Menikah Tak Harus Cinta

Menikah Tak Harus Cinta
Adik 2


__ADS_3

Nova menatap dalam mata anak itu.Air matanya masih saja mengalir walaupun tanpa suara.Perasaan Nova campur aduk tidak karuan.Antara benci, kasihan, dan sayang menjadi satu memenuhi hatinya.Wajah anak ini mengingatkannya pada tangisan terakhir mamanya saat mengetahui papanya telah berselingkuh.Tapi tangisan anak ini karena ejekan teman-temannya juga tidak bisa dia terima.Rasa ingin melindunginya muncul begitu saja.Sekarang barulah dia sadar, bukan hanya dia yang menderita, anak ini juga.


"Kakak ini siapa?" tanya salah seorang anak yang membuat Nova tersadar.Kemudian dia berdiri dan berbalik menghadap anak-anak yang tadi mengejek anak yang sekarang menangis.


"Aku kakaknya," jawab Nova yakin. "Dia punya papa, Papanya adalah papaku juga jadi kalian jangan menghinanya lagi.Mengerti?"


Anak-anak itu mengangguk mengerti.Mereka kemudian meninggalkan tempat itu.Nova kemudian berjongkok lagi agar dia bisa menyamakan posisinya dengan anak yang masih menangis itu.


"Teman-temanmu sering melakukan itu?" Anak itu hanya mengangguk.


"Sudah jangan menangis.Kamu punya aku."


"Apa aku boleh memanggilmu kakak sekarang?" tanya anak itu ragu.


Nova mengangguk. "Boleh ... tapi kamu tidak boleh memberitahu Mamamu soal ini.Ini menjadi rahasia kita, kamu setuju?"


Anak itu mengusap air matanya dan mengangguk. "Boleh aku memeluk Kakak?" tanya anak itu penuh harap.


Nova mengangguk dan merentangkan tangannya.Akhirnya mereka berpelukan setelah bertahun-tahun hanya saling tatap.Nova merasakan ketenangan di hatinya.


Maafkan aku tidak pernah memikirkanmu.Aku sibuk meratapi nasibku, merasa menjadi anak yang paling tersakiti hingga tidak mengetahui jika hidupmu tidak lebih baik dariku.Pasti semua juga tidak mudah bagimu bahkan sejak kamu lahir.


"Aku pergi dulu, ingat ... jangan beri tahu Mamamu Kevin!"


"Apa kakak mau menemui ku lagi nanti?"


"Entahlah, kita lihat saja nanti."


"Apa Kakak masih membenciku?"


Deg!! Nova tidak bisa menjawab.Pertanyaan ini membuat perasaan Nova semakin campur aduk.Jadi selama ini Kevin merasakan kebencian darinya walaupun mereka sama sekali belum pernah berinteraksi secara langsung.Ini pertama kalinya Nova bicara dengan Kevin.

__ADS_1


"Katakan pada mereka kamu punya papa dan kakak jika mereka menghinamu lagi."


Kevin tersenyum dan mengangguk.Sekali lagi dia memeluk Nova seolah tidak ingin melepaskannya. Sementara Nova berusaha keras menahan air matanya agar tidak menetes.


Inikah rasanya punya adik? Betapa egoisnya aku yang hanya memikirkan egoku.


Nova berdiri hendak meninggalkan Kevin.Begitu membalikkan badannya dia terkejut melihat Lala, sudah berdiri di sana.


"Aku sangat bangga padamu," ucap Lala sambil menitikkan air mata haru.


Nova diam saja.Dia meraih tangan Lala dan membawanya pergi dari sana.Mereka kembali mengendarai motor mereka kemudian Nova berhenti di tepi sungai seperti waktu itu.Dia turun dan duduk di rerumputan yang membentang di tepian sungai, kemudian diikuti Lala.Nova diam untuk beberapa saat.Kemudian dia merebahkan badannya di rumput dan meletakkan kepalanya di pangkuan Lala.


"Apa aku egois?" tanya Nova.


"Setiap orang punya sudut pandang sendiri-sendiri."


