
Lala berangkat ke toko sendirian.Ibunya tidak ikut karena sedang tidak enak badan.Seperti biasa, dia menaiki motor matic kesayangannya.Sepertinya dia sudah mulai terbiasa dengan kehidupan barunya sekarang, kehidupan yang datar-datar saja.Berangkat tanpa tergesa-gesa dan pulang bisa sesuka hatinya.Urusan buka dan tutup toko sudah dipegang oleh orang kepercayaan Bu Mieke.Lala hanya membantu operasional toko saja.
Pagi ini Lala menunggu toko bersama Mei, Vira dan Siti sementara nanti siang ada Kiki, Yuna dan Wulan.Lala berangkat ke toko dengan semangat hari ini, mungkin karena taruhan yang dia buat bersama Mei dan Vira kemarin.
Sesampai di toko kedua gadis itu menyambut Lala dengan gembira.
"Nanti jadi lho Mbak, jangan lupa dan ngga boleh mundur!" ucap Vira semangat.
"Aku juga siap beliin cilok seandainya mobil itu tidak datang," sahut Mei sambil meringis. "Tapi aku yakin mobil itu pasti datang.Itu pasti fans nya Mbak Lala," lanjutnya.
"Fans apa Mei, kaya aku ini artis aja," ucap Lala sambil menjulurkan lidahnya.
"Mbak Lala kan cantik, kaya artis-artis," balas Mei polos.
Tidak banyak pekerjaan di toko, hingga waktu berjalan terasa begitu lambat.Lala mulai bosan, tidak ada yang menantang sama sekali.Lala mendekati Vira yang sedang membersihkan rak susun dari debu.
"Vira, biasanya mobil itu datang jam berapa sih?" tanya Lala.
"Iiihh ... Mbak Lala udah ngga sabar pengen kenalan sama yang punya mobil apa?" jawab Vira menggoda Lala.
"Enak aja ... Aku ngga sabar pengen makan cilok dan es buah grraatiiisss!" balas Lala sambil menekankan kata terakhirnya.
"Kita tunggu aja bentar lagi Mbak, ngga pasti juga sih, biasanya sekitar jam 11 lebih mobil itu datang.Janji ya ... ngga boleh mundur?!" ucap Vira ngga mau kalah.
"Oke ... Siapa takut?! Kita tunggu sampai jam 12, kalau setelah itu mobilnya tidak datang kalian segera berangkat beli yang kuinginkan."
Lala masih berdiri di samping Vira, gadis itu terus menunggui Vira bersih-bersih sambil sesekali melirik jam dinding.Lala sendiri bingung mau apa karena hari ini memang tidak banyak pekerjaan.Dia terus melirik jam dinding yang menurut Lala jarumnya tidak bergerak dari tadi.
Setelah beberapa lama...
"Yeessss ... sudah hampir jam 12, aku menang! Sana berangkat beli cilok dan es buah sama Mei," ucap Lala kegirangan.Padahal cuma cilok dan es buah, dia bisa beli sendiri sebenarnya.Tapi entah kenapa dia senang sekali menang taruhan ini.
__ADS_1
"Jam 12 masih kurang dikit Mbak, tunggu sebentar lagi," jawab Vira memelas.
Tiba-tiba Mei berlari masuk ke dalam toko.Dia habis mengumpulkan kardus bekas di gudang yang terletak di samping toko.
"Kenapa Mei?" tanya Lala.
"Mbak Vira ... mobil itu sudah datang," teriak Mei semangat.Dia justru memanggil Vira dan mengabaikan pertanyaan dari Lala.
"Benarkah?" tanya Vira antusias.Kedua gadis ini terlihat kegirangan seperti habis dapat undian berhadiah mobil.Hanya Lala yang terlihat melongo.
"Ayo Mbak Lala sudah janji.Sekarang Mbak Lala harus kesana dan cari tau kenapa mobil itu parkir di sana terus?"
"Eh ... Mmm ... tunggu sebentar, biar orang yang di dalam mobil istirahat dulu.Siapa tau pemiliknya habis berpergian jauh," ucap Lala mencari alasan.
"Ya udah kita tunggu sebentar," ucap Vira.Setelah beberapa saat mobil itu tidak kunjung pergi.
"Sekarang aja Mbak ... sana!" Vira sedikit mendorong tubuh Lala.
"Nggak mau!" jawab kedua gadis itu kompak.
"Iya deh... Aku kesana sekarang," balas Lala dengan putus asa.
