
Selesai dari hotel X Lala tancap gas ke rumah orang tuanya.Seperti biasa, dia masuk melalui garasi yang langsung terhubung ke dapur dan ruang makan.Dia menemukan Mbak Dina dan Ibunya berada di sana membereskan sisa-sisa acara kemarin.
"Ciee... pengantin barunya sudah datang ... ' ucap Mbak Dina setelah melihat kehadiran Lala.
Lala hanya tersipu.Sementara Bu Mieke tersenyum melihat anak kesayangannya ini.Akhirnya dia terlepas dari status "perawan tua" yang selama ini disematkan oleh ibu-ibu komplek kepadanya.
"Kamu datang sendiri? Dimana suamimu?" tanya Bu Mieke.
"Nova sudah harus kerja Bu."
"Oh ... "
"Bapak dimana Bu?" tanya Lala kepada Ibunya.Begitu dekatnya Lala dengan Bapaknya hingga yang dia tanyakan pertama kali adalah bapaknya.
"Bapakmu tidur di kamar, sepertinya Bapak kecapekan."
"Oh ... ya sudah.Nanti saja aku menemui bapak.Aku bisa bantu apa?" Lala menawarkan bantuannya.
"Ngga usah, nanti kamu capek," balas Bu Mieke.
"Iya ... pengantin baru ngga boleh kecapekan," goda Mbak Dina lagi.
"Apa sih ... Mbak Dina godain terus?" Wajah Lala sudah bersemu sekarang.
"Ibu ngga pergi ke toko?"
"Tidak ... sepertinya Ibu mau istirahat di rumah dulu."
"Kalau begitu sebaiknya aku ke toko saja sekalian pamit sama anak-anak," ucap Lala kemudian.
"Pamit?" tanya Ibu heran.
"Iya Bu ... Aku sudah tidak bisa membantu Ibu di toko lagi mulai besok.Aku sudah diterima kerja di hotel X."
"Benarkah?"
Lala mengangguk.
"Kenapa buru-buru kerja? Kamu bisa terus membantu Ibu di toko kalau kamu mau.Toh nantinya toko itu juga akan jadi milikmu."
"Nanti saja Bu, sekarang biar aku dan Nova belajar mandiri dulu."
"Ya sudah, terserah kalian saja."
"Mbak Dina mau ikut ke toko ngga?"
"Sepertinya tidak, aku harus jemput Reyhan sekolah nanti."
"Oke ... kalau gitu aku pergi dulu."
Lala bergegas mengendarai motornya menuju toko.Sampai di toko teman-temannya menyambutnya dengan heboh.
__ADS_1
" Mbak Lala ..." teriak Vira dari dalam toko.
Mei yang sebelumnya tidak kelihatan batang hidungnya pun tiba-tiba muncul ikut berlari menyambutnya.Hanya Siti yang masih tenang di dalam toko tidak terbawa kehebohan kedua gadis ini.
"Kalian ini kenapa? Cuma beberapa hari ngga ketemu di toko sudah heboh begini.Kemarin kan kalian juga datang ke nikahan ku."
"Ya kan beda, Mbak Lala sekarang sudah menikah."
"Terus bedanya apa?" tanya Lala sambil berjalan memasuki toko sementara dua temannya terus mengekor di belakangnya.
"Ya beda lah, sekarang Mbak Lala sudah ada yang punya, secara sah!" Vira menekankan kata terakhirnya.
Lala menggeleng pelan, dia tidak mengerti maksud gadis ini.
"Selamat ya Mbak ...." sambut Siti setelah Lala berada di dalam toko.
"Makasih Siti..." balas Lala.
"Mbak ... gimana rasanya nikah? gimana rasanya malam pertama?" tanya Mei polos.
Ya Tuhan ... pertanyaan macam apa ini.
"Huusss ... !! Ngga sopan Mei nanya begitu! Sana lanjutkan pekerjaanmu saja!" sembur Siti.
"Kan ngga tau ... cuma nanya Mbak," gumam Mei lirih.Dia mengikuti saja perintah Siti.Faktanya, Siti lebih galak daripada Lala, yang punya toko.
Sementara Vira masih diam di tempat menunggui Lala.Dia masih ingin mengorek informasi mengenai suami Lala, atau sebaliknya.Lala yang mengorek berita dari Vira.
"Emang kenapa?"
