
Sambil melangkah, Lala terus melamun memikirkan apa yang dikatakan Nova hingga membuat Erik terpancing emosi.Sejak awal, Erik lah yang mencoba memprovokasi Nova, tapi justru dia sendiri yang akhirnya terpancing emosi.Lala terus menduga-duga, sebenarnya ada masalah apa di antara mereka bertiga.
Tangan Nova masih menggandeng tangan Lala hingga tanpa sadar, Lala sudah masuk ke dalam restoran seafood yang masih berada di dalam mall.
"Kita makan di sini?" tanya Lala setelah dia tersadar dari lamunannya.
"Bukankah kamu suka seafood?"
Lala hanya mengangguk dengan senyum sumringah, dia tidak bisa menolak seafood.
Mereka duduk di meja yang sudah dipersiapkan oleh pelayan restoran tersebut sambil menunggu makanan pesanan mereka.
"Kamu berhutang penjelasan padaku," Lala memulai pembicaraan.
"Penjelasan apa lagi?"
"Yang tadi ... dua orang itu, Erik dan Manda? Siapa mereka?!"
"Oh ... itu ..., aku sudah bilang mereka teman SMA ku," jawab Nova datar.
"Terus?" meminta penjelasan lebih lanjut.
Nova mengambil nafas dalam.Dia sepertinya ragu ingin menjelaskan pada Lala yang sebenarnya.
"Katakan saja, Manda dulu adalah kekasihku, dan Erik adalah sahabatku.Apa kamu sudah bisa menduga duduk permasalahannya sekarang?"
"Kenapa sepertinya Erik punya dendam pribadi padamu?"
"Aku juga tidak tahu, nanti kamu bisa bertanya padanya jika bertemu lagi," jawab Nova asal.
Lala sama sekali tidak puas dengan jawaban Nova.Tapi percuma jika dia tetap bertanya, Nova pasti tidak akan menjawabnya dengan jelas.
"Makanlah, tidak usah bahas itu lagi." Nova menunjuk makanan yang sekarang sudah tersaji di hadapan mereka.
Lala segera menyantap makanan di depannya dengan lahap, sementara Nova hanya makan beberapa kali suapan.Lala memperhatikan itu.
"Makanlah yang banyak Nova, jangan membuatku menghabiskan semua makanan ini sendiri."
"Aku sudah kenyang," jawab Nova sambil terus memperhatikan Lala makan.
"Bagaimana kamu bisa memiliki gangguan makan?"
"Kenapa kamu tidak memanggilku "sayang" seperti tadi?" Nova balik bertanya.Senyum jahilnya sudah mulai terlihat.
"Hei ... tidak usah kepedean! Aku hanya bersandiwara untuk membantu mu!" balas Lala bersungut-sungut.
__ADS_1
"Tapi aku tidak keberatan kamu memanggilku seperti itu terus.Aku justru senang."
"Jangan mulai lagi Nova! Kamu belum menjawab pertanyaan ku!"
"Tidak tahu, aku kehilangan nafsu makan begitu saja."
Sama seperti sebelumnya, jawaban Nova sangat tidak memuaskan.Sebenarnya banyak sekali pertanyaan di benak Lala, tapi dia tidak berani menanyakannya langsung kepada Nova.Dia yakin ada banyak hal yang belum diceritakan Nova kepadanya, dan Lala tidak sabar untuk segera mengetahuinya.
Bertanya soal kehidupan Nova kepadanya langsung tidak akan membuahkan hasil.Sebaiknya aku bertanya pada orang lain.
* * * *
Hari ini Lala sudah janjian dengan Vania akan pergi bersama Vania sudah selesai pemotretan dan dia bersedia menemani Lala berbelanja, atau sebaliknya.
Seperti saat ini, mereka makan di sebuah restoran setelah puas berbelanja di butik langganan Vania.Gadis itu sudah menenteng beberapa paper bag yang penuh belanjaan, sementara Lala hanya membeli sebuah sepatu, sneakers tentunya.
"Kamu sudah lama kenal Nova?"
Vania mengangguk. "Sudah sejak kecil.Orang tua kami berteman, hingga menyekolahkan kami di sekolah yang sama, membawa kami ke acara yang sama dan sebagainya."
"Berarti kalian sangat dekat?"
"Mungkin," jawab Vania menggantung.
"Jadi kamu tau bagaimana orang tuanya meninggal?" tanya Lala hati-hati.
"Menurut mu?"
"Pasti tidak ... Ya, dia sangat berubah setelah kejadian itu." Vania menghentikan makannya, kemudian mengambil nafas panjang.