Bagaimana ini? Aku harus bicara apa kepada pemilik mobil itu? Masa iya aku bilang aku kalah taruhan? Asal maju sajalah, siapa takut?! batin Laa.
Lala melangkah mantab menuju mobil.Kaca mobil itu gelap ditambah sinar matahari yang tengah terik-teriknya membuat pengendara mobil tidak terlihat dari luar.Langkah Lala berhenti setelah dia berdiri tepat di samping mobil.Kemudian dia sedikit membungkukkan badannya sejajar dengan kaca mobil.
"Permisi," ucap Lala sopan sambil mengetuk kaca mobil.
Kaca mobil perlahan turun.Betapa terkejutnya Lala melihat siapa yang ada di dalam mobil.
"Bang ... " Lala tidak meneruskan ucapannya.
__ADS_1
Dia ingin berlari kembali ke teman-temannya, tapi dia juga rindu ingin menatap wajah tampan pengemudi mobil tersebut lebih lama.Wajah sekarang ini terlihat sayu.Lala terus menatap wajah itu.Ohh ... Bagaimana ini, dia merindukannya tapi dia harus menghindarinya.Kakinya ingin berlari kembali ke dalam tokonya dan bersembunyi tapi hatinya ingin sekali memeluk pria ini.
"Masuklah," ucap Adit pelan.
"Tapi ... " jawab Lala ragu.
"Sebentar saja, kumohon ... " pinta Adit dengan wajah memelas.Tidak pernah Adit seperti ini.Bahkan tidak seorangpun akan menyangka Adit bisa seperti ini.Tidak ada lagi Adit yang jutek, angkuh dan songong seperti biasanya.Saat ini dia hanyalah seorang pria rapuh dan terlihat berantakan.Hanya beberapa hari tidak bertemu dengannya dan dia sudah terlihat kurus.
"Baiklah," jawab Lala.Gadis itu kemudian menoleh kebelakang, ke arah teman-temannya yang sejak tadi mengawasi dari dalam toko. "Aku pergi sebentar.Ternyata dia temanku!" teriak Lala dari seberang jalan sambil melambaikan tangannya.Kemudian dia masuk ke dalam mobil.
Adit menjalankan mobilnya.Entah kemana dia akan membawa Lala.Sementara Lala hanya diam saja.Mobil Adit menepi kemudian berhenti di bawah sebuah pohon rindang di samping lapangan bola, yang terletak tidak jauh dari toko keluarga Lala.
Adit menatap wajah Lala sendu.Tangannya mulai membelai wajah gadis itu.Mata Lala terus menatap Adit, dia kasihan melihat pria itu terlihat begitu merana.Adit tetap tidak mengeluarkan suara tapi matanya mulai meneteskan air mata.Lala tidak tahan lagi.Dia langsung memeluk Adit.Dia tidak tega melihat pria gagah yang banyak di puja-puja wanita ini menangis di depannya. Lala melepaskan pelukannya, tapi Adit tidak ingin melepasnya.
"Apa kamu menemuiku hanya untuk menangis?" tanya Lala masih dalam pelukan Adit.Air mata juga mulai membasahi pipinya.
Adit hanya diam saja.Adit membenamkan wajahnya di leher Lala.Hidungnya menghirup dalam-dalam aroma tubuh Lala.Ini semakin membuat hati Lala kalut.
Ingin sekali aku kabur bersamamu, pasrah kemanapun kamu membawaku pergi.Tapi bagamana nasib orang tuaku nanti?
"Jangan banyak minum alkohol, dan jaga dirimu.Sekarang antarkan aku kembali ke toko," ucap Lala setelah Adit melepaskan pelukannya.
Lala mencoba tersenyum walaupun terlihat jelas bekas air mata di pipinya.Adit tetap diam membisu.Entah apa yang ada di kepalanya Lala tidak tahu.
Adit menyalakan mobilnya kemudian putar balik kembali ke toko Lala.Tak berapa lama mobil Adit sudah sampai di depan toko.
"Katakan sesuatu Bang ... jangan diam begini," ucap Lala sebelum dia membuka pintu mobil Adit.Tetapi Adit tetap diam membisu.Matanya fokus ke depan tidak ingin menatap wajah Lala.
"Bang ...." Tatapan Lala memohon kepada Adit.Dia tahu pasti Adit sedang tidak baik-baik saja.
Adit menoleh.Tangannya merengkuh tubuh Lala.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, sangat ....," ucap Adit sambil memeluk tubuh Lala.Lala bisa tahu Adit menangis dari nada suaranya, dan Itu jelas membuat Lala ikut menangis.