Menikah Tak Harus Cinta

Menikah Tak Harus Cinta
Bang Adit


__ADS_3

Lala belum bisa menenangkan dirinya.Pikirannya kosong tidak tahu harus berbuat apa.Saat ini dia berharap ada seseorang yang dia kenal untuk membawanya keluar dari tempat itu.Gadis itu memandangi hpnya,tangannya masih gemetar, berkali-kali dia mengedipkan mata menahan agar tidak ada air mata yang menetes karena ini di tempat umum.


"Hehh... Jelek! Udah sore bukannya pulang malah nongkrong di sini!"


Lala tidak sadar ada seorang pria berdiri di samping tempatnya duduk sekarang.Lala menoleh menatap wajah pria itu kemudian meraih tangannya dan menggenggamnya erat.Dia ingin sekali memeluk pria ini untuk meluapkan apa yang sedang dia rasakan, tapi dia tahan.Hanya kata-kata lirih yang keluar dari bibirnya.


"Bang Adit...."


Pria yang dia sebut bang Adit ini segera duduk di depannya.Melihat mata Lala yang berkaca-kaca pria ini sudah bisa membaca situasinya.Dia meminta dua orang temannya meninggalkannya bersama Lala.


"Kamu ngga apa-apa?" Adit bertanya pelan.


Lala hanya diam.


" Mau kuantar pulang?" Dia bertanya sambil tetap membiarkan Lala menggenggam tangannya.


Lala hanya menggeleng.Lidahnya kelu, sulit sekali untuk berbicara.


"Kalau begitu kita pulang ke rumahku." Adit berkata dengan lembut.Lala hanya mengangguk pelan.


Adit memanggil salah satu teman yang tadi datang bersamanya.Dia memberikan kunci mobilnya kepada orang itu dan memintanya untuk membawa mobilnya, sementara dia akan pulang bersama Lala dengan motornya.


Di perjalanan Lala tidak berhenti menangis.Air mata yang dari tadi dia tahan akhirnya dia biarkan mengalir deras di pipinya.Dia mendekap Adit dari belakang, menyandarkan kepalanya di punggung laki-laki itu.Adit hanya diam saja, membiarkan Lala meluapkan emosinya.Dia fokus mengendarai motor Lala.


* * * *


Setelah lebih tenang Lala menceritakan semuanya kepada Adit.Lelaki itu hanya diam mendengarkan.


Adit adalah kepala Divisi Marketing.Jabatannya sama-sama tinggi dengan Lala.Selain itu dia adalah anak dari pemilik Plaza Z tempat Lala berkerja.Jadi bisa dibilang Adit bekerja di perusahaan ayahnya, yang nantinya akan menjadi miliknya.Lala dan Adit sangat dekat.Hubungan mereka sulit untuk dijelaskan.Adit memperlakukan Lala bak kekasihnya saat mereka bersama dan Lala menikmati perlakuan Adit terhadapnya.Lala tahu Adit adalah seorang player.Lala pikir Adit pasti berlaku manis terhadap semua wanita cantik.Jadi menurutnya perlakuan Adit terhadapnya tidaklah istimewa.Lala hanya menganggapnya seperti kakaknya.


"Aku ingin sekali menghajar nya." Adit kesal.


"Ngga usah bang, aku ngga mau kamu kena masalah."


"Tapi dia harus diberi pelajaran.Kalau saja aku tadi melihatnya." Adit bicara sambil mengepalkan tangannya.


"Biarin aja, aku udah pasrah."


"Lagian kenapa tadi kamu diam saja? Harusnya tadi kamu datangi mereka kamu tampar atau apa gitu, jangan diam saja." Adit masih menggebu-gebu.

__ADS_1


"Lebay ah... nanti seperti adegan di senetron-sinetron tv itu." Lala bicara sambil tersenyum membayangkan jika dia benar-benar melakukannya.


Adit merasa lega melihat gadis di depannya itu sudah bisa tersenyum.Adit sendiri tidak bisa mengerti apa yang dia rasakan terhadap Lala.Yang jelas dia sangat menyayanginya.


"Kapan bang Adit pulang? Kenapa ngga ngabarin aku?" Lala mengalihkan topik pembicaraan.


Adit sudah hampir tiga bulan tinggal di luar kota karena mengurusi pembukaan plaza baru di sana.


"Sebenernya aku mau ngasih kamu kejutan, tapi malah menemukanmu seperti orang hilang di mall tadi.Gimana kalau tadi aku ngga lihat kamu?" Adit mulai galak.


"Ya ngga gimana-gimana, paling nangis doang," jawab Lala manyun.


"Aku dibawain oleh-oleh ngga?" tanya Lala menggoda.Sepertinya dia sudah mulai kembali menjadi dirinya.


