Menikah Tak Harus Cinta

Menikah Tak Harus Cinta
Sarapan


__ADS_3

Sudah hampir jam 10 malam, tapi Nova belum juga pulang.Sejak meninggalkan kamar Oma tadi, yang Lala ingin lakukan saat melihat Nova nanti adalah memeluknya.Rasanya dia ingin menangis mendengar seluruh cerita Oma.Tak menyangka jika hidup Nova serumit itu.Tapi sampai sekarang Nova belum pulang juga.


Hingga pada pukul sebelas malam barulah Lala mendengar suara motor Nova.Dia segera berlari turun dari kamarnya, dan menghampiri Nova yang sedang memarkir motor sportnya.


"Kamu belum tidur?" tanya Nova.Sebenarnya dia tahu Lala belum tidur terlihat dari lampu kamar yang masih menyala yang terlihat jelas dari halaman.


Lala hanya menggeleng.


"Lalu kenapa sampai berlari menyambutku? Apa kamu sudah merindukanku?" tanya Nova diiringi senyum jahilnya.


"Ah ... ngga jadi!" Tadinya dia ingin berlari dan memeluk Nova seperti yang sudah dia bayangkan sejak siang tadi.Tapi Nova sudah lebih dulu menggodanya hingga belum apa-apa pipinya sudah merona.Akhirnya dia memasang wajah manyun dan berbalik hendak meninggalkan Nova.Tapi Lala kalah cepat, Nova sudah lebih dulu menarik pergelangan tangan Lala hingga dia jatuh ke pelukannya.


Sebenarnya Lala agak kurang nyaman mengingat mereka sedang di halaman rumah dan ada sekuriti yang sedang berjaga.Tapi akhirnya Lala membalas pelukan Nova.Untuk beberapa saat pasangan ini diam.Lala memeluk Nova rasanya dia ingin sekali mengatakan "Bagilah beban mu padaku," tapi dia tahan.


"Kamu kenapa?" bisik Nova.Dia menyadari ada yang sesuatu dengan istrinya itu.Nova mulai mengelus rambut panjang Lala.


Lala masih terdiam. "Ngga tau ... PMS mungkin," jawab Lala asal.Hanya itu terlintas di benak Lala.Tidak mungkin dia bilang ke Nova jika Oma sudah menceritakan semuanya kepadanya.


"Kalau begitu aku harus bergegas sebelum tamunya datang," ucap Nova diiringi seringai nakal.


Sontak Lala mendorong tubuh Nova.Wajahnya semakin merah.Dia segera berlalu meninggalkan Nova.


"Besok aku akan pergi ke suatu tempat.Kamu mau ikut?" tanya Nova sudah berjalan di samping Lala.


"Kamu tidak ke peternakan atau pabrik?"


Nova menggeleng. "Tidak ...."


"Baiklah, aku ikut." Lala terlihat senang.Selama ini dia hanya diam di dalam rumah, hingga membuatnya bosan.Dia hanya keluar rumah dengan Vania itupun jika anak itu sedang tidak ada kerjaan.


"Aku akan membersihkan badanku dulu." Nova segera melepaskan pakaiannya setelah mereka sampai di dalam kamar.Sementara itu Lala duduk di tepi tempat tidur sambil memainkan ponselnya.Dia menunggu Nova selesai dengan urusannya.Dia sedang berusaha menjadi istri yang baik untuk Nova.Tak berapa lama Nova sudah keluar dari kamar mandi.


"Kamu ingin makan? Biar aku siapkan," ucap Lala tanpa melihat ke arah Nova.Dia masih fokus dengan ponselnya.


"Ya, aku ingin memakan mu," jawab Nova yang tiba-tiba sudah berdiri di depan Lala hanya dengan melilitkan handuk di tubuh bagian bawahnya.


Lala mendongak menatap Nova, dia jadi salah tingkah.Tanpa berkata apa-apa, mulai lah Nova melahap tubuh Lala.


* * * *


Nova masih belum bangun sementara Lala sudah bersiap-siap dari tadi.Dia sudah tidak sabar untuk segera pergi entah kemana seperti yang dijanjikan Nova.


"Nova ... bangun... ! Jam berapa kita akan pergi?"

__ADS_1


Nova tidak juga bangun.Dia masih terlelap.Akhirnya Lala menggoyang-goyangkan tubuh Nova, berharap dia segera bangun.Nova hanya menggeliat.Sepertinya dia kekenyangan setelah melahap tubuh Lala semalaman.


"Boleh aku tidur sebentar lagi?" ujar Nova dengan mata yang masih tertutup.


"Tidak! Kamu sudah janji akan mengajakku pergi!" balas Lala tegas. "Jangan bilang kamu hanya memberiku janji palsu agar kamu bisa ..." Lala tidak melanjutkan kalimatnya.


