
Minggu pagi, hari ini Lala libur kerja.Ini sudah jam 9 tapi dia masih bermalas-malasan di kamarnya.Bapak ibunya sudah berangkat ke toko, sedangkan Reyhan dan mama papanya juga sudah berangkat ke toko mebel mereka.Jadilah Lala hanya di rumah bersama mbok Warni, ART di rumah Lala.
Mbok Warni sudah bekerja di rumah Lala sejak Lala masih kecil.Mbok Warni juga lah yang mengasuh Lala ketika masih kecil.Tak heran dia sudah dianggap seperti keluarga di rumah ini.Dulu Mbok Warni bekerja dari pagi hingga sore hari.Tapi semenjak Lala SMA Mbok Warni bekerja hanya sampai siang hari.Begitu pekerjaannya bersih-bersih selesai dia langsung pulang.
Lala mengotak-atik hpnya sambil tiduran.Dia membaca lagi pesan-pesan yang dikirim Adit semalam.Lala hanya membacanya, dia tidak ingin membalasnya.Jauh di dalam hatinya Lala kasihan pada Adit jika terus bersikap begini padanya.Lala tahu hanya dialah satu-satunya teman bicara Adit.Lala tahu Adit sulit sekali berkomunikasi dengan orang lain.Di balik sikap dingin dan angkuhnya, dia adalah laki-laki rapuh yang hanya ingin dimengerti.
"Sebenarnya aku sendiri tidak tahan berlama-lama mendiamkanmu seperti ini bang... Tapi aku sudah berjanji pada mamamu. Selain itu ada perasaan yang harus ku jaga, perasaan tunanganmu.Tentang Denise, aku sama sekali tidak cemburu terhadapnya.Aku hanya takut dia tidak bisa memahami hubungan kita.Hubungan yang tidak jelas ini."
"Aku menyukaimu, aku juga memujamu tapi entah kenapa aku tidak ingin terikat hubungan denganmu.Aku senang bersamamu tapi aku tidak ingin memilikimu.Anggap saja aku egois tapi inilah yang kurasakan.Aahh... kenapa jadi serumit ini," Lala mendesah.
Tiba-tiba mbok Warni berteriak dari luar kamarnya.
"Mbak Lala ada yang nyari.. !"
"Siapa Mbok.. ?" Lala balas berteriak dari dalam kamarnya.
"Ngga tau namanya Mbak, yang tampan kaya artis korea itu lho Mbak, yang mukanya ngeselin tapi nggemesin.. " Mbok Warni masih berteriak.
"Pasti Adit...! Harusnya aku menjauhinya tapi kenapa dia malah ke sini " batin Lala.
Lala bangun, menggulung rambutnya ke atas dan mengikatnya asal.Kemudian dia keluar untuk menemui Adit.
"Hai bang... tumben pagi-pagi sudah ke sini?" Lala mencoba bersikap biasa.
Adit memandang Lala dari kepala hingga ujung kaki.Rambutnya yang diikat ke atas memperlihatkan leher putihnya.Lala hanya mengenakan baju tidur lengan pendek dan celana pendek yang memperlihatkan kakinya yang mulus.Tapi Adit justru terpana melihat Lala seperti ini.Penampilan khas orang baru bangun tidur.Ini membuatnya semakin terlihat imut.
Gadis lain mungkin akan membenahi penampilannya dulu sebelum bertemu Adit.Mungkin 10 menit untuk membenahi alis, atau sekedar merapikan rambut.Tapi Lala tidak memerlukan alis, dia juga tidak peduli dengan rambutnya yang berantakan.Inilah yang disukai Adit dari Lala, apa adanya.
"Kamu kelihatan pendek sekali... seperti anak kecil."
Entah kenapa kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Adit.
"Koreksi kata-katamu bang.. aku tidak seperti anak kecil, aku baby face " Lala memberikan penekanan pada dua kata terakhirnya.
Adit tersenyum, sepertinya Lala sudah tidak mendiamkannya.
"Masuklah.. "
Adit segera masuk.
__ADS_1
"Silahkan duduk, mau minum apa?"
"Teh manis boleh?"
Lala mengangguk.
"Tunggu sebentar."
Tak lama Lala kembali membawa secangkir teh untuk Adit.
"Silahkan.. " Lala menyerahkan cangkir itu pada Adit.
Hening sejenak.
"Kamu masih marah padaku?" Adit mulai bicara.Ada suasana canggung di antara mereka berdua.
"Sudah ku bilang aku tidak marah padamu."
"Maafkan aku.. " Adit berkata lirih.
Mungkin ini pertama kalinya dia minta maaf kepada seseorang.
