
Lala membereskan ruangannya.Dia mengemasi semua barang-barangnya dan memastikan tidak ada satupun miliknya yang tertinggal.Dia keluar dari ruangannya dengan dagu yang dingkat dan senyum yang tersungging di bibirnya, seolah baru saja memenangkan perang besar.Entah kenapa dia justru merasa lega, seperti beban yang dipikul dipundaknya sudah berkurang.Tidak ada malu atau hina yang dia rasakan.
Jam makan siang sudah habis.Terlihat para pegawai berjalan di lorong untuk kembali ke ruangan masing-masing.Lala tetap bersikap ramah saat bertemu mereka di lorong kantor.Inilah yang orang-orang sukai dari Lala, keramahannya.
Adit mencoba menghalangi langkah Lala.Sepertinya dia tidak tahu insiden yang terjadi antara Mamanya dan Lala tadi.
"Kamu mau kemana?"
"Pulang mungkin," jawab Lala santai.
"Kenapa? Apa kamu tidak enak badan?" Adit sudah terlihat panik.
"Kamu lihat aku baik-baik saja." Lala terus melangkah.
"Kenapa kamu jadi aneh begini? Kamu kenapa sebenarnya?!"
Lala menghentikan langkahnya. "Aku ingin bicara denganmu? Kamu bisa keluar sebentar? Aku tunggu di taman kota."
Mungkin aku harus memberi tahu Bang Adit semuanya, apa yang sudah Nyonya Andreas lakukan padaku.Maafkan aku ... Aku tidak ingin merusak hubunganmu dan Mamamu, tapi aku juga tidak bisa membiarkan Mamamu berbuat seenaknya kepadaku dan keluargaku.
Adit berdiri mematung di tempatnya.Dia tidak mengerti sebenarnya apa yang sedang terjadi.Dari arah berlainan Nyonya Andreas muncul bersama Denise.Mereka segera mendekati Adit.
"Adit sayang ... kamu dari mana saja? Kami sudah mencarimu sejak tadi, lihatlah Denise sudah pulang dari London," ucap Nyonya Andreas.
"Hai Adit ..." sapa Denise.
Adit hanya melirik gadis itu sebentar kemudian pergi tanpa bicara sepatah kata pun pada mereka.
"Adit ..." panggil Nyonya Andreas.Tapi Adit tetap berlalu.Dia tidak menghiraukan Mamanya.
"Sabar ya Sayang ... Adit memang seperti itu.Kamu juga tau sendiri kan?" ucap Nyonya Andreas kepada Denise.
Denise mengangguk.
"Ma... sebenarnya apa hubungan gadis yang tadi dengan Adit? Lala, yang tadi mama kenalkan padaku?" tanya Denise.
__ADS_1
"Dia bukan siapa-siapa.Sudah ... jangan pikirkan apa yang kamu lihat tadi.Gadis itu pasti sedang berusaha menggoda Adit."
"Seharusnya Mama tidak perlu memecatnya, kalau memang gadis itu mencoba menggoda Adit cukup diberi peringatan saja.Bukankah Mama juga sudah mengenalkan aku padanya sebagai tunangan Adit? pasti dia tidak akan berani macam-macam," balas Denise.
"Jangan sepelekan itu Sayang ... Kamu tau kan? orang bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang dia inginkan," jawab Nyonya Andreas.
Kedua orang ini berjalan menuju ruangan Adit.Tapi ketika tiba di sana Adit tidak di ruangannya.
"Kemana lagi dia?!" gumam Nyonya Andreas menahan amarahnya.Sudah sejak tadi dia dan Denise mengelilingi kantor ini untuk mencari Adit.
* * * *
Adit melangkahkan kakinya dengan cepat menuju taman kota.Jarak taman kota dan Plaza Z cukup dekat, bisa ditempuh dengan jalan kaki saja.Sesampai di sana Adit mengedarkan pandangannya mencari Lala. Adit menemukan Lala duduk di tepi kolam.Pandangannya tertuju pada hamparan teratai putih yang memenuhi kolam di depannya.Adit mendekatinya lalu duduk di samping Lala.
Lala menoleh menyadari ada seseorang duduk di sampingnya.Dia kembali memandangi kolam setelah mengetahui siapa yang ada di sampingnya saat ini.
"Kamu kenapa?" tanya Adit datar.
"Lihatlah Bang ... bunga teratai itu indah sekali." Lala terlihat takjub. "Aku jarang sekali duduk di sini, biasanya aku duduk di sebelah sana dan memandangi air mancur itu." Lala bicara sambil tangannya sibuk menunjuk apa yang dia maksud.
Adit hanya meperhatikan gadis di sampingnya ini bicara.Dia merasa gadis ini bukanlah gadis yang biasanya dia kenal.
Lala terdiam.Raut wajahnya berubah.