"Ngga apa-apa, tau-tau nikah aja gitu."
"Menurutmu Nova gimana Vir?"
"Siapa? Suami Mbak Lala?" Sepertinya Vira lupa nama suami Lala.
"Iya ... siapa lagi?!"
"Oh ... Manis sih, kayak "berondong" tapi masih ganteng yang oppa-oppa itu," jawab Vira sambil nyengir.
Lala hanya tersenyum.Dia tidak tersinggung oleh kata-kata Vira karena memang benar adanya.
"Katanya Mas Nova cuma pegawai biasa, tapi kemarin iring-iringan mobil pengantinnya mewah semua.Bahkan yang ditumpangi Mas Nova sama kayak mobilnya oppa yang sering parkir di depan toko waktu itu.Pegawai biasa mana mungkin punya mobil seperti itu."
"Benarkah?"
"Kok balik nanya? Emang Mbak Lala ngga tau?"
"Mana aku tau Vira ... aku kan di dalam."
"Oh ... iya juga."
__ADS_1
"Mas Nova pasti kaya raya ya Mbak? Rumahnya pasti luas dan mewah.Benarkan?"
Eh ...? Rumah Nova? Jadi rumah Nova dimana? Waktu itu kan yang ditunjukkan padaku rumah majikan Oma.Jadi Nova sama Oma punya rumah atau tidak?Kenapa aku sampai tidak berpikiran sejauh itu?Bagaimana nanti jika bapak dan ibu yang bertanya? batin Lala.
"Nanti kapan-kapan aku ajak kamu ke sana."
"Beneran Mbak?"
"Tentu saja," jawab Lala asal.
Bagaimana aku mengajakmu ke sana kalau rumahnya saja aku tidak tahu.
"Vira, mungkin ini terakhir kalinya aku membantu di toko.Besok-besok mungkin aku kesini hanya untuk berkunjung saja." Lala mengalihkan pembicaraan.
"Mbak Lala mau kemana?"
"Aku sudah mulai kerja besok, jadi sudah tidak bisa bantu-bantu lagi."
"Oh ...." Singkat saja jawaban dari Vira, tapi terlihat jelas kekecewaan dari raut wajahnya.
"Ngga usah sedih, kita masih bisa ketemu.Aku akan sering-sering main kesini."
"Mbak Lala mau pergi?" Mei muncul lagi.Rupanya dari tadi dia menguping pembicaraan Lala dan Vira dari balik rak susun.
Lala hanya mengangguk.
"Ngga bisakah Mbak Lala tetap disini menemani kami?" rengek Mei.
Siapa yang menyangka, hanya dalam hitungan hari anak-anak ini bisa begitu dekat dengan Lala.
"Ngga bisa dong... aku juga harus punya penghasilan sendiri.Tidak bisa terus bergantung pada orang tua.Lagian aku sekarang kan udah punya suami, masa iya masih minta jatah dari orang tua?"
"Kalian kan masih bisa main ke rumah kalau ingin bertemu denganku."
"Memang Mbak Lala masih tinggal di rumah ibu?" Vira sudah terbiasa dengan Bu Mieke hingga menyebutnya ibu.
"Eh ... itu, aku sekarang tinggal sama Nova di kostan, tapi kan aku bisa sering-sering ke rumah ibu."
"Mbak Lala tinggal di kost?" tanya Vira sedikit terkejut.
"Iya ... Nova tidak kaya seperti yang kamu bayangkan, sudah ku bilang, Nova hanya pegawai biasa, makanya kami tinggal di kost." Lala seperti tahu isi pikiran Vira.
"Jadi yang dikatakan ibu-ibu komplek benar dong Mbak?"
"Ibu-ibu komplek bilang apa memangnya?"
"Ya ... itu ..." Vira sedikit ragu untuk mengatakannya. "masa pacaran sama Mas Juna yang kaya raya tapi dapat suaminya pegawai biasa?"
Lala dengan santai menanggapinya.Dia sudah terbiasa dengan omongan ibu-ibu komplek yang tidak pernah pada tempatnya.Selalu menganggap berita yang mereka dengar adalah yang paling benar dengan keakuratan melebihi portal-portal berita online.
"Itu yang namanya jodoh Vir ..., Ngga ada yang tau! Mau dikejar sampai kemanapun kalau ngga jodoh ya ngga bersama."
__ADS_1