Menikah Tak Harus Cinta

Menikah Tak Harus Cinta
Taruhan


__ADS_3

Sore harinya Adit terbangun masih di tempat yang sama.Sejak pagi dia hanya tidur dan tidak keluar kamar.Bahkan dia harus bertanya kepada pelayan yang mengantar makanan ke kamarnya nama hotel tempat dia menginap sekarang.Adit tidak berniat untuk pulang ke rumahnya dalam waktu dekat.Dia pikir, pasti Denise masih menginap di rumahnya sekarang.


Adit menatap layar hpnya, mengabaikan semua pesan masuk dan panggilan tak terjawab yang tak terhitung jumlahnya.Dia terus memandangi fotonya bersama Lala yang sedang memasang duck face nya.Ingin sekali dia mengirim pesan kepada Lala untuk sekedar menanyakan kabarnya.Dia sudah sangat rindu pada gadis itu tapi ini baru sehari mereka tidak bertemu, bagaimana nanti?


Malam harinya Adit bersiap untuk keluar.Dia sudah janjian dengan temannya akan ke klub malam, dan temannya itu sudah menunggu di lobi hotel sekarang.Mulai saat ini Adit tidak memperdulikan hidupnya.Dia akan menghabiskan seluruh waktunya mabuk-mabukan untuk melupakan kesedihannya.


* * * *


Beberapa hari sudah berlalu.Lala sedang sibuk menata barang di rak susun.Hari ini Ibunya tidak datang ke toko karena harus menemani Pak Fajar kontrol rutin bersama Mas Fadil.


Mei pelan-pelan mendekati Lala.


"Mbak Lala, mobil yang itu dari tadi di sana ngga pergi-pergi," bisik Mei kepada Lala.Gadis ini sedikit malu-malu kepada Lala.


"Benarkah? Aku tidak memperhatikannya." Lala bicara sambil celingukan mencari mobil yang Mei maksud.


"Sudah kuperhatikan dari tadi Mbak.Tidak ada orang yang keluar dari mobil itu sejak berhenti tadi."


"Mungkin orangnya baru istirahat Mei, capek nyetir atau mungkin ngantuk.Sudahlah tidak usah dihiraukan," balas Lala setelah matanya menemukan sedan hitam mewah terparkir di seberang tokonya.


Lala tinggal di sebuah kota kecil atau lebih tepatnya sebuah kecamatan.Jadi wajar orang langsung memperhatikan jika ada sedikit saja hal yang tidak biasa, termasuk mobil yang dimaksud Mei.Itu termasuk mobil yang cukup mewah di lingkungan ini.


"Ayo .... Lebih baik kita lanjutkan pekerjaan kita," ucap Lala.Dalam hatinya dia mengagumi kepolosan gadis muda ini.Gadis lain pasti akan terpesona dengan mobil mewah itu, tapi dia justru resah karena mobil itu hanya parkir dan tidak segera pergi.


Mei mengangguk.Gadis itu merasa ada yang janggal dengan mobil itu, tapi dia tetap melakukan perintah Lala untuk melanjutkan pekerjaannya.


Lala sendiri tidak mengenali mobil itu.Dia tahu satu kecamatan ini tidak ada yang mempunyai mobil mewah seperti itu, termasuk keluarga Juna.Meraka memang memiliki mobil mewah tapi bukan model sedan seperti itu.Dan itu bukan juga mobil Adit.

__ADS_1


"Tau ah ... kenapa juga aku memikirkannya," gumam Lala.Tiba-tiba hpnya berbunyi, ada pesan masuk.


"Dari Adit," gumam Lala lirih.Dia ragu akan membaca pesan itu atau tidak.Akhirnya dia baca juga pesan itu.Jujur Lala sedikit merindukannya.


"Bagaimana kabarmu?"


"Aku baik.Kamu?"


"Tidak sebaik saat ada kamu."


Lala tidak membalas lagi.Dia tahu akan kemana ujungnya jika terus membalas pesan dari Adit.Selama ini Lala berusaha keras membatasi apapun yang berhubungan dengan Adit, termasuk teman-temannya di Plaza Z.Banyak sekali teman yang mengiriminya pesan.Mereka menanyakan kenapa dia tidak bekerja lagi di Plaza Z.Tapi Lala malas membalas pesan-pesan itu, karena dia tahu mereka hanya berpura-pura peduli.


