Menikah Tak Harus Cinta

Menikah Tak Harus Cinta
Lamaran


__ADS_3

Hari yang dijanjikan Nova sudah tiba.Ini sudah menjelang petang.Nova dan perwakilan dari keluarganya akan datang melamar secara resmi.Lala meminta lamaran yang sederhana.Hanya beberapa anggota keluarga terdekat saja yang diberi tahu.


Bu Mieke dan Mbak Dina tengah sibuk di dapur menyiapkan segala sesuatunya.Sementara Pak Fajar dan Mas Fadil di teras rumah, bersiap untuk menyambut kedatangan keluarga Nova.Lala sendiri bingung mau melakukan apa.Walaupun ini bukanlah lamaran seperti yang dia harapkan selama ini, tapi hatinya tetap berdebar kencang.Selain itu dia juga takut Nova tidak jadi datang untuk melamarnya.


Dua buah mobil datang dan berhenti di depan rumah Lala.Sepertinya keluarga Nova sudah datang.Pak Fajar dan mas Fadil dan juga beberapa keluarga dekat Lala yang lain segera menyambut mereka.


* * * *


Acara lamaran sudah selesai.Semua keluarga dekat Lala kembali ke rumah masing-masing.Tinggalah keluarga inti Lala yang masih berkumpul di ruang keluarga, tidak termasuk Reyhan karena anak itu sudah tidur.


"Sebulan lagi kamu akan menikah," ucap Pak Fajar kepada Lala sementara yang lain sibuk memberesakan bingkisan dan oleh-oleh yang tadi di bawa keluarga Nova.


"Kita sudah menetapkan tanggalnya.Kita harus segera mengurus segala keperluannya," lanjut Pak Fajar.


"Sesuai keinginan kamu dan Nova, maka pernikahan akan dilangsungkan secara sederhana saja.Begitu bukan?"


Lala mengangguk.


"Jadi Nova sudah tidak punya orang tua?" tanya Mas Fadil.


"Iya, tapi aku tidak tahu sejak kapan.Dia agak tertutup soal itu," jawab sekenanya sebelum dia diberi pertanyaan lebih lanjut.Karena memang dia tidak tahu apa-apa tentang calon suaminya itu.


"Dia hanya punya seorang nenek, tadi pun tidak ikut datang karena tinggal di kota X," Pak Fajar menimpali.


"Sekarang Bapak mau istirahat dulu, Bapak capek." Pak Fajar pergi meninggalkan ruang keluarga menuju kamarnya.


"La ... sini," bisik Mbak Dina.


Lala berjalan mendekati Mbak Dina yang sedang sibuk membereskan bingkisan-bingkisan tadi.


"Lihatlah bingkisan-bingkisan ini.Semuanya mahal dan merk terkenal," ucap Mbak Dina sambil menunjuk beberapa bingkisan di depannya.


Lala tidak memperhatikan itu semua.Sedari tadi dia sibuk dengan perasaannya yang tak karuan.Lala kemudian melihat bingkisan itu satu persatu.Dia terlihat sedang berpikir.


"Iya juga ya ... ," gumam Lala.


"Kamu yakin Nova itu orang biasa?" tanya Mbak Dina kemudian.


Lala terdiam dengan pertanyaan Mbak Dina.Dia tahu maksud pertanyaan kakak iparnya itu.Tidak mungkin Nova yang bekerja sebagai pegawai biasa bisa membelikan ini semua.


"Mungkin dia sudah menabung sejak lama," ucap Lala mencoba menepis rasa herannya.

__ADS_1


Apa mungkin Nova mampu membeli itu semua?Dengan gajinya di Plaza Z, rasanya tidak mungkin!


"Sebaiknya kita lanjutkan besok Mbak, Aku sudah ngantuk."


"Iya ... aku juga sudah ngantuk," balas Mbak Dina.


Mereka berdua kemudian berjalan menuju kamar masing-masing.


Lala sudah membersihkan dirinya dan bersiap untuk tidur, tapi kemudian ada pesan masuk di hpnya.


"Istirahatlah, besok pagi aku ajak kamu menemui Oma di kota X."


"Oke." balas Lala singkat.


Lala tidak jadi tidur.Dia teringat kata-kata Mbak Dina tadi.Betapa Lala tidak tahu apa-apa mengenai calon suaminya.Dia hanya tahu namanya, Cassanova Putra Asoka dan juga umurnya yang beberapa tahun lebih muda dari Lala.Selain itu dia tidak tahu apa-apa sama sekali.Dimana dia tinggal, apa makanan kesukaannya, dia berapa bersaudara, bahkan Lala tahu dia sudah tidak punya orang tua baru beberapa hari yang lalu.Dan dalam waktu sebulan laki-laki ini akan menjadi suaminya.


