Menikah Tak Harus Cinta

Menikah Tak Harus Cinta
Hujan Deras


__ADS_3

Nova sudah meraih gagang pintu dan membukanya.Tepat di saat bersamaan terdengar suara petir yang menggelegar padahal tidak sedang turun hujan.Lala sangat takut ditambah suasana hatinya yang sedang buruk membuat air matanya semakin mengalir deras.


Akhirnya Nova tidak tega untuk meninggalkan Lala.Dia menghirup nafas dalam dan menutup pintu kemudian berbalik dan berjalan ke arah Lala.Dia melihat Lala menangis dan seketika menyadari kesalahannya.


Nova mendekati Lala dan duduk di sampingnya.Nova mengusap air mata Lala, dia merasa bersalah melihat gadis ini menangis karena kata-katanya.Dia sudah melanggar janjinya sendiri untuk tidak membuat Lala menangis.


"Maafkan kata-kataku tadi.Aku hanya sedang ...." Nova tidak melanjutkan kata-katanya.


Lala diam saja.Air matanya masih terus mengalir membuat Nova semakin merasa bersalah.Tapi ini tidak sepenuhnya salah Nova karena dia tidak tahu.


"Aku takut Nov ..." Akhirnya Lala membuka suaranya setelah beberapa saat menangis.


"Apa yang kamu takutkan? Sudah aku bilang aku akan tetap menerimamu."


"Bukan itu ..., aku ... aku belum pernah melakukannya." Suara Lala tercekat.


Lala tidak berbohong.Dia memang belum pernah berhubungan badan dengan siapapun.Selama pacaran dulu dia hanya sebatas bercumbu tidak lebih.


Nova tidak percaya. "Tapi ... bukankah kamu bilang ...?


"Aku hanya ingin menguji keseriusan mu," ucap Lala kembali terisak.


Nova mengusap wajahnya frustasi.Kini dia semakin merasa bersalah dengan kata-kata yang dia ucapkan tadi.


"Maaf ... maaf kan aku ... aku tidak bermaksud ... " ucap Nova tulus.


Dia mendekap tubuh Lala.Antara bahagia ternyata istrinya ini masih tersegel, juga menyesal sudah menyakiti perasaan nya tadi.Lala membalas pelukan Nova.Disaat yang bersamaan hujan turun dengan derasnya.


Pelukan Nova semakin erat hingga dia bisa merasakan bukit kembar Lala menempel di dadanya.Nova melepaskan pelukannya sebelum juniornya bangun lagi.Mereka saling tatap, tapi mata Nova sudah tidak bisa fokus pada tempatnya.Pandangannya terus saja menjurus ke bawah.


"Sebaiknya kita tidur, sudah malam," ajak Nova.


Lala mengangguk. "Tidur lah di kasur bersamaku ... aku takut petir."

__ADS_1


Mereka berdua segera merebahkan tubuh mereka di kasur.Tak lupa Nova mematikan lampu kamar terlebih dahulu.Lagi-lagi suara petir terdengar menggelegar.Lala meringkuk semakin mendekatkan tubuhnya ke tubuh Nova.Refleks Nova memeluk tubuh Lala.Hujan deras yang turun membuat suasana semakin syahdu.


Sekarang giliran Nova yang tidak bisa tidur.Setiap kali memejamkan mata, bukit kembar Lala selalu muncul di pikirannya.Juniornya yang sejak tadi susah payah di tenangkan kini kembali memberontak di bawah sana.


Akhirnya dia turun dan mensejajarkan wajahnya dengan wajah Lala.Dia mulai mencium bibir Lala lagi, dengan lebih lembut.Lala membuka matanya.


"Boleh aku memintanya sekarang?" tanya dengan wajah sayu.Dia sudah tidak bisa menahannya lebih lama lagi.Lala menatap Nova ragu.


"Aku akan pelan-pelan," bisik Nova.


Akhirnya Lala mengangguk pasrah.


Nova kembali menciumi bibir Lala.Kali ini Lala membalas ciuman Nova.Lama-lama ciuman mereka semakin panas.Tangan Nova sudah turun untuk meraih gundukan bulat milik Lala yang sudah sejak tadi ingin dilahapnya.Puas menjelajahi bibir Lala, bibir Nova beralih ke leher Lala dan semakin turun ke dada Lala dan meninggalkan beberapa tanda merah di sana. Kecupan Nova di hampir seluruh tubuh Lala membuatnya mendesah nikmat.


