
Saat mereka tengah asyik menikmati sarapan, datang seorang perempuan muda, mungkin seusia Nova, tubuhnya tinggi dan langsing bak model.
"Pagi Oma ... " sapa gadis itu.
"Oh ... kamu sudah datang rupanya," balas Oma.
Lala hanya diam sambil melirik Nova untuk mengetahui bagaimana ekspresi wajahnya.Tapi wajah Nova terlihat datar-datar saja.Dia bahkan cenderung mengabaikan gadis itu.
"Jangan berpikir kalau dia istri pertamaku," gumam Nova pelan.Rupanya dia sadar Lala sedang melirik ke arahnya.
Lala memukul bahu. "Jangan mulai lagi!" balas Lala.
"Nah ... Vania, kenalkan ini Lala," ucap Oma.
Gadis itu tersenyum ramah kepada Lala. "Hai ... aku Vania," ujar gadis itu sambil mengulurkan tangannya.
Lala pun menyambut uluran tangan Vania , "Aku Lala," sambut Lala tak kalah ramah.
"Vania ini teman Nova sejak kecil, Oma yang meminta dia datang kesini agar kalian bisa saling mengenal. Ayo ... duduklah." Oma Rusdi mempersilahkan Vania duduk di sebelahnya.
Lala menatap Nova heran, bagaimana temannya datang tapi dia hanya mengacuhkannya.
"Dia memang begitu ... Tidak usah heran.Aku sudah terbiasa," terang Vania.Dia seperti mengerti tatapan keheranan Lala kepada Nova. "Dia banyak bercerita tentangmu," lanjut Vania.
"Benarkah?" tanya Lala tidak percaya.
Vania mengangguk. "Sudah lama dia cerita tentang kamu, sampai aku pikir dia hanya berimajinasi saja." Vania tertawa mengejek Nova.
"Diam lah ... " Nova mulai salah tingkah.
"Aku masih tidak percaya apa yang dia bicarakan sampai dia membawamu kesini waktu itu ... sesudah lamaran kalau tidak salah.Aku bahkan sampai menelfon Oma untuk memastikannya."
Oma Rusdi hanya menganggukkan kepala sambil terus menyantap sarapannya.
"Sudahlah ... tidak usah diteruskan," pinta Nova.
"Kemudian aku menelfon dia dan mengajaknya bertemu.Aku ingin meminta penjelasan darinya, bagaimana mungkin dia lamaran tapi tidak memberitahu aku? Keterlaluan bukan?"
Lala kembali menatap Nova.
"Tidak usah hiraukan dia." Nova menoleh ke arah Lala. "Aku akan mulai membantu Oma besok, temani dia kalau kamu sedang tidak sibuk." Nova bicara tanpa sedikitpun melirik ke arah Vania.
"Kenapa harus besok, sekarang saja.Dia bisa menemaniku belanja hari ini."
__ADS_1
Wajah Lala sumringah mendengar kata-kata Vania baru saja.
"Tidak, dia masih harus beristirahat," balas Nova masih dengan wajah datarnya.
"Tidak usah berlebihan Nova ... aku baik-baik saja," protes Lala tidak terima.
"Kamu kurang tidur semalam."
"Owh ... itu ..." Wajah Lala bersemu. Bukankah dia sendiri yang membuatku tidak tidur batin Lala. "Kamu curang!" gerutu Lala.
"Aku yang akan menemanimu seharian nanti."
"Pasti cuma modus!" ujar Lala masih dalam mode menggerutu. Nova tersenyum-senyum mendengar kata-kata Lala.Sementara Oma dan Vania saling melemparkan lirikan dan senyuman melihat interaksi sejoli ini.Mereka senang bisa melihat Nova seperti ini.
"Ya sudah, nanti hubungi aku kalau Nova sudah mengijinkan kamu keluar. Kalau aku sedang tidak ada jadwal pemotretan, pasti aku kesini." Vania memang seorang model rupanya.
"Tentu saja," jawab Lala.
Selesai sarapan, Nova mengajak Lala berjalan-jalan mengelilingi bagian luar rumah.Saat ini mereka sedang berjalan menelusuri jalan setapak di taman belakang.
"Kamu juga punya peternakan?" tanya Lala memulai pembicaraan.
"Kami punya peternakan sapi sementara perusahaan bergerak di pengolahan daging sapi dan pemasarannya."
"Perusahaan dan peternakan adalah warisan Papa, sementara Hotel X adalah warisan Mama ku."
"Ternyata kamu sangat kaya," gumam Lala.
Nova tersenyum tipis.
"Katakan Nova ... bagaimana kamu bisa menyukaiku bahkan rela menunggu ku? Bukankah dengan semua hartamu ini kamu bisa memikat wanita mana saja yang kamu suka?"
Nova menghentikan langkahnya.Dia menatap mata Lala lekat.
"Dari awal aku yakin kamu berbeda.Aku melihat dari caramu memperlakukan orang lain.Kamu ramah kepada siapa saja tanpa peduli apa jabatannya."
"Begitu menurut mu?"
"Kamu ingat pertama kali aku datang ke rumahmu? Aku membawa motor sportku untuk menarik perhatian mu, tapi kamu sama sekali tidak tertarik.Itu semakin membuat aku yakin kamu memang berbeda dari gadis lainnya."
"Setelah aku mengetahui semuanya, apa kamu takut aku akan mengambil semua hartamu dan pergi meninggalkan kamu?"
"Aku sempat berpikir begitu, tapi yakin kamu bukanlah wanita seperti itu."
__ADS_1
"Kalau kamu yakin aku bukan wanita seperti itu, lalu kenapa harus menguji ku dengan berpura-pura menjadi orang biasa?"
"Harusnya kamu tidak boleh marah soal itu, bukankah kamu juga mengujiku dengan mengatakan kalau kamu sudah tidak perawan?" Nova membalikkan pertanyaan Lala dengan senyum jahil yang sudah mulai terlihat.
"Oh ... itu ...." Lala tertunduk malu. "Jangan menggodaku lagi," ucapnya lirih.
Nova meraih tangan Lala. "Sudah lama aku jatuh cinta padamu.Dan setelah malam itu aku semakin jatuh cinta padamu."
Lala memberanikan diri menatap mata Nova.Wajahnya sudah sangat merah sekarang. "Walaupun kamu tahu aku tidak mencintaimu?"
Nova mengangguk. "Aku tahu aku cuma pelarian mu dari Adit ataupun kekasihmu yang dulu.Aku tidak peduli.Aku percaya jika cinta bisa datang karena terbiasa.Kamu hanya belum mengenalku."
Lala menatap mata Nova tidak percaya.Nova begitu memahami dirinya.
"Kamu sudah mengenalku luar dalam sekarang.Bahkan juga sudah mengenal tubuhku luar dalam.Apa kamu masih meragukanku?" Nova sudah mulai menggoda Lala lagi.
Lala terdiam. "Kalau kamu masih belum yakin ... ayo kita ke kamar, aku akan meyakinkan kan kamu lagi," ujar Nova dengan senyum nakalnya.
Wajah Lala semakin merah sekarang.Rasanya dia ingin menangis menahan malu karena godaan dari Nova.
"Benarkan?! Kamu cuma modus!" gerutu Lala sambil melangkah meninggalkan Nova.
"Tidak masalah ... aku kan modus sama istriku sendiri, bukan istri orang," Nova berjalan menyamai langkah kaki Lala sambil terus menggodanya.
"Kamu dulu pendiam, kenapa jadi tengil begini sih?" Lala yang sebelumnya menggerutu kini sudah berubah mengomel tidak jelas.Semakin hari Nova semakin berani menggodanya.Dia sudah tidak se pendiam dulu, apalagi sekarang setelah Lala sudah mengetahui siapa dia sebenarnya.
"Ayo kita ke kamar, kamu harus istirahat."
"Ngga ...! Itu pasti hanya alasanmu saja! Sana ke kamar saja sendiri aku mau jalan-jalan!"
"Nanti kalau ada orang jahat gimana?"
"Hah ...?! Sejak kapan aku takut sama penjahat?" Lala menyepelekan kata-kata Nova.Dia berjalan meninggalkan Nova entah mau kemana.
"Ya sudah kalau tidak takut sama penjahat.Tapi jangan mencari aku kalau nanti ada petir!" teriak Nova kepada Lala yang sudah mulai menjauh.
Lala menghentikan langkahnya.Dia menatap ke langit yang sudah mendung.Dengan langkah kesal dia berjalan kembali kepada Nova.Sementara Nova tersenyum penuh kemenangan melihat Lala berjalan ke arahnya.
"Awas saja kalau kamu nanti minta lagi!" ancam Lala.
"Aku tidak bisa janji, sebentar lagi hujan.Dan apa yang mungkin dilakukan sepasang suami istri di kamar berduaan jika sedang hujan?" Nova semakin menggoda Lala.
"Nova ....!!!! Hentikan...!!!" Wajah Lala benar-benar merah padam sekarang.
__ADS_1