* * * *


Hari sudah pagi.Lala sudah bersiap-siap karena Nova akan memjemputnya pagi ini.Dia akan mengajak Lala menemui Omanya di kota X.Perjalanan membutuhkan waktu sekitar 2 jam jika mereka mengendarai sepeda motor, karena itu mereka berangkat sepagi mungkin.


Tak berselang lama Nova sudah sampai di depan rumah Lala.


"Hai ... kamu sudah siap?" tanya Nova.


"Aku hanya punya sepeda motor.Kamu tidak apa-apa kan jika kita hanya mengendarai motor?" tanya Nova hati-hati.


"Tidak apa-apa, asal kamu tahu ... dulu hobiku touring dengan sepeda motor," jawab Lala santai.


Memang dulu Lala sering ikut touring klub motor matic, tapi dulu sekali sebelum dia mengenal Juna.Setelah mengenal Juna dia meninggalkan hobinya itu karena larangan dari Juna.


Sebenarnya Lala bisa menawarkan mobil keluarganya jika dia mau.Tapi dia takut menyinggung perasaan Nova.Lala menghargai sikap Nova yang jujur dan juga tetap percaya diri dengan keadaannya.Ya, untuk ukuran orang dengan kehidupan pas-pasan, Nova terhitung cukup percaya diri.


Nova tersenyum.Dia tahu, gadis di depannya ini memang tidak seperti gadis kebanyakan yang gengsi di bonceng motor butut seperti miliknya.


"Kita pamitan Bapak Ibu dulu sebelum berangkat," ucap Nova.


Mereka segera berangkat setelah mendapat ijin dari orang tua Lala.Setelah menempuh perjalanan selama hampir 2 jam mereka berhenti di sebuah rumah mewah dengan halaman yang dipenuhi padang rumput hijau sangat luas.


"Kenapa kita berhenti di sini?" tanya Lala heran.


"Kita akan menemui Oma ku," jawab Nova yang wajahnya terlihat ceria sejat tadi bertemu Lala.

__ADS_1


"Terus ...? Kenapa berhenti di sini?" tanya Lala masih tidak mengerti.


"Oma ku tinggal di sini.Sejak dulu dia bekerja untuk pemilik rumah ini."


"Oh ... " jawab Lala setelah mendengar penjelasan Nova.


"Ayo kita masuk."


Lala mengikuti saja ajakan Nova.Mereka masuk tidak lewat pintu depan, melainkan pintu samping khusus untuk ART dan pekerja di rumah tersebut.Motor butut Nova ditinggalkan begitu saja di pos satpam.


Sebenarnya Lala heran kenapa Nova terlihat sangat terbiasa di rumah ini.Dia sudah seperti di rumahnya sendiri.Kedua satpam yang berjaga di depan pun terlihat menghormati Nova dan menyapanya dengan sopan.


"Apa kamu dulu juga tinggal di sini?" tanya Lala.


"Iya, dulu waktu aku masih kecil.Kenapa bertanya begitu?"


"Kamu seperti sudah terbiasa di rumah ini," balas Lala sambil mengamati sekelilingnya.


"Apa nanti pemilik rumah ini tidak akan memarahimu jka melihatmu membawa orang asing masuk ke dalam rumahnya?" bisik Lala.


Nova tersenyum simpul mendengar pertanyaan Lala.


"Tidak.Mereka tidak pernah di rumah.Kamu tenang saja."


Lala mengangguk mengerti.


Mereka terus berjalan melewati lorong hingga akhirnya sampai di dapur.


Disana ada seorang wanita paruh baya yang tengah sibuk mempersiapkan hidangan di meja makan.


"Oma ..." Nova menyapa wanita itu dan memeluknya.Wanita itupun menyambut Nova dengan hangat.


"Akhirnya kamu pulang juga," ucap wanita itu kemudian.


Deg!


Apa maksudnya? Nova pulang? Memang ini rumah siapa?


Wanita paruh baya itu kemudian menoleh ke arah Lala.


"Lihat siapa yang kamu bawa? Kamu tidak ingin memperkenalkan pada Oma mu ini?" ucap wanita itu ramah sambil berjalan mendekati Lala.

__ADS_1


"Kenalkan Oma ... Dia Viola, calon cucu menantu Oma."


__ADS_2