
Juna berjalan mendekati Lala setelah kepergian Adit.
"Siapa itu tadi?" tanya Juna.
"Bukan urusanmu!" jawab Lala ketus.
"Sayang ... Aku tadi ke rumah ingin melihat keadaanmu, tapi Bapak bilang kamu di toko," Nada bicara Juna sudah melunak.Dia berjalan semakin mendekati Lala.
Juna berusaha terlihat tenang walaupun sebenarnya tengah terbakar api cemburu.Dia tidak menyangka Lala bisa berpaling darinya.Selama ini dia sangat yakin Lala tidak akan bisa dekat dengan pria lain selain dia.Tapi ternyata Lala sudah gandengan baru yang tak kalah tampan dan kaya darinya.Dan mereka terlihat cukup dekat.Bahkan Lala berani berpelukan dengan pria itu di depannya.Juna merasa seperti mainannya direbut orang.Dia tidak terima dan akan mempertahankan mainannya.
"Ayo, temani aku makan siang," lanjut Juna.Suaranya mulai melunak.Dia paham betul Lala tidak bisa mendengar nada kasar sedikit saja darinya.
"Tidak bisa.Aku sibuk!"
"Sebentar saja sayang ....Kalau kamu tidak mau aku tidak akan pergi dari sini."
"Kenapa sekarang kamu baru menemuiku? Kemarin-kemarin kemana?" tanya Lala gusar.Dia memalingkan wajahnya dari Juna.
"Ngga usah marah-marah gitu, kamu tau aku semakin gemas jika melihatmu marah," ucap Juna diiringi senyumannya yang menawan.
"Ayolah, sebentar saja," bujuk Juna lagi.Tatapannya tetap hangat walaupun Lala sudah memperlakukannya dengan buruk.
"Ngga mau!" balas Lala sinis.
Juna langsung meraih tangan Lala dan menariknya pelan. "Kalau tidak mau aku akan bilang ke Bapak soal kejadian semalam," bisik Juna kemudian.
Barulah Lala menoleh ke Juna. "Jangan coba-coba memberitahu Bapak!" ancam Lala.Juna hanya mengedikkan bahunya.
"Baiklah, aku akan menemanimu makan siang," lanjut Lala terpaksa.Mereka berdua pergi setelah Lala pamit kepada teman-temannya di toko.
Sementara itu ada dua gadis muda yang dari tadi melongo sambil berhalusinasi tingkat tinggi, menyaksikan adegan demi adegan di depan mata mereka.
"Mbak Lala beruntung banget ya diperebutkan dua cowok cakep," ujar Mei.
"Wajarlah, Mbak Lala juga cantik," balas Vira."Kalau aku jadi Mbak Lala, pasti bingung mau milih yang mana," lanjutnya.
__ADS_1
"Yang satu mirip oppa-oppa, satunya lagi mirip artis Hollywood, aku yang bukan Mbak Lala aja bingung mau pilih yang mana," ucap Mei polos.
* * * *
Di taman kota...
Lala duduk termenung di tempat favoritnya, sambil memandangi air mancur hotel dari kejauhan.Dia menikmati senja yang terasa begitu syahdu di taman ini.Dia memikirkan semua kejadian yang sudah menimpa dirinya.Lala memerlukan waktu sejenak untuk menetralkan pikirannya.Tidak bisa dipungkiri pertemuannya dengan Juna membuat keyakinannya goyah.Pria itu selalu bisa mengambil hatinya.Lala bahkan bisa melupakan penghianatan yang sudah Juna lakukan dalam sekejap saja.
Tapi jika Lala kembali kepada Juna pun belum tentu akan lebih baik keadaannya.Karena setelah menghilang beberapa lama tetap tidak merubah sikap Juna.Dia masih belum bisa memutuskan kapan akan menikahi Lala.Dan itu sama saja Lala hanya akan buang-buang waktu lagi menanti kepastian dari Juna.
"Kamu sedang memikirkan apa?" Tiba-tiba suara seorang pria mengagetkan Lala.Pria itu kini duduk di samping Lala.