Menurut Riris banyak rumor yang tidak baik beredar di kalangan pegawai tentang dirinya.Hanya Riris teman yang dia percaya saat ini.Riris juga lah yang memberi tahu apa yang terjadi di Plaza Z setelah kepergiannya.Dari Riris juga Lala bisa tahu kalau Adit belum pernah terlihat lagi di kantor sejak kepergian Lala waktu itu.


* * * *


Adit duduk terdiam di dalam sebuah mobil sedan mewah yang dia sewa dari hotel tempatnya menginap.Dia sudah tahu jika Lala sekarang membantu Ibunya di toko, jadi Adit mendatangi tokonya.Dia hanya ingin melihat gadis yang sangat dicintainya itu.Rasa rindunya sudah tidak bisa di puaskan hanya dengan memandangi foto Lala dari layar hpnya.


Ingin sekali Adit berlari menghampiri Lala.Memeluknya dari belakang atau sekedar menggodanya agar di bisa melihat wajah "manyun" yang sangat dia rindukan itu.Tapi Adit menahan dirinya.Dia sudah bisa mengerti sekarang, setiap langkah yang dia lakukan akan berimbas pada Lala.Jika dia menemui atau mendekati Lala lagi, maka Lala lah yang akan menerima resikonya, setidaknya begitu menurut Nyonya Andreas.


Adit mengambil handphone dari sakunya.Dia ingin menelfon Lala untuk mendengarkan suaranya, tapi dia urungkan niatnya.Akhirnya dia hanya mengirim pesan singkat.Setelah puas memandangi Lala dari kejauhan Adit meninggalkan tempat itu.


* * * *


Dua hari berlalu, dan selama dua hari pula sedan yang sama selalu parkir di seberang toko Lala.Seperti biasanya, mobil itu berhenti dan tidak ada seorang pun keluar dari dalam mobil.Hanya parkir beberapa lama, mungkin sekitar setengah jam kemudian pergi.


Mei melihat sedan itu pergi.Sedari tadi dia tetap memperhatikan mobil itu.Bukan karena dia tertarik, tapi karena rasa curiganya begitu tinggi hingga sebentar-sebentar dia melirik mobil itu di sela-sela kerjaannya.

__ADS_1


Mei mendekati Lala.


"Mbak, mobil yang tadi sudah pergi ...."


Lala menengok keluar."Terus kenapa Mei?" tanya Lala masih tidak paham kenapa Mei begitu tertarik pada mobil itu.Lala sudah terbiasa dengan kehidupan pusat kota dimana mobil seperti itu dianggap biasa.


"Apa Mbak Lala ngga curiga gitu?"


"Apa yang perlu dicurigai?"


"Kok Mbak Lala ngga peka sih? Aku berani taruhan, mobil itu besok pasti kembali ke sini," ucap Mei yakin.


"Seyakin itu kamu Mei?" Lala tertawa.Lala bisa memaklumi tingkah Mei karena dia masih begitu muda. "Yuuk taruhan ... Kalau besok mobil itu ngga datang, kamu harus beliin aku cilok di depan kecamatan," ucap Lala.


"Terus kalau mobil itu beneran datang?" tanya Mei.


"Kamu menang, aku yang akan beliin kamu cilok.Gimana ...? Setuju ...?"


"Ngga ah ... ngga seru.Gimana kalau besok mobil itu beneran datang, Mbak Lala samperin terus tanya kenapa dan perlunya apa?"


Lala terlihat menimbang-nimbang.


"Berani ngga Mbak Lala?" sahut Vira, ternyata sejak tadi di menguping pembicaraannya dengan Mei. "Jangan anggap ini taruhan, anggap aja game buat seru-seruan Mbak," lanjut Vira.


"Kalian nantang aku?" tanya Lala.


Kedua gadis itu mengangguk diiringi senyum sumringah.

__ADS_1


"Oke deal," balas Lala. "Tapi kalau besok mobil itu tidak datang kamu Mei ... " sambil menunjuk Mei, "harus beliin aku cilok depan kecamatan, dan kamu Vira harus beliin aku es buah dekat perempatan lampu merah.Setuju?"


"Oke!" jawab kedua gadis itu bersamaan dan mantab.


__ADS_2