
Lala sudah tidak sabar untuk memberi tahu Oma tentang izin yang diberikan Nova.Dia setuju mengenai makan malam dengan Kevin. Oma pasti sangat senang sekali mendengarnya.
Dia berjalan mengendap-endap menuju ruang makan saat Nova masih terlelap di kamar.Dia takut tidak sempat bertemu Oma karena Oma sering pergi pagi-pagi sekali. Benar saja, sampai di ruang makan Oma sudah berada di sana sarapan bersama Siska.
"Selamat pagi Oma ... pagi Siska ... "
"Pagi ...," jawab keduanya bersamaan.
Lala segera bergabung dengan mereka tapi tidak ikut makan.
"Kamu tidak makan?" tanya Oma.
"Tidak Oma, aku akan makan bersama Nova nanti. Dia masih belum bangun sekarang."
"Oh ... begitu. Oma perhatikan badannya sekarang lebih berisi, sedikit lebih gemuk dari pada beberapa waktu yang lalu."
"Iya Oma, aku memastikan dia makan cukup setiap harinya."
"Pantas saja ... Kamu memperhatikan dia dengan baik."
"Aku sudah bicara dengannya semalam, tentang keinginan Oma."
Oma Rusdi menghentikan makannya. "Lalu apa jawaban Nova?"
"Dia mengijinkannya Oma."
"Benarkah ...?" Mata Oma melotot tidak percaya. "Semudah itu? Apa dia mengajukan syarat?"
"Syarat apa Oma? Apa maksud Oma?"
"Dia tidak meminta apapun sebagai imbalan karena sudah mengijinkan Kevin makan di sini?"
Lala menjadi kikuk mendengar pertanyaan Oma.
Tentu saja dia minta imbalan, apa aku harus menceritakan kalau aku harus melayaninya semalaman sebagai imbalan?
__ADS_1
"Tidak Oma ... dia tidak minta apapun." Lala mencoba bersikap biasa.
"Terima kasih Lala. Kamu memang segalanya. Kamu bicara dengannya sekali saja dia langsung menuruti keinginanmu. Jika itu Oma yang meminta pasti dia akan marah dan pergi meninggalkan rumah." Oma melanjutkan makannya. Wajahnya kelihatan berseri setelah mendengar berita dari Lala.
"Kamu dengar kan Siska? Segera kamu kosongkan jadwalku dan buat jadwal makan malam dengan Kevin di sini."
"Baik Oma ... Bagaimana dengan Viviane? Kita undang Kevin saja atau Viviane juga?"
"Oh ... iya juga."
"Tidak mungkin Kevin datang ke sini tanpa Viviane mengikutinya. Bagaimanapun juga dia ibunya Kevin. Ini seperti kesempatan emas baginya. Dia pasti mengambil momen ini untuk mendekati Oma," imbuh Siska.
"Kamu benar ..., uang yang aku berikan tidak pernah cukup baginya. Dia pasti meminta lebih apalagi setelah makan malam ini dia pasti menganggap dirinya sudah diterima sebagai bagian dari keluarga ini."
"Oma yakin itu tidak akan menjadi masalah baru dengan Nova?" tanya Siska.
Oma Rusdi menghentikan makannya lagi.Dia terlihat sedang menimbang-nimbang. "Selama ini Nova selalu menghindari dia, bahkan menyebut namanya saja tidak mau. Bagaimana nanti jika mereka sampai duduk di satu meja yang sama?" Oma Rusdi terlihat bingung sendiri.
"Sepertinya aku terlalu egois karena hanya memikirkan keinginan ku sendiri. Yang ada di pikiranku hanyalah Kevin dan Nova. Dua cucuku tersayang. Bagaimana menurutmu Lala?"
"Sebenarnya Nova memang keberatan dengan kehadiran Viviane besok Oma, tapi aku sudah membujuknya."
"Sudahlah Oma, tidak usah berlebihan. Aku senang bisa membantu."
"Kamu dengar kan Siska? Tidak ada masalah. Jadi kamu tinggal atur semuanya."
"Baik Oma. Sesuai keinginan Oma."
"Terima kasih juga Siska. Kamu juga selalu bisa aku andalkan."
Oma menoleh kembali ke arah Lala. "Pokoknya Oma minta tolong sama kamu jika nanti sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan antara Nova dan Viviane, tolong kamu yang bicara sama Nova."
