cinta

Menikah Tak Harus Cinta
Belajar Menerima


__ADS_3

Setelah makan malam, Nova mengajak Lala mengelilingi rumahnya hingga kemudian berhenti di depan sebuah ruangan.Nova membuka kunci pintu ruangan tersebut dan menyuruh Lala masuk.


"Masuklah ...!" ucap Nova pelan.Lala tidak bisa mengartikan ekspresi Nova saat ini.


"Kamu tidak ikut masuk?" tanya Lala ragu.


Nova menggeleng. "Aku tunggu di sini."


"Kamu tidak akan mengunci ku dari luar kan?" tanya Lala masih dengan pikiran bodohnya.


"Untuk apa aku mengunci mu di dalam sana?" Nova tersenyum tipis. "Berhentilah menonton sinetron!" Sepertinya Nova tahu isi kepala Lala.


Lala melangkah memasuki ruangan di depannya. Mulutnya ternganga setelah sampai di dalam.Banyak sekali foto Nova bersama orang tuanya dan keluarganya yang lain di sana, hampir memenuhi ruangan.Sebagian hanya di taruh di lantai dan disandarkan begitu saja di tembok.


Lala memandangi satu-persatu foto-foto itu.Foto pernikahan orang tuanya, foto Nova ketika masih bayi, sekolah, hingga SMA.Juga ada foto keluarga lengkap bersama Oma Rusdi dan lelaki yang mungkin adalah mendiang suami Oma.


Nova terlihat sangat bahagia dari foto-foto ini.Hampir selalu ada senyum di setiap foto Nova.Mata Lala berhenti di sebuah foto, dimana Nova tengah di apit oleh orang tuanya.Mungkin ini adalah foto yang terakhir diambil sebelum orang tuanya meninggal.Badan Nova terlihat lebih gemuk dengan senyum lepas.Sangat berbeda dengan Nova yang sekarang kurus dan jarang tersenyum.


Kalau dilihat dari foto-foto ini, sepertinya mereka keluarga yang bahagia.Tapi ini hanyalah foto, apa yang terlihat belum tentu sama seperti kenyataannya.


Setelah beberapa saat Lala keluar dari ruangan itu.Nova masih setia menunggunya di luar ruangan, kemudian Lala berjalan menghampirinya.


"Apa kamu menemukan foto pernikahanku dengan istri pertamaku?" goda Nova.


"Ayo kita duduk di taman." Lala baru akan membuka mulutnya tapi Nova sudah lebih dahulu bicara.


Lala hanya mengikuti Nova dari belakang.Mereka duduk di gazebo taman belakang rumah Nova.


"Kamu sudah melihat foto-foto tadi?"


Lala mengangguk.


"Mereka adalah Mama dan Papaku." Nova menghela nafas. "Aku tidak pandai bicara, jadi kamu saja yang bertanya, apa yang ingin kamu ketahui dariku?"


Entah kenapa Lala justru gugup sekarang.Ini pasti sangat sulit bagi Nova hingga dia menutupinya rapat-rapat.


"Kenapa kamu tidak jujur tentang siapa dirimu?" Akhirnya Lala memberanikan dirinya.


"Bukannya aku tidak jujur, tapi tidak ada yang menanyakan itu sebelumnya," kata Nova ringan. "Orang-orang berteman denganku tanpa menanyakan siapa aku di sana.Aku menikmatinya ... dan itu adalah hal tidak aku dapatkan disini."

__ADS_1


"Lantas, kenapa kamu bekerja di Plaza Z sebagai pegawai biasa jika kamu adalah pemilik Hotel X?"


"Memang aku harus melamar sebagai apa jika aku cuma punya ijazah SMA?" Nova balik bertanya dengan wajah datarnya.


"Maksudku, kenapa kamu mau bekerja bahkan hanya sebagai bawahan jika kamu sudah punya banyak uang?"


"Aku tidak punya teman, dan aku juga ngga punya kegiatan.Jadi aku iseng saja."


"Mana mungkin kamu cuma punya ijazah SMA? Apa kamu tidak kuliah?"


Nova menggeleng. "Tidak sampai lulus."


"Kenapa?"


"Kematian Mama Papa di saat yang bersamaan membuat hidupku kacau ... Hidupku seperti tidak ada gunanya." Nova terlihat menundukkan kepalanya, kemudian dia diam untuk beberapa saat.