"Hai Nova ...." sapa Lala.Dia memandang ke air mancur lagi setelah mengetahui siapa yang ada di sampingnya.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Nova lagi.
"Aku baik Nova, terima kasih."
"Sudah beberapa hari aku tidak melihatmu di tempat kerja.Apa kabar itu benar?"
Aku sudah bertemu Nova tiga kali di sini, secara tidak sengaja.Apakah berarti kami berjodoh?
"Aku punya beberapa kenalan di hotel itu, mungkin kamu mau bekerja di sana, aku bisa membantumu." Nova menawarkan bantuannya.
"Benarkah?"
Nova mengangguk.
"Akan kupikirkan dulu, sekarang aku masih fokus membantu bapak ibu di toko."
Baik Lala maupun Nova terdiam.Mereka larut dalam pikiran masing-masing atau lebih tepatnya masalah masing-masing.
"Nova ... " Lala tidak melanjutkan kalimatnya.
Nova menatap Lala, dia menunggu Lala meneruskan kalimatnya.
__ADS_1
"maukah kamu menikahiku?" lanjut Lala.
"Kamu sungguh-sungguh?" tanya Nova tak percaya.
Lala sendiri tidak tahu bagaimana kalimat itu bisa keluar begitu saja dari mulutnya.Dia hanya ingin terlepas dari Juna dan juga Adit, dan di benaknya hanya ini satu-satunya cara.
"Kamu yakin dengan pertanyaanmu? Aku memang berjanji akan menerimamu kapanpun, aku juga bersedia menikahimu kapanpun kamu minta.Tapi itu harus dengan keyakinanmu.Aku tidak mau kamu menyesal nantinya."
Lala mengangguk.
Nova tersenyum.Dia memang tidak setampan Juna ataupun Adit, dan juga bukan orang kaya tapi setidaknya dia tulus.
"Baiklah, beri aku waktu kurang lebih satu bulan, aku akan mempersiapkan semuanya.Tapi aku perlu mengingatkanmu kalau aku tidak berasal dari keluarga kaya, dan aku hanya pegawai biasa.Mungkin nanti aku tidak bisa memberi apa yang kamu inginkan," ujar Nova.
Lala menatap Nova, dia menghargai kejujuran Nova.
"Kamu mengenalku Nova, aku tidak pernah mempermasalahkan materi."
"Kalau begitu aku pergi dulu.Aku harus mempersiapkan semuanya mulai dari sekarang," balas Nova penuh semangat.Dia berusaha menyembunyikan wajahnya yang sedang bahagia tidak terkira.Wanita yang dia puja sejak dulu meminta untuk dia nikahi.
"Tunggu Nova .... satu hal lagi," ucap Lala pelan.
"Apa itu? Katakan saja," balas Nova.
"Jika aku katakan padamu aku sudah tidak pe*awan, apakah kamu masih mau menikahiku?" tanya Lala ragu.
Nova diam tidak menjawab.Tapi tidak ada perubahan dari raut wajahnya.
"Aku pergi dulu," ucapnya kemudian sambil berlalu meninggalkan Lala.
"Nova ..." panggil Lala.Tapi Nova tetap berjalan menjauh dari Lala tanpa menjawab pertanyaan terakhir darinya.
Bagaiamana ini? Aku yang sudah meminta untuk dinikahi dan aku juga bilang aku sudah tidak pe*awan.Apa dia masih mau menikahiku? Apa sekarang dia menganggapku wanita murahan?
Lal bingung sendiri.Mungkin tadi dia terlalu gegabah dalam bicara.Tapi dia tidak bisa menarik kembali kata-katanya sekarang.Dan Nova pergi tanpa menjawab pertanyaan terakhirnya.Jadi, Nova mau menikahinya atau tidak?
__ADS_1
Lala pasrah jika nanti Nova tidak jadi datang untuk menikahinya.Setidaknya dia tahu sedalam apa ketulusan Nova padanya.Sekuat apa Lala mengejarnya kalau tidak jodoh maka tidak akan menjadi miliknya.