"Kami sudah lama bertunangan, mungkin sudah beberapa tahun aku tidak ingat.Aku tidak begitu mengenalnya.Aku juga tidak mencintainya.Ini keinginan orang tua kami.Kamu tau sendiri lah, ini semacam kepentingan bisnis bagi mereka." Adit mulai menjelaskan.
"Kenapa? Karena aku tidak punya tujuan hidup waktu itu.Hidupku hampa dan seperti tidak ada artinya.Aku tidak peduli ketika mereka menjodohkanku.Itu tidak ada artinya bagiku."
Adit menghirup nafas dalam.
"Tapi itu dulu, jauh sebelum aku mengenalmu.Pelan-pelan kamu mengubah hidupku menjadi bermakna dan penuh warna.Kamu membuatku mempunyai tujuan hidup.Butuh waktu lama bagiku untuk menyadari apa yang sebenarnya kurasakan padamu."
Lala tidak tahu harus berkata apa.Ini tidak seperti Adit yang biasanya.Nada bicaranya lembut, raut wajahnya tenang, Adit tampak dewasa.Tapi ini justru membuat Lala takut.
"Penjelasanmu itu tidak merubah fakta kalau kamu sudah membohongiku.Kamu sudah tunangan, itu fakta.Tapi kamu tetap menyatakan cintamu padaku, itu membuatku tampak bodoh.Entah kamu mencintainya atau tidak, kamu adalah tunganan seseorang.Jika waktu itu aku menerima cintamu maka aku adalah perusak hubungan orang.Aku yang akan disalahkan, aku yang akan tampak buruk di mata orang, dan pasti mereka akan menyebutku pelakor.Apa sekarang kamu bisa mengerti posisiku?"
"Aku ingin menikah denganmu."
"Bang...!!! Jangan gila...!!!" Lala hampir berteriak.
"Kita bisa tinggal di luar negeri dan membangun keluarga kecil di sana."
__ADS_1
"Jangan mimpi..!! Apa kamu sadar dengan yang baru saja kamu katakan?!"
Adit diam, tatapan matanya kosong.
"Jangan cuma memikirkan dirimu sendiri, pikirkan juga perasaan tunanganmu, bagaimana orang tuamu, bagaimana orang tua Denise."
Adit masih diam, entah dia mendengarkan kata-kata Lala atau tidak.
"Kita sudah tidak bisa seperti dulu bang, jangan mendekatiku lagi.Ini demi kebaikan kita semua terutama diriku sendiri.Aku tidak mau dianggap sebagai perempuan tidak baik karena merusak hubunganmu dan Denise."
"Tidak..! Aku tidak bisa!" Adit berdiri kemudian berjalan mendekati Lala.Dia berlutut di depan Lala.Kini mata mereka bertemu.
"Jangan menghindariku.Aku tidak bisa jauh darimu." Adit memeluk Lala erat.
"Kalau kamu tidak mau menjadi pacarku, tidak mau menikah denganku tidak apa-apa.Tapi jangan menjauhiku, jangan menghindariku.Aku tidak bisa jauh darimu.Kita tetap bisa seperti dulu jika itu yang kamu inginkan.Kumohon tetaplah seperti ini." Adit berbisik di telinga Lala.
Lala membalas pelukan Adit.Bagaimanapun juga dia merasakan kenyamanan bersama pria ini.
"Entah perasaan apa yang kurasakan padamu, aku sendiri tidak tahu.Sudah cukup luka yang Juna goreskan di hatiku, aku tidak ingin memberi kesempatan untuk membuka luka baru," batin Lala.
"Tapi aku sudah berjanji kepada nyonya Andreas untuk menjauhimu," Lala berbisik di telinga Adit.
"Jangan pikirkan dia.Kita jalani saja"
Lala merasakan nafas Adit di lehernya.Lala segera mendorong Adit.Adit melepaskan pelukannya.
"Jangan mencuri-curi kesempatan..!" Lala menggertak.
"Mencuri kesempatan apa?" Adit pura-pura tidak mengerti.
"Kamu menciumi leherku tadi," Lala mulai mengomel, bibirnya sudah manyun.
"Siapa yang menciumi mu? Lihat saja kamu bahkan belum mandi, mana mungkin aku menciumi mu.Dasar jorok!" Adit pura-pura bergidik padahal yang di tuduhkan Lala benar adanya.
Mereka sudah kembali seperti anjing dan kucing.Ini pertanda kehidupan normal sudah kembali.Adegan melow-melow an sudah selesai.
Lala melihat dirinya sendiri.
"Oh... kamu benar.Sebaiknya aku mandi." Lala berdiri menuju kamar mandi tanpa menghiraukan Adit.
__ADS_1
"Bagaiman denganku? kamu meninggalakan ku begitu saja?" Adit berteriak karena Lala sudah tidak terlihat.
"Terserah.. !!" Lala balas berteriak dari dalam kamar mandi.