Haruskah kuceritakan semuanya? Dia pasti akan sangat marah kepada Mamanya.
"Berjanjilah padaku kamu tidak akan marah!" ucap Lala.
"Aku tidak bisa berjanji," balas Adit santai.Dia mencoba menggoda Lala.
Lala menoleh, "Bang ... berjanjilah dulu!" Lala memohon.
"Tidak, aku tidak bisa janji.Kamu tahu aku pasti akan marah jika ada apa-apa menyangkut dirimu."
"Kalau gitu aku ngga mau bicara," balas Lala tak mau kalah.
__ADS_1
"Hei ... kenapa bisa begitu?! Baiklah, aku janji tidak akan marah." Kenapa kamu selalu membuatku gemas? Kamu pasti sudah habis jika kita hanya berdua saja di sini.
"Mulai besok aku sudah tidak kerja di Plaza Z lagi.Mamamu sudah memberhentikan aku." Lala mulai bicara.
"Apa yang kamu katakan? Itu tidak mungkin!" Adit sangat terkejut.
"Tapi itu yang terjadi." Lala melihat Adit mulai emosi.Dia meraih tangannya. "Kamu sudah janji tidak akan marah," ucap Lala pelan sambil menatap dalam mata Adit.Dia tahu cara ini bisa meredakan amarah Adit.
"Apa karena Denise melihat kita tadi?" tanya Adit.
"Mungkin," jawab Lala."Kamu harus tau Bang... Mamamu sudah dua kali menemuiku dan memperingatkan aku agar menjauhimu.Dia juga menemui Bapak dan mengatakan hal yang sama, karena itulah Bapak terkena serangan jantung" lanjutnya.
Lala tetap menggenggam tangan Adit, mencegahnya agar tidak marah.Adit sangat terkejut mendengar ini semua.Rasanya dia tidak ingin percaya apa yang dikatakan Lala.Tapi Adit sangat mengenal Mamanya, dia tahu Mamanya sanggup melakukan itu semua.
"Maaf ... maafkan aku ...." hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut Adit.
"Kenapa minta maaf? Ini bukan salahmu," balas Lala, "Lihatlah... aku baik-baik saja.Bapak juga sudah sehat, nanti sore Bapak sudah boleh pulang." Lala mencoba mengurangi rasa bersalah Adit karena ini memang bukan salahnya.
"Sekarang kamu bisa mengerti kenapa kita harus mengakhiri hubungan kita? Kita sama-sama tau, Mamamu bisa berbuat lebih jauh lagi.Aku bisa tahan dengan semua yang dia lakukan padaku.Tapi aku tidak bisa terima jika sampai terjadi sesuatu sama Bapak lagi, atau mungkin sama keluargaku yang lain."
"Tapi aku tidak bisa.Aku tidak bisa jauh darimu.Saat ini kamulah hidupku." Adit terlihat putus asa.
"Jangan egois Bang... kalau kamu ingin melihatku baik-baik saja, maka menjauhlah dariku.Dan ingat, jangan marah kepada Mamamu.Jika kamu marah padanya maka dia akan melampiaskannya padaku.Berjanjilah padaku!"
Adit memalingkan wajahnya.Dia sangat malu atas apa yang sudah Mamanya lakukan kepada Lala.Selain itu dia juga tidak bisa membiarkan Lala melihatnya meneteskan air mata.
"Hei... kamu ini bocah tua nakal! Jangan menangis." Suara Lala bergetar.Dia mencoba tersenyum tapi air mata juga menetes di pipinya.Lala meraih wajah Adit, membuat mereka saling bertatapan.Tangan kecilnya mengusap pipi Adit pelan, menghapuskan air mata yang membasahinya.
"Ini juga tidak mudah bagiku.Berapa kali aku berharap agar dipertemukan denganmu sejak dulu, saat hatiku belum menjadi milik orang lain.Tapi inilah jalan kita."
Tangan Adit juga menyeka air mata Lala yang terus menetes.Lala memeluk Adit erat.Momen ini terasa mengharu biru bagi mereka.
"Maaf ... maafkan aku sudah menyakitimu.Maafkan aku harus mengakhiri ini semua," ucap Lala. Beberapa saat kemudian dia melepaskan pelukannya, dan kembali memandangi wajah Adit.
"Tersenyum lah Bang ... mungkin ini terakhir kalinya aku melihatmu tersenyum.Kita berdua tahu, kamu hanya bisa tersenyum denganku," ledek Lala masih dengan tangisnya.
__ADS_1
Adit tersenyum getir.Kemudian Lala mengecup Adit tepat di sudut bibirnya, membuat Adit ingin meraih bibir Lala seluruhnya dengan bibirnya.Tapi Lala segera menarik bibirnya kembali.
"Don't cry big guy !" ucap Lala sambil melangkah meninggalkan Adit.