Nova membuka matanya dan tersenyum nakal menatap Lala. "Bisa apa? Kenapa tidak dilanjutkan?"


Lala kesal pagi-pagi Nova sudah menggodanya.Dia dia melemparkan bantal ke kepala Nova. "Temani aku sarapan.Oma sudah pergi pagi-pagi tadi," ucapnya sambil berlalu dari hadapan Nova.


"Aku ingin kamu saja sebagai sarapanku saja," teriak Nova kepada Lala yang sudah hampir membuka pintu kamar.


"Jangan harap!" Lala tetap membuka pintu dan meninggalkan Nova di kamar.


Tak berapa lama Nova sudah rapi dan menyusul Lala di meja makan.


"Kenapa belum makan?"


"Aku menunggumu."


"Bukankah kamu tau aku tidak makan?"


"Kalau begitu aku juga tidak makan."


"Kenapa? Kamu sakit?"


"Kenapa bisa gitu?"


"Tidak usah banyak tanya.Duduk dan makanlah!" Lala menyiapkan piring dan mengambilkan nasi untuk Nova.


Nova menuruti saja perkataan Lala.Dia duduk tenang menatap piring berisi makanan di depannya.


"Kenapa hanya di lihat saja? Cepat di makan!"


Tapi Nova justru mengambil cangkir dan menyeruput kopi seperti biasanya.


"Bagaimana lambung mu bisa bertahan dari itu?" Lala mengarahkan matanya ke cangkir yang sedang di pegang Nova. "Bukankah kamu punya asam lambung?"


"Aku sudah sembuh," balas Nova.


"Bagus kalau begitu.Cepat habiskan sarapan mu lalu kita berangkat."


Nova mengambil sendok dan mulai makan.Baru beberapa sendok dia berhenti.

__ADS_1


"Aku sudah kenyang."


"Tidak.Habiskan dulu!" Akhirnya Lala mengambil sendok di piring Nova hendak menyuapinya.Lala mengarahkan sendok ke mulut Nova tapi dia memalingkan wajahnya dan menutup mulutnya rapat-rapat.


Diam-diam Siska memotret kebersamaan dua orang ini dari kejauhan dan mengirimkannya kepada Oma.


"Oma, kamu pasti senang melihat ini," batin Siska.Ini seperti adegan emak-emak menyuapi anaknya yang susah makan.


"Buka mulutmu!" perintah Lala galak, masih dengan sendok penuh makanan di tangannya.


"Aku sudah bilang, aku kenyang!" balas Nova tak mau kalah.


Lala sudah kehabisan kesabaran.Dia meletakkan lagi sendok itu. "Makan itu atau nanti malam kamu tidak akan mendapat jatah makan malam dariku!" ancam Lala.


Mendengar ancaman Lala, Nova langsung mengambil sendok dan dengan cepat menghabiskan makanannya. "Habis!" ucap Nova sambil menunjukkan piringnya yang sudah kosong.


"Jadi, kalau aku makan sehari tiga kali apa aku juga mendapat jatah darimu tiga kali sehari?" tanya Nova sambil mengangkat alisnya.Seringai nakal sudah muncul di wajahnya.


Lala mengacuhkan pertanyaan Nova.Dia pura-pura tidak mendengarnya dan fokus pada makanan di piringnya sendiri.


"Aku sudah menghabiskan sarapanku.Bolehkah aku meminta jatah pagi ku sekarang? Kita bisa kembali ke kamar sebentar." Nova masih berusaha.


Belum sempat Lala menjawab, Siska mendekati mereka.


"Tuan, semua yang anda minta sudah siap."


Nova mengangguk. "Panggil Nova saja.Tidak ada orang lain di sini." Siska sudah lama menjadi asisten Oma.Dia sudah cukup dekat dengan keluarga Nova hampir seperti Viviane.Hanya saja, hampir setiap hari dia menemani Oma kemanapun Oma pergi, karena itu dia jarang bertemu Nova maupun Lala.


"Terserah kamu saja." Siska mengalihkan pandangannya ke Lala, "Selamat pagi Non Lala."


"Panggil Lala saja."


"Terserah kalian saja," gerutu Siska. "Aneh! Kalian kan memang majikan ku." Siska menunjukkan sikap aslinya.


"Mari sarapan bersama kami."


"Terima kasih, tapi aku sudah sarapan tadi."


"Kemana Oma, kamu tidak ikut dengannya?"


"Tidak tau, sepertinya Oma sedang ingin sendirian."


Lala tidak percaya.Tidak mungkin Siska tidak tahu kemana Oma pergi.

__ADS_1


"Aku sudah meminta sopir mengantarkan barang-barang yang kamu minta ke tempat tujuan.Kalian tinggal menyusul ke sana saja."


Nova mengangguk.Seperti biasanya, Nova minim bicara selain dengan Lala.


__ADS_2