Tangan Nova semakin liar menjelajahi tubuh Lala, hingga dalam sekejap pasangan ini sudah tidak mengenakan apa-apa.Tangan Nova merambat semakin ke bawah dan bermain di bagian paling sensitif milik Lala yang sudah mulai basah.


Hujan hujan yang terus mengguyur deras menyamarkan suara ******* surga dari pasangan ini.Nova perlahan memasukkan juniornya yang sudah sejak tadi mengeras.Lala menggigit bibirnya menahan sakit dan perih di bawah sana.


"Jangan gigit bibirmu, biar aku saja yang melakukannya." Nova terdengar sangat bernafsu. Samar-samar Nova bisa melihat raut wajah Lala yang sedang menahan sakit.


"Aku belum ingin hamil," ucap Lala dengan nafas yang mulai tersengal.


"Terserah kamu saja sayang ... "


Setelah beberapa lama Nova mencapai puncaknya dan mengeluarkan benihnya di luar rahim Lala disertai erangan kenikmatan.Akhirnya mereka tertidur setelah malam panjang yang mereka lalui.


Keesokan harinya Nova bangun pagi sekali.Lala masih meringkuk di bawah selimutnya tanpa mengenakan sehelai benangpun.Nova tersenyum memandangi wajah istrinya yang sekarang sudah menjadi miliknya seutuhnya.Dia segera mencari sarapan untuk Lala sebelum dia terbangun.


Nova merasa energinya terisi penuh seperti habis dicharge walaupun semalam dia baru tidur jam 3 pagi.Raut wajahnya terlihat berseri seperti habis memenangkan perang besar.


Nova memutuskan tidak akan berangkat kerja.Dia akan berhenti dari Plaza Z hari itu juga, tidak peduli dengan sanksi yang mungkin dia dapatkan.Dia hanya ingin lebih dekat dengan Lala.


Lala masih tertidur pulas ketika Nova kembali ke kamar kost membawa sarapan.Nova segera membersihkan badannya sambil menunggu Lala bangun.Sudah hampir jam 7 tapi Lala masih belum bangun.Sepertinya tadi malam cukup melelahkan untuk Lala.

__ADS_1


Akhirnya Nova mendekatinya dan membelai pipi Lala dengan lembut.Lala menggeliat merasakan sentuhan di kulitnya.Dia mengedipkan matanya dan melihat Nova duduk di sampingnya.


"Bangun sleeping beauty, kamu bisa terlambat kerja," bisik Nova.


Sebenarnya tidak masalah jika Lala tidak berangkat kerja.Tidak akan ada yang berani mempermasalahkan nya.


"Jam berapa?" tanya Lala degan suara serak.Dia kembali memejamkan matanya.


"Sekarang sudah jam 7 lebih."


Lala membulatkan matanya.Bisa terlambat dia kalau tidak segera bersiap-siap.Dia ingin segera bangun tapi baru menyadari kalau dia sedang tidak berpakaian.Lala mendorong tubuh Nova menjauh.


"Sana menghadap ke tembok!"


Nova senyum-senyum saja sambil mengikuti perintah dari Lala.Secepat kilat Lala berlari ke kamar mandi setelah Nova memalingkan wajahnya ke tembok.


Nova meraih selimut Lala dan bermaksud untuk merapikan tempat tidur.Matanya menangkap ada warna merah yang menodai sprei.


Nova tersenyum, "Dia tidak berbohong."


Tak berselang lama Lala keluar dari kamar mandi dengan wajah yang memerah.


"Kamu kenapa?" tanya Nova khawatir.


"Perih ..." jawaban Lala membuat wajahnya sendiri semakin memerah.Nova tahu maksud Lala.Ini pasti akibat ulahnya semalam.


"Apa yang bisa ku lakukan untuk membuatmu merasa lebih baik?"


Lala menggeleng, "Tidak ada.Kamu keluarlah dulu, aku ingin berpakaian."


"Aku masih harus keluar?" tanya Nova sambil tersenyum menggoda Lala.


"Tidak usah membantah!" Lala mulai galak.

__ADS_1


"Baiklah. Aku akan menunggu di luar."


__ADS_2