Menikah Tak Harus Cinta

Menikah Tak Harus Cinta
Keributan Saat Sarapan


__ADS_3

Beberapa hari sudah berlalu.Suasana tenang dan damai menyelimuti rumah keluarga Nova beberapa hari terakhir.Seperti saat ini, Oma, Nova, Lala sedang menikmati sarapan mereka.Siska juga ikut sarapan karena Oma yang memintanya datang lebih pagi karena ada hal penting di pabrik.


Tapi ketenangan ini tidak bertahan lama karena tiba-tiba saja terdengar suara ribut-ribut dari luar.Rupanya Viviane dan Kevin sudah ada di depan rumah.Ini masih pagi sekali untuk sekedar bertemu Oma.Pasti Viviane menginginkan sesuatu.


Sekuriti sudah mencoba menghentikan Viviane, tapi dia tetap memaksa.Akhirnya Viviane berteriak-teriak memanggil Oma dari luar hingga semua yang sedang sarapan di ruang makan bisa mendengarnya.


"Nyonya, ada Bu Viviane di depan." Pelayan memberi tahu Oma kalau Viviane dan Kevin ingin bertemu.Oma sedikit salah tingkah karena ada Nova di depannya.


Sementara Nova terlihat menegang mendengar perkataan pelayan tersebut.Dia tidak menyangka Viviane berani datang ke rumah ini.Sudah lama sekali dia tidak bertemu wanita yang sudah menghancurkan hidup keluarganya itu.


"Aku akan menemui mereka.Suruh mereka menunggu di ruang tamu," balas Oma.Baru selesai Oma bicara tiba-tiba Viviane dan Kevin sudah ada di sana.


"Aku di sini Oma." Viviane dengan tidak malu sudah memasuki ruang makan tanpa diminta.Semua orang di ruang makan langsung menoleh ke sumber suara kecuali Nova.


"Aku sudah selesai." Nova berdiri begitu mendengar suara Viviane.Dia hendak meninggalkan meja makan. Lala yang melihat gelagat Nova buru-buru mengikuti tindakan suaminya.Walaupun Nova terlihat tenang, tidak ada yang tahu apa yang dirasakannya sekarang.


"Hai Nova ... Apa kabar? Sudah lama tidak bertemu, kudengar kamu sudah menikah."


Nova sama sekali tidak merespon perkataan Viviane.Dia bahkan tidak melirik ke arah Viviane ataupun Kevin sama sekali.


"Oh ... Aku bersama Kevin, adikmu.Dia sangat ingin bertemu denganmu."


Nova masih diam seribu bahasa.Kemudian dia berjalan dengan wajah datar meninggalkan ruang makan hendak kembali ke kamarnya.


"Dasar anak manja!" gerutu Viviane.


"Jaga mulutmu Viviane!" bentak Oma.Tapi kemudian Oma menyesali perkataannya karena ada Kevin di sana.Oma takut melukai perasaan Kevin karena sudah membentak ibunya.


"Bi, tolong ajak Kevin jalan-jalan ke taman sebentar!" Oma meminta pelayanan mengajak Kevin keluar ruangan.Dia ingin bicara serius dengan Viviane. Sementara Siska masih diam di tempatnya sambil menikmati sarapannya.


"Sudah aku bilang, jangan datang kesini! Apa lagi yang kamu inginkan? Bukankah aku sudah mentransfer uang yang kamu minta beberapa hari yang lalu?"


"Aku hanya mengantar Kevin untuk menemui Oma nya.Apa aku salah?"

__ADS_1


"Kita berdua tahu pasti bukan hanya itu alasanmu datang kemari."


"Kalau begitu aku tidak perlu berbasa-basi lagi.Aku menuntut hak Kevin atas warisan ayahnya.Dia juga memiliki hak atas rumah ini, pabrik dan peternakan, semua yang Ayahnya punya adalah haknya."


"Harusnya kamu berterima kasih karena aku sudah menjamin semua kebutuhan Kevin dan juga keperluan mu.Ingat ...!!! Kevin bukanlah anak sah dari Renand.Kalian tidak pernah menikah, jadi kamu tidak bisa menuntut apapun dari kami!"


"Tapi dia jelas anak biologis Renand.Dia punya hak!"