"Ternyata dia juga menderita, selama ini mendapat hinaan dari teman-temannya.Dia juga tersiksa, dan sendirian menghadapinya." Nova bicara sambil memejamkan matanya.


"Dia punya kakak yang siap melindunginya sekarang," balas Lala sambil mengusap lembut rambut Nova,


Akhirnya Nova meneteskan air matanya.Masih dalam diam di pangkuan Lala.


"Aku harus bagaimana?"


"Ikuti kata hatimu.Aku yakin darah lebih kental daripada air.Ada darah Papamu juga di tubuhnya." Lala masih mengusap rambut Nova pelan, berharap apa yang dilakukannya bisa membuat perasaan Nova lebih baik.


"Tapi aku tidak bisa memaafkan ibunya, perempuan itu." Nova tidak pernah mau menyebutkan nama Viviane lagi sekarang.


"Tidak harus sekarang ... pelan-pelan saja, lukamu akan terobati seiring berjalannya waktu." Tangan Lala beralih ke pipi Nova dan mengusap air matanya. Nova meraih tangan itu kemudian berkali-kali menciumnya.


"Terima kasih ... terima kasih.Dari awal perasaanku tidak salah terhadapmu.Kamulah matahariku.Kamu benar-benar merubah hidupku," ucap Nova setelah dia merasa lebih baik.

__ADS_1


"Hentikan rayuan gombal mu Nova.Aku sudah kebal dengan rayuan semacam itu," Lala mencoba tertawa mendengar kata-kata Nova.


"Aku tidak merayu, memang begitulah adanya.Kamulah hidupku."


Tanpa Nova duga, Lala menundukkan kepalanya dan mencium bibir Nova. "Aku anggap rayuanmu berhasil."


"Lagi ... aku mau lagi," ucapnya dengan mata terpejam.


"Jangan serakah!" gerutu Lala.Dia menatap wajah Nova yang masih terpejam di pangkuannya.


Kenapa semakin hari dia semakin manis begini? Perasaan dulu dia tidak seperti ini waktu aku menikahinya.Dia kurus dan kulitnya sedikit gelap.Sekarang, tubuhnya lebih berisi dan kulitnya ....dia tidak secerah ini dulu.


"Nova ... kenapa kulitmu semakin bersih, lihat kulitmu hampir sama putihnya dengan kulitku, padahal dulu tidak seperti ini," Lala menunjukkan lengannya yang putih mulus.


"Mana aku tahu," jawab Nova enteng.


"Apa aku semakin tampan?"


Ingin sekali Lala menjawab iya, tapi Nova pasti akan besar kepala. "Kamu sudah melihat foto-foto ku kan? Sejak dulu aku tampan," imbuhnya.


Tuh kan, aku belum menjawab saja dia sudah besar kepala begini, gerutu Lala dalam hatinya.


Mungkin pengaruh pikiran dan hati lah yang membuat raut wajah Nova berubah.Dulu dia pendiam dan cenderung murung, tapi sekarang wajahnya lebih berseri.Badan yang lebih berisi membuatnya memang sedikit lebih tampan.Tapi aura teduh yang dulu sering Lala lihat di wajahnya sekarang jarang terlihat berganti dengan aura nakal dan jahil.


Suasana hening tercipta.Mereka berdua sama-sama tenang menikmati pemandangan yang diiringi suara gemericik air sungai yang terus mengalir.Masih dengan posisi yang sama seperti tadi, Nova meletakkan kepalanya di pangkuan Lala.


"Kamu lapar? Perutmu berbunyi terus dari tadi," tanya Nova diiringi tawa. "Ayo kita cari makan," lanjutnya kemudian dia berdiri.


"Ahh ...." Lala menepuk jidatnya.


"Kenapa? Ada apa?" tanya Nova khawatir.

__ADS_1


"Aku lupa cilok ku, masih tertinggal di motor.Sekarang pasti sudah dingin." Lala terlihat kecewa.


"Ya sudah kita cari penjual cilok lagi, sekalian cari makan siang." Nova mengulurkan tangannya untuk membantu Lala berdiri.


__ADS_2