"Nova dulu sangat menyenangkan.Ceria, mudah bergaul,
hangat, sedikit nakal tapi bukan berandalan, kadang jahil sampai guru-guru.Semua yang menyenangkan ada di dirinya." Vania bicara sambil membayangkan bagaimana Nova dulu.
"Kecelakaan itu mengubahnya ... " Lala mencoba memahami.
"Ya ... kecelakaan itu mengambil nyawa kedua orang tuanya bersamaan.Mereka bertiga habis menghadiri suatu acara.Lalu kecelakaan itu terjadi."
"Maksudmu Nova juga di dalam mobil itu?"
Vania mengangguk. "Mereka bertiga di dalam mobil, hanya Nova yang selamat."
"Bagaimana mereka bisa kecelakaan? Maksudku ... apa mereka menabrak sesuatu atau kendaraan lain?"
"Hanya Nova yang tahu apa yang terjadi, tapi dia tidak mau bicara.Kecelakaan itu merubah semuanya ... sifatnya, sudut pandangnya, dan hidupnya.Dia sangat terpukul."
__ADS_1
"Jadi tidak ada yang tahu penyebab kecelakaan itu?"
Vania menggeleng, "Tidak seorangpun.Polisi sampai kesulitan karena Nova, dia satu-satunya saksi mata tapi tidak mau bicara.Berita kecelakaan itu sampai viral dan memenuhi halaman media massa lokal waktu itu."
"Karena itu dia meninggalkan kota ini?"
"Dia ingin melupakan semuanya.Hampir semua orang mengenal dia di sini.Dan itu membuatnya kesulitan untuk melanjutkan hidupnya."
"Setelah kejadian itu dia mengurung diri di kamar, tidak mau bicara, dan tidak mau makan.Dia jarang sekali keluar. Hingga teman-temannya mulai meninggalkannya satu persatu."
"Termasuk Erik?"
"Kamu tahu Erik?" tanya Vania tidak percaya.
"Ya ... beberapa waktu yang lalu aku dan Nova tidak sengaja bertemu Erik dan Manda saat berjalan-jalan di mall.Siapa mereka? Nova hanya bilang kalau Erik dulu temannya dan Manda adalah kekasihnya, dan sekarang mereka berdua menikah.Benar begitu?"
"Itu benar."
"Tapi sepertinya Erik sangat membenci Nova."
"Manda adalah kekasih Nova, saat kecelakaan itu terjadi.Sementara Erik adalah teman Nova, bisa dibilang sahabat.Seperti ku bilang tadi, Nova jadi pendiam dan jarang keluar.Mungkin karena itulah Manda selingkuh dengan Erik."
Lala terus mendengarkan, mulutnya menganga tidak percaya. "Aneh, bukankah dia yang merebut Manda, tapi kenapa dia juga yang membenci Nova?"
Vania mengangkat bahunya. "Entahlah. Ada yang bilang kalau Erik tidak terima karena Nova sudah mengambil ..." Vania tidak meneruskan kalimatnya.
"Mengambil apa?"
"Katakan saja Manda sudah tidak perawan saat bersama Erik."
"Oh ... "
"Semua yang kamu lihat dari Nova sekarang adalah akibat dari kecelakaan itu.Dia jadi pendiam dan mempunyai gangguan makan.Dia sampai terkena penyakit asam lambung yang parah.Kamu lah alasan kenapa dia mau berobat rutin."
"Benarkah?"
Vania mengangguk. "Dia seperti menemukan hidupnya lagi di kota mu."
"Apa benar dia bercerita kepadamu tentang aku?"
Vania mengangguk. "Aku melihat semangat ketika dia mulai cerita tentangmu.Bagaimana kamu mengabaikannya, bagaimana kamu beberapa kali menolak cintanya."
"Bagaimana kamu tetap dekat dengannya ketika yang lain meninggalkan? Apa kamu menyukai Nova?" tanya Lala pelan, "jangan tersinggung."
Vania terkekeh mendengar pertanyaan Lala. "Sejak kecil aku sudah mengenalnya, aku sudah menganggap Nova seperti saudara, kakak, teman, musuh apapun itu sebutannya.Yang jelas aku peduli padanya.Aku bersyukur dia masih menjadikan aku tempat keluh kesahnya," terang Vania. "Apa kamu cemburu?" goda Vania selanjutnya.
__ADS_1
Lala tersenyum. "Tidak, aku hanya memastikan.Aku bisa melihat dari caramu menatapnya, kamu tidak berusaha menggodanya."