"Kamu terlalu serakah Viviane.Segera pergi dari sini.Aku akan tetap memberikan uang bulanan untuk kalian berdua, dan kamu tahu jumlahnya tidak sedikit!"


Viviane terlihat kesal.Usahanya tidak membuahkan hasil.


"Cepat pergi dari sini! Jangan sampai Nova melihatmu lagi!" perintah Oma. "Dan satu lagi, jangan panggil aku Oma karena aku bukan nenekmu.Aku memang nenek Kevin tapi kamu bukanlah menantuku!"


Viviane berjalan meninggalkan ruang makan.Tapi kemudian matanya melihat ke arah Siska yang masih makan tidak menghiraukan dirinya.


"Aku heran padamu Siska ... sudah bertahun-tahun dan kamu masih saja setia menjadi jongos di rumah ini." Viviane mencoba memprovokasi Siska.


"Tidak apa-apa Bu Viviane, aku jongos yang tahu diri dan tahu balas budi," balas Siska.


* * * *


Sementara itu di dalam kamar, Nova mengurungkan niatnya untuk ke pergi ke peternakan.Dia berdiri merenung di balkon kamarnya.Lala menghampirinya.


"Kamu tidak apa-apa?"


Untuk beberapa saat Nova diam tidak menjawab pertanyaan Lala.Matanya kosong menatap lurus jauh ke depan.


"Aku membencinya!" Hanya itu yang keluar dari bibir Nova.Kemudian dia diam lagi untuk beberapa lama.


"Mama tidak sengaja mengetahui kehamilan perempuan itu saat acara kantor.Lalu mereka bertengkar di dalam mobil saat perjalanan pulang." Nova mulai bicara, suaranya tercekat.Ini pertama kalinya dia menceritakan apa yang dialaminya pada malam kecelakaan itu.Sungguh hal yang tidak mudah mengingat betapa keras dia mencoba untuk melupakannya.


"Kemudian kecelakaan itu terjadi.Aku melihat semuanya, pertengkaran dan kecelakaan itu.Aku berada di dalam mobil yang sama.Entah apa yang Tuhan rencanakan padaku hingga aku tidak mati bersama mereka.Aku merasa sendiri, tidak punya siapa-siapa."

__ADS_1


"Perempuan itu, aku bahkan sudah menganggapnya sebagai kakakku.Tapi ternyata, hanya topeng yang dia pasang di depanku.Dia baik hanya untuk menarik perhatian papa.Munafik!" Nova terlihat menahan emosinya.


Lala meraih tangan Nova, menggenggamnya erat.


"Lihat aku ... Kamu punya aku sekarang."


Nova menoleh kemudian mendekap tubuh Lala.Dia terdiam menahan gemuruh di dadanya melihat Viviane, perempuan yang sudah menghancurkan keluarganya.


"Berjanjilah kamu tidak akan pernah meninggalkanku!"


"Aku janji."


"Tidak akan berkhianat dariku?"


"Aku janji."


"Katakan padaku kamu mencintaiku ...!"


Lala terdiam sesaat. "Aku menyayangi mu." Hanya kalimat itu yang keluar dari bibir Lala.Dia memang bukan tipe perempuan romantis dan mudah mengutarakan isi hatinya.


Nova melepaskan dekapannya dan menatap mata istrinya itu.


"Entahlah, mungkin ... sedikit," jawab Lala menggantung.


Nova mendekap tubuh Lala lagi. "Belajarlah mencintaiku, kamulah hidupku sekarang."


Kemudian terdengar pintu kamar diketuk.


"Masuk ..."


Pintu kamar terbuka.Ada Siska di balik pintu. "Oma ingin bicara," ucap Siska. "Dia menunggumu di ruang kerjanya."


Nova mengangguk. "Aku akan bicara dengan Oma.Mungkin Oma ingin menjelaskan sesuatu.Aku tahu selama ini dia diam-diam menemui anak itu." Nova berjalan meninggalkan Lala sendirian di kamar.

__ADS_1


"Jangan membenci anak itu, dia tidak tahu apa-apa," ucap Lala pelan entah Nova mendengarnya atau tidak.Dia kasihan setiap kali melihat tatapan polos Kevin.Anak yang tidak tahu apa-apa, hanya dijadikan alat oleh ibunya untuk mendapatkan uang.Kalaupun bisa memilih pasti dia tidak ingin dilahirkan seperti itu.


__ADS_2