"Sepertinya aku belum siap menceritakan nya padamu," ujar Nova menahan air matanya.


Lala duduk mendekatkan dirinya kepada Nova kemudian meraih tangan Nova. Dia merasa kasihan melihat Nova seperti ini.


"Maafkan aku ... Harusnya aku tahu ini tidak mudah bagimu.Aku benar-benar minta maaf padamu."


"Apa itu?"


"Terimalah aku dan jangan pernah ragukan aku."


Lala terdiam mendengar permintaan Nova. "Bagaimana aku tidak meragukanmu jika ternyata dari awal kamu tidak jujur padaku?" tanya Lala lirih. "Ini bukan soal kamu kaya atau miskin, tapi ini soal kejujuran Nova."


"Karena itu aku mengajakmu tinggal disini.Nanti kamu akan mengerti dengan sendirinya, aku tidak pernah berniat bohong kepada siapapun." Kemudian keduanya sama-sama diam. "Sebaiknya kita kembali ke kamar, sudah malam."


Sesampainya di kamar, Lala segera mengganti pakaiannya dengan baju tidur, demikian juga Nova.


"Apa aku harus tidur di sofa? tidak ada karpet di sini." Ini hanya modus Nova, karena jika dia mau dia bisa meminta pembantu mengambilkan karpet untuknya.


"Terserah kamu saja, ini kan rumahmu."


Walaupun sedikit canggung tapi akhirnya Lala dan Nova tidur di kasur yang sama.


Nova mulai mendekatkan tubuhnya ke tubuh Lala, tangannya mulai memeluk tubuh Lala.Tidak ada penolakan dari Lala membuat Nova semakin berani bergerak.

__ADS_1


"Bolehkah aku memintanya lagi?" bisik Nova.


"Emm ... aku ...." Lala tidak bisa menjawab.


"Kita sudah pernah melakukannya, apa lagi yang kamu takutkan?" Nova mulai mengecup bibir Lala pelan dan Lala tidak menghindari nya. "Bukankah aku suamimu? Dan kamu juga sudah tahu siapa aku sebenarnya.Apa kamu masih meragukanku?"


Lala masih diam, tapi dia juga tidak menolak Nova yang kembali mencium bibirnya, yang kemudian diartikan sebagai lampu hijau oleh Nova.


Akhirnya mereka melewati malam panjang yang melelahkan untuk kedua kalinya.Seperti yang diinginkan Lala agar tidak hamil lebih dulu, maka Nova membuang benihnya di luar rahim Lala.


* * * *


Pagi harinya, Oma sudah menunggu Lala dan Nova di meja makan untuk sarapan.


"Selamat pagi Oma?" sapa Lala


"Bagaimana malam pertamamu tidur di sini? Apa tidurmu nyenyak?"


"Ya ... begitulah Oma," Lala ragu untuk menjawab karena semalam dia tidur hampir pagi gara-gara Nova. Sementara Nova diam saja.


"Nova .... karena kamu sudah tinggal di sini jadi mulai sekarang kamu harus ikut mengurus perusahaan juga peternakan."


Nova tetap diam.Dia seperti tidak mendengarkan kata-kata Oma Rusdi.


"Jangan diam saja!" seru Oma.


"Nanti Lala tidak ada teman jika aku pergi," jawab Nova datar.


"Kita bisa minta Vania untuk menemani Lala, kamu tidak keberatan kan?" Oma menoleh ke arah Lala yang sedang menikmati sarapannya.


"Tidak apa-apa Oma," Lala asal menjawab walaupun tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.


Sudah Hotel, perusahaan, peternakan terus apalagi? Lala terheran-heran sendiri.Tapi dia tidak berniat untuk menanyakannya.


"Nanti saja Oma, aku masih ingin bersama Lala dulu." Nova hanya minum secangkir kopi dan sepotong roti.Lala sudah hapal, selalu seperti itu hampir setiap pagi.Selama menjadi istrinya, Lala baru beberapa kali melihat Nova sarapan makanan berat.


"Bukannya Oma tidak suka kalian berdua terus, Oma juga ingin segera punya cucu, tapi Oma sangat membutuhkan bantuan untuk mengurus perusahaan." Oma Rusdi bicara panjang lebar.


Lala dan Nova hanya saling pandang mendengar kata "cucu" keluar dari mulut Oma.

__ADS_1


__ADS_2