Lala mengangguk. "Ya sudah Oma ... Sebaiknya sekarang aku kembali ke kamar sebelum dia bangun. Oma Rusdi mengangguk.
"Permisi Oma ... sampai jumpa Siska." Lala berjalan meninggalkan ruang makan menuju kamarnya.
__ADS_1
"Nova tidak salah memilih istri. Lala benar-benar bisa menaklukkan hatinya," ucap Oma setelah kepergian Lala.
"Benar Oma, Lala sudah berhasil menyembuhkan luka di hati Nova. Oma lihat kan sekarang, wajah Nova tidak murung seperti dulu."
Oma Rusdi mengangguk-angguk menyetujui pendapat Siska.
* * * *
Lala sedang berdandan di depan cermin.Dia tampil sangat feminim dengan balutan dress pendek yang simpel tapi terlihat elegan. Dia memoleskan make up tipis di wajahnya dan rambut panjangnya yang di gerai menambah kesan feminim nya.
Nova masih terpukau walaupun sudah yang sejak tadi memandanginya istrinya itu. Jarang-jarang Lala berpenampilan seperti ini. Biasanya dia hanya menggulung rambutnya asal ke atas, tanpa memoleskan make up sedikitpun di wajahnya.
Nova mendekati Lala dan memeluknya dari belakang.Dia menciumi leher istrinya itu, menghirup dalam-dalam aroma parfum yang selalu membuatnya ketagihan. "Kamu cantik sekali malam ini," ucap Nova masih dalam buaian aroma parfum Lala.
Lala membalikkan badannya sehingga posisi mereka sekarang saling berhadapan. "Jadi biasanya aku tidak cantik?" Sepertinya ada yang salah dengan kata-kata Nova tadi. Dia bermaksud memuji, tapi Lala mengartikannya lain.
"Biasanya kamu cantik, tapi hari ini kamu sangat cantik. Apa aku harus mengundang Kevin makan malam di sini setiap hari agar kamu dandan seperti ini?"
"Jadi kamu tidak suka penampilanku biasanya?" Lagi-lagi Nova merasa ada yang salah dengan kata-katanya. "Aku cantik dari dulu. Bukan hari ini saja! Nova ... Hentikan! Nanti rambutku rusak!" Lala mendorong tubuh Nova agar menghentikan kegiatannya menciumi lehernya.
"Iya ... kamu cantik dari dulu, hari ini dan selamanya. Kamu senang?"
Malam ini Kevin akan makan malam di sini. Walaupun hanya makan malam keluarga tapi Lala ingin tampil beda dari biasanya.
"Ayo kita turun," ajak Lala.
"Nanti saja ... mereka belum datang." Nova kembali mendaratkan bibirnya di leher Lala.
"Jangan sampai meninggalkan tanda merah." Lala membiarkan Nova menikmati aroma tubuhnya, tapi Nova seperti tidak tahan untuk tidak membubuhkan tanda kepemilikannya di sana. Dia menyesap leher Lala kuat-kuat dengan bibirnya kemudian melepaskannya dan tertawa senang setelah melihat hasilnya.
Tak ayal Lala mengomel melihat hasil karya Nova di lehernya.Dia mendorong tubuh Nova. "Apa yang kamu lakukan?" ucapnya sambil melihat dirinya di cermin.Ada tanda merah yang kentara sekali di lehernya bagian depan. Nova hanya tersenyum-senyum melihat Lala mengomel tidak jelas.
"Sekarang aku harus menutupi ini." Lala menunjuk ke tanda merah yang baru saja di buat oleh Nova. Dia mencoba menyamarkannya dengan mengoleskan krim khusus.
"Sebaiknya aku segera turun sebelum kamu meminta lebih!" Lala berlari meninggalkan Nova sendirian di dalam kamar.
__ADS_1
Lala berjalan menuju ruang tamu, tapi tidak ada siapa-siapa di sana, kemudian di menuju ruang makan. Hanya ada beberapa pelayan yang sibuk menyiapkan segala sesuatunya. Rupanya Kevin dan keluarganya memang belum datang.
Lala tidak tahu siapa saja yang diundang Oma dalam acara makan malam ini mengingat keluarga Nova bukanlah keluarga besar.