"Ujung-ujungnya nanyain oleh-oleh.Tau gitu tadi mending biarin aja nangis di mall." Adit menggerutu memasang wajah jutek sambil berjalan menuju kamarnya.


Tak lama dia keluar membawa paperbag yang cukup besar di tangannya.


"Suka ngga suka pokoknya dipake.Udah terlanjur dibeli." Adit menyodorkan paperbag itu pada Lala tetap dengan wajah jutek seolah-olah dia terpaksa.


Lala membukanya.Matanya seketika berbinar begitu melihat isinya.Sebuah tas yang cukup mahal.


"Makasih Bang... ini sih ngga mungkin ngga suka." Lala membolak-balik tas itu takjub.


"Suka dong.... Pacar Bang Adit yang milih?" Lala tersenyum kepada Adit dengan tatapan menggoda menunjukkan mata genitnya.


"Heehhh... jangan asal bicara." Adit memasang wajah jutek lagi.


Dia tahu Lala sedang menggodanya.Dia pura-pura kesal padahal dalam hatinya dia senang melihat Lala sudah benar-benar kembali menjadi Lala yang sesungguhnya.Adit lebih senang melihat Lala yang sekarang daripada Lala yang sebelumnya, Lala yang rapuh.


Mereka ngobrol cukup lama setelah itu.


"Sudah hampir jam 9.Aku harus pulang." Lala melihat jam di tangannya.


"Ini baru jam 9, kenapa buru-buru?" Sebenarnya Adit suka Lala bersamanya seperti saat ini.


"Kamu tau jam malamku hanya sampai jam 10. Jadi jangan mencegahku."


Adit tahu orang tua Lala sangat ketat dalam hal ini.Anak gadis tidak boleh pulang di atas jam 10 malam.Adit sudah sering berkunjung ke rumah Lala jadi dia cukup mengenal orang tua Lala.Tak heran orang tua lala lebih menyukai Adit untuk menjadi menantunya daripada Juna.Tapi Lala sudah menjelaskan kepada mereka kalau dia dan Adit hanyalah rekan kerja, hanya sebatas teman tidak lebih.

__ADS_1


Adit mengantar Lala sampai ke depan pintu.


"Kamu yakin sudah tidak apa-apa?"


Lala menganggukkan kepalanya.


"Aku bisa mengantarmu kalau kamu mau.Motormu bisa ditinggal di sini.Kamu bisa mengambilnya besok sepulang kerja."


"Terus gimana aku berangkat kerja?"


"Aku bisa jemput kamu."


"Ngga ah... aku bisa sendiri.Malah ngrepotin kamu."


Sebenarnya bukan itu yang dia takutkan.Jauh di lubuk hatinya dia takut ada salah seorang teman Juna melihatnya diantar pulang oleh seorang laki-laki dan mengadukannya pada Juna.Dia takut Juna salah paham nantinya.Cinta memang Luar biasa.Setelah melihat apa yang Juna lakukan Lala masih saja memikirkan apa yang Juna pikirkan.Menurut Lala, jika nanti mereka benar-benar harus berpisah maka itu bukan karena kesalahan Lala.


Lala berdiri di depan pintu.Dia berbalik kepada Adit kemudian memeluknya.


"Makasih untuk semuanya bang."


Lala mengatakannya dengan tulus.


Adit membalas pelukan itu.Entah kenapa dia berdebar-debar.Lala melepas pelukannya.


"Aku pulang sekarang."


Adit tidak tega membirkan Lala pulang sendirian.


"Tunggu sebentar...."


Tak lama Adit keluar membawa motor sportnya.


"Bang Adit mau ngapain?!" Lala setengah menjerit.Dia tau apa yang dipikirkan Adit.


"Udah dibilang ngga usah dianter ya ngga usah dianter!" Lala menghentak-hentakkan kakinya gemas seperti anak kecil.


"Siapa yang mau nganterin? Emang aku mau pergi kok!"


"Ngga... ngga... Bang Adit pasti mau ngikutin aku naik motor.Aku bilang ngga usah ya ngga usah.Bang Adit jangan ngeyel!"

__ADS_1


"Kamu yang jangan ngeyel! Nanti kalau nangis di tengah jalan gimana? Siapa yang mau nolongin?" Lala diam saja, bibirnya manyun.


Setelah diwarnai perdebatan akhirnya Lala mengalah.Dia mau diantar Adit dengan syarat tidak sampai rumah.Adit hanya akan mengikutinya sampai depan komplek rumahnya.Rumah Adit terletak di tengah kota, cukup dekat dengan Plaza Z tempat mereka bekerja.Sementara rumah Lala jauh di pinggiran